Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Doharman Sitopu

Seorang Pelatih Sukses–berbasis 8 ETOS KERJA PROFESIONAL tersertifikasi dari Institut Darma Mahardika JAKARTA (By: Jansen selengkapnya

Musang dan Pohon Enau

OPINI | 23 September 2010 | 05:43 Dibaca: 869   Komentar: 2   1

Pengantar

Tulisan ini bagian dari ” 100 Inspirasi SUKSES ” yang sedang saya kompilasi. Mohon komentar dan masukan dari para pembaca budiman. Atas masukannya saya ucapkan terimakasih.

Salam Inspirasi.

Musang dan Pohon Enau

Tangga bambu menggapai tangan (WWW.Google.com)

Tangga bambu menggapai tangan (WWW.Google.com)

Pohon enau adalah sebuah pohon inspiratif yang tak kalah dari pohon pisang dan pohon kelapa. Mulai dari batang, daun, buahnya bermanfaat. Batangnya dapat dibuat jembatan, tombak, dan papan untuk bahan bangunan. Isi batang dapat dijadikan sagu.

Uniknya, batang pohon ini dibelut oleh baju yang kita kenal dengan ijuk. Ijuk ini dapat dijadikan tali temali, dan atap rumah. Bahkan dalam beberapa kasus, digunakan sebagai filter penyaring air. Fungsi daun sudah tentu kita ketahui untuk sapu lidi.

Bicara mengenai sapu, sapu ijuk adalah produk unik dan satu-satunya yang hanya dapat dibuat dari pohon enau. Nah, buahnya? Pasti sudah pernah anda makan! Iya, tak salah lagi, kolang-kaling. Pada masa-masa bulan puasa komoditi kolang kaling sangtlah laris manis. Bila es kolang kaling dihidangkan saat berbuka puasa, sungguh segeeerrrr.

Tak semua orang mengenal nira. Dialah minuman raja-raja pada jaman dahulu kala. Rasanya manis dan khas. Di beberapa daerah, nira dicampur dengan berbagai jenis kulit kayu untuk mendapatkan aroma tertentu. Salah satunya kulit pohon raru. Kulit kayu raru yang dikeringkan, kemudian dimasukkan ke dalam air nira, akan memicu proses fermentasi.

Bagi beberapa kalangan minuman jenis ini dinyatakan enak dan beraroma khas. Namun bila diminum melebihi takaran, dapat memabukkan.

Jika sedikit orang yang mengenal nira, maka lebih sedikit lagi yang mengetahui cara membuatnya. Nira adalah air alami yang berasal dari ‘tangan’ pohon nira. Dikatakan ‘tangan’ karena bentuknya menyerupai tangan, menyeruak diantara batang daunnya. Awalnya tangan ini dipenuhi buah kecil sebesar biji kopi. Bila tangan ini dilembutkan melalui proses pemukukan secara teratur, maka bila dipotong akan mengeluarkan cairan yang kita kenal nira.

Konon proses pemukulan ‘tangan’ nira disertai lagu-lagu harapan agar enau sudi mengeluarkan airnya yang memiliki nilai ekonomis itu. Maka dipukullah ‘tangan’ itu setiap hari. Konon, air nira yang menetes merupakan “tetesan airmata bahagia”pohon enau. Bahagia rasanya dapat memberikan yang manis bagi manusia, air yang nikmat diminum atau dijadikan gula aren.

Makna pertama yang dapat kita petik adalah, kesuksesan atau keberhasilan peristiwa kerap kali diawali penderitaan, tangis dan isak. Kita dapat menghasilkan air nira yang manis melalui sebuah proses yang menyakitkan. Setiap hari pohon enau mengalami kesakitan karena dipukul, demikian juga ketika ditebas dengan pisau tajam sang petani.

Tumbuhnya pohon enau, pada umumnya bukanlah hasil dari budi daya. Bibit tanaman ini disemai oleh musang melalui kotorannya. Sehingga posisi tumbuh pohon ini tak tentu. Tergantung di mana musang buang hajat besar. Hal ini diketahui penduduk desa dengan persis. Sehingga peristiwa ini diyakini sebagai peristiwa alami. Selanjutnya dimaknai sebagai takdir yang tak perlu dipelajari.

Itulah sebabnya jika ditanya bagaimana mendapatkan bibit pohon enau, mereka bilang suatu hal yang mustahil. Pembibitan dimaksud hanya dapat dilakukan musang, bukan manusia. Demikianlah paradigma penduduk, sehingga Penulis belum pernah tahu adanya pembudu dayaan atau peyemaian bibit pohon enau. Karena diyakini peristiwa alamiah, maka tak perlu dipelajari.

Hingga suatu saat , saya menyadari bahwa mindset kita telah dibelenggu jargon dan keyakinan yang tak jelas dasarnya. Mengapa tak pernah berpikir untuk budi daya pohon enau? Sehingga posisi tumbuhnya dapat diatur.Misalnya di perkebunan.

Apa makna yang dapat kita peroleh dari fenomena ini?

Acap kali kita membiarkan pikiran dibelenggu oleh pemikiran klasik yang tak berdasar. Kita terlalu yakin dan meyakini jika pohon enau hanya bisa ditanam oleh hewan. Tapi bukankah kita lebih pintar dari hewan? Memang, metoda pembibitan pohon enau ini telah ditemukan pada akhirnya, namun setelah ratusan tahun pikiran kita terbelenggu oleh paham yang ‘menyesatkan’.

Seikat makna:

1. Jadikanlah semua organ tubuh sebagai pemberi makna dan manfaat. Ringan tangan, ringan langkah, mata dan pendengaran yang peduli, hidung yang memiliki penciuman yang tajam, dan pikiran yang inisiatif, kreatif, dan inovatif bagi kemajuan sesama.

2. Milikilah keunikan seperti halnya enau memiliki ijuk. Milikilah kelebihan, keunikan, skill yang menjadi pembeda (differenciation) dari orang lain.

3. Sesuatu yang nikmat dapat memabukkan. Artinya, kenikmatan cenderung menina bobokan pelakunya. Berhati-hatilah.

4. Pada umumnya kesakitan, penderitaan, tangisan , dan isak bila dimaknai dengan sungguh-sungguh akan berakhir dengan kesuksesan

5. Sesuatu yang manis, bila ingini lebih manis lagi, dapat jadi petaka

6. Belenggu pola pikir sangat berbahaya, siapa bilang pohon enau tak dapat dibudidayakan manusia? Siapa bilang anda tak bisa jadi pebisnis sukses? Jadi orang kaya? Jadi Pejabat?

Semoga terinspirasi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Flora di Malang …

Abdul Malik | | 02 August 2014 | 08:36

Yuk Kenali Serba-serbi Njagong …

Giri Lumakto | | 01 August 2014 | 23:14

Akankah 3-5-2 Menggeser Tren 4-2-3-1? …

Muhamad Rifki Maula... | | 01 August 2014 | 23:30

Di Balik Akasia …

Langit Senja | | 01 August 2014 | 08:37

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: