Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Indah Ummil Mu'minin

kadang pendiem, kadang cerewet,suka musik, suka olahraga, sedikit tomboy. contact me via my email : selengkapnya

Dimensi Belajar- Pembelajaran Berbasis Peristiwa Pembelajaran

OPINI | 02 October 2010 | 13:57 Dibaca: 491   Komentar: 2   1

Peristiwa pembelajaran ini bisa menjadi pedoman bagi guru atau calon guru untuk menghadapi murid dalam kelas. Pada dasarnya hakikat dari tahapan pembelajaran berbeda bergantung pada tujuan belajar yang diharapkan akan menjadi hasil pembelajaran. Tahapan peristiwa pembelajaran dapat dikembangkan sebagai berikut:

1. Pembelajaran itu harus menarik perhatian.

Menarik perhatian adalah kegiatan paling awal dalam proses pembelajaran. Dan merupakan hal penting dalam menentukan pemilihan dan melakukan informasi. Banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk menarik perhatian siswanya seperti dengan gerakan tubuh, atau sajian gambar-gambar menarik. Memberikan sesuatu yang menimbulkan hasrat mereka untuk memperhatikan. Hal tersebut dapat dilakukan di awal perjumpaan. Seperti pengalaman penulis, ketika memasuki kelas (waktu itu kelas 6) untuk pertama kali, hampir semua siswa menganggap sepele, orang yang ada di depan kelas mereka. Untuk mengatasinya, maka penulis berusaha menarik perhatian dengan mengajak bernyanyi, memberikan hadiah kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan. Meskipun pada saat itu, respon mereka belum terlalu besar. Bahkan ada yang berkomentar. “Kok kelas 6 diajak nyanyi lagu anak-anak si,bu? Kayak anak kecil aja”. Hal ini dapat menjadi pengalaman untuk penulis sendiri bahwa anak kelas 6 di SD ini tidak ingin diajak bernyanyi lagu anak-anak. Taka pa, mungkin lain kesempatan lagu barat bias menjadi alternative. Hal tersebut juga bias menjadi patokan sementara bahwa perhatian yang diberikan harus dibuat lebih menarik dan variatif, mengherankan, bahkan kalu bias mencengangkan, agar mereka tertarik memperhatikan kemudian timbul rasa ingin tahu yang besar dan merespon pada masalah yang diajukan.

2. Menginformasikan tujuan pembelajaran

Informasi tujuan pembelajaran akan mengarahkan seluruh kegiatan pembelajaran yang ingin dicapai. Menurut Dick dan Carey (1985) perumusan tujuan pembelajaran berguna dalam (1) menspesifikasi perilaku yang akan diajarkan, (2) menentukan siasat bagi pembelajaran, dan (3) menetapkan criteria untuk mengevaluasi unjuk kerja siswa sesuai pembelajaran. Dengan adanya informasi tujuan ini siswa dapat mengetahui tentang proses yang terjadi pada dirinya sewaktu belajar dan agar siswa tidak menyimpang dari arah pembelajaran yang akan dituju.

3. Merangsang ingatan

Merangsang ingatan dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaam seputar pelajaran yang lalu. Menuntun siswa dengan berbagai pertanyaan kea rah pokok bahasan yang lalu, yang terkait dengan pokok bahasan yang akan disampaikan.

4. Menyajikan bahan perangsang

Bertujuan untuk membangkitkan perhatian siswa terhadap pembelajaran. Apabila yang dipelajari suatu ketrampilan intelektual, maka objek atau symbol yang termasuk dalam konsep atau masalah yang ingin dipecahkan perlu disajikan. Apabila yang dipelajari adalah informasi verbal, maka dapat disajikan bahan perangsang berupa gambar, rekaman, atau yang lain. Untuk ketrampilan motorik, bahan perangsang yang biasanya perlu disajikan adalah situasi ketika ketrampilan itu ditampilkan. Dapat juga berupa eksperimen eksperimen yang terkait dengan materi.

5. Bimbingan belajar

Guru dapat memberikan bimbingan belajar bagi siswa yang kesulitan memahami materi. Bimbingan tak hanya bias dilakukan oleh guru. Karena siswa terkadang ada yang memiliki sifat lebih bias menerima penjelasan temannya sendiri. Maka, bimbingan pin dapat dilakukan oleh teman sendiri (peer-teaching).

6. Menampilkan dan menilai kemampuan siswa

Berguna untuk meyakinkan siswa bahwa ia telah menguasai kapabilitas itu dalam bentuk yang dapat diamati. Dapat diakukan dengan member pertanyaan pada siswa. Jawaban yang mereka berikan akan menunjukkan tingkat kepahaman mereka. Dan guru dapat memberikan nilai terhadapnya.

7. Memberikan balikan (feed back)

Agar hasil belajar maksimal, suatu balikan hendaknya bersifat informative. Pemberian umpan balik terhadap hasil kerja siswa berfungsi sebagai penguat jika berisi hasil hasil suatu unjuk kerja dalam kaitannya dengan imbalan yang diterima.

Tahapan pembelajaran yang telah dikemukakan menuntut adanya kesiapan yang sistematis oleh guru terutama persiapan dan pengorganisasian isi pembelajaran, persiapan tugas yang mampu mendorong keaktifan siswa. Dan semua tahapan tersebut jika terlaksana secara tepat maka akan menghasilkan pembelajaran yang berfokus pada siswa dan mampu mendorong dan mengembangkan keaktifan siswa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Catatan Dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 19 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: