Artikel

Edukasi

Ali Mustahib Elyas

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

menulis di kompasiana demi silaturahim dengan anda semua

Apakah Anda Suka Telanjang?


OPINI | 31 August 2010 | 01:41 Dibaca: 491   Komentar: 37   1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat

Dilarang telanjang di depan umum ( doc. rosodaras.wordpress.com )
“He! jangan telanjang di depan umum” ( doc. rosodaras.wordpress.com )

Hari ini ( 30 Agustus 2010 ) Kompas Female menurunkan reportase sangat menarik. Dikatakan bahwa TK Maxx, sebuah toko pakaian di Inggris pernah melakukan survei soal pengaruh pakaian terhadap keberhasilan wawancara kerja. Hasil penelitiannya itu menunjukkan, ternyata 7 dari 10 pewawancara itu tidak menghargai pelamar kerja yang terlalu fashionable. Mereka juga bisa secara langsung menggagalkan para pelamar kerja wanita yang berpakaian kelewat ketat dan bagian atas yang terbuka sehingga menunjukkan belahan dadanya.

Saya-pun senang membaca bagian akhir reportase itu yang berbunyi :

Pendek kata, wawancara kerja bukan tempat yang tepat untuk menjajal pakaian yang heboh, atau yang menunjukkan bagian tubuh Anda yang harusnya tersembunyi.

"kalo lamar kerja yg sopan ya" ( from google )

"kalo lamar kerja yg sopan ya" ( from google )

Tentu kita tidak lantas menyimpulkan bahwa upaya mereka itu demi mendudukkan kembali kehormatan manusia justru ketika ia berpakaian secara tertutup. Apalagi mereka juga mengatakan bahwa ketidak layakan berpakaian ketat dan terlalu terbuka itu dalam kaitan sesi wawancara para pelamar kerja. Hal ini dapat dipahami begini, Boleh jadi kalau hendak ke pesta mereka justru menganjurkan berbusana yang tadinya terlarang di dunia kerja.

Tapi oke lah. Kita tak perlu meraba-raba apa yang mereka mau. Sebab satu langkah positif yang telah mereka lakukan itu cukup beralasan bagi kita untuk mengatakan : Kalau dunia kerja telah menetapkan standar kelayakan dalam berbusana bagi para karyawan, tidakkah demikian pula untuk beberapa sektor kehidupan lainnya.  Tidakkah keharusan menutup bagian tubuh yang mestinya tersembunyi itu perlu dilakukan juga di kehidupan sosial lainnya.

Hasil penelitian TK Maxx agaknya perlu kita tangkap sinyalnya yang positif. Yakni dapat kita jadikan sebagai titik mula untuk bersikap lebih luas bahwa sejarah peradaban manusia pernah mencatat betapa naluri manusia selalu ingin menutup bagian tubuhnya yang mesti ditutup. Dari sini lantas tercipta kreatifitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya yang satu ini.  Muncullah sejarah tekstil bersamaan dengan sejarah peradaban manusia sejak Adam hingga kini.

Secara naluri, Nabi Adam saat itu lantas menutupi tubuhnya dengan dedaunan begitu menyadari betapa tidak nyamannya tubuh yang tidak tertutup ( Al-A’raf, 22 ). Konon orang-orang Tiongkok juga telah mengenal teknik menenun kain sutera sejak 4000 tahun yang lalu. Lantas mengapa orang-orang modern saat ini memiliki kecenderungan untuk berminim-minim pakaian? Bahkan ada perlombaan yang mensyaratkan pakaian minim untuk para pesertanya. Apakah mereka ingin kembali ke zaman batu? Setelah 241 tahun yang lalu Richard Arkwright ( lahir di Inggris 1732 ) berhasil membuat alat pintal yang lebih baik. Hebatnya, ia memulai karirnya ini sejak berusia 20 tahun.

Dengan memahami sepenggal sejarah yang demikian, mari kita bertanya : Apakah kita masih hendak bertelanjang di muka umum?

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: