Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bocor Pawit Khotibin

saya seorang mahasiswa PGDS KEBUMEN. Yang banyak bekerja,hingga lupa tugas, namun saya punya cita-cita ingin selengkapnya

Inovasi Pembelajaran

OPINI | 19 October 2010 | 07:34 Dibaca: 246   Komentar: 1   0

KONSEP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A. MODERN TEORI OTAK DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN

Quantum Brain Teori merupakan sebuah teori yang falid dan akurat mengherankan fungsi otak. Salah satu argumen yang paling meyakinkan dari QBT adalah penjelasan tentang bagaimana realitas dipahami oleh otak. Klasik, realitas harus selalu berubah, bahkan oleh sedikit gagasan, dan otak harus menyadari perubahan yang terjadi. Menurut mekanika kuantum, ini akan menjadi mustahil, tidak ada waktu dimana ada sesuatu yang berubah.

Pembelajaran berbasis kemampuan otak merupakan pembelajaran yang diselaraskan dengan cara otak yang didesain secara alamiah untuk belajar. Dan dengan pendekatan yaitu sebuah pendekatan yang multidisipliner.

Pembelajaran berbasis kemampuan otak dengan pembelajar bukan kontennya. Pelajarannya didasarkan pada menciptakan kondisi optimal untuk terjadinya pembelajaran yang alami. Pembelajaran yang kompleks merupakan sebuah proses yang merefleksikan dengan lebih baik cara otak manusia dirancang secara alami untuk belajar.

Setiap otak manusia juga berkembang secara unik. Salah satu dari tujuan pembelajaran berbasis kemampuan otak adalah untuk mengenali fakta ini dan memperhitungkannya.

Gaya pembelajran setiap orang berbeda-beda. Gaya pembelajaran ini didasarkan pada pengamatan perilaku atau psikologi daripada neurobiologi. Richard Restak, Ph.D. (1994) mengatakan bahwa”interaksi yang dinamis dari aktivitas neural di dalam dan diantara system merupakan fungsi otak yang sangat penting.” Karl Pribram,Ph.D.(1979) mengatakan bahwa otak mempunyai “kecenderungan holografik antara fungsi-fungsinya, termasuk input sensori, yang bekerja dalam kombinasi yang paralel”. Dengan demikian, otak kita adalah multiprosesor; dan meskipun seorang pembelajar memiliki preferensi pada gaya belajar tertentu, penelitian tentang otak mengemukakan bahwa otak memproses informasi pada berbagai tingkatan dan dari berbagai sumber.

Otak berkembang sesuai dengan lingkungannya. Lingkungan yang diperkaya dapat meningkatkan pertumbuhan otak. Arnold Scheibel, Ph.D., direktur The Brain Research Institute di University of Calivornia, Los Angeles (1994) mengatakan, “Aktivitas0aktivitas yang tak biasa adalah sahabat terbaik bagi otak” Fakta otak begitu terstimulasi oleh kebaruan mungkin adalah sebuah respon untuk menyelamatkan diri. Segala sesuatu yang baru mungkin mengancam bagi status quo, sehingga mengandung bahaya potensial. Akan tetapi, begitu kita menumbuhkan kebiasaan pada sebuah lingkungan atau situasi, maka ia akan menjadi rutinitas dan formasi yang berjejaring di dalam otak kita mulai beroperasi pada level yang lebih rendah. Begitu stimuli yang baru dan menyegarkan diperkenalkan kembali, formasi jaringan menjadi disiagakan kembali dan otak terstimulasi untuk tumbuh.

Lingkungan yang diperkaya (baik mental maupun fisik) memang penting,tetapi ada hal lain yang sama pentingnya.Penelitian yang dilakukan oleh peneliti terkemuka dibidang otak Santiago Ramon Y Cacal (1988) telah menekankan bahwa otak memburuhkan umpan balik dari aktivitasnya sendiri untuk pembelajaran yang optimal.

Umpan balik memang penting tapi tidak harus selalu berasal dari guru. Salah cara terbaik untuk mendorong umpan balik dari diri sendiri dan memacu kegiatan berpikir adalah dengan membuat supaya para pembelajar merefleksikan dan merekam persepsi mereka sendiri pada kaset. Mengkaji pada proses pemikiran perasaan, dan pengorganisasian dapat menjadi sarana yang sangat bermanfaat bagi perkembangan otak kita sebagai makhluk penyelesai masalah dan pemikir.

Umpan balik yang paling baik adalah yang bersifat langsung, positif, dramatis, spesifik dan langsung.

Individu sebagai pribadi yang unik

Sesuai dengan konsep anak sebagai individu, perkembangan juga merupakan suatu proses yang sifatnya menyeluruh. Maksudnya bahwa perkembangan itu tidak hanya terjadi dalam aspek yang saling terjalin satu sama lain. Menurut Santrock dan Yussen, 1992: Seifert dan Hoffnung, 1991, secara garis besar perkembangan individu dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian utama, yaitu proses biologis, kognitif, dan psikososial.

Proses biologis mencakup perubahan – perubahan yang terjadi pada diri individu, seperti pertumbuhan otak, saraf, sistem saraf, struktur saraf, hormon dan sejenisnya. Proses kognitif melibatkan kemampuan dan pola berpikir, kemahiran dalam berbahasa, serta cara individu tentang bagaimana memperoleh pengetahuan. Perkembangan kognitif anak dan pengelaman belajar mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling berpengaruh satu sama lain. Yaitu proses perkembangan kognitif anak akan memfasilitasi atau bahkan membatasi kemampuan belajar anak, dan sebaliknya pengelaman belajar akan sangat memfasilitasi perkembangn kognitifnya. Sedangkan proses psikososial melibatkan perubahan–perubahan dalam aspek perasaan, emosi,dan kepribadian individu serta cara yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain. Contoh dari proses psikososial yaitu adanya perilaku agresif saat bermain bersama teman, rasa percaya diri dan keberanian anak serta hubungan pertemanan anak terhadap teman bermain. Oleh karena itu, individu disebut sebagai prbadi yang unik karena individu menjadi pribadi yang utuh, tunggal dan khas.

Dalam perkembangan otak yang dipengaruhi oleh lingkungan serta perkembangan jaman yang ada sehingga dalam konteks pembelajaran diperlukan adanya suatu inovasi. Dengan demikian belajar dan proses pembelajaran yang kita terima bisa seimbang secara kompleks. Perlunya menekankan inovasi pembelajaran dengan otak agar otak bisa dikembangkan secara maksimal.

B. PENGERTIAN INOVASI PEMBELAJARAN

Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan, merupakan suatu upaya untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan pembaharuan-pembaharuan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas.

Pembaharuan mengiringi perputaran zaman yang tak henti-hentinya berputar sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan. Kebutuhan akan layanan individual terhadap peserta didik dan perbaikan kesempatan belajar bagi mereka, telah menjadi pendorong utama timbulnya pembaharuan pendidikan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan harus mampu mengantisipasi perkembangan tersebut dengan terus-menerus mengupayakan suatu program yang sesuai dengan perkembangan anak, perkembangan zaman, situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didik.

Kata ” innovation” sering diterjemahkan segala hal yang baru atau pembaharuan (S. Wojowasito, 1972; Santoso S. Hamijoyo, 1996), tetapi ada yang menjadikan kata innovation menjadi kata Indonesia yaitu inovasi. Inovasi kadang-kadang juga dipakai untuk menyatakan penemuan, karena hal yang baru itu hasil penemuan. Kata penemuan juga sering digunakan untuk menterjemahkan kata dari bahasa Inggris “discovery” dan “invention”. Ada juga yang mengkaitkan antara pengertian inovasi dan modernisasi, karena keduanya membicarakan usaha pembaharuan. Untuk memperluas wawasan serta memperjelas pengertian inovasi pendidikan, maka perlu dibicarakan dulu tentang pengertian discovery, invention, dan innovation sebelum membicarakan tentang pengertian inovasi pendidikan.

“Discovery”, “invention”, dan “innovation” dapat diartikan dalam bahasa Indonesia “penemuan”, maksudnya ketiga kata-kata tersebut mengandung arti ditemukannya sesuatu yang baru, baik sebenarnya barang itu sendiri sudah lama kemudian baru diketahui atau memang benar-benar baru dalam arti sebelumnya tidak ada. Demikian pula mungkin hal yang baru itu diadakan dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu. Inovasi dapat menggunakan diskoveri atau invensi. Untuk jelasnya marilah kita bicarakan ketiga pengertian tersebut satu persatu.

Diskoveri (discovery) adalah penemuan sesuatu yang sebenarnya benda atau hal yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Misalnya, penemuan benua Amerika. Sebenarnya benua Amerika itu sudah lama ada, tetapi baru ditemukan oleh Columbus pada tahun 1492, maka dikatakan Columbus menemukan benua Amerika, artinya Columbus adalah orang Eropa yang pertama menjumpai benua Amerika.

Invensi (invention) adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru, artinya hasil kreasi manusia. Benda atau hal yang ditemui itu benar-benar sebelumnya belum ada, kemudian diadakan dengan hasil kreasi baru. Misalnya penemuan teori belajar, teori pendidikan, tekhnik pembuatan barang dari plastik, mode pakaian, dan sebagainya. Tentu saja munculnua idea tau kreativitas berdasarkan hasil pengamatan, pengalaman, dari hal-hal yang sudah ada, tetapi wujud yang ditemukannya benar-benar baru.

Inovasi (innovation) adalah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invensi maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu.

Dari pengertian-pengerttian di atas maka dapat disimpulkan bahwa inovasi (innovation) pembelajaran adalah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invensi maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah dalam pembelajaran.

Contoh Inovasi Sederhana Dalam Pembelajaran

Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pembelajaran.

Ditengarai bahwa dunia anak (baca : TK dan SD) merupakan dunia bermain, tetapi acapkali guru melupakan hal ini. Semestinya setiap guru dalam setiap proses pembelajarannya menciptakan suasana yang menyenangkan (fun), menggairahkan (horee), dinamis (mobile), penuh semangat (ekpresif) dan penuh tantangan (chalenge).

Oleh karena itu berbagai inovasi dapat dicoba untuk dikembangkan walaupun amat sederhana. Beberapa bentuk inovasi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran yaitu:

1) Pembuatan yel-yel

Yel-yel ini biasanya dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, guru mengajak siswa untuk bersama-sama mengucapkan beberapa yel yang telah diajarkan kepada mereka. Tujuannya menumbuhkan semangat belajar siswa, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, dan mewujudkan hubungan yang akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Berbagai variasi yel dapat diciptakan oleh guru, dengan mengubah lagu tertentu yang sudah dihapal siswa serta menggunakan kepalan tangan, suara yang bersemangat, mimik muka serta kekompakan siswa dalam pengucapannya.

2) Pemberian Penghargaan

Berdasarkan pangalaman di lapangan, anak kelas bawah amat senang apabila usaha belajarnya dihargai dan mendapat pengakuan dari guru, walaupun amat sederhana. Oleh karena itu, seorang guru hendaknyajangan terlalu pelit untuk menberikan penghargaan, selama dilakukan dengan memperhatikan waktu dan cara yang tepat. Penghargaan itu sendiri dapat dimaknai sebagai alat pengajaran dalam rangka pengkondisian siswa menjadi senang belajar.

Tujuannya yaitu mendorong siswa agar lebih giat belajar, memberi apresiasi atas usaha mereka, menumbuhkan persaingan yang sehat antar siswa untuk meningkatkan prestasi dan sebagainya. Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan sesuai kesempatan yang ada. Guru dapat membaginya dalam beberapa macam, yakni dalam bentuk ucapan, tulisan, barang/benda dan penghargaan khusus. Seyogyanya penghargaan ini dapat menjadi kebanggaan siswa akan eksistensi dirinya, yang nantinya meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi diri.

3) Pemberian sanksi

Dalam sebuah proses pembelajaran perlu ada semacam aturan main (rule of the game). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, termasuk perlu adanya sanksi yang disepakati bersama antara guru dengan siswa. Tetapi diupayakan dalam pemberian saknsi ini betul-betul bersifat pedagogis (mendidik). Tujuannya terwujudnya kelas yang tertib, namun diupayakan tetap menyenangkan. Penanaman disiplin kepada anak. Mendidik siswa untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan.

4) Pokjar (Kelompok Belajar)

Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap kelompok dipilih satu ketua yang mampu memimpin dan membantu anggotanya. Tujuannya yaitu untuk melatih kerjasama antara siswa, menanamkan jiwa kepemimpinan dan saling membantu, terjadi pertukaran pengetahuan dan memungkinkan siswa yang sudah paham mengajari teman lainnya .

Dalam pelajaran tertentu, guru memberikan masalah kemudian siswa mendiskusikanya dalam kelompok. Adapun tempat pengerjaannya diserahkan sepenuhnya pada mereka, asal waktunya ditetapkan dengan jelas. Mereka boleh mengerjakan di kelas (in-door) atau diluar kelas (out-door) seperti perpustakaan, halaman sekolah, aula atau mushola.

Bagi kelompok yang berhasil meraih nilai tertinggi dan paling cepat, misalnya akan diberi penghargaan berupa bintang kelompok, yang nantinya ditempel di dinding dengan menggunakan gabus berukuran 100 cm x 50 cm. Gabus tersebut diberi tulisan “ Alhamdulillah, UMI….. ABI……….. inilah bintang kelompokku………”.

5) Mading Kelas

Kehadiran majalah dinding (mading) kelas menjadi satu terobosan yang cukup baik. Diantara siswa ada yang dipilih menjadi pengurus mading. Mereka ada yang bertugas sebagai pimpinan redaksi, reporter, ilustrasi atau pencari berita.

Tujuannya yaitu untuk menampung hasil karya siswa berupa gambar, cerita/karangan, puisi, atau pengalaman pribadi.
Membiasakan siswa untuk menuliskan segala ide, impian dan harapan dapat ditumpahkan dalam sebuah artikel, menumbuhkan semangat belajar dan membaca.

Biasanya siswa akan senang, apabila karyanya dilihat oleh teman-temannya. Hasil karya yang ditempel bisa saja sengaja dibuat oleh siswa di rumah atau hasil tugas mata pelajaran tertentu.

6) Setting Kelas

Untuk sekolah yang full day school kemungkinan besar siswa akan merasa jenuh dan capek berada terus di sekolah atau kelas. Sehingga muncul pertanyaan bagaimana usaha yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk menciptakan ruangan dan suasana kelas yang meminimalisir kejenuhan siswa?

Salah satu jawaban dari pertanyaan tersebut yaitu dengan cara mengatur kelas sesuai dengan kesepakatan antara siswa dengan guru. Setting kelas dapat dilakukan dengan cara penataan ruangan, pemasangan gambar, tulisan yang memotivasi, warna-warni yang menyolok, hiasan yang menggugah poster, dan sebagainya. Contohnya poster dapat ditempel di dinding kelas. Misalnya dengan tulisan “ BELAJAR ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN “, “ MEMBACA MENJADI KEBUTUHANKU “, AKU INGIN MENJADI ANAK PINTAR DAN SHOLEH “, “ BELAJAR ITU ADALAH IBADAH, DAN BERPRESTASI ITU INDAH.”

Setiap minggu sekali, siswa diperbolehkan untuk berpindah tempat duduknya, sesuai keinginan mereka. Papan tulis, setiap semester sekali dapat dirubah posisinya, sesuai kesepakatan dengan siswa.

7) Penggunaan alat peraga

Alat peraga boleh dikatakan sebagai salah satu pendukung kesuksesan pembelajaran, karena dengan media ini biasanya pembelajaran menjadi lebih menarik. Berbagai media dapat dibuat guru walaupun sederhana.

Tujuannya yaitu untuk memperjelas materi yang disampaikan oleh guru, karena siswa melihat secara langsung, menarik siswa sehingga pembelajaran lebih hidup dan dinamis, sebagai sarana untuk menambah pemahaman siswa tentang materi mata pelajaran, terutama media yang berupa permainan.

Media yang dapat dibuat misalnya kartu permainan perkalian, pembagian, dan pengurangan. Angka gabus berwarna untuk matematika, kartu permainan IPA, gambar, denah (IPS), kartu berpasangan, papan sinonim/antonym untuk pembelajaran Bahasa Indonesia. Prinsip utama dari pembuatan alat peraga adalah dengan media maka pembelajaran lebih bermakna dan menggairahkan.

8) Pembelajaran sambil bermain

Kegiatan ini amat tergantung pada gurunya. Pembelajaran tidak harus selalu serius, semua siswa duduk manis di kursi, mendengarkan ceramah guru dengan tidak boleh melirik kiri dan kanan. Sebenarnya dimungkinkan pembelajaran dengan mengadopsi berbagai permainan yang sering dilihat oleh anak-anak di TV seperti kuis siapa aku, tebaklah, siapa berani dan sebagainya.

Selain itu guru bisa mengembangkan metode ini berdasarkan pengalaman di lapangan. Contohnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, mengadakan permainan tebak kata, di mana setiap siswa menyiapkan kata yang telah dipahami artinya, kemudian dia mengemukakan huruf awal sambil menyebutkan ciri-cirinya. Permainan peribahasa, dengan cara melanjutkan peribahasa yang telah diucapkan siswa lain, apabila ada yang salah maka, dia maju ke depan untuk bernyanyi. Begitu banyak bentuk permainan yang dapat dilakukan oleh guru, dan kesemuanya bertujuan untuk lebih menarik siswa dalam pembelajaran.


C. KONSEP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1. Hakekat Belajar.

Belajar pada esensinya dilakukan oleh semua makhluk hidup, mulai dari bentuk kehidupan yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Bagi manusia, belajar merupakan proses untuk mencapai berbagai macam kemampuan, ketrampilan, dan sikap. Manusia belajar dimulai sejak bayi, seorang bayi mengusai ketrampilan-ketrampilan yang sederhana, seperti mengenal orang di sekelilingnya, mengucapkan dua suku kata. Menginjak masa kanak-kanak dan remaja, sejumlah sikap, nilai dan ketrampilan berinteraksi sosial dicapai sebagai kompetensi. Saat dewasa, individu diharapkan telah mahir dengan tugas-tugas kerja tertentu dan keterampilan fungsional lain.

Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Belajar mempunyai faedah dan manfaat bagi individu manusia itu sendiri maupun bagi masyarakat lingkungannya. Bagi individu. Kemampuan untuk belajar secara terus menerus akan memberikan kontribusi terhadap perkembangan kualitas hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat, belajar mempunyai peran yang sangat vital dalam mentransfer budaya dan nilai moral serta pengetahuan pada generasi ke generasi. Sehingga dapat dipahami bahwa hakekat belajar merupakan kebutuhan manusia yang paling esensial untuk mencapai kemampuan, keterampilan, ketentraman, kebahagian menjalani sendi hidup dan kehidupan sehari-hari, serta dapat berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.

2. Definisi Belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologis belajar memiliki arti ” berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu ” . Definisi ini mempunyai pengertian bahwa kegiatan belajar adalah usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu guna memenuhi kebutuhan mendapatkan ilmu pengetahuan yang belum mereka kuasai atau peroleh sebelumnya. Sehingga dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat memiliki konsep tentang sesuatu dan menerapkannya. Para filosof pendidikan menerjemahkan makna belajar yang beraneka ragam sesuai dengan basis keilmuan, aliran dan sistem psikologi yang dianutnya. Ada beberapa tafsiran tentang belajar antara lain :

a. Robert. M. Gagne dalam bukunya : The Conditioning of learning mengemukakan bahwa : Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi.

b. Morgan dan kawan-kawan (1986) menyatakan, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Pernyataan morgan di atas sejalan dengan para ahli yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses yang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku disebabkan adanya reaksi terhadap situasi tertentu atau adanya proses internal yang terjadi di dalam diri seseorang. Perubahan ini tidak terjadi karena warisan genetic atau respon alamiah, kedewasaan, atau keadaan organisme yang bersifat temporer, seperti rasa lelah, takut dan lain sebagainya. Melainkan perubahan dalam pemahaman, prilaku, persepsi, maotivasi atau gabungan dari semuanya.

c. Lester.D. Crow and Alice Crow mendefinisikan : Learning is the acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap.
d. Hudgins Cs. (1982) berpendapat Hakekat belajar secara tradisional belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam tingkah laku, yang mengakibatkan adanya pengalaman.

3. Ciri-Ciri Belajar

Dari definisi-definisi para pakar tersebut diatas dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar :

a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Artinya, hasil belajar manusia mengakibatkan perubahan-perubahan tingkah laku, misalnya sebelum belajar, mereka kurang terampil, setelah belajar mereka sangat terampil, dan lain sebagainya

b. Perubahan perilaku relative permanent. Artinya perubahan tingkah laku untuk waktu tertentu akan tetap tidak berubah-rubah.

c. Perubahan tingkah laku tidak harus dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut besifat potensial
d. Perubahan tingkah laku/sikap dihasilkan dari pengalaman atau latihan. Pengalaman atau latihan dapat memberi penguatan, dengan adanya penguatan melahirkan motivasi dan semangat.

4. Proses belajar

Proses belajar adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat saraf invidu yang belajar. Proses belajar terjadi secara abstrak, karena terjadi secara mental dan tidak dapat diamati. Oleh karena itu, proses belajar hanya dapat diamati, jika ada perubahan tingkah laku dari seseorang yang berbeda dengan sebelumnya. Perubahan tingkah laku tersebut bisa dalam hal pengetahuan, afektif maupun psikomotoriknya. Menurut Gagne (Winkel,2007), proses belajar, terutama belajar yang terjadi di
sekolah, itu melalui beberapa fase-fase:

a. Fase Motivasi, yaitu saat motivasi dan hasrat siswa untuk melakukan kegiatan belajar bangkit, maka siswa tersebut dengan mudah menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik karena perhatian siswa tertuju pada kegiatan belajar yang efektif. Misalnya siswa simpatik untuk memperhatikan apa yang akan dipelajari, melihat apa yang ditunjukkan guru seperti alat peraga, media, model pembelajaran, dan mendengar apa yang dikatakan pendidik.

b. Fase Konsentrasi, yaitu saat siswa harus memusatkan perhatian yang telah ada pada tahap motivasi, untuk tertuju pada hal-hal yang relevan dengan apa yang akan dipelajari. Pada fase motivasi memunkinkan perhatian siswa hanya ke penampilan guru.

c. Fase mengolah, siswa menahan informasi yang diterima dari guru dalam short term memori, kemudian mengolah informasi untuk diberi makna berupa sandi-sandi sesuai dengan penangkapan masing-masing. Hasil olahan itu berupa simbol-simbol khusus yang antara satu siswa dengan lainnya berbeda. Simbol hasil olahan tergantung dari pengetahuan dan pengalaman sebelumnya serta kejelasan penangkapan sisa. Karena itu, tidaklah aneh jika setiap siswa akan berbeda penangkapannya terhadap hal yang sama yang diberikan oleh seorang guru.

d. Fase Menyimpan, siswa menyimpan simbol-simbol hasil olahan yang telah diberi makna ke dalam long trem memori. Pada tahap ini hasil belajar telah diperoleh, baik baru sebagaian maupun keseluruhan. Perubahan-perubahan pun sudah terjadi, baik perubahan pengetahuan, sikap, ketrampilan. Untuk perubahan sikap diperlukan belajar yang tidak hanya sekali saja, tapi harus bebrapa kali, baru kemudian tampak perubahan.
e. Fase Menggali, yaitu siswa menggali informasi yang telah disimpan dalam memori jangka pendek maupun jangka panjang untuk dikaitkan informasi yang baru yang telah siswa terima. Ini terjadi pada pelajaran waktu berikutnya yang merupakan kelanjutan pelajaran sebelumnya. Penggalian ini diperlukan agar apa yang dikuasai menjadi kesatuan dengan yang akan diterima, sehingga bukan menjadi yang terlepas-lepas satu sama lain. Setelah penggalian informasi dan dikaitkan dengan informasi baru, maka terjadi lgi pengolahan informasi untuk diberikan makna seperti halnya dalam tahap mengolah untuk selanjutnya disimpan dalam memori lagi.
f.Fase Prestasi, informasi yang telah digali pada tahap sebelumnya digunakan untuk menunjukkan prestasi yang merupakan hasil belajar. Hasil belajar itu, misalnya, berupa ketrampilan mengerjakan sesuatu, kemapuan menjawab soal, atau menyelesaikan tugas.

g.Fase Umpan balik, siswa memperoleh penguatan saat perasaan puas atas prestasi yang ditunjukkan. Hal ini terjadi prestasinya tepat, tetapi sebeliknya, jika prestasi kurang memuaskan maupun tidak senang itu bisa saja diperoleh dari pendidik atau dari peserta didik itu sendiri.

KESIMPULAN

Pengetahuan telah terstruktur dengan rapih, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengejar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

KESIMPULAN

Otak berkembang sesuai dengan lingkungannya. Untuk itu lembaga pendidikan harus dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dengan mengupayakan pembaharuan dalam sistem pendidikan agar sesuai dengan perkembangan otak dan kebutuhan peserta didik sehingga perkembangan otak peserta didik seimbang dengan perkembangan zaman. Tetapi pembaharuan yang dilaksanakan harus memperhatikan kemampuan masing-masing peserta didik karena masing-masing peserta didik mempunyai keunikan sendiri dalam mengembangkan kemampuan otaknya. Salah satu inovasi yang harus dilakukan agar perkembangan otak peserta didik berkembang seimbang yaitu inovasi dalam bidang pendidikan, khususnya dalam proses pembelajarannya.

Inovasi (innovation) pembelajaran adalah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invensi maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah dalam pembelajaran. Pembelajaran yang dilaksanakan harus dirancang dan dikembangkan secara kreatif, efektif, dan inovatif.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: