
Sari. Lahir dan besar di Jakarta, mantan pengajar yang saat ini bekerja dari rumah sambil mengurus 2 buah hatinya. Ingin menambah pengetahuan, berbagi pemikiran, pengalaman, pendapat dan canda dengan teman - teman di Kompasiana. Aktif menulis sejak tahun 2005, silahkan mengunjungi blog pribadinya di www.widasarisaraswati.blogspot.com Salam persahabatan dari Granada, Spanyol.
Dibaca: 685
Komentar: 31
2 dari 5 Kompasianer menilai Bermanfaat
Padahal seinget saya dulu harga masih kisaran puluhan ribu atau setidaknya ratusan ribu lah. Sekarang ratusan ribu itu ternyata sudah biasa, mainannya sudah jutaan, seperti sepatu Giuseppe Zanotti, tas Hermes, jam tangan Christian Dior atau busana Givenchy yang harganya puluhan - ratusan juta sudah biasa di acara para sosialita. Entah asli atau palsu.. yang penting desainer asing dan gaya!
Jakarta sudah dikepung sama mall, jarak 1-2 km ..eh..udah ada mall lagi. Heran, apakah bertambahnya mall-mall ini dibarengi dengan naiknya kemampuan daya beli masyarakat? atau mall tambah banyak, tapi yang beli sih itu-itu juga sebenarnya. Atau mungkin juga karena banyak social climber, jadi berusaha beli barang bermerk mewah untuk masuk ke social circle yang lebih posh?
Sama halnya dengan restoran kelas atas dan kafe-kafe yang semakin menjamur, selalu ramai. Bahkan orang-orang rela mengantri untuk makan di restoran-restoran berkelas. Pertunjukan musik dengan harga tiket ratusan ribu rupiah laris manis bahkan jutaan pun tak pernah sepi pengunjung.
Mungkin ini karena banyak perusahaan kartu kredit, banyak bank menawarkan pinjaman, tuntutan gaya hidup yang begitu tinggi menyebabkan banyak orang terlilit hutang. Tidak heran kalo kriminalitas meningkat, gaya hidup antara si kaya dan miskin sangat timpang sekali, menyeramkan sekaligus menyedihkan :-(
Pembangunan mall-mall lebih pesat dibandingkan pembangunan fasilitas rakyat. Yang kelihatan di depan kita tuh orang-orang pada belanja, belanja, belanja. Saya terus terang prihatin melihat perilaku konsumtif bangsa kita. Masalahnya yang laku adalah produk luar bukan produk dalam negeri. Gampangnya, kita eksport barang kita untung, kita import barang kita rugi. Apa kita mau perekonomian kita dikuasai sama barang import?
Citra diri buat orang indonesia itu sangat penting, sehingga sudah menjadi budaya bahwa barang belanjaan dijadikan simbol status. Beli barang berdasarkan gengsi dan gaya-gayaan saja, bukan fungsi dan kebutuhan lagi. Pemerintah, pengusaha yang bikin mall dan oknum sich senang dengan bertambahnya mall-mall (baca : outlet-outlet merek asing/butik-butik mewah) soalnya jadi banyak pajak yang masuk.
Ironis sekali di sekitar mall-mall yang mewah, gedung pencakar langit dan apartemen menjulang tinggi yang berdiri, ada banyak perkampungan kumuh, sudah semestinya Pemda Jakarta peka terhadap masalah seperti ini. Bangun taman-taman kota yang ramah lingkungan sehingga kita bisa menghirup udara bersih.
Orang tua banyak yang “rekreasi” dengan anak-anaknya di mall saat akhir pekan, ini dikarenakan kurang tersedianya taman-taman kota. Kalau pun ada banyak taman kota yang terlantar. Bukankah lebih baik menghabiskan waktu bersama keluarga di taman, rekreasi sekaligus mendidik anak dengan cara mengajarkan anak tentang keindahan alam, mensyukuri indahnya karunia yang telah Allah berikan, dan mengajarkan anak tanggung jawab memelihara kebersihan taman.
Selain itu taman-taman kota seperti yg kita ketahui, berfungsi sebagai daerah resapan air untuk mencegah bencana banjir. Tata kota Jakarta sepertinya tidak seimbang, kawasan komersial semakin melebar dan pemukiman penduduk serta ruang terbuka hijau semakin tergusur.
Semakin menjamurnya pusat perbelanjaan mewah ini juga membuat jurang kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin semakin besar. Yang dibutuhkan oleh Jakarta bukan mall lagi tapi perbanyak sarana umum salah satu contohnya taman kota yang ramah lingkungan dimana si kaya dan si miskin bisa membaur menjadi satu sehinga bisa sama-sama menikmati.
Selain itu penyediaan fasilitas/aksesibilitas bagi para penyandang cacat juga jangan dilupakan, hal ini menunjang mereka agar dapat berintegrasi secara total sesuai dengan kemampuannya dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat. Penyandang cacat memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memperoleh pelayanan dan kesejahteraan masyarakat.
Saya langsung membandingkan dengan berita-berita para anggota DPR yang suka tertidur saat sidang, studi banding yang menghabiskan milyaran rupiah ke luar negeri disaat rakyat menjerit karena kesulitan ekonomi, sering absen sidang tanpa alasan padahal gaji dan tunjangan mereka yang 50 juta rupiah per bulan itu bukan main besarnya. Belum lagi dana pensiunan yang akan mereka dapatkan setelah tidak menjabat lagi, itu pun masih saja terdengar usulan mereka minta ini itu yang terkesan konyol.
Kemana hati nurani mereka ini? Kenapa sepertinya terlihat selalu ingin memperkaya diri sendiri dan golongan ? Para wakil rakyat itu mungkin sudah lupa janji-janji saat kampanye dulu, lupa kalau tugas mereka itu melayani rakyat, bukan dilayani rakyat. Harusnya kalau para wakil rakyat dan pejabat negara masih peka dengan keadaan bangsanya, program TV di atas adalah tamparan keras untuk wajah mereka.
Saya juga masih ingat cerita dari supir taksi yang bilang ke saya kalau anaknya yang umur 2 minggu, masih ditahan di salah satu Rumah sakit di Jakarta karena masih harus nebus biaya 400 ribu lagi. Tidak percaya, hal seperti itu ternyata masih terjadi di Indonesia. Ngenes dan terharu mendengarnya…semoga di tahun-tahun ke depan Indonesia semakin baik, yang berkepentingan menyadari dan cepat bertindak terhadap apa yang dibutuhkan rakyatnya.. aminn…
Note :
- Foto-foto diambil tanpa ijin dari google.com
dan
http://widasarisaraswati.blogspot.com/2010/01/persiapan-mudik-ketimpangan-sosial.html