Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hernawan Khotibul Umam

Alumni IKIP PGRI Semarang angkatan 2002. Sekarang mengajar di SMA Negeri 1 Batang Kawa, Lamandau, selengkapnya

Yuppies; Menghadirkan Suasana Menyenangkan dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

OPINI | 03 October 2010 | 14:37 Dibaca: 564   Komentar: 0   0

Kenyataan di lapangan untuk menerapkan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menarik, atau lazim disingkat PAKEM, terdapat permasalahan yang bisa disebut sebagai kesulitan. Permasalahan tersebut antara lain pertama, standardisasi sarana/prasarana sekolah yang belum tercapai. Khusus mengenai hal ini banyak dikeluhkan oleh masyarakat dan juga kalangan pendidik sendiri. Kedua, distribusi tenaga pengajar yang tidak merata. Sebagai contoh, di tempat penulis bertugas. Jika di pusat kota tenaga pengajar sudah sesuai dengan formasi dan kualifikasi. Sebaliknya, sekolah di daerah yang terpencil masih kekurangan tenaga pengajar atau formasi yang ada belum sesuai kualifikasi. Maka tidak heran apabila ada ungkapan “jangankan ber-PAKEM, masih beruntung ada guru yang mau mengajar”.

Selain kedua permasalahan itu, hal yang ditemukan di lapangan yakni kualitas tenaga pengajar yang belum sesuai harapan. Imbasnya, pembelajaran berjalan kering minim kreatifitas metode atau media.

Mengenai sarana/prasarana yang belum mencapai standar minimal, tentu tidak mutlak tanggung jawab pemerintah. Bukan hal yang harus dikeluhkan mengingat jumlah anggaran yang tidak sebanding dengan jumlah sekolah. Namun tugas seluruh unsur pemangku kebijakan untuk mengefisienkan anggaran yang ada untuk mempercepat standardisasi sarana/prasarana sekolah.

Ranah selanjutnya mengenai distribusi tenaga pengajar atau guru. Mentalitas yang beranggapan bahwa bertugas di daerah perkotaan akan membuat kualitas pembelajaran menjadi baik. Akumulasi akibat dari guru yang berkeinginan dimutasikan dari daerah terpencil, menjadikan kurang bahkan kosongnya formasi guru di sekolah.

Apabila hal demikian menjadi fenomena umum, maka akan merambah pada hilangnya kemauan untuk maju dan beprestasi. Kalaupun menjalankan tugas semata karena tuntutan dan terkesan asal-asalan. Pada gilirannya, tataran yang paling memprihatinkan akan menyerah dengan keadaan yang syarat kesulitan dan masalah.

Adalah Paul G. Stoltz yang telah menyatakan bahwa kecerdasan adversitas sangat diperlukan dalam kehidupan. Seseorang yang memiliki kecerdasan adversitas tidak mudah menyerah terhadap kesulitan yang dihadapi. Justru akan berusaha mencari cara dan melakukan tindakan untuk mengatasi kesulitan atau masalah.

Selaras dengan Paul G. Stoltz, Dani Ronnie M., menuliskan bahwa semua guru wajib memiliki kecerdasan adversitas sebagai kekuatan untuk menghadapi dan mengatasi masalah atau kesulitan. Apalagi jika berkaca pada kenyataan yang ada di lapangan, betapa beragamnya permasalahan dengan dimensi kesulitan. Menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk selalu meningkatkan kualitas dan kompetensi.

Manifestasi dari kecerdasan adversitas seorang guru dalam rangka menghadapi dan mengatasi kesulitan, salah satunya dengan mengevaluasi dan memperbaiki metode pengajaran. Sandy MacGregor dalam Made Aripta Wibawa (2005: 208) mengemukakan metode pengajaran yang berbasis Visualisasi, Auditori dan Kinestetik (VAK).

Metode visualisasi adalah pengajaran dimana guru memperlihatkan kepada anak didik yang berupa gambar, warna, tanda, ilustrasi, diagram, angka, grafik, atau transparansi. Metode kedua yang dikemukakan MacGregor adalah auditori. Pembelajaran bersifat mendengar, anak didik diarahkan menyerap informasi melalui pendengarannya. Sebagai contoh, musik klasik, percakapan, diskusi, atau direct lesson. Adapun metode terakhir yaitu kinestetik, yang bisa dikatakan cara belajar terbaik dengan melakukan dan mengalaminya. Aktifitas yang bisa diambil contoh antara lain bermain dan membuat prakarya (menggambar, bernyanyi, bercerita dan main drama).

Fakta yang sering dialami guru manakala menghadapi anak didik dengan bakat yang berbeda. Artinya, sebagian anak didik berbakat dengan metode visualisasi, sebagian yang lain sangat tertarik dengan metode auditori. Sementara ada anak didik yang tertarik hanya dengan metode kinestetik. Situasi yang paling melegakan bagi guru dimana anak didik berbakat dengan ketiga metode MacGergor tersebut.

Terlepas dari permasalahan yang ada, seyogianya guru senantiasa memiliki motivasi untuk maju dan dan berprestasi. Sekedar tawaran dan saling berbagi untuk menerapkan metode yang sesuai dengan yang dikemukakan MacGregor. Penulis mengadaptasi game komunikatif karya Jill Hadfield yang diberi judul “yuppies”.

Permainan “yuppies” tergolong kegiatan yang dilakukan di dalam ruang kelas. Jenis kegiatannya dibuat kelompok kecil terdiri dari empat siswa. Inti kegiatannya seperti bermain kartu remi. Bedanya, gambar dalam dilapisi dengan gambar nama-nama benda. Adapun cakupan bahasa yang ditekankan adalah tataran leksikal berupa possessions (kata ganti milik). Sedangkan fungsi dari cakupan bahasa dari permainan ini digunakan untuk menjelaskan perbandingan atau materi comparative, misal –er than …, dan morethan.

Prosedur memainkan “yuppies” ini sangat sederhana. Pertama, guru menyiapkan lima set kartu remi yang sudah dimodifikasi. Masing-masing set berisi dua puluh kartu dengan gambar yang berbeda. Kedua, bagilah siswa menjadi kelompok kecil dengan masing-masing kelompok terdiri empat siswa (pemain). Jika dalam satu kelas terdapat dua puluh siswa maka ada lima kelompok. Ketiga, bagikan masing-masing kelompok dan mintalah siswa untuk mengocok kartu dan membagikannya sampai habis. Sebagai contoh dimulainya permainan dalam satu kelompok, pemain pertama melemparkan (meletakkan) sebuah kartu ke meja dan menyatakan sesuatu yang berhubungan dengan gambar pada kartu tersebut. Misal, diawali mengatakan “yuppies …,” dilanjutkan dengan “my car cost 80.000 US$”. Pemain selanjutnya harus memilih sebuah kartu yang dipegang dan meletakkannya ke arah kartu pemain pertama, lantas membuat pernyataan perbandingan, misal “yuppies …,” “my diamond ring is more beautiful than your car”. Pemain ketiga dan keempat dan seterusnya harus meletakkan kartu ke arah pemain sebelumnya dan melontarkan pernyataan perbandingan, misal “yuppies …” “my mobile is prettier than your diamond ring” dan seterusnya, misal “yuppies …” “my computer is more intelligent than your mobile”. Jika seorang pemain tidak bisa membuat perbandingan, maka dilewati dan diteruskan ke pemain selanjutnya. Pemain yang menghabiskan kartu pertama adalah pemenang.

Hal yang perlu diperhatikan selain prosedur permainan “yuppies” adalah aturan main. Pertama, pemain tidak dapat menggunakan kata sifat yang sama dua kali. Kedua, dilarang menggunakan pernyataan perbandingan yang tidak masuk akal (misal, “my house is more intelligent than your car”).

Keunggulan “yuppies” antara lain guru tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk membuat media. Selain itu, efeknya ke siswa sangat baik. Secara tidak sadar mereka mengungkapkan comparative sentence sambil bermain kartu dengan suasana yang menyenangkan. Keunggulan lainnya permainan ini bisa di adaptasi dan dimodifikasi tidak hanya untuk mata pelajaran bahasa Inggris.

Demikian uraian tentang “yuppies” dalam pembelajaran bahasa Inggris. Rasanya lebih pantas uraian ini sebagai sarana berbagi pengalaman sekaligus media untuk memotivasi diri. Penulis beranggapan bahwa berbagi dan memotivasi diri dapat menciptakan komitmen dalam rangka memberikan yang terbaik kepada anak didik. Betapa indahnya manakala situasi seperti ini tercipta di semua tingkatan pendidikan dan di semua wilayah negeri ini tanpa dibeda-bedakan permasalahan yang melekat.

Kiranya bagi unsur pemerintah dalam hal ini kementerian sampai dinas pendidikan sudah mengupayakan dengan optimal dalam berikhtiar meningkatkan kompetensi pendidik. Namun tetap terus dievaluasi konsep dan teknis pelaksanaannya. Akan menjadi tidak berdaya guna ketika program yang baik tidak terpublikasi dengan baik pula, seperti contoh kecil informasi lomba karya tulis ilmiah belum terealisir ke semua guru, khususnya di daerah yang terpencil.

Akhirnya, penulis menggugah diri sendiri dan semua guru di Indonesia untuk bersama-sama merespons perhatian dari pemerintah dengan pikiran positif dan langkah nyata berkreasi menciptakan terobosan-terobosan cerdas.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 6 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawan Laos: Antara Kebanggaan dan Harga …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

[Cerbung] Green Corvus #11 …

Dyah Rina | 8 jam lalu

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Pengabaian Arbitrase di Kasus TPI dan …

Dewi Mayaratih | 8 jam lalu

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: