Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pertumbuhan dan Perkembangan

OPINI | 21 October 2010 | 04:48 Dibaca: 1857   Komentar: 2   0

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara continu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara interdepedensi, artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi bisa dibedakan untuk lebih mempermudah penjelasan.

Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan juga dapat diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik ( keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah ) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan.

Hasil pertumbuhan antara lain berwujud bertambahnya ukuran-ukuran kuantitatif badan anak, seperti panjang, berat, dan kekuatanya. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang makin sempurna tentang sistem jaringan syaraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani lainya. Dengan demikian pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses perubahan dan proses pematangan fisik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal :

1. Faktor-faktor yang terjadi sebelum lahir.

Seperti kekurangan nutrisi pada ibu dan janin, janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada dalam kandungan, terkena infeksi oleh bakteri syphilis.

2. Faktor ketika lahir atau saat kelahiran.

Faktor ini antara lain intracranial haemorage atau perdarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan.

3. Faktor yang dialami bayi sesudah lahir, antara lain oleh karena pengalaman traumatik pada kepala,infeksi pada otak atau selaput otak.

4. Faktor psikologis antara lain karena bayi ditinggalkan ibu, ayah atau kedua orang tuanya. Sebab lain ialah anak-anak dititipkan pada suatu lembaga, seperti rumah sakit, rumah yatim piatu, yayasan perawatan bayi, dll.

Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner ( 1957 ) sebagai berikut ” perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenetis, bahwa perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan di mana diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi itu diartiakan sebagai prinsip totalitas pada diri anak; bahwa dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagianya menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruan.

Spiker ( 1966 ) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangkan, yakni :

1. Ortogenetik, yamg berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.

2. Filogenetik, yakni perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang ini.

Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologis yang tampak. Sementara pertumbuhan khusus dimaksudkan bagi pertumbuhan dalam ukuran badan dan fungsi fisik yang murni.

Pertumbuhan berarti proses perubahan yang berhubungan dengan kehidupan jasmaniah individu, sedangkan perkembangan merupakan proses perubahan yang berhubungan dengan hidup kejiwaan individu yang perubahan-perubahan tersebut biasanya melahirkan tingkah laku yang dapat diamati, walaupun tidak bisa diukur seperti yang terjadi pada perubahan jasmaniah.

Karena itu, berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan akan berlanjut terus hingga manusia mengakhiri hayatnya, sedangkan pertumbuhan hanya terjadi sampai manusia mencapai kematangan fisik. Artinya, individu tidak akan bertambah tinggi atau besar jika batas pertumbuhan tubuhnya telah mencapai tingkat kematangan.

B. Jenis-jenis Perubahan

1. Perubahan ukuran

Termasuk di sini perubahan fisik dalam tinggi, berat, organ dalam dan sekelilingnya serta perubahan mental dalam memori, penalaran, persepsi, dan imajinasi kreatif.

2. Perubahan proporsi

Dilihat dari sudut fisik terjadi perubahan proposional antara kepala, anggota badan, dan anggota gerak. Misalnya perbandingan antara besarnya kepala dengan anggota badan, semakin bertambah umur, semakin bertambah besar. Sampai pada umur tertentu perbandingan akan menetap, yakni pada usia akhir belasan tahun.

3. Hilangnya ciri lama

Bahasa bayi yang tidak jelas dan kadang-kadang berbicara cedal semakin menghilang dan diganti dengan perkataan yang lebih jelas artinya. Kebiasaan untuk merangkak kalau mengambil sesuatu akan menghilang sesuai dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan motorik dan berganti dengan berjalan.

4. Mendapatkan ciri yang baru

Banyak hal yang baru yang diperoleh selama perkembangan sesuai dengan keadaan dan tingkatan/tahapan perkembanganya. Ketika dilahirkan bayi belum mempunyai gigi dan beberapa waktu kemudian ( kalau sudah sampai waktunya atau umurnya ) akan tumbuh gigi tersebut. Dengan demikian bayi memperoleh atau menambah sesuatu yang baru yang sebelumnya belum ada atau belum dimiliki.

C. Tugas-Tugas Perkembangan

Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan hidup manusia ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang harus ditempuh.

Tugas-tugas perkembangan tersebut oleh Havighurst dikaitkan dengan fungsi belajar, karena pada hakekatnya perkembangan kehidupan manusia dipandang sebagai upaya mempelajari norma kehidupan dan budaya masyarakat agar kehidupan dan budaya masyarakat agar ia mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik di dalam kehidupan nyata.

Havighurst ( Garisson, 1956 : 14-15 ) mengemukakan 10 jenis tugas perkembangan remajam yaitu :

a. Mencapai hubungan dengan teman lawan jenisnya secara lebih memuaskan dan matang;

b. Mencapai perasaan seks dewasa yang diterima secara sosial;

c. Menerima keadaan badanya dan menggunakan secara efektif;

d. Mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa;

e. Mencapai kebebasan ekonomi;

f. Memilih dan menyiapkan suatu pekerjaan;

g. Menyiapkan perkawianan dan kehidupan berkeluarga;

h. Menggunakan ketrampilan dan konsep intelektual yang perlu bagi warga negara yang kompeten;

i. Menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggungjawab secara sosial;

j. Menggapai suatu perangkat nilai yang digunakan sebagai pedoman bertingkah laku

D. Prinsip-Prinsip Perkembangan

Secara garis besar, peristiwa perkembangan mempunyai atau mengikuti prisip-prinsip perkembangan ( Atmodiwirjo, 1983; Simandjutak & Pasaribu, 1979; Syah, 1995; Kartono, 1982; Kasiram 1983; Shaleh & Soerjadinata, 1971 ):

1. Perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar, namun mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan.

2. Perkembangan selalu menuju proses diferensiasi dan integrasi. Proses diferensiasi artinya ada prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu, lambat laun bagian-bagianya menjadi sangat nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruan.

3. Perkembangan dimulai dari respons-respons yang sifatnya umum menuju yang khusus.

4. Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan yang berlangsung secara berantai. Walsupun tidak ada garis pemisah yang jelas antara satu fase dengan fase yang lain, tahapan perkembangan ini sifatnya universal.

5. Setiap anak mempunyai tempo kecepatan perkembangan sendiri-sendiri. Dengan kata lain, ada anak yang perkembanganya cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Jadi, perkembangan anak yang satu berbeda dengan anak yang lain, baik dalam perkembangan organ atau aspek kejiwaanya maupun cepat atau lambatnya perkembangan tersebut.

6. Di dalam perkembangan, dikenal adanya irama atau naik turunya proses perkembangan. Artinya, perkembangan manusia itu tidak tetap, terkadang naik, terkadang turun. Pada suatu saat seorang anak mengalami perkembangan yang tenang dan pada saat lain, ia akan mengalami perkembangan yang menggoncangkan. Jadi, irama perkembangan itu tidak menetap. Ada kalanya tenang, adakalanya goncang.

7. Setiap anak, seperti juga organisme lainya, memiliki dorongan dan hasrat mempertahankan diri dari hal-hal yang negatif, seperti rasa sakit, rasa tidak aman, kematian dan seterusnya. Untuk itu, mereka memerlukan sandang, pangan, dan pendidikan.

8. Dalam perkembangan terdapat masa peka. Masa peka adalah suatu masa dalam perkembangan anak, saat suatu fungsi jasmani ataupun rokhani, dapat berkembang dengan cepat jika mendapat latihan yang baik dan kontinu. Masa peka di antara anak yang satu dengan anak lainya tidak mudah untuk diketahui, karena hal ini memerlukan penelitian yang seksama melalui berbagai cobaan.

Diantara asas-asas pendidikan Montessori yang berkenaan dengan masa peka antara adalah :

a. anak-anak haruslah diberi kebebasan;

b. karena datangnya masa peka itu tidak mudah untuk diketahui, tidaklah mungkin untuk diadakan latihan atau pendidikan secara klasikal;

c. tata tertib di sekolah hendaknya timbul dari hasrat sanubari anak itu sendiri dan bukan merupakan sesuatu yang dipaksakan oleh para pendidiknya;

d. karena panca indra merupakan gejala utama dari isi jiwa manusia, Montessori lebih memperhatikan panca indera anak.

9. Perkembangan tiap-tiap anak pada dasarnya tidak hany dipengaruhi oleh faktor pembawaan sejak lahir, tetapi juga oleh lingkungan. Anak manusia dengan bakat pembawaanya itu, hanyalah merupakan bakat-bakat yang tersedia untuk memberikan kemungkinan-kemungkinan berkembang saja. Agar bakat yang tersedia itu dapat berkembang dengan sebaik-baiknya, diperlukan adanya suatu proses menjadi matang, pemberian kesempatan kemungkinan berkembang dari alam sekitarnya, serta pemeliharaan yang kontinu dari manusia-manusia dewasa, baik secara langsung maupun tidak langsung.

E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan

1. Aliran Nativisme ( Aliran Pembawaan )

Tokoh utama aliran nativisme adalah Arthur Schopenhauer ( 1788-1860 ), seorang filosof Jerman. Aliran nativisme mengemukakan bahwa manusia yang baru dilahirkan telah memiliki bakat dan pembawaan, baik karena berasal dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun karena memang ditakdirkan demikian. Manakala pembawaanya baik, baik pula anak itu kelak. Begitu pula sebaliknya, andaikan anak itu berpembawaan buruk, buruk pula pada masa kedewasaanya. Oleh sebab itu, menurut aliran ini, pendidikan tidak dapat diubah dan senantiasa berkembang dengan sendirinya.

2. Aliran Empirisme ( Aliran Lingkungan )

Aliran empirisme merupakan kebalikan dari aliran nativisme, dengan tokoh utama John Locke ( 1632-1704 ). Aliran empirisme mengemukakan bahwa anak yang baru lahir laksana kertas yang putih atau semacam tabula rasa ( tabula : meja, rasa : lilin ), yaitu meja yang tertutup lapisan lilin putih. Kertas putih bersih dapat ditulis dengan tinta warna apapun, dan warna tulisanya akan sama dengan warna tinta tersebut. Begitu pula halnya dengan meja yang berlilin dapat dicat dengan berwarna-warni, sebelum ditempelkan. Anak diumpamakan bagaikan kertas putih yang bersih, sedangkan warna tinta diumpamakan sebagai lingkungan ( pendidikan ) yang akan berpengaruh terhadapnya; sudah pasti tidak mungkin tidak, pendidikan pun dapat membuat anak menjadi baik atau buruk. Pendidikan dapat memegang peranan penting dalam perkembangan anak, sedangkan bakat pembawaanya bisa ditutup dengan serapat-rapatnya oleh pendidikan itu

Jadi, kesimpulan aliran empirisme adalahperkembangan anak sepenuhnya tergantung pada factor lingkungan; sedangkan factor bakat waktu dilahirkan, anak dalam keadaan suci, bersih, seperti kertas putih yang belum ditulis sehingga bisa ditulis menurut kehendak penulisnya.

3. Aliran Konvergensi ( Aliran Persesuaian )

Aliran ini pada intinya merupakan perpaduan antara pandangan nativisme dan empirisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas ( pembawaan )dengan lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama aliran konvergensi adalah Louis Willim Stern (1871-1938 ).

Stern dan para pengikutnya, dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada lingkungan atau pengalaman, juga tidak berpegang pada pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor yang sama pentingnya itu. Faktor pembawaan tidak berartio apa-apa tanpa faktor pengalaman. Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor bawaan tidak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan.

F. Hukum-Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan

1. Hukum Cephalocoudal

Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Bagian-bagian pada kepala tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain.

2. Hukum Proximodistal

Hukum proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik dan menurut hukum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang lain yang berada di tepi.

3. Perkembangan terjadi dari umum ke khusus

Pada setiap aspek terjadi proses perkembangan yang dimulai dari hal-hal yang umum, kemudian secara sedikit demi sedikit meningkat ke hal-hal yang khusus. Anak lebih dahulu mampu menggerakan lengan atas, lengan bawah, tepuk tangan terlebih dahulu daripada menggerakan jari-jari tanganya. Anak akan mampu lebih dahulu menggerakan tubuhnya sebelum ia mempergunakan kedua tungkainya untuk menyangga batang tubuhnya, melangkahkan kaki dan berjalan.

4. Perkembangan berlangsung dalam tahapan-tahapan perkembangan

Dalam perkembangan terjadi penahapan yang terbagi-bagi ke dalam masa-masa perkembangan. Pada setiap masa perkembangan terdapat ciri-ciri perkembangan yang berbeda antara ciri-ciri yang ada pada suatu masa perkembangan dengan ciri-ciri yang ada pada masa perkembangan yang lain.

5. Hukum tempo dan ritme perkembangan

Tahap perkembangan berlangsung secara berurutan, terus menerus, dan dalam tempo perkembangan yang relatif tetap sama serta bisa berlaku umum. Semakin lambat masa-masa perkembangan dibandingkan dengan norma-norma umum yang berlaku menunjukan adanya tanda-tanda gangguan atau hambatan dalam perkembangan.

Referensi :

Hurlock B Elizabeth.1978.Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Semiawam R.Cony. 1998.Perkembangan dan Belajar Peserta Didik.UNY

Sobur Alex.2009.Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia

Sunarto.H dan Hartono.1994.Perkembangan Peserta Didik.Jakarta

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Warga Kupang Anti-McDonald …

Yusran Darmawan | | 29 August 2014 | 06:43

Pak Jokowi, Saya Setuju Cabut Subsidi BBM …

Amy Lubizz | | 28 August 2014 | 23:37

Jatah Kursi Parlemen untuk Jurnalis Senior …

Hendrik Riyanto | | 29 August 2014 | 04:36

Jangan Mengira “Lucy” sebagai Film …

Andre Jayaprana | | 28 August 2014 | 22:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 10 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 15 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 16 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 18 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: