Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bang Kemal

Acuan kerangka awal, pelajaran SD/SMP, berpancasila. Hehe…seorang awam yang mau belajar. Terima kasih Kompasiana, Terima selengkapnya

Di Pelataran Kemerdekaan, Acara Anakku (Kutipan Puisi Dorothy)

OPINI | 10 August 2010 | 00:34    Dibaca: 421   Komentar: 8   4

Ketika mengantar anakku untuk berobat di sebuah klinik dokter, terpampang poster tertulis puisi. Hem, puisi Dorothy ini sama isinya dengan sebuah poster di ruang TK anakku. Maka teringatlah dengan anak anak di seluruh Indonesia, menjelang hari kemerdekaan.

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah

Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan

Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan

keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam

kehidupan

Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

Maafkan aku Dorothy, puisimu kog membuat mataku terbaca sempurna , kalau aku ubah kata “anak” jadi “anak bangsa”. Biar tak sedikit mata menangkap karena dikitnya ketidaklupaan.

Maafkan aku anakku. Kelak engkau besar, ayah wariskan hutang dan warisan kebanggaan lainnya yang jauh dari mimpimu di tk. Maklum yah, ayah dan kakekmu dulu gak pernah baca puisi kayak gini. Jadi dah.

Maafkan aku pembaca, puisi ini tadinya buat acara tujuh belas agustusan di bazar kemerdekaan, di hamparan wajah wajah pemimpin dan pemimpi konsistensi. Tapi dari seorang Dorothy? Mikir lagi, dan mikir mikir. Sudah 65 tahun merdeka, merdekakah kita oleh kita sendiri? Eh, kepikiran juga puisi ini buat kompasioners (yang sudah punya anak pasti tahu). Biar dinikmati dengan lagunya, sambil goyang goyang dikit badan lesu dan kepala mumet. Bosan juga terus terusan lihatin berita berita tak nyambung nyabung kepala di tv. Kapanlah ada sedikit dalam pikiran, ketentraman nan penuh kedamaian di tanah air yang kita sanjung sanjung?

Catatan khusus :

Selamat Berpuasa buat sahabat sahabat Moslem. Semoga Tuhan selalu memberkati niat, tekad, dan amal saudara saudara yang menunaikan bulan suci ini. Terimalah satu doaku untuk spirit Ramadhan 1431 H dan keteguhan iman. Salam dan Sukses Selalu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seputar Air Kencing Laki-laki …

Ronny Noor | | 26 May 2015 | 13:38

Malu Foto Bareng gegara Sandal Jepit …

Den Bhaghoese | | 26 May 2015 | 09:39

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48

Workshop Cerpen Kompas Bali 2015 …

Fifa Dila | | 26 May 2015 | 13:17

[Nangkring] Bedah Copa América 2015 Bersama …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 18:44


TRENDING ARTICLES

Selain PSSI, AFC Pun Menghukum Seumur Hidup …

Achmad Suwefi | 6 jam lalu

Kompasianer Untung ke Istana, Kompasioner …

Syaripudin Zuhri | 10 jam lalu

Tim Pansel KPK dan Harapan Presiden Jokowi …

Imam Kodri | 10 jam lalu

Menpora Kalah di PTUN, JK Perintah Cabut SK, …

Hasto Suprayogo | 11 jam lalu

SBY dan Mafia Migas …

M. Jaya Nasti Nasti | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: