Artikel

Edukasi

Elly Maria Silalahi

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

I'm a woman who wants to live in peace among different tribes, races and religions. cause the differences were created by God will lead the beauty of harmonization in the earth

Sr. Marietta, OSU : Sang Bunda dari Ribuan Anak


OPINI | 19 August 2010 | 19:28 Dibaca: 276   Komentar: 13   2 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif

Ka. SMAK Cor Jesu Malang periode 1976 - 1987
SR.  MARIETTA, OSU : Ka. SMAK Cor Jesu Malang periode 1976 - 1987

Bunda, adalah sosok pahlawan bagi anak-anaknya, tak ada satupun anak meragukan seorang bunda yang melahirkan, membesarkan dan mendidik sang anak agar menjadi orang yang berguna kelak. Tapi pernahkan anda berpikir bahwa ada seorang bunda tak pernah melahirkan tapi mempuyai ribuan anak, yang mencintainya, mengaguminya dan mengenang jasanya sebagai bagian dalam hidup anak-anaknya? Dia adalah Sr. Marietta, OSU, seorang suster Ursulin, mantan Kepala Sekokah SMAK Cor Jesu Malang periode 1976 -1987, yang saat ini sedang memasuki masa pensiun di Biara Ursulin Celaket Malang-Jawa Timur.

Bagiku, beliau bukan hanya sekedar mantan guru dan mantan kepala sekolah. Beliau sosok seorang bunda yang sabar, penyayang, tidak pernah membedakan murid-muridnya, baik itu kaya atau miskin, pandai atau bodoh, rajin atau malas, nakal atau baik, semua disayangi, walau mungkin dengan cara berbeda. Aku pertama kali mengenalnya ketika masuk kelas 1 SMAK Cor Jesu tahun ajaran 1980/1981, sekolah dimana kakakku juga ada 2 tahun sebelumnya, dan kebetulan 2 tahun setelah aku,  adikkupun bersekolah di sekolah yang sama. Hal pertama yang membuatku terkesan ketika menerimaku, bagaimana dengan bijak beliau memberikan dispensasi uang sekolah karena ayahku seorang pegawai negeri, pada saat itu uang sekolahku sama nilainya dengan uang sekolah kakakku, bahkan sama juga uang sekolah adikku 2 tahun setelah aku. Kukira hanya keluarga kami yang mendapat perlakuan istimewa, ternyata tidak, karena ada beberapa siswa bahkan tanpa dipungut biaya. Sangat berbeda dengan situasi pendidikan sekarang dimana pemerintah berteriak-teriak sekolah murah yang kenyataannya tidak murah. Tapi dia sudah memulainya lebih 30 tahun yang lalu, sebuah tindakan yang berani sebagai seorang Kepala Sekolah.

Bukan hanya itu sejak kepemimpinannya, beliau menerima siswa dari berbagai agama dan suku bangsa,apakah itu Kristen Protestan, Islam, Budha dan Hindu, apakah dia Pribumi dan Non Pribumi seperti Cina dan Arab, dia tidak pernah membedakan dan mempersoalkan masalah agama atau ras,  semua siswa diberi kesempatan berprestasi yang sama. Sekolah yang tadinya homogen dirubah menjadi heterogen dengan satu pelayanan kasih yang sama. Ini yang membuatku miris ditengah-tengah bangsa yang bersuku bangsa beraneka ragam, yang mempunyai kepercayaan beraneka ragam,  dibawah semboyan  Bhineka Tunggal Ika, ternyata masih menjadi polemik dikehidupan bernegara di NKRI tercinta ini. Dan beliau sudah memulainya lebih dari 30 tahun yang lalu, sebuah wujud rasa kebangsaan yang tinggi.

Bahkan beliau sudah memajukan sekolah yang dipimpinnya menjadi status sekolah disamakan sejak tahun 1984, dan itu bukan pekerjaan yang mudah bagi sebuah sekolah Katholik saat itu, banyak prestasi yang diciptakan dalam dunia pendidikan dan kesenian di kota Malang, mungkin tidak bisa disebutkan semua, tapi ada satu image yang beliau rubah, bahwa sekolah itu bukan hanya untuk kalangan tertentu, bukan sekolah orang kaya & bukan hanya untuk sekolah non pribumi, tapi itu sekolah semua orang yang ingin menimba ilmu didalamnya. Dimana justru saat ini banyak sekolah lebih menyukai sekolah homogen, seperti sekolah untuk kalangan-kalangan tertentu, baik dari segi biaya, kepercayaan dan bangsa yang sama.  Padahal beliau sudah memulainya lebih dari 30 tahun yang lalu.

Pesta Perak Hidup Membiara (27 Agustus 1983)
Pesta Perak Hidup Membiara (27 Agustus 1983)

Pertemuan pertamaku sejak lulus SMA, ketika tahun lalu aku mengikuti reuni akbar di sekolahku tahun lalu, aku dan beberapa teman-teman mengunjunginya di Biara, tak terkira perasaan senang kami semua ketika melihat Sr Marietta kembali yang sudah memasuki masa pensiun dengan usia 75 tahun, beliau lahir pada 4 Juni 1935 dengan nama Marietta Brotosoedirdjo,  dan tahun lalu merayakan pesta emas (50 tahun) hidup membiara itu,  ternyata masih sehat dengan daya ingat yang masih kuat, tentulah beliau tidak mengenal ribuan muridnya satu per satu tapi ketika kami menyebut nama kami masing-masing, daya ingat beliau mulai terbuka. Ada sebuah kata yang menyentuhkan saat pertemuan itu. Beliau menceritakan bagaimana keadaan beliau sekarang, dia rindu kedatangan mantan murid-muridnya mengunjunginya dan bercerita tentang masa sekolah dulu, dan cerita itu merupakan kegembiraan baginya, dan masih ingin tetap berkarya sambil menunggu hari-hari pada saatnya nanti beliau dipanggil Yang Maha Esa.

Sr. Marietta, OSU & Elly Silalahi (Penulis)
Sr. Marietta, OSU & Elly Silalahi (Penulis)

“Saya sudah pensiun sekarang dan rumah terakhirku ada dibelakang,”dengan kata-katanya ringan yang justru membuat  kami terharu karena yang dimaksud rumah terakhir adalah kuburan yang terletak di belakang Gereja dan Biara, dimana terletak kuburan para suster Ursulin. Ada unsur kepuasan, kebahagian dan kepasrahan menanti saat-saat terakhir yang kitapun tak pernah tahu datangnya. Ini menunjukkan wujud jiwa rohani yang tinggi. Dalam hati aku berdoa untuk kesehatannya, agar kami masih bisa bertemu lagi. Setelah pertemuan itu hubungan komunikasiku dengan beliau tidak putus, beliaupun masih tetap menggunakan alat komunikasi canggih. Kami berkominukasi melalui telpon, sms, email dan facebook. Dan setiap beliau ke Jakarta, beliau pasti mengabariku dan kami selalu bertemu, padahal saya bukanlah mantan muridnya yang paling pandai, yang paling hebat dan yang paling kaya, tapi beliau bersungguh-sungguh datang berkunjung ke rumahku yang biasa-biasa saja dan merupakan berkat bagiku kedatangan beliau dirumahku.

Sebuah pertemuan yang juga sungguh berkesan bagiku, yaitu ketika aku bisa mempertemukan beliau dengan temanku lelaki yang dulu terkenal sangat bandel. Karena bandelnya maka sekolah mengeluarkannya dengan  tetap naik kelas tapi tidak boleh melanjutkansekolah kami lagi. Ada sebuah nasar sang murid untuk meminta maaf kepada beliau, akibat tingkah lakuannya dulu di sekolah. Dan pertemuan mantan murid yang bandel dengan mantan kepala sekolah yang bijak membuat rasa keharuan tersendiri,  dimana ada sebuah rasa bersalah yang hilang, ada sebuah pengakuan dosa yang terucap, ada sebuah permintaan maaf yang sudah tertunda lama dapat terwujud. Dan justru yang lebih mengesankan lagi, adalah terakhir Sr Marietta justru meminta maaf karena sudah mengeluarkannya dari sekolah. Bukan saja si mantan murid yang minta maaf, tapi malah sang mantan kepala sekolahpun dengan tulus meminta maaf. Ini jarang terjadi justru orang yang dituakan justru meminta maaf terhadap keputusan yang sudah dibuatnya 25 tahun yang lalu, justru ini menunjukkan ada jiwa yang besar di tubuhnya yang sudah renta.

Kenapa beliau kujadikan pahlawan dalam hidupku, karena dengan kesederhaannya, ketulusan, cinta kasihnya, pelayanannya, pengabdiannya dan cita-citanya terhadap murid-muridnya sangatlah mulia, dengan penerapan Semboyan Serviam dalam hidupnya yang artinya “Aku Mengabdi” membuatku kagum padanya. Sr Marietta tidak pernah melahirkan seorang anak, karena hidup bersarikat dibawah lindungan Ordo Ursulin selama lebih 50 tahun,  tapi dia mempunyai ribuan anak yang juga mencintainya dan merasa jasa-jasanya tak terlupakan. Kemanapun dia datang dan pergi, kami para anak-anaknya siap menyambut dan melayaninya dengan sepenuh hati kami. Pelayanan dan pengabdiannya telah banyak mengantarkan keberhasilan hidup para mantan muridnya menjadi orang yang berguna, paling tidak berguna untuk diri dan keluarganya. Beliau sudah mengantarkan anak-anaknya menjadi seorang Profesor Abraham Lomi di Kota Malang, seniman teater terkenal Nawir Hamzah di Jakarta, pelukis nasional Hary Soesanto, Calon Doktor Ida Silalahi di Surabaya, dan banyak lagi yang hebat seperti pengusaha, dokter, lawyer, pendidik, karyawan dan karyawati bahkan ibu rumah tangga yang hebat.

Ida K. Silalahi, M. Hum (Calon Doktor & Suami)
Ida K. Silalahi, M. Hum (Calon Doktor & Suami)
Prof. DR. Eng, Ir. Abraham Lomi, MSEE, MIEEE
Prof. DR. Eng, Ir. Abraham Lomi, MSEE, MIEEE
Sang Pelukis

Hary Soesanto : Sang Pelukis

Nawir Hamzah & Sr. Marietta, OSU

Nawir Hamzah & Sr. Marietta, OSU

Setiap kedatangannya merupakan wujud kerinduan dan kebahagian bagiku dan bagi anak-anaknya yang lain, kedatangannya bagaikan sang primadona, bagaikan pahlawan dalam hidup kami dan anak-anaknya yang lain. Kebahagiaanya adalah mendengar cerita anak-anaknya baik masa sekolah maupun masa kini. Kasih sayangnya yang tidak bersyarat dan membedakan, setiap kedatangan anak-anaknya disambut dengan hati tulus dan tangan terbuka lebar. Aku merasa beliau sudah sepantas disebut pahlawan bagiku dan bagi para mantan muridnya yang lain.

Beliau bagaikan ibu bagiku, pengganti ibu kandungku yang sudah pergi menghadap Tuhan Yang Maha Esa, beliau merupakan wujud bunda yang kurindukan, ada impian yang ingin kuwujudkan untuknya ialah mengarang sebuah buku autobiografi untuknya, karena kepribadian dan suri tauladannya pantas untuk diteladani, karena cinta kasih dan ketulusannya pantas untuk dibagi, karena jasa dan pengabdiannya pantas untuk dihargai. Karena beliau bukan sekedar Marietta Brotosoedirdjo tapi karena beliau Sr. Marietta, OSU adalah Pahlawan Bagi Hatiku, dan Pahlawan bagi Murid-Muridnya, karena selama hidupnya beliau telah berkarya memajukan setiap sekolah yang dipimpinnya, memajukan Ordo Ursulin yang menaunginya, melayani masyarakat sekitarnya, dan menjadi salah satu yang berjasa memajukan pendidikan di kota Malang.

Reuni & Temu Kangen di Saung galah Jakarta
Reuni & Temu Kangen di Saung Galah Jakarta, 7 Agt 2010

Mengenangnya membuat aku teringat lagu Hymne Serviam yang pernah diajarkan, yang setelah kurenungi itulah contoh hidup yang sudah beliau jalani.

HYMNE SERVIAM

Kami adalah kusuma bangsa,

Segar bugar pun muda belia,

Bersatu padu menerjang maju,

Kearah luruh kami menuju,

Kami sadari panggilan Tuhan,

Hidup Suci menjadi tauladan,

Kristus Pribadi yang menyinari,

Maria Bunda pembimbing kami,

Majulah sebarkan semboyan

Serviam Serviam tetap teguh Serviam

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: