Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Marwan Upi

Aku adalah Kamu. Kamu adalah Aku. Salam kenal ya. Santai aja… http://www.marwanupi.blogspot.com/. selengkapnya

Hati-hati dengan Hati…!!!

OPINI | 26 September 2010 | 16:09 Dibaca: 217   Komentar: 2   1

Perhatian…!!! Kata inilah yang sering digunakan oleh pembicara jika ingin para pendengarnya melihat dan mendengarkannya.

Kata ‘perhatian’ berasal dari kata dasar ‘hati’. Namun, untuk mengajak orang mendengar, kita harus meminta hatinya untuk ‘mendengar’ kan kita. Kenapa bukan ‘telinga’ yang diminta? Kenapa bukan kata ‘pertelingaan!!!,’ Untuk mengajak orang mendengarkan kita?

Begitu pula jika kita ingin mengajak orang untuk melihat kita. Kita selalu mengatakan perhatian!!! bukan ‘permataan!!!’ Sementara yang kita minta adalah matanya untuk melihat kita. Lagi-lagi selalu hati yang diminta.

Ada apa dengan hati?

Hati adalah salah-satu organ tubuh manusia yang sangat vital. Dalam islam hati adalah salah-satu alat untuk menangkap ilmu pengetahuan (epistemology) yaitu mata hati (mata batin). Selain berfungsi sebagai oragan yang membantu proses metabolisme tubuh, hati juga memilki fungsi yang sifatnya abstrak. Sebagaimana hadis nabi Muhammad saw yang kurang lebihnya : ‘dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika daging itu kotor maka kotor pula pemiliknya dan jika daging itu baik maka baik juga pemiliknya’. Dalam hati manusia dapat mengukur keikhlasan dalam berbuat.

Dalam hati terdapat perangkat yang sangat membantu manusia dalam melihat kebenaran. Perangkat itu adalah hati nurani. Hati nurani atau biasa dikenal dengan fitrah. Hati nurani (fitrah) merupakan kelebihan yang dimiliki oleh manusia yang membedakannya dengan hewan dan tumbuhan. Hati nurani selalu mengalami kecenderungan ke hal yang baik dan benar.  Dengan hati nurani manusia dapat menemukan dan mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia yang berkemanusiaan. Ketika manusia berbuat tanpa mengikuti bimbingan hati nurani maka sesungguhnya dia telah mulai bergerak meninggalkan identitasnya sebagai manusia.

Manusia berbuat kejahatan maka hati nurani secara otmatis memberikan larangan.  Kejahatan adalah tindakan yang cenderung mengikuti nafsu duniawi sesaat. Bagaikan hewan karna manusia yang berbuat kejahatan tidak mempertimbangakan dampak buruk yang terjadi, baik untuk diri maupun lingkungannya. Dia selalu bertindak untuk kepentingan diri sendiri meskipun hak orang lain terampas olehnya.

Misalnya saja, seorang koruptor yang memakan uang rakyat. Dia tak lebih seperti hewan yang selalu tunduk pada nafsu sesaat yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat dampak buruk yang terjadi. Bimbingan hati nurani yang mengajaknya untuk tidak korupsi telah diabaikan. Sementara banyak rakyat yang menangis karna kelaparan.

Jadi tak ada salahnya kalau seorang ustadz, Aa Gim, pernah berkata dalam lirik lagunya yang berbunyi: ‘jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini’. Oleh karna itu tak salah bagi siapa pun yang ingin mengajak orang, selalu mengajak hatinya. Untuk mengajak orang untuk mendengar, memerhatikan ataupun mengajak pemerintah untuk memperjuangkan keinginan rakyatnya maka hatilah yang di perintahkan karna hati tak pernah bohong. Karna hati selalu mengajak kepada kebaikan.

Jadi, menjadi hal yang wajar ketika kita mengatakan kepada siapa saja dengan kata “Perhatian…!!!” karna hatilah yang mampu merasakan kemanusiaan manusia. Pemerintah yang  tak menggunakan hati nuraninya dalam memimpin, maka rakyatlah yang menjadi korban ketidakadilannya. Ilmuwan yang menemukan teknologi baru maka teknologi tersebut akan menghancurkan manusia jika penggunaanya tak memperhatikan arahan hati nurani. Bom atom jika digukan berdasarkan bimbingan hati nurani maka tragedi hiro sima dan naga saki tak akan menjadi sejarah kelam yang menyedihkan.

PERHATIAN!!! Selalulah menjaga hati.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 3 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 12 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Anggota DPR Baru (Dilantik) Jangan Korupsi …

Wardah Fajri | 7 jam lalu

Selamat Bertugas Wakil Rakyat yang …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Belajar Mudah Standup Comedy …

Thamrin Dahlan | 7 jam lalu

Pelantikan Anggota DPR-RI dan Rupiah yang …

Benediktus Andre Se... | 7 jam lalu

Dekret (Ngobrol dari Pinggiran) …

Tasch Taufan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: