
ciri-ciri : smart talented dan charming Motto : Care Calm n Comfortable hobby : menulis (seneng banget sama hobby yang satu ini) Info lain: mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Dibaca: 60
Komentar: 0
Nihil
Sekilas tentang RBT IBBIeducare
RBT (Rumah Baca Tulis) IBBIeducare merupakan organisasi otonom yang terletak di dalam komplek Pondok Pesantren Mambaul Hikmah Serabarat kecamatan Bluto kabupaten Sumenep dan telah berdiri sejak tahun 2006 lalu.
Organisasi ini lahir sebagai bentuk keperdulian Santri P.P Mambaul Hikmah yang diasuh oleh KRB Qurthuby terhadap pentingnya pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, karenanya kemudian organisasi ini diberi nama RBT IBBIeducare atau Rumah Baca Tulis Ibnu Qurthuby Education Care, nama yang dinisbatkan kepada nama pengasuh pesantren dan memiliki pengertian bahwa kumpulan anak didik KRB Qurthuby yang perduli terhadap pendidikan, khususnya dalam hal baca dan tulis.
Hingga kini, koleksi buku yang telah ada sudah mencapai ribuan dengan beberapa katalog yang terkumpul atas kerja keras pengurus, baik Ikhwan maupun Akhwat yang terus melakukan berbagai kegiatan kreatif, inovatif dan atraktif, sesuai dengan mottonya Creative, Innovative Attractive (Cinta) agar budaya membaca dan berkarya di masyarakat Serabarat khususnya semakin meningkat.
IBBI and it’s Programs
Banyak program yang rutin dihelat oleh IBBIeducare. Dari program rutin harian berupa pinjaman buku di kalangan peminat RBT IBBIeducare, program mingguan yakni kajian keilmuan di kalangan pelajar yang rutin diadakan setiap senin malam, dan diskusi tentang buku-buku tertentu yang telah dibaca oleh anggota. Dari semua program ini, tidak satupun yang diwajibkan kepada anggota, kegiatan ini hanya sebentuk instruksi agar hadir juga dalam kegiatan yang akan dihelat, karenanya menjadi wajar jika ketika kegiatan berlangsung tidak semua anggota yang hadir.
Namun disamping kegiatan itu, IBBIeducare juga memiliki berbagai program yang dikhususkan untuk kalangan-kalangan tertentu.
- Child
Sebagaimana namanya, kegiatan ini memang hanya diperuntukkan bagi anak kecil antara 7 hingga 12 tahun. Biasanya kegiatan ini dikemas dengan bentuk pelatihan kecil-kecilan semisal Writing for Child selama setengah hari dengan mentor pengurus RBT IBBIeducare.
Meski pelaksanaan program ini hanya diurus sepenuhnya oleh pengurus yang nota bene masih pelajar, baik pemberian materi hingga mentor-mentornya, namun kegiatan ini disambut positif oleh sebagian besar masyarakat, khususnya anak-anak yang mengikuti kegiatan pelatihan, salah dua alasannya adalah karena setiap selesai pelatihan, adik-adik peserta pelatihan akan diberikan souvenir dan beberapa camilan.
- Teens
Sementara kegiatan yang segmentasinya diperuntukan bagi kalangan pemuda, RBT IBBIeducare menghelat berbagai kegiatan yang khusus ditujukan kepada para pemuda. Sebut saja Journalis for Teens yang di helat dalam menyambut kegiatan Up Grading pengurusan dengan mendatangkan wartawan media lokal, atau talkshow dengan tema-tema segar yang menarik minat para pemuda, khususnya penggiat penulisan maupun kegiatan Writing Camp yang dihelat di pegunungan ketika hari libur pesantren.
Semua kegiatan ini dihelat, disamping diharapkan berguna sebagai bahan refreshing teman-teman dari program membaca dan juga menulis, ini juga dapat berperan sebagai salah satu media untuk meningkatkan sosialisasi antar organisasi dengan masyarakat sekaligus transformasi sistem Rumah Baca Tulis semisal IBBIeducare yang untuk daerah penulis masih bisa dikatakan sangat langka ditemukan.
IBBI and it’s Problems
Seperti kebanyakan organisasi lainnya, khususnya yang berkutat dalam dunia baca tulis, masalah yang di hadapi RBT IBBIeducare juga tidak jauh berbeda, dari persoalan jumlah buku yang masih sangat minim, pengadaan buku yang juga tidak kalah minim, kondisi masyarakat yang kurang responsif terhadap keberadaannya, hingga masalah lain yang menyangkut persoalan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya pengurus yang berimbas pada problem profesionalisme di tubuh organisasi masih saja terus merongrong.
Dapat dikatakan masalah yang tengah dihadapi RBT IBBIeducare antara satu dengan yang lainnya sangatlah kompleks dan saling terkait satu sama lain. hal ini dapat dilihat dari masalah jumlah buku yang masih jauh dari memadai dengan pertumbuhan tiap tahunnya hanya berkisar antara 1 hingga 3% saja.
Permasalahan kian kompleks ketika jaringan yang dimiliki IBBIeducare, entah terhadap lembaga-lembaga penyedia buku, perusahaan percetakan maupun instansi pemerintahan yang konsisten dalam memberikan bantuan buku belum ada sama sekali. Itulah sebabnya perkembangan buku masih sangat minim, bahkan dikatakan stagnan sama sekali.
Kedua hal tersebut kemudian memiliki andil yang cukup besar dalam mengurangi minat masyarakat untuk membaca di RBT IBBIeducare. Masyarakat kian jarang berkunjung karena alasan koleksi buku yang hanya itu dan itu-itu saja, dan kalaupun ada hanya sebagian guru di lingkungan pesantren saja yang datang.
Persoalan lainnya yang juga tidak kalah mengganggu pikiran adalah banyaknya buku yang hilang atau tidak diketahui kemana juntrungannya. Persoalan ini kami rasakan cukup dilematis, sebab di satu sisi kami menginginkan masyarakat membaca dengan meminjam buku di IBBIeducare mengingat eksistensinya sebagai lembaga penyedia buku-buku bacaan, namun di sisi lain kami tidak bisa memberikan sangsi tegas apabila masyarakat menghilangkan buku yang dipinjam, sebab jika ditelusuri lebih mendalam jalur buku yang dipinjamnya yang hilang, masyarakat bisa enggan untuk kembali bertandang dan meminjam buku di kemudian hari.
Sebagai pengurus, kami tidak bisa berbuat banyak, karena sistem penyewaan buku yang hingga kini berjalan masih manual dimana pencatatannya masih menggunakan buku dan tanpa bantuan sistem komputerisasi sama sekali, sehingga menyulitkan pengurus untuk melacak keluar masuknya buku milik IBBIeducare.
IBBI and it’s “CINTA”
Yups! CINTA (Creative, Innovative dan Attractive), maksudnya kegiatan RBT IBBIeducare yang sangat menitik beratkan pada ihwal yang serba kreatif, inovatif serta atraktif guna menarik masyarakat untuk membaca di IBBIeducare sekaligus sebagai problem solving dari banyaknya persoalan yang dihadapi IBBIeducare.
- Take the Box Out
Santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Mambaul Hikmah umumnya datang dari berbagai daerah, baik dari berbagai kecamatan di kabupaten Sumenep, berbagai kota baik di Madura sendiri, hingga kota-kota lainnya di pulau Jawa.
Dalam satu tahun, ada tiga kali liburan yang rutin dilaksanakan pesantren. pertama pertengahan bulan puasa hingga beberapa hari setelah lebaran, kedua liburan setelah Haflatul Imtihan (perayaan kelulusan yang umum dihelat di berbagai pesantren) dan terakhir menjelang maulid nabi Muhammad SAW.
Pada momentum ini, IBBI educare menghelat beragam kegiatan, dari penggalangan dana dalam rangka pengadaan buku-buku hingga pengumpulan buku-buku bekas layak baca ke rumah masing-masing santri pengurus IBBIeducare yang dikemas dengan acara Take the Box Out (TBO).
Secara tehnis kegiatan ini dilakukan dengan cara, pertama pengurus teras mengumpulkan kardus-kardus yang masih bagus lalu ditumpuk di halaman pesantren, kedua seluruh pengurus, baik struktural maupun pengurus/koordinator wilayah (pihak yang ditempatkan di tiap kamar pondok yang mengurusi sirkulasi buku sekaligus menjaga) mengambil satu kardus yang selanjutnya dibawa ke rumah masing-masing, ke empat mengumpulkan uang ataupun buku bekas layak pakai yang dikumpulkan dalam kardus tersebut, dan terakhir membawa kembali kardus-kardus yang telah berisi buku-buku bekas ke RBT IBBIeducare ketika mereka sudah kembali.
Disamping berguna untuk memperbanyak koleksi buku IBBIeducare, program ini juga berfungsi sebagai wadah santri untuk bersosialisasi dengan warga sekitar di rumah masing-masing, ini mengingat interaksi santri yang kebanyakan dari kawasan pesantren saja, sehingga di kemudian hari, ketika santri, khususnya pengurus IBBIeducare keluar dari pesantren, mampu beradap-tasi dengan warga sekitarnya.
- IBBI Award.
Setiap tahunnya, antara bulan agustus hingga september, IBBIeducare rutin mengadakan kegiatan IBBIfestival. Di samping bermanfaat sebagai ajang kompetensi bagi seluruh santri dari berbagai pesantren, khususnya penikmat buku dan pengunjung setia IBBIeducare karena dalam kegiatan ini terdapat rangkaian lomba-lomba dari menulis cerpen, deklamasi puisi hingga lomba cipta mading, kegiatan ini juga biasanya dihelat bersamaan dengan perhelatan pergantian pengurus IBBIeducare dari periode lama ke periode baru.
Satu hal yang sangat menarik perhatian bagi teman-teman santri adalah adanya penganugerahan IBBI Award yang secara perlahan disebut-sebut sebagai ajang paling bergengsi bagi seluruh penikmat dan pengunjung IBBIeducare, karena disamping hadiahnya berupa trophy, penganugerahan ini juga biasanya diberikan langsung oleh Pengasuh. Mengenai kriteria yang dijadikan standardisasi penganugerahan ini berdasarkan peminjam terbanyak yang telah di catat rapi di database IBBIeducare.
Hal lain yang menjadikan ajang penganugerahan ini menjadi istimewa adalah bahwa dengan adanya IBBI Award, para anggota semakin semangat untuk membaca dan meminjam buku di RBT IBBIeducare.
Harapan agar semakin banyak dan semakin sering para penikmat RBT IBBIeducare meminjam buku maupun mengikuti kegiatan yang rutin diadakan kemudian menjadi sebuah keniscayaan.
- IBBI Care’s Humanity
Diterima di tengah masyarakat, khususnya masyarakat yang masih memiliki taraf pendidikan rendah, memang susah diterima, terlebih organisasi yang berkutat di dunia penulisan. Disamping banyak dari masyarakat yang berpikir tidak banyak ihwal kongkrit yang dapat dirasakan, mereka juga sudah keburu dijejali dengan pemahaman yang kurang benar. Sebut saja belajar Al- Quran lebih baik daripada membaca buku umum atau belajar bahasa Arab jauh lebih baik daripada bahasa inggris, sehingga stereotip belajar di masjid kemudian menjadi kemutlakan. Dan kondisi ini juga dialami oleh RBT IBBIeducare.
Karenanya, untuk mengubah stereotip tersebut, IBBIeducare juga melakukan aksi perduli sesama dengan cara membagikan sembako bagi masyarakat yang secara ekonomi masih berada jauh di bawah garis kemiskinan.
Program perduli masyarakat yang dibungkus dengan kegiatan Volunteer ini dilakukan dengan cara mengumpulkan sembako dan uang, baik dari anggota sendiri maupun donatur lainnya untuk kemudian diserahkan kepada masyarakat yang berhak.
Disamping berguna sebagai proses redefinisi tentang eksistensi IBBIeducare dalam mindset masyarakat, kegiatan ini juga memiliki dampak yang sangat luas berupa pengenalan organisasi di masyarakat dan proses mengajak pamuda-pemudi untuk bergabung dengan IBBIeducare, baik untuk meminjam buku atau sekedar mengikuti kegiatan pelatihan menulis yang dibawakan oleh pengurus RBT IBBIeducare maupun pemateri yang sengaja didatangkan dari luar.
Demikian sekelumit program dan ide-ide yang penulis dapat sejak pertamakali di RBT IBBIeducare. Sesungguhnya masih ada banyak kegiatan yang IBBIeducare lakukan dalam proses perkembangannya, akan tetapi tidak dapat penulis paparkan di sini karena alasan space yang terbatas.
Jujur membangun sebuah organisasi yang berkutat dalam dunia baca dan tulis, khususnya di daerah yang masih tradisional memang bukanlah perkara mudah, namun dengan niatan berbakti sepenuh hati terhadap negeri dengan turut serta memberikan pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat, insya Allah menjadi Episentrum Keilmuan di Madura, sebagai satu visi RBT IBBIeducare bukan lagi sebatas impian belaka.
Karenanya bagi teman-teman yang berkeinginan untuk membangun Taman Baca Masyarakat, baiknya dimulai dari sekarang juga, bukan niat untuk sekedar mengikuti trend, malinkan menciptakan masyarakat yang berpendidikan meski tanpa pendidikan formal. Yuk mulai dari sekarang juga!
Jakarta, 06 Agustus 2010.