Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Giovani Haryadi

(mantan) mahasiswa teknik yang senang fotografi, desain dan menulis

Tes Perawan untuk Apa?

OPINI | 02 October 2010 | 17:09 Dibaca: 390   Komentar: 7   1

Saya kaget mendengar ada tes perawan untuk masuk sekolah tetapi baru sebatas rencana di Jambi. Tetapi teman saya, sesama mahasiswa tetapi dia wanita, marah, “Ketika Gue denger ada tes perawan, Gue marah!” Teman saya itu sepertinya marah betul, wajahnya geram.

“Apa hubungan antara keperawanan dan moral?” dia bertanya.

Pikiran Saya langsung mengarah kepada seks bebas, kehidupan malam dan pakaian yang serba seksi. Tentu saja moral mereka yang seperti itu ada kecenderungan untuk lebih buruk daripada yang tidak. Lalu jika mereka memang seperti itu, bukannya pelacur saja masih punya hak memperoleh pendidikan dan kehidupan yang layak?

Saya kemudian menjawab seadanya, seperti arahan pikiran sebelumnya. Untuk memperjelas lagi, Saya membawa sedikit ilmu agama. Walaupun Saya tidak terlalu baik agamanya, tetapi dapat menyampaikan kalau shalat mencengah dari perbuatan keji dan mungkar. Perbuatan seperti itu, sepertinya termasuk juga zina, berhubungan dengan moral.

Mudah untuk menjelaskan kemungkinan hubungan tidak perawan dan moral yang cenderung lebih buruk. Tetapi dengan catatan tidak perawan itu berhubungan dengan seks bebas. Bagaimana dengan korban pemerkosaan atau wanita yang sudah tobat?  Tidak lebih mudah menilai moral seseorang dengan tambahan hasil keperawanan.

Lalu bagaimana dengan lelaki? Tes perjaka sama saja dengan tes kebohongan. Bukankah tidak adil untuk kaum hawa? Tentu saja pria tidak perjaka dan belum menikah memiliki kecendrungan moral yang lebih buruk juga. Hal ini juga yang membuat teman saya semakin geram. Dia wanita dan wajar seperti itu.

Akhirnya diskusi ini berlanjut pada sebuah pertanyaan, untuk apa tes keperawanan? Ada pandangan dari Reni Marlinawati, beliau anggota DPR RI dari PPP. Pandangannya cukup panjang seperti dikutip pada kompas.com tetapi saya menyoroti bagian “Tes itu adalah untuk mengetahui bagaimana sebuah sekolah membangun integritas moral pada siswa-siswinya.” Pernyataan ini sungguh aneh untuk Saya. Butuh sebuah statistik dan survey yang mendalam tentang hubungan pembangunan integritas moral dan keperawanan. Jika ingin menggunakan data keperawanan untuk analisis seperti itu, mungkin tidak perlu tes perawan ketika masuk sekolah.

Sangat personal dan dapat membuat ketakutan tersendiri. Belum lagi untuk biaya tes dan sangsi sosial jika hasil tes itu tersebar luas. Mungkin banyak hal yang sebaiknya dipikirkan dalam pendidikan kita selain tes keperawanan. Untuk apa tes itu?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: