Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Virgian Noor

pencari ketenangan

Berkah Tuhan, Berkat Guru

OPINI | 21 August 2010 | 20:00 Dibaca: 181   Komentar: 0   0

Guru mestinya memang tak sekedar mengajar, tapi juga bisa membimbing muridnya menuju masa depan lebih baik. Guru yang bisa membuka jendela dunia bagi anak didiknya adalah pahlawan yang nyata.

Pertengahan 1996. Pengumuman hasil ujian kelulusan SMA baru saja diumumkan. Semua siswa kelas 3, termasuk aku berseri-seri. Hatiku sedikit gundah sebenarnya. Setelah ini ke mana, mesti berbuat apa? Teman-teman yang lain selalu berbicara rencana mereka hendak kuliah ke mana.

“Jadi kau kuliah atau tidak? Rencana masuk mana?,” tanya temanku. Ku jawab, “belum tahu, mungkin ke Malang atau Surabaya. Katanya di sana ada kuliah jurusan jurnalistik.”

Dari kelas 1, aku sudah terlibat dalam ekstrakurikuler jurnalistik di sekolah. Aku sebenarnya merasa tak punya bakat menulis. Hanya karena suka musik, aku sempat menyumbang tulisan di mading sekolah. Isinya tentu saja tentang ulasan musik. Bu Endang, guru Teater kami yang membimbing ekstrakurikuler jurnalistik, lalu memintaku terlibat dalam penerbitan mading sekolah. Setiap hari minggu, kami berkumpul di sekolah. Di situ lah, aku mulai masuk dalam dunia jurnalis.

“Tidak cukup kalau hanya mengandalkan ilmu yang didapat di bangku kelas. Kita juga mesti punya keahlian masing-masing. Itu bisa didapat di ekstrakurikuler,” ucap Bu Endang suatu ketika. Petuahnya itu membuatku berpikir. Mungkin ia menyiapkan kami untuk masuk ke dunia kerja setamat SMA. Siapa tahu di antara kami tidak mampu melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Petuahnya itu yang membuatku rajin ke sekolah tiap hari minggu, meski dengan berat hati harus meminta ongkos angkot pada orangtua.

Orangtuaku cukup demokratis sebenarnya. Begitu tahu aku lulus, mereka memberiku kebebasan memilih. Kerja atau kuliah.

“Kalau mau kuliah gak pa pa. Papah masih sanggup biayain. Cuma ada teman Papah di kantor Kehutanan, katanya bisa masukkan kamu jadi polisi hutan. Cukup ijasah SMA, enak langsung dapat gaji. Cuma kerjanya ya jaga hutan, patroli,” ucap Bapak. Dari nadanya, aku tahu ia lebih condong agar aku langsung bekerja. Baru 2 tahun terakhir, keluarga kami bisa mengontrak rumah. Sebelumnya, kami menyewa 2 kamar kos-kosan yang dibayar bulanan.

Kerja atau kuliah bagiku saat itu tak ada bedanya. Aku lebih ingin berkumpul bersama teman-teman sekolah sebelum akhirnya kami terpisah. Namun menjelang hari-hari terakhir di sekolah itu, muncul pula keinginan untuk merantau. Selama 18 tahun aku tinggal di kota ini. Dari lahir. Sekarang aku ingin melihat dunia luar, mungkin juga bisa merubah nasib.

Pikiran itu kupendam. Tapi, Bu Endang sepertinya tahu. Ia memanggilku ke ruangan guru.

“Kamu mesti kuliah. Jangan sampai tidak kuliah. Kalau nanti lulus, kamu jadi punya pilihan,” ucapnya. Ia menunjukkan kumpulan brosur kampus, dari kota kami maupun dari Jawa. Tak banyak pilihan di kotaku. Umumnya jurusan ekonomi, hukum dan lain-lain, yang tak kuminati. Aku memilih jurusan jurnalistik pun bukan karena tertarik. Hanya karena 3 tahun terakhir ikut mengisi mading sekolah.

Ada 1 kampus swasta di Surabaya, yang menawarkan biaya kuliah cukup murah. Waktu itu sekira Rp600 ribu setahun, bisa dicicil. Di atas sedikit dari biaya kampus negeri yang berkisar Rp400 ribu setahun. Kebetulan nilai rata-rata milikku di atas standar mereka, sehingga tidak perlu membayar uang pendaftaran maupun uang bangku. Kesempatan kuliah di kampus negeri, menurutku sangat kecil. Aku tidak punya kepandaian di atas orang lain. Brosur itu kubawa pulang, kutunjukkan pada orangtua. Kalimat Bu Endang, kusimpan dalam dada. “Kalau kamu kuliah, kamu akan punya pilihan.”

Pintu yang dibukakan Bu Endang, akhirnya membawaku ke Pulau Jawa. Bekalku berupa 1 tas ransel kecil yang berisi buku tulis dan beberapa lembar pakaian. Serta kenalan keluarga jauh yang membantu mencarikan tempat kos.

Selama 5 tahun berikutnya, keringat dan airmata bercucuran. Jangankan membayar cicilan biaya kuliah, atau beli buku, atau makan sehari-hari. Untuk bayar uang kos Rp50 ribu tiap bulan pun selalu terlambat. Ketika keadaan terasa berat, aku mengingat kalimat Bu Endang. Bila aku bisa lulus kuliah nanti, aku akan punya pilihan untuk merubah nasib.

Selain Bu Endang, semangat menyelesaikan kuliah kudapat dari seorang dosen. Namanya Sam Abede Pareno. Kami mahasiswa memanggilnya Pak Sam. Ia mengajar beberapa mata kuliah, yang paling kuingat Teknik Menulis Features.
Pak Sam tak hanya mengajarkan dunia kepada kami, tapi juga manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Setiap mengikuti mata kuliah yang ia ajarkan, selalu ada hal baru yang disampaikan. Yang tak pernah atau jarang kami tahu sebelumnya.

“Tahukah kalian, kalau tentara Israel yang Yahudi itu sangat fasih dan hapal surat Al Fatihah?,” ucapnya waktu itu. Ia lantas bercerita, setelah menunaikan ibadah haji, ia memutuskan tidak langsung kembali ke Indonesia. Ia menyempatkan berkunjung ke wilayah Palestina dan Israel. Untuk masuk ke wilayah Israel, pendatang yang mengaku Muslim diwajibkan membaca Al Fatihah. Bisa dibayangkan, bagaimana orang biasa mengumandangkan Al Fatihah di hadapan tentara berwajah sangar, bersenjata otomatis. Dari Pak Sam waktu itu aku tahu, salah satu penyebab perang Palestina dengan Israel tak berkesudahan. Karena salah satu tempat bersejarah umat Muslim berada di tengah-tengah wilayah Israel. Sebaliknya, tempat bersejarah orang Yahudi berada di wilayah Palestina. Kedua pihak saling menuntut untuk pindah.

Cerita-cerita ringan di sela pemberian mata kuliah itu yang membuatku betah, hingga lulus di tahun 2001. Kurang dari seminggu setelah wisuda, aku diterima bekerja di koran lokal terbesar di tempatku. Tiga tahun bekerja di koran, pindah dan menghabiskan 3 tahun berikutnya di tv lokal. Setelah itu coba-coba ikut tes PNS, akhirnya diterima di kantor bupati setempat.

Melihat aku yang dulu dengan apa yang kucapai sekarang adalah hal yang luar biasa. Jangankan bekerja di depan komputer, memiliki kendaraan bermotor atau laptop untuk menulis kisah ini. Melihat aku sudah punya handphone saja adalah sesuatu yang tidak berani aku bayangkan saat remaja dulu. Rasanya tak mungkin.

Inilah berkah Tuhan, juga berkat bantuan dari mereka. Bu Endang, Pak Sam dan banyak orang lagi yang tak bisa kusebut satu per satu. Mereka orang-orang biasa. Tapi bagiku, mereka orang yang luar biasa. Mereka lah pahlawan yang nyata dalam hidupnya, maupun bagi hidup orang lain.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 10 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 11 jam lalu

Anda Tidak Percaya Alien, Maka Anda Sombong …

Zulkifli Taher | 11 jam lalu

Anfield Crowd, Faktor X Liverpool Meredam …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

That is How You Kill Me …

Ryu Kiseki | 9 jam lalu

Tiga Hal yang Ingin Saya Lakukan di …

Hendra Wardhana | 9 jam lalu

Dari Body Mulus, Sampai Bibir Sexy …

Seneng | 10 jam lalu

[Cerminsiana] Candra Buana …

Fadli Hermawan | 11 jam lalu

SBY (Mungkin) Adalah Tipe Orang yang …

De Baron Martha | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: