Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Y.padmono Dr.

Saya seorang dosen yang terlambat belajar iptek.Hoby Olahraga, baca, dan musik. Saya harus terus belajar! selengkapnya

Meniru Tiga Idiot (02)

OPINI | 15 September 2010 | 08:30 Dibaca: 310   Komentar: 34   0

Paulo Freire menyatakan pembebasan dalam pendidikan akan meningkatkan motivasi dalam belajar! Ya, lihat film “Tiga Idiot” Kita akan menyetujuinya, meskipun ini juga relative tergantung tipologi belajar masing-masing Individu. Sebelumnya ini: http://edukasi.kompasiana.com/2010/08/31/meniru-tiga-idiot-dan-inovasi-ala-indonesia01/.

Ramcho. Tokoh sentral berpendirian dan berprinsip kebebasan dalam belajar. Cara belajar, tempat belajar, dengan siapa ia belajar… produk? Jangan pikirkan dan” jadilah orang besar, maka kesuksesan akan mengikutimu”. Ia tak memedulikan apakah ia memperoleh ijasah, apakah ia juara, apakah ia dianggap oleh guru/dosennya… yang ingin ia lakukan adalah belajar dalam cara manusiawi sebagaimana ia bebas mengarungi kehidup kemanusiaan manusia yang ia yakini!

Bila! Kita menggunakan alat-alat kognitif, missal: lawan-lawan biner, sebuah cara belajar dengan mencoba melihat dua hal dari berbagai sudut: persamaannya, perbedaannya, kekontrasannya, kelebihan dan kekurangannya, manfaat dan kerugiannya, dan segala hal yang ekstrem berbeda atau dua hal yang dapat disejajarkan atau diserialkan dalam jajaran atau urutan, tentu ini sebuah cara yang akan cocok pada tipologi yang sama…

Chatur! Ia juga menjadi sukses menjadi seorang wakil presiden direktur sebuah perusahaan multi internasional yang bergaji besar…. Tentu ia sukses dalam skala ukuran material! Mungkinkah ia sukses dalam menikmai kehidupan? Mungkin saja, karena itu memang tipologinya! Belajar dengan menghafal kata-demi kata, menghafal rumus dengan titik dan koma sekaligus spasi symbol-simbol penyertanya… tidak masalah ia berada di alirannya!

Sukse Ramcho dengan nama sebenarnya si Wangdu… Tuchuk Wangdu dan sukses Chatur, jelas berbeda karena ia tipologi manusia yang berbeda! Wangdu atau Ramcho ketika masih sebagai mahasiswa kaya raya tetapi miskin (karena ia sebenarnya memang miskin) tak tertonjolkan kemiskinannya, justru Rastogi yang dimunculkan kemiskinannya, meski ia peran pembantu.

Mereka sukses dalam tipologi yang berbeda, tentu cara belajar yang berbeda, ia sukses di tempat berbeda, dengan cara yang berbeda……………… setiap individu memang berbeda!

Individu adalah individu!

Ia memiliki karakteristik yang tentu berbeda! Ia memiliki kepribadian yang berbeda! Ia memiliki bakat, IQ, EQ, SQ atau QQQ lain berbeda, karena mereka adalah psibadi yang berbeda! Kalaupun ia jalan bersama, belajar bersama mereka hanya berada pada cara share belajar… pergaulan dan sosialitas bersama, tetapi hakikatnya mereka berbeda!

Apakah guru harus membedakan? Tentu! Tetapi tidak dalam tampilan sporadis tetapi mengalir mengikuti berbagai karakteristik yang muncul dari personil-personil…atau kasus-kasus yang muncul mengikuti segera dalam pembelajaran yang terkemas dalam prosesi konteks paraktek terikuti oleh semua siswa!

Kita tidak bisa memaksa, bahkan kepada diri kita sendiri… itu hakikat sebenarnya! Persoalannya! Apakah kita bisa membebaskan setiap individu belajar dalam caranya? Dan mungkinkah pembebasan pembelajaran dilakukan serempak kepada 40 siswa? Bagaimana berjalannya!

Di sinilah perlunya perjalanan pembelajaran dari klasikal ke belajar individual. Kelas ke group dan gari group ke kelompok kecil, akhirnya dari kelompok kecil ke individu… Mereka akan bersalan dari sosialita ke indiviualistik, meski bukan untuk membentuk masyarakat individualis tetapi membangun kapasitas-kapasistas individual!

Ramcho dengan kebebasanya, meninggalkan ijasah untuk orang lain, tapi ia bawa seluruh keterampilan dan inteltualitasnya yang telah terbang bersama pribadinya yang bebas mengelana dalam khayalan imajinasi kreatifnya. Chatur sukses menjadi peletak kebijakan-kebiujakan pengembangan perusahaan dengan mainstream copypaste otaknya yang cemerlang dalam menscan seluruh pengetahuan yang ada diketahuannya!

Rastogi sukses dengan pembebasan dirinya dari ketakutan dan beban-beban sampai ia mencipta berbagai ritualnya…. Dan si fotografer juga sukses dengan imajinas-imajinasi yang tak pernah ia pelajari secara formal teori dan insting dan intuisinya menuntun bakat estetis yang menggumbal disepanjang hidupnya…..

Pembebasan itu diperlukan…. Tapi keteraturan itu efisiensinya

Belajar efisien itu penting dilakukan… tetapi formalitas memang memudahkan dalam mengtadministrasi

Adalah profesionalisme yang mengatur kita…. Bukan sekedar adminitratur yang sering kehilangan substansi!

Bebaskan……………. Tapi kapan?

Siapkah anak-anak pelajar…. Mahasiswa dibebaskan?

Siap bertanggung jawab?

Ini http://www.youtube.com/results?search_query=3-idiots&aq=f

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 9 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 11 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 12 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: