Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aryni Kurniawati

Saya adalah mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta, Kampus VI Kebumen Program Studi PGSD. Saya berasal dari selengkapnya

Makalah Inovasi Pembelajaran Kompetensi Dasar 1

OPINI | 18 October 2010 | 10:26 Dibaca: 1286   Komentar: 0   0

MAKALAH

KOMPETENSI DASAR 1

Konsep Inovasi Pembelajaran

Dosen Pengampu : Dr. H. Y. Padmono, M.Pd

Mata kuliah / Semester: Inovasi Pembelajaran / III

DISUSUN OLEH :

Nama : Arini Kurniawati

NIM : K7109034

No / Kelas : 12 / A

PROGRAM S1 PGSD KAMPUS VI KEBUMEN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah banyak faktor yang  harus diperhatikan seperti: pendidik (guru), siswa, sarana dan prasarana, laboratorium dan kelengkapannya, lingkungan, dan manajemennya. Namun pada kesempatan ini hanya akan dilihat dari segi pendidik (guru) dan siswa yang merupakan dua komponen terpenting, yang berperan dalam peningkatan kualitas pembelajaran, dengan tidak mengesampingkan komponen atau faktor-faktor lainnya.

Dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari berbagai variabel pokok yang saling berkaitan yaitu kurikulum, guru/pendidik, pembelajaran, peserta. Dimana semua komponen ini bertujuan untuk kepentingan peserta. Berdasarkan hal tersebut pendidik dituntut harus mampu menggunakan berbagai model pembelajaran agar peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar. Hal ini dilatar belakangi bahwa peserta didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga merupakan subjek dalam pembelajaran. Peserta didik harus disiapkan sejak awal untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga berbagai jenis model pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik.

B. Rumusan masalah

1. - Kemengapaan Inovasi Pembelajaran?

- Teori Otak dan Implementasinya dalam Pembelajaran?

- Individu Anak sebagai Pribadi Pebelajar adalah Pribadi yang Unik?

2. Pengertian Inovasi Pembelajaran?

3. Konsep Belajar dan Pembelajaran?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kemengapaan Inovasi Pembelajaran

- Kemengapaan Inovasi Pembelajaran

Apabila proses pembelajaran berlangsung monoton dan seadanya ( guru cenderung bergaya indoktrinatif dan dogmatis seperti orang berkhotbah ), upaya penyemaian nilai-nilai luhur hakiki akan sulit berlangsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Apalagi, kalau peserta didik hanya diperlakukan sebagai objek yang pasif, tidak diajak untuk berdialog dan berinteraksi. Maka, kegagalan penyemaian nilai-nilai luhur kepada peserta didik hanya tinggal menunggu waktu. Dalam konteks demikian, guru perlu mengambil langkah dan inisiatif untuk mendesain proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Guru memiliki kebebasan untuk melakukannya di kelas.

Melalui kegiatan pembelajaran yang inovatif, atmosfer kelas tidak akan terpaku dalam suasana yang kaku dan monoton. Para peserta didik perlu lebih banyak diajak untuk berdiskusi, berinteraksi, dan berdialog sehingga mereka mampu mengkonstruksi konsep dan kaidah-kaidah keilmuan sendiri, bukan dengan cara diceramahi. Para murid juga perlu dibiasakan untuk berbeda pendapat sehingga mereka menjadi sosok yang cerdas dan kritis. Tentu saja, secara demokratis, tanpa melupakan kaidah-kaidah keilmuan, sang guru perlu memberikan penguatan-penguatan sehingga tidak terjadi kesalahan konsep yang akan berbenturan dengan nilai-nilai kebenaran itu sendiri.

Melalui suasana pembelajaran yang kondusif dengan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bebas berpendapat dan bercurah pikir, guru akan lebih mudah dalam menanamkan nilai-nilai luhur hakiki. Dengan cara demikian, tugas guru sebagai pengajar dan sekaligus sebagai pendidik diharapkan bisa terimplementasikan dengan baik. Meskipun korupsi, manipulasi, dan berbagai jenis “penyakit sosial” menyebar di tengah-tengah kehidupan masyarakat, melalui proses rekonstruksi konsep yang dibangunnya, anak-anak bangsa negeri ini akan memiliki benteng moral yang tangguh dalam gendang nuraninya sehingga pantang untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan bangsa dan negara

- Teori Otak dan Implementasinya dalam Pembelajaran

Otak manusia seperti komputer yang sangat canggih yang dapat menyimpan setiap informasi yang masuk. Dalam teori pengolah informasi dijelaskan bahwa pada otak manusia terdapat tiga macam memori, yaitu memori sensoris yang hanya dapat menyimpan informasi selama tak lebih dari lima menit, memori jangka pendek yang yang dapat menyimpan informasi selama sekitar 30 menit, dan memori jangka panjang yang memiliki kisaran waktu simpan tak terbatas. Otak memegang peranan yang sangat penting dalam struktur tubuh manusia. Otak adalah organ yang unik dan dahsyat, tempat diaturnya proses berpikir, berbahasa, kesadaran emosi dan kepribadian.

Pada dasarnya anak diajak untuk berfikir secara nyata supaya apa yang mereka peroleh tidak akan cepat lupa dan terlupakan. Anak diberi bekal atau pengetahuan yang nyata atau riil bukan abstrak lagi, karena anak tidak perlu membayang-bayangkan. Misalnya anak diberi pengertian apel, kita langsung membawa contoh saja kalau ini apel dan menunjukan apl seperti apa. Tidak perlu memberi penjelasan kalau apel itu bua, berwarna merah dan sebagainya. Setelah anak tau ini apel, anak ;langsung bisa menjelaskan dengan sendirinya bahwa apel itu apa dan itu akan lebih diingat oleh siswa.

- Individu Anak sebagai Pribadi Pebelajar adalah Pribadi yang Unik

Manusia tercipta sebagai pribadi yang unik. Dalam kesempurnaan sebagai makhluk di antara makhluk lain, manusia juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang melekat pada dirinya, seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Keunikan inilah yang seringkali menjadikan manusia sebagai makhluk yang kompleks, yang begitu spesial dan berbeda dengan makhluk apa pun di dunia ini. Terkadang kita mudah mengerti akan watak seseorang karena kesederhanaan, sikap dan perilakunya, namun seringkali kita pun sulit memahami seseorang karena kompleksitas keadaan yang dialaminya. Manuasia memiliki kelebihan dan kekurangan, yang sebenamya merupakan bagian dari kesempurnaannya. Dua hal tersebut selalu memberikan warna pada dirinya sehingga dapat menjadikan hidupnya begitu indah dan menarik. Dua hal tersebut justeru memberikan dinamika bagi kehidupannya. Namun sangat disayangkan, kebanyakan diantana kita kerap kali hanya mau melihat orang lain dari sisi kelebihannya tanpa mau melihat pula sisi kekurangannya. Terutama hal ini dilakukan oleh para pimpinan sebuah perusahaan, misalnya kepada para karyawan Dalam upaya membangun semangat dan motivasi bawahannya, pimpinan sering memberikan berbagai kritikan (meskipun secara konstruktif dan obyektif) atas berbagai kekurangan bahkan kesalahan yang telah dilakukan bawahannya

B. Pengertian Inovasi Pembelajaran

Ketika mendengar kata inovasi, yang muncul di benak kita barangkali sesuatu yang baru, unik dan menarik. Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa kemanfaatan. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang “ baru “ atau “ lain “ dari biasanya. Begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan manusia (siswa dan guru) yang memiliki karakteristik khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri, maju dan berprestasi.

Secara epistemologi, inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbarui dan mengubah. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju ke arah perbaikan; yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana. ( Fuad Ihsan, 2003 : 191 )

Inovasi adalah suatu ide, kejadian, barang, mrtode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil, inventasi maupun discoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu.

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery.

Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Sementara itu inovasi dalam teknologi juga perlu diperhatikan mengingat banyak hasil-hasil teknologi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seperti penggunaannya untuk teknologi pembelajaran, prosedur supervise serta pengelolaan informasi pendidikan yang dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pendidikan.

C. Konsep Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata belajar merupakan suatu kata yang sudah tidak asing lagi. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka. Kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal. Kegiatan belajar mereka lakukan setiap waktu sesuai dengan kemungkinan, entah malam hari, siang hari, sore hari ataupun pagi hari. Namun dari semua itu, tidak setiap orang mengetahui apa itu belajar. Sebenarnya dari kata ”belajar” itu ada pengertian yang tersimpan di dalamnya. Pengertian dari kata ”belajar” itulah yang perlu kita ketahui dan hayati, sehingga tidak melahirkan pemahaman yang keliru masalah belajar.

Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara sadar atas dasar filsafah hidup yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien dan efektif. Perubahan itu dapat terjadi dalam bidang ketrampilan, kebiasaan, sikap, pengertian, pengetahuan dan sebagainya. Dengan demikian orang menamakan belajar bila telah dapat melakukan sesuatu hal yang lebih baik dari sebelum belajar.

Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya ).

Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatau system atau proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien

Contoh peristiwa belajar dan pembelajaran:

Kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang baik secara rutin maupun tidak, contohnya kegiatan belajar yang sering kita lihat di sekolah-sekolah dan yang seperti kita alami pada saat ini, di mana kegiatan tersebut tidak terlepas dari peran aktif pendidik dan peserta didik. Dalam proses ini, peserta didik akan mengalami proses mengetahui, yaitu proses abtraksi. Suatu objek dalam wujudnya tidak terlepas dari aksiden - aksiden dan atribut - atribut tambahan yang menyelubungi hakikatnya. Ketika subjek berhubungan dengan objek yang ingin diketahui, hubungan suatu terkait dengan ukuran, cara, situasi, tempat.

Telah diketahui bahwa belajar merupakan suatu proses yang hasilnya dapat diharapkan untuk memajukan meningkatkan kualitas seseorang. Untuk mencapai hasil belajar yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor penghambat maupun faktor penunjang. Faktor tersebut dapat dikatakan penunjang bila menguntungkan dan membantu dalam proses belajar dan dikatakan sebagai faktor penghambat bila merugikan dalam proses belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar dapat bersumber dari luar dan dari dalam diri siswa.

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa tersebut disebut dengan nama faktor intern, sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa dinamakan faktor ektern.

Selanjutnya Oemar Hamalik mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, terdiri dari :

1. Faktor yang timbul atau bersumber dari diri siswa, antara lain :

a. Tujuan belajar

b. Intelegensi

c. Minat

d. Bakat

e. Kesehatan

f. Disiplin dan Kebiasaan

2. Faktor yang bersumber dari lingkungan sekolah

a. Metode Mengajar.

b. Bahan bacaan

c. Alat pelajaran

d. Penyelenggaraan pelajaran

3. Faktor lingkungan keluarga

a. Faktor ekonomi keluarga

b. Hubungan orang tua dengan siswa

c. Pengawasan orang tua terhadap putra-putrinya

d. Suasana rumah tangga dan lain sebagainya.

4. Faktor lingkungan masyarakat

Interaksi sosial dalam kehidupan dimasyarakat, memungkinkan siswa memperoleh dan mendapatkan pengetahuan serta ketrampilan yang berkaitan dengan kegiatan belajarnya. Akan tetapi terdapat pula beberapa hal dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi dan bahkan menganggu kelancaran belajarnya, seperti gangguan dari jenis kelamin lain, bekerja di samping sekolah, terlalu aktif dalam organisasi dan lain senagainya.

BAB III

KESIMPULAN

Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus melibatakan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti guru dan siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu atau dua faktor saja, tapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas.

Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya ).

Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatau system atau proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien

Tags: add new tag

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Emak, Emang Enak Nunggu Kereta Sambil …

Masluh Jamil | | 27 November 2014 | 05:41

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | | 27 November 2014 | 01:16

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | | 27 November 2014 | 00:00

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam …

Hendi Setiawan | 11 jam lalu

Menguji Kesaktian Jokowi Menjadi Presiden RI …

Abdul Adzim | 11 jam lalu

Kisruh di Partai Golkar, KMP Pun Terancam …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Riedl: Kekalahan Dari Filipina Buah Dari …

Hery | 13 jam lalu

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Museum Basoeki Abdullah …

Agung Han | 8 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu

Yummy, Manis krenyez krenyez Meringue avec …

Imam Hariyanto | 9 jam lalu

Kiprah Ibu-Ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | 9 jam lalu

Potret Susi Pujiastuti Wanita Indonesia yang …

Imam Kodri | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: