Fasir fii bilaadillahi wal-tamisil-ghinaa
Ta’isy dzaa yasaarin ao tamuutu fatu’dzar
(Maka berjalanlah engkau di bumi Allah ini dan carilah kekayaan, agar engkau bisa hidup dalam kemudahan atau kalau mati sekalipun akan dihargai)
Kawan saya mempunyai ide yang sangat hebat. Ia mempunyai ide untuk memulai bisnis menjual makanan khas berbagai daerah di Indonesia di Jakarta. Idenya sederhana, jika orang-orang kangen dengan makanan khas daerah masing-masing, mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke daerahnya untuk membeli makanan tersebut. Cukup membeli di Jakarta.
Ide itu sudah membara dan semakin panas berada dalam pikirannya. Ia dengan penuh semangat bercerita bagaimana akan melaksanakan ide-ide tersebut dan mengembangkannya menjadi bisnis besar yang akan mencakup banyak daerah di seluruh Indonesia.
Dan waktupun terus berjalan, saat masih pertama-tama, intensitas dan keseriusan teman saya masih sangat terasa. Lambat laun, seiring berjalannya waktu, intensitas itu semakin berkurang dan semakin berkurang. Dan saat ini, ia tidak lagi bergairah membicarakan hal itu. Ide besarnya layu sebelum berkembang.
Ada kawan saya yang lain, ia bercerita bahwa ia ingin mengarang kamus yang paling lengkap tentang ekonomi Islam. Kamus itu berisikan entry semua hal yang berkaitan dengan ekonomi Islam. Karena kelengkapannya, diharapkan kamus itu bisa menjadi rujukan bagi mahasiswa, dosen, dan semua pihak yang tertarik dengan ekonomi Islam.
Saya bertanya: “Lalu apa yang sudah dilakukan?” Ia menjawab bahwa ia sudah mengumpulkan berbagai referensi tentang ekonomi Islam dari berbagai sumber di dunia ini dan tinggal menuliskannya untuk menjadi buku. Jawaban itu membuat saya juga berharap bahwa ia segera bisa merealisasikan gagasan besarnya.
Saya menunggu beberapa bulan kemudian. Saat awal, ia masih bersemangat membicarakan hal tersebut. Lambat laun, pembicaraan tentang kamus itu mulai meredup, hingga akhirnya hilang sama sekali dari topik pembicaraan kita selanjutnya. Saat saya tanya kemudian, ia menjawab pelan: “Kelihatannya, program itu belum bisa berjalan, karena berbagai sebab”.
Cerita tentang kawan saya di atas adalah cerita tentang ide yang keburu layu sebelum berkembang. Ide yang sebenarnya bagus, karena kurang dukungan motivasi dan tekad yang kuat, akhirnya menjadikannya hilang di tengah tantangan dan rintangan yang menghadang.
Ya, setiap ide dan rencana pasti mempunyai rintangan dan halangan yang akan menghadang, apapun ide dan rencana tersebut. Di situlah menjadi ujian sesungguhnya bagi kita, apakah kita serius dalam melaksanakan satu ide tertentu atau tidak.
Keseriusan kita akan terlihat pada saat kita menghadapi satu rintangan demi rintangan yang menghadang. Bahkan terkadang, rintangan itu begitu berat sehingga terasa bahwa kita seakan sendiri berada dalam pusaran rintangan. Di sinilah kekuatan motivasi diri kita perlu dibangkitkan. Tekad kita mesti bulat, bahwa apapun yang akan terjadi di depan tidak boleh menghalangi cita-cita dan impian kita.
Novel dan Film Sang Pemimpi karya Andrea Hirata mengajarkan banyak hal tentang bagaimana agar tidak tidak terjebak hanya menjadi pemimpi. Semua orang mesti bermimpi, tetapi yang menjadikan seseorang akan mampu meraih mimpi tersebut atau tidak tergantung dari usaha yang dijalankan.
Ikal dan Arai adalah dua orang dalam novel tersebut yang bermimpi untuk sekolah ke luar negeri. Mereka berasal dari keluarga miskin, sehingga untuk sekolah ke luar negeri dengan biaya sendiri adalah sebuah kemustahilan besar. Tetapi mereka tidak berputus asa.
Mereka mulai dengan membuat peta perjalanan ke mana arah cita-cita masa depan mereka. Mereka gambarkan Sorbonne sebagai kota tujuan, yang menurut mereka adalah kiblat dari ilmu pengetahuan. Sebuah tekad bulat dicanangkan: “suatu saat nanti, aku akan sekolah di sini”, sambil melingkari kota Paris di peta Eropa.
Lulus kuliah S1, sambil bekerja, mereka kemudian mencari beasiswa luar negeri. Dengan tekad yang kuat, diiringi kerja keras untuk belajar dan membuat proposal penelitian, akhirnya merekapun diberikan beasiswa untuk sekolah ke luar negeri.
Ini bukan sekedar cerita sinetron yang serba kebetulan dan terkadang tidak masuk akal. Tetapi sebuah contoh dari keseharian kita, bahwa jika kita mempunyai ide dan cita-cita, jangan pernah berhenti memperjuangkan ide dan cita-cita tersebut. Kesabaran dan kerja keras akan membantu kita mewujudkannya.
Saatnya memperjuangkan ide yang kita bangun, karena ide dan kreativitas itu mahal harganya. Karena jika kita tidak pernah berusaha keras memperjuangkan ide-ide kita, kita akan selamanya takut menghadapi kehidupan. Jangan takut hidup, kawan. Hidup memang perlu diperjuangkan.
Sukses buat Anda semua, Salam Man Jadda Wajada.
AKBAR ZAINUDIN
Penulis buku motivasi: “Man Jadda Wajada: The Art Of Excellent Life”, Penerbit Gramedia, Jakarta, 2010.
Email: akbar.zainudin@gmail.com
Facebook: Akbar Zainudin
Twitter: @akbarzainudin
Bisnis kuliner menjamur dimana-mana. Bila Anda pernah menikmati hidangan atau masakan yang unik atau pernah
