
Aktivitas tulis-menulis saya anggap sebagai lahan empuk untuk mengekspresikan ide-ide berlian yang kerap berlalu-lalang di pikiran. Sebab, hampir setiap hari berbagai pikiran bernas melintas di benak kita, dan sangat sayang sekali jika ia berlalu begitu saja, tanpa sempat diikat melalui buhul kata-kata ==> kalimat). Melalui tulisan, saya juga ingin memperpanjang visa hidup saya di lorong bumi Allah ini sehingga dapat bercengkrama dengan generasi berikutnya! Kenalkan -O-W-E-N-
Dibaca: 569
Komentar: 5
2 dari 2 Kompasianer menilai Inspiratif

Ada kalimat yang cukup menggelitikku rongga kepalaku tadi malam. Ketika lagi asyik-asyiknya berkeliling mencari-cari artikel, mataku tiba-tiba dihentikan di sebuah tulisan berjudul “Jomblo Bingung, Pacaran Ribet, Nikah Pusing”. Aku lihat tulisan itu telah dibaca oleh ribuan orang, isinya cukup menarik, dan penulisnya berkata apa adanya. Dalam beberapa menit tulisan itu pun akhirnya habis aku tamatkan. Setelah membaca cerita itu, aku pun kembali melihat etalase facebooku, saat itu aku melihat salah seorang abang seniorku online. Kalau dari sisi umur, abang itu lumayan tua dariku. Seharusnya sih, dia telah menikah 10 tahun silam, tapi sayang seribu sayang, sampai sekarang dia masih saja betah membujang. Teman-teman seangkatannya aku lihat sudah banyak yang berkapala dua dan tiga, sementara dia masih menyendiri sebatang kara. Tidak berselang lama, aku pun menegurnya sembari mengucapkan, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh“. Tiba-tiba saja, dipikiranku mengirimkan kalimat tadi padanya, ia membalaskannya, dengan mangatakan, “Jomblo Bebas, Pacaran Rugi, Nikah Nikmat”.
Aku terdiam sejenak, tak lama setelah itu, lembaran chatting facebookku kembali berbunyi. Setelah aku lihat ternyata si abang itu mengirimkan sepenggal paragraf padaku. Copasnya seperti ini, “Labirin hatiku tergugah dan dibuai rasa “legowo” saat meresapi sebait nasehat hikmah “Diam Bukti Cintamu”. Teringat akan kisah Ali dan fatimah yang saling memendam rasa. Terngiang tak kuasanya Yusuf menahan gejolak jiwa terhadap Zulaiha…. Yup, semuanya berakhir indah…. adakah aku termasuk diantara… mereka?” Sembari tertawa dan tersenyum kecil, aku jawab saja paragrafnya itu, “Ketika itu aku berada di belakang pintu rumah Siti Zulaikha bang, jadi tidak sempat masuk saat itu, hehehe, guyonku singkat. Dia malah tertawa terbahak-bahak membaca candaku. Aku sengaja berbuat demikian, dan tidak ingin menanggapi kalimatnya itu dengan serius.
Abangku itu mengakatan kalau cinta itu sangat tidak perlu diekspresikan dengan pacaran dan anarkis seksualitas, apalagi didorong oleh gejolak nafsu belaka. Dia lebih suka mengakatan dengan ungkapan singkat, “Diam bukti cintamu”. Aku sempat mengakatan padanya, “Ah…kalau di kampungku diam-diam begitu kagak kebagian jatah bang, hehehe.” Dia kembali menjawab dan mengatakan, “Hal itu karena kurangnya taqwamu dan yakinmu. Yang benar saja, aku membalas sembari mengatakan, “Iman dan takwa bersembunyi di rongga dada, sementara cinta lepas tanpa penjaga, sementara kau diam seribu bahasa….! Apakah abang yakin dia duduk dan menunggu dengan setia? Karena setia itu cuma berada lembaran surat nikah, sementara cinta itu selalu terbang dan bisa hinggap dimana ia suka, tidak terkecuali ia bisa membuatmu kecewa bahkan sakit jiwa.

Anak-anak ABG dan kawulamuda kerap mengatakan, kalau cinta itu penuh kejutan dan kesenangan. Sementara orang beriman mengatakan dia gerbang perzinaan. Orang yang sudah menikah mengatakan dia sumber kekuatan dan kenikmatan. Orang melajang mengatakan, cinta sumber permasalahan dan kebangkrutan. Orang ditolak cintanya mengatakan, jangan bercinta jika tidak ingin kecewa…. Semua memiliki cara pandang dan pendapatnya masing-masing terkait cinta. Namun, bagaimana pun cinta suci harus diperjuangkan dengan sebuah jalan yang suci nan lurus juga.
Aku teringat dengan sebuah hadist Rasulullah, dari Abu Dzar r.a., sejumlah sahabat Rasulullah saw. berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah saw., para hartawan itu pergi dengan banyak pahala. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mengerjakan puasa sebagaimana kami puasa, dan bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki (sedang kami tidak mampu).” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah bagi kalian, setiap takbir (Allahu Akbar) sedekah bagi kalian, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah bagi kalian, setiap tahlil (laa ilaaha illallah) adalah sedekah bagi kalian. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar sedekah, dan bersetubuh adalah sedekah pula.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah di antara kami apabila menyalurkan syahwatnya (kepada istri) juga mendapat pahala?” Jawab beliau, “Tahukah kalian, jika dia menyalurkannya pada yang haram (berzina), bukankah baginya ada dosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal, maka baginya berpahala.” (HR Bukhari dan Muslim)
Tidak lama setelah itu, si bang itu pun berkata, “Semua kuserahkan padaNya, yang jelas aku akan berusaha untuk setia. Karena tak mau menyakiti dan disakiti. Aku yakin akan janji-Nya, dan itu pasti, Untuk apa aku resah, kenapa harus kecewa? Toh, kita hanya menjalankan skenario-Nya…
Sebelum menutup percakapanku dengannya aku mengakatan, “Langit itu menjulang seakan tanpa batas, tiang-tiang penyanggahnya pun tidak kelihatan, sementara di lorong-lorongnya ribuan manusia terus kocar-kacir berburu dan memburu sebuah cinta, padahal semua telah ada dalam suratan-Nya (red: skenairo-Nya). Tapi itulah manusia, yang unggulkan dari ribuan jenis satwa dan fauna jagad raya ini lantaran akalnya. Usaha adalah rentetan dari gerbong pembuktian atas anugerah Ilahi itu, lantas kalau tidak, mau ditaruh dimana akal kita? []
Sekian