Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mia Saputra

Demi menghemat kertas, maka ku pilih kompasiana untuk mencurahkan isi pikiran dan hatiku...

Drama “Investasi”

OPINI | 02 October 2010 | 21:31 Dibaca: 61   Komentar: 0   1

Di halaman sekolah tersebutlah dua orang berbincang, membicarakan bagaimana cara membangun sebuah sekolah agar tampak lebih indah. Bagaimana membangun sarana prasarana agar lebih baik. Bagaimana menarik banyak calon siswa agar benar-benar menjadikan sekolah tersebut tujuan.

Pak Har    : “Bu, menurut saya, gedung di depan kita harus dibuat dua lantai. Untuk perwajahan, Bu. Sekolah ini  sudah bagus secara pelayanan guru kepada siswa. Program-program sekolah juga bagus. Tidak ada sekolah sekitar sekolah ini yang melayani siswanya secara penuh. Hanya saja, permasalahannya terletak pada perwajahan. Sekolah ini secara perwajahan, masih sangat sederhana. Orang akan lebih bangga jika sekolah di sekolah yang tingkat dengan berbagai fasilitas lengkap.”

Bu Atika : “Bapak benar. Memang perwajahan itu perlu. Namun, masalah kita adalah dana, Pak. Siswa kita hanya 200 anak. Tidak semua anak membayar sumbangan secara penuh, dan kita ini sekolah swasta. Dana dari mana, Pak? Setiap bulan saja kita masih tombok.”

Pak Har  : “Saya punya teman, Bu. Dia punya dana milyaran. Ibu mau tidak saya kenalkan dengan beliau?”

Bu Atika  : “Kalau rekan Pak Har mau investasi, silakan. Tapi kalau untuk meminjamkan modal dan kami harus mengembalikan dalam jangka waktu tertentu, tampaknya masih berat.”

Pak Har  : “Wah, sayang ya Bu. 200 anak itu banyak lho Bu. Kalau satu siswa membayar 100 ribu tiap bulan, tentu 20 juta masuk ke sekolah Bu. Belum lagi kalau awal pendaftaran, kan sekolah swasta selalu mengadakan pungutan. Seandainya satu siswa ditarik biaya 1juta saja, tentu akan dapat dana lumayan. Kan bisa untuk membangun.”

Bu Atika  : “Teorinya, Pak. Kan sekolah butuh dana untuk operasional. Guru dan karyawan juga butuh gaji.”

Pak Har  : “Kan ada dana BOS Bu.”

Bu Atika : “Kurang, Pak. Terus terang saya pusing memikirkan sekolah ini. Akan saya bawa ke mana sekolah ini. Prestasi anak di olimpiade oke, tonti oke, sepak bola oke, grup musik oke, tapi kok ya masih belum membludak juga ya peminatnya?

Pak Har  : “Saingannya Bu, sekolah negeri kan gratis.”

Bu Atika : “Teorinya, Pak. Anak saya juga ada yang di negeri. Awalnya gratis, eh baru masuk dua bulan dimintai dana komite katanya. Malah lebih mahal dari sekolah kita. Belum lagi kalau ada LKS, tiap bulan kok lebih dari 100ribu ya yang saya keluarkan.”

Pak Har  : “Ya, kan harus punya tak tik to Bu. Sekolah ini juga bisa begitu, kok.”

Bu Atika : “Kita memang butuh dana banyak untuk pembangunan, tapi kalau harus menambah beban wali siswa, itu kurang manusiawi. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang peduli pendidikan, sehingga mau menginfakkan sebagian hartanya untuk pembangunan sekolah.”

Pak Har : “Sulit, Bu. Kalau orang-orang berduit dimintai dana untuk mbangun mesjid tentu mau, tapi kalau sekolah kok kurang ada yang berminat ya, Bu. Kan kalau mesjid, terasa langsung masuk surga. Kalau sekolah…kok berat ya Bu.”

Bu Atika : “Pak, sekolah itu tempat pendidikan. Mendidik anak itu sodakoh, orang-orang kaya dengan menginfakkan hartanya untuk pembangunan sekolah juga bisa masuk surga, kalau ikhlas lho.”

Pak Har  :”Iya ya Bu, tapi Bu..sudahlah Bu. Semoga ada yang berminat menginvestasikan uangnya untuk membangun sekolah.”

Bu Atika : “Semoga, Pak. Kita berusaha menawarkan ke masyarakat, perusahaan, bahkan pemerintah untuk mau membangun sekolah swasta. Kalau sekolah negeri sih, tidak masalah. Tidak usah diminta, pemerintah tentu akan memperbaiki sekolah tersebut.”

Pak Har :”Tapi, kan sekolah negeri pelajaran agamanya cuma 2 jam Bu. Nah, kalau sekolah swasta Islam, pelajaran agamanya bisa selama pelajaran itu berlangsung. Dan salutnya, sekolah ini tidak akan meloloskan siswa yang akan mbolos solat. Ada presensi untuk siswa putri yang sedang tidak salat lagi. Kok ya kober to Bu, guru-gurunya?”

Bu Atika :”Ya inilah kelebihan kita Pak, gedung sederhana tidak masalah, yang penting perhatian kita lebih terutama untuk membentuk kepribadian anak.”

Pak Har  : “Iya Bu, tapi tetap saja kalau gedung sekolah ini bagus, akan banyak yang berminat.”

Bu Atika : “Bapak ini, muter ke sana terus.”

Pak Har  : “Lho ini kenyataan..”

Bu Atika : “Pak, buat apa gedung bagus tapi di dalamnya tidak ada yang bisa dibanggakan? Buat apa cantik kalau akhlaknya bobrok. Buat apa ganteng kalau suka berbohong, mencuri, berbuat khianat, dll. Buat apa punya fisik bagus kalau tidak bisa menawarkan sesuatu yang lebih untuk kepribadian sejati.

Pak Har : “iiiiiyaaaa yaaaa Bu…..” (melongo).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 11 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 18 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 19 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 19 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: