Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Y.padmono Dr.

Saya seorang dosen yang terlambat belajar iptek.Hoby Olahraga, baca, dan musik. Saya harus terus belajar! selengkapnya

Belajar Berbasis Otak (Inovasi Pembelajaran 1.1)

OPINI | 28 September 2010 | 19:16 Dibaca: 532   Komentar: 98   1

DI halaman depan Erick Jensen (2007) mengungkapkan pemikiran Gandhi “Dalam sebuah cara yang lemah lembut itu Anda dapat mengguncang dunia”. Sisi positif negative dapat dimaknakan pada pernyataan Gandhi yang mirip filosofi Tiongkok yang dicontohkan oleh seorang guru silat member pesan kepada murid kesayangannya “ Muridku lihatlah di mulutku apakah masih ada gigiku” pernyataan guru pada muridnya “maaf tidak ada guru semua sudah tanggal”, “Ya, baiklah lihat sekali lagi” perintah sang guru “Lihatlah lidah apakah masih ada?” “ masih ada guru” jawab sang murid. Setelah itu sang guru mafat.

Kedua pernyataan tersebut memberikan pandangan dan pencerahan bahwa, kelembutan yang dilakukan secara terus menerus akan lebih tahan lama dibandingkan kekerasan. Tentu itu di sisi positif, di sisi lain para pemberontak akan berpikir “untuk menggulingkan pemerintahan yang syah janganlah melawan dengan cara frontal, tetapi galanglah kekuatan secara diam-diam, kumpulkan teman secara diam-diam, menyusuplah secara diam-diam, nah dalam diammu itu kamu akan mengubah dunia”.

Filosofi ini hampir sama dengan yang dilaklukan “Mahesa Jenar” seorang punggawa kerajaan Majapahit dalam upaya menemukan pusaka kerajaan “Nagasasra” dan “Sabuk Inten”, ia mengasah ilmunya dengan konsisten perlahan dan terfokus seperti air perlahan menetes di satu tempat. Jadi upaya yang dilakukan perlahan tetapi terus menerus maka akan memperoleh hasil yang besar.

Namun demikian agak sedikit berbeda pada kata pengantarnya Erick Jensen (2007) mengutip pernyataan H.G Well seorang penulis visioner yang menyatakan “Peradaban adalah ras merupakan perpaduan antara pendidikan dan malapetaka”. Ini bukan kontradiksi, tetapi kombinasi yang apik antara kelembutan, konsistensi, focus, namun itu memerlukan pengasuhan yang sistematis dan membutuhkan pemantik yang membuat manusia itu bergerak.

Atau dalam konteks lain, seorang yang akan mengadakan perubahan haruslah mengelola segala sesuatu dengan berpikir kea rah kemajuan meskipun dilakukan secara perlahan dengan penuh kelembutan tetapi harus dilakukan terus menerus, dan terfokus kepada satu kegiatan upaya (tidak bercabang pemikiran dan kerjanya) dan semuanya akan terjadi jika ada situasi yang memaksa berbuat itu. Kebakaran yang dialami seseorang akan membuat ia frustasi dan bunuh diri atau tumbuh keberanian dan tenaga cadangan untuk mengubah pola hidup dan kinerjanya karena ada tanggungjawab yang harus mereka pikul. Artinya harus ada momentum yang menjadi pemantik sebuah perubahan.

Bila kita tarik sesuai judul, bagaimana merubah kultur belajar masyarakat kita yang cenderung adem ayem karena memang tidak ada kebutuhan terdesak, kultur yang terbiasa menikmati kenyamanan walaupun sebenarnya tidaklah nyaman dalam arti sebenarnya atau bangsa kita ini memiliki tingkat kepuasan yang rendah. Kurang memiliki cita-cita, nrimo ing pandum, tanggungjawab rendah, pemaaf dan permisif terhadap berbagai kekurangan, mangan yen ora mangan angger kumpul, bahkan mensyukuri nasib yang kurang baik menimpa, karena toh masih ada nasib yang lebih buruk lagi!

Apakah ini jelek? Tidak tentunya, namun bila kita gunakan untuk program akselerasi peningkatan kualitas bangsa, mengejar ketertinggalan, apalagi menyamai perkembangan Negara-negara maju, maka kita tentu tidak gampang dalam arti sulit mengejarnya.

Ayo Tinggal Landas!

Jika kita hanya mendasarkan satu ranah perkembangan kognitif dilihat dari Bloom dalam Evaluasi Pembelajaran (Padmono, 2009) tingkat Hierarkhi ranah kognitif terdiri mengingat (pengetahuan), memaham, menerapkan, analisis dan sintesis, menilai, dan membuat. Pembelajaran yang berlangsung pada seluruh jenjang pendidikan kita masih pada taraf kognitif tingkat rendah, yaitu: mengingat dan memahami. Bahkan memahami masih dapat kita hitung dengan jari kegiatan pembelajaran yang mengarah pada hierarki memahami.

Mari kita tengok, anak SD dengan banyak buku sejumlah mata pelajaran, tetapi setelah bacaan adalah menjawab pertanyaan yang bersifat hafalan san satu dua diantaranya menjelaskan, membedakan, mengkategorikan (memahami). Kita sulit menemukan buku dan guru mendorong muridnya untuk menerapkan rumus atau pernyataan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dikombinasikan dengan ranaf afektif, misalnya: menyatakan siap, menyatakan kesediaan, mendukung, memilih!

Coba kita renungkan, bagaimana mungkin kita memperoleh siswa yang melaksanakan tenggang rasa dalam kehidupan, jika pertanyaannya memilih sebuah perbuatan tetapi bukan menilai dari bagaimana siswa berbuat. Bagaimana kita menemukan siswa membuat, bila pembelajaran bahkan tidak pernah melatih siswanya menganalisis mencari kelemahan, mencari keunggulan, menyimpulkan komponen-komponen yang lemah, kemudian menilai sebuah model itu salah dengan memberikan aegumentasinya. Murid-murid kita masih dididik untuk menerima, untuk mengerti, meningkat sedikit menjelaskan atau membedakan, paling tinggi menunjukkan contoh. Kapan mereka bisa berbuat?

Para ahli menyebutnya, pembelajaran model tersebut hanyalah menggunakan berfikir tingkat rendah (low order thinking), guru sangat jarang memaksa muridnya menggunakan tingkat berpikir tinggi (high order thinking). Hal ini belum jika kita menyentuh mata pelajaran-mata pelajaran yang seharusnya mengembangkan sikap dan keterampilan, para guru mengujinya dengan ranah kognitif. Misal: bagaimana mengembangkan ketaqwaan beragama, jika tesnya siapa nama nabi terakhir (ingatan), sholat itu rukun islam ke berapa (ingatan/berpikir tingkat rendah).

Yang Penting Bergerak menggunakan otak (tinggi)

Berdasar uraian singkat tersebut, marilah kita sebagai insane yang bergerak dalam pendidikan mencoba mengadakan revolusi kecil dalam pembelajaran atau mengadakan inovasi pembelajaran, paling tidak mengembangkan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan aspek sikap dan keterampilan sesuai proporsinya. Hilangkan memorisasi yang cenderung mengembangkan otak kiri itupun bagian yang paling rendah!

Sederhana saja, ini pada awalnya karena kita alergi dengan kata revolusi, maka kita menggunakan kata evolusi pendidikan. Ya, okelah yang penting bergerak belajar menggunakan otak tinggi. Misalnya: jika guru sebelumnya suka menggunakan kata menyebutkan, memilih pilihan ganda a, b, c, dan d, ubahlah ka soal esai, missal: bedakan, jelaskan, bandingkan, runtutkan!

Sementara yang sudah sering menggunakan pertanyaan bedakan atau cari persamaan, ubahlah menjadi pertanyaan “ Cobalah analisis, mengapa roda itu bergerak?”, “Coba carilah apa yang menyebabkan anak kecil tersenyum atau tertawa?”.

Artinya, pertanyaan yang membuat siswa belajar dengan menggunakan pemikiran tinggi, atau mungkin sampai anak diminta menilai sebuah kerja sesuatu, karya sesuatu, kalimat tertentu, cerita tertentu, gambar tertentu, mintalah kepada anak untuk menemukan kelemahannya, menemukan keunggulannya, menentukan karya itu baik atau tidak dan member argumentasinya, selanjutnya siswa dapat didorong untuk membuat… sebagai pengganti karya yang kurang baik itu? Mungkinkah?…. tentu mungkin kalau kita mau!

Jika sudah mulai berjalan, marilah kita mencoba mendalami berbagai hal tentang otak, selanjutnya kita nantinya dapat membelajarkan anak berbasis otak! Kita tidak lagi terkungkung pada buku-buku pelajaran, tetapi buku itu hanyalah sebuah strting point, atau kita berganti buku, menambah variasi buku, karena sebenarnya lebih penting mengembangkan berbagai hal yang terkait dengan otak siswa.

Namun tentu tidak mudah, meskipun sebenarnya juga tidak sulit! Marilah belajar dan memikirkan kembali otak kita yang tidak lebih dari 2 kg ini. Apakah otak kita ini sama dengan otak teman kita, apakah benar otak kita terdiri dari dua belahan, yaitu belahan kiri dan belahan kanan yang memiliki tugas yang berbeda? Lantas apa tugas keduanya? Keduanya terpisah apa menyatu, bila menyatu apa yang menguhubungkannya? Benarkah penghubung itu namanya serabut corpuscolosum? Jika ada dua belahan, apakah itu simetris, apakah memiliki berat yang sama atau berbeda?

Bagaimana sebenarnya anatomi otak kita? Apa benar ada 4 bagian otak? Berapa jam otak tahan bekerja.. setelah kita memiiki gambaran sederhan tentang otak ini (tidak perlu menguasai secara detil karena itu bukan pekerjaan kita), paling tidak kita memiliki kesadarand an kesiapan untuk mengembangkan siswa-siswa kita mampu menggunakan otaknya dalam setiap gerak langkahnya, bahkan penggunaan berpikir tingkat tinggi adalah sebuah keniscayaan yang dapat kita lakukan!

Selanjutnya pemahaman ini akan mampu menuntun kita dan mungkin akan mengubah mind set kita, bahwa pada kenyataannya belajar yang kita kembangkan selama ini dengan mengumpulkan jutaan pengetahuan di otak kita ini ternyata hanya memiliki manfaat sedikit, ibaratnya kita hanya menumpuk beribu kubik kayu-kayu gelondongan dan menyimpannya bertahun-tahun tanpa ada upaya mengolahnya, tiba saatnya dibongkar kayu-kayu itu telah lapuk!

Coba kita renungkan, seandainya kita mengumpulkan kayu-kayu kelas tinggi, kita mengundang tukang-tukang ukir dan patung kelas tinggi kita minta untuk membentuk kayu-kayu yang kita kumpulkan, maka kita akan mendapatkan ukiran kayu dengan relief-relief yang mungkin kita tidak pernah menyangkanya semula.

Kita memiliki otak yang luarbiasa, sayang kita sering hanya menggunakan untuk hal-hal yang sederhana atau bahkan kita tidak pernah menggunakan otak kita, karena tanpa otak kitapun, maka otomatisasi kehewanan kita mungkin telah mampu menyelesaikannya!

Marilah kita mulai mengembangkan pembelajaran berbasis otak!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Kaesang: Anak Presiden Juga Blogger …

Listhia H Rahman | 5 jam lalu

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 8 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 10 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: