Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Konsep Inovasi Pembelajaran

OPINI | 20 October 2010 | 01:57 Dibaca: 698   Komentar: 0   0

A. Kemengapaan Inovasi Pembelajaran

Seiring dengan perkembangan zaman, telah terjadi perkembangan yang cepat di berbagai bidang terutama bidang pendidikan dan merupakan sebuah tantangan bagi para pendidik untuk menjadi manusia yang modern dan berpikir kritis, untuk selalu maju menggunakan otak mereka yang belum bisa digunakan secara optimal .

Dengan perkembangan yang cukup pesat dalam pembelajaran, menuntut guru sebagai pendidik agar selalu mengikuti perkembangan zaman. Kebutuhan akan layanan individual terhadap peserta didik dan perbaikan kesempatan belajar bagi mereka, telah menjadi pendorong utama timbulnya inovasi pembelajaran.

Pembaharuan dalam pengajaran selalu dibutuhkan dalam dunia pendidikan, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengoptimalkan peserta didik dalam belajar sehingga akan meningkatkan hasil lulusan pendidikan.

Peserta didik zaman ini sudah mempunyai otak yang berbeda dengan di masa lampau, dari gaya berpikir mereka juga sudah berbeda, maka itu perlu diadakannya inovasi dalam pembelajaran. Baik itu merubah metode, strategi maupun model pembelajarannya. Inovasi dalam pembelajaran merupakan sesuatau hal yang perlu untuk dilakukan, karena dengan adanya inovasi dalam pembelajaran akan merubah kegiatan belajar kea rah yang lebih modern.

Teori Otak dan Implementasinya dalam Pembelajaran

Bagian terbesar dari otak kita disebut otak besar (cerebrum) yang terdiri atas miliaran sel. Cerebrum inilah yang bertanggung jawab atas fungsi-fungsi berpikir tingkatan tertinggi dan pengambilan keputusan. Bagian terluar dari otak kita, cerebral cortex terlihat seperti berlipat-lipat atau berkerut yang tebalnya kira-kira setebal kulit jeruk. Lapisan ini kaya akan sel-sel otak, ukurannya sekitar satu halaman koran yang dibentangkan. Fungsi korteks merupakan 70 persen bagian membentuk system saraf. Sel-sel saraf atau neuron ini dihubungkan oleh hampir sekitar satu juta mil serat saraf. Otak manusia memiliki bagian terbesar dari korteks yang tak terikat dibandingkan spesies lainnya. Hal ini memberikan kapasitas yang luar biasa bagi otak manusia untuk pembelajaran.

Cerebrum terdiri atas empat bagian utama yang disebut lobe (lobus). Ke empat bagian itu adalah lobe bagian belakang (lobus occipital), bagian depan (lobus frontal), Lobus parietal dan lobus temporal. Lobus occipital terletak sedikit di belakang bagian otak dan terutama bertanggung jawab pada penglihatan. Lobus frontal terletak di bagian wilayah sekitar kening dan punya andil terhadap tindakan-tindakan yang di sengaja seperti memberi penilaian, kreatifitas, dan menyelesaikan masalah dan merencanakan. Lobus parietal bagian atas dari porsi otak Anda. Tugasnya memproses sesuatu yang berhubunagn dengan sensori yang lebih tinggi dan fungsi-fungsi bahasa. Lobus temporal (bagian kiri dan kanan) berada di atas dan di sekitar telinga Anda. Bagian ini bertanggung jawab terhadap pendengaran, memori, pemaknaan, dan bahasa.

Pembelajaran yang optimal dengan menggunakan otak terjadi dalam banyak tahap, tetapi tiga tahap pembelajaran yang paling penting adalah akuisisi, elaborasi dan formasi memori (Eric Jensen, Brain Based Learning, 2008).

Akuisisi

Pengertian dari akuisisi adalah memformasikan koneksi sinaptik baru. Badan sel dari neuron yang bercabang-cabang seperti kumparan disebut dendrite dan proyeksi tunggal yang lebih panjang disebut axon. Axon tunggal dari sebuah sel menjangkau keluar untuk berkoneksi dengan dendrit-dendrit jamak pada sel-sel lainnya. Koneksi ini terbentuk ketika pengalaman yang dialami bersifat baru dan koheren. Oleh karena itu, tahap akuisisi adalah sebuah tahap penciptaan koneksi atau pada saat neuron-neuron itu saling “berbicara” satu sama lain. Sumber akuisisi ini bisa meliputi diskusi, stimuli lingkungan, pengalaman praktis, kunjungan ke museum, dan lain-lain.

Elaborasi

Tahap ini memberikan kesempatan kepada otak untuk menyortir, menganalisis, menguji dan memperdalam pembelajaran. Untuk mengetahui bahwa otak tetap menjaga koneksi-koneksi sinaptik yang diciptakan dari pembelajaran baru, biasanya diperlukan elaborasi tambahan.

Jaringan neural terbentuk melalui cara coba-coba. Semakin banyak eksperimentasi dan umpan balik maka akan semakin baik kualitas neuron.Pembelajaran implisit dan eksplisit sangat berguna dalam tahap elaborasi. Contoh pembelajaran implisit yaitu simulasi, permainan peran, model peran, kunjungan lapangan, game-game, serta pengalaman langsung. Contoh pembelajaran eksplisit yaitu pemeriksaan oleh teman, tanya jawab, dan atau pemutaran video, pembelajaran tersebut dapat memberikan umpan balik yang sangat berharga bagi siswa.

Formasi Memori

Tahap ini mempunyai tujuan yaitu sebuah pembelajaran yang merekatkan, supaya apa yang telah dipelajari pada suatu hari masih tetap ada pada hari selanjutnya. Dengan kata lain memori otak diharapkan mempunyai memori penyimpanan jangka panjang atau disebut longterm memory. Kadang-kadang meskipun pembelajar telah berinteraksi dan bereksperimen, memori masih belum cukup kuat untuk diaktifkan kembali ketika diperlukan. Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor, untuk membangkitkan kembali salah satunya yaitu dengan istirahat yang cukup.

Dalam pembelajaran,disarankan bagi peserta didik untuk mendapatkan istitahat yang cukup di waktu malam. Berikan pada mereka kesempatan untuk bergerak di sekitar ruangan, melakukan peregangan dan minum air. Berikan juga pada para pebelajar waktu-waktu santai untuk merilekskan otak agar selalu optimal dalam pemanfaatannya.

Individu Anak sebagai Pribadi Pebelajar adalah Pribadi yang Unik

Siswa adalah individu yang unik artinya tak ada dua orang atau lebih yang sama, antara siswa satu dengan yang lainnya memiliki ciri khas tersendiri/karakteristik. Perbedaan itu terlihat dari karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya. Karakteristik tersebut berpengaruh pada cara dan hasil belajar pebelajar (siswa). Oleh karena itu, perbedaan tersebut perlu menjadi perhatian khusus bagi seorang pendidik dalam kegiatan pembelajaran. Metode klasik yang dilakukan saat ini masih kurang memperhatikan masalah perbedaan individual. Biasanya pebelajar (siswa) dianggap mempunyai kemampuan yang sama atau rata-rata kelas. Padahal, anak mempunyai ciri khas tersendiri, ada yang sudah benar-benar matang, ada yang setengah dan ada pula yang belum matang atau yang hanya ingin bermain-main saja ketika pembelajaran karena belum siap.

Dalam pembelajaran klasik yang kurang memperhatikan perbedaan individual tersebut dapat diperbaiki dengan berbagai cara. Gunakan metode dan strategi yang bervariasi sehingga perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Gunakan pula media pembelajaran yang membantu melayani perbedaan siswa dalam cara belajar. Berikan tambahan pelajaran dan bimbinagn pelajaran bagi siswa yang kurang. Selain itu, dalam memberikan tugas harus disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa, sehingga bagi siswa yang pandai, sedang dan atau kurang pandai akan merasakan berhasil dalam belajar.

B. Pengertian Inovasi Pembelajaran

Inovasi pembelajaran sangat berkaitan dengan istilah discovery, invention,dan innovation. Discovery, invention, dan innovation dapat diartikan dalam bahasa Indonesia “penemuan”, maksudnya ketiga kata tersebut mengandung arti ditemukannya sesuatu yang baru. Hal yang baru itu diadakan dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu dalam hal ini tujuan penemuan hal baru dalam pembelajaran ke arah perbaikan terhadap strategi dan metode pembelajaran. Tetapi pada intinya pengertian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadimay proses belajar pada siswa. Jadi inovasi pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk menciptakan sesuatu hal yang baru dalam proses belajar agar pebelajar dapat mencapai tujuan pembelajaran secar aktif, kreatif, efektif dan inovatif.

Kebaruan Pembelajaran

Dalam inovasi pembelajaran disini, kebaruan pembelajarannya yaitu pembelajaran melalui internet atau disebut dengan Electronic Learning. Melalui pembelajaran E. Learning ini para pebelajar bisa mendapatkan informasi secara cepat, juga fasilitas multimedia yang dapat membuat belajar lebih menarik, visual dan interaktif. Saat ini, banyak kalangan pendidikan yang mulai melirik untuk menggunakan E.Learning dalam proses belajarnya, karena dianggaap lebih efektif dan efisien.

Jika akan memanfaatkan internet sebagai media pemelajaran dalam aturan sekolah, menurut Udin Syaefudin Sa’ud, Ph.D.,( Inovasi Pendidikan, 2008: 190-191) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Faktor lingkungan yang meliputi institusi penyelenggara pendidikan dan masyarakat

2. Siswa atau peserta didik meliputi usia, latar belakang, budaya, penguasaan bahasa dan berbagai gaya belajarnya

3. Guru atau pendidik meliputi latar belakang, usia, gaya mengajar, pengalaman dan personalitinya

4. Faktor teknologi meliputi komputer, perangkat lunak, jaringan. Koneksi internet dan berbagai kemampuan yang dibutuhkan berkaitan dengan penerapan inetrnet di lingkungan sekolah.

C. Konsep Belajar dan Pembelajaran

Belajar dan pembelajaran adalah peristiwa yang sangat berkaitan, saling berhubungan dan tak dapat terpisahkan yang mana seseorang yang belajar pasti telah terjadi pembelajaran dalam dirinya. Banyak para ahli yang mempunyai pandangan berbeda-beda mengenai belajar (dalam Dr.Dimyati dan Drs.Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, 2009: 9-16), yaitu sebagai berikut:

1. Skinner menyatakan bahwa “belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun”.

2. Gagne menyatakan bahwa “belajar adalah kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki ketrampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.”

3. Piaget menyatakan bahwa “pengetahuan di bentuk oleh individu. Sebab individu ,melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungannnya. Lingkunagn tersebut mengalamai perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkunagn maka fungsi intelek semakin berkembang”.

4. Rogers menyatakan bahwa “praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut di tandai oleh peran serta guru yang dominan dan siswa hanya menghafal pelajaran”. Karena hal yang terjadi dalam diri siswa adalah demikian, roger menyarankan agar dalam acara pembelajaran, siswa memperoleh kepercayaan diri untuk mengalami dan menemuakn secara betanggung jawab.

Dari pengertian dan pandangan mengenai belajar tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu kegiatan, tindakan dan perilaku seseorang agar menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan tujuan memiliki ketrampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 6 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 10 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasiana-Tanoto Foundation Blog …

Kompasiana | 7 jam lalu

Sang Pawang Jati …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Meningkatkan Kesadaran Tentang Korupsi …

Andrew Ebeneizer Se... | 8 jam lalu

Moratorium CPNS 5 Tahun? Slow aja! …

Niztchan | 8 jam lalu

Vergiss-mein-nicht (Gema di Lautan Sunyi …

Monika Chandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: