Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mey.safit

seorang guru yang masih terus ingin belajar

Pembelajaran Terpadu

OPINI | 31 October 2010 | 03:49 Dibaca: 755   Komentar: 0   1

Memahami Latar Belakang Terjadinya Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pelajari.

Perlunya pembelajaran terpadu dilihat dari beberapa faktor berikut:

1. Realitas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)

Menilik pada kenyataan yang ada perkembangan dalam satu bidang ilmu pengetahuan cenderung selalu diiringi oleh transformasi temuan ilmu ke dalam bidang lain.

2. Hakikat perkembangan anak SD

Perkembangan anak usia Sekolah Dasar itu bersifat holistik, terpadu. Aspek perkembangan yang satu saling berkaitan erat dan mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. Perkembangan fisik tidak dapat dipisahkan dari perkembangan mental, sosial, dan emosionalnya. Dan perkembangan itu akan terpadu dengan pengalaman, kehidupan, dan lingkungan anak.

3. Fenomena praktek pendidikan saat ini

Fenomena prkatek pendidikan selama ini menunjukkan kecenderungan yang kuat dalah hal: (a) terjadinya pengkotakan bidang studi yang ketat, terutama pada kelas tinggi, (b) pembelajaran hanya menekankan pada pencapaian efek instruksional, dan (c) sistem evaluasi berorientasi testing dengan menekankan reproduksi informasi.

Interaksi dari ketiga hal tersebut merupakan suatu kondisi objektif yang dapat menimbulkan pertentangan kebutuhan yang juga dapat mendorong perlunya penataan pembelajaran, khususnya pembelajaran di sekolah dasar. Implikasi yang dapat terjadi dari kondisi objektif tersebut adalah redefinisi belajar dan redefinisi program pendidikan guru.

Belajar itu tidak hanya sebatas memperoleh suatu informasi tetapi juga belajar untuk memahami apa yang sudah ia dapatkan serta mampu mengolah dan mengembangkannya secara tepat. Belajar secara tradisional diartikan sebagai upaya menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Sedangkan pengertian belajar lebih modern diungkapkan oleh Morgan dkk (1986) dalam buku Strategi Belajar Mengajar (Mulyani Sumantri dan Johan Permana, 2001: 13), di dalamnya disebutkan bahwa belajar sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman.

Pelaksanaan pembelajaran terpadu ini ditekankan pada tindakan yang real, bukan berdasarkan pada konsep dan teori. Arti keterpaduan ini dipandang sebagai kontinum yang bergerak dari cara-cara yang spontan (intra bidang studi) sampai cara yang terstruktur (antara bidang studi bahkan antar kelompok siswa). Penerapannya di sekolah dasar tidak harus mengubah rancangan kurikulum yang telah ada dan berlaku. Perlu diingat bahwa pelaksanaan pembelajaran terpadu ini terletak pada keterpaduan belajar bukan pada keterpaduan kurikulum.

Memahami Hakekat Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu ini bertolak dari suatu tema yang pembelajarannya tidak terkotak-kotak dalam bidang studi. Secara terminology, ada istilah yang mengatakan pembelajaran terpadu merupakan pendekatan topik-topik dalam mata pelajran dimana memadukan berbagai pokus dari satu mata pelajran misalnya keterpaduan program matematika. Istilah yang lain adalah pendekatan interdisipliner bidang studi, pendekatan tematik dan pendekatan holistik.

Upaya mencari bentuk-bentuk baru untuk memperbarui penyajian kurikulum inti sudah dilakukan bertahun-tahun yang lalu seiring dengan perkembangan ilmu psikologi, pendidikan, dan kebudayaan. Yang paling kuat kelihatannya ialah, pada saat munculnya pergerakan pendidikan progresif pada tahun 1930-an, dimana pandangan pendidikan berubah mengarah kepada siswa sebagai pusat pembelajaran, maka pendidikan yang menggunakan pendekatan terpadu mulai menguat dengan menggunakan nama kurikulum inti. Dengan pendektan terpadu, kurikulum yang dirancang dapat mengakomodasi kebutuhan siswa, mengatasi masalah social diantara para siswa di kelas, dan juga mematapkan penguasaan materi pelajaran (Vars, 1991).

Seperti yang diuraikan Nasution (1982), perdebatan antara pendukung dan yang pesimis terhadap pengajaran terpadu dapat dikontraskan sebagai berikut:

Yang Keberatan

Yang mendukung

v Kebanyakan guru yang ada tidak terlatih/dididik untuk melaksanakan pembelajran terpadu

v Proses pembelajan tidak bisa diorganisasikan secara sistematis

v Memberatkan tugas guru

v Siswa yang muda belum bisa diajak untuk menentukan arah pembelajaran

v Fasilitas pada umumnya tidak menunjang

v Tidak sesuai dengan sistem ujian umum.

v Suatu pembaharuan memerlukan perjuangan dan harus tepat dimulai oleh guru.

v Pembelajaran terpadu tidak bersifat memkasa dan kaku, bisa dengan berbagai sumber

v Guru bisa menjadi lebih dinamis

v Sistem ujian tidak selayaknya menghambat suatu pembaharuan

v Guru memang tetap sebagai pengambil keputusan dalam menentukan tujuan pembelajaran

v Menggunakan bahan/alat pembelajaran yang sederhana.

Alasan-alasan yang mendasari penggunaan pembelajaran terpadu karena berdasarkan berbagai studi, menunjukan bahwa pembelajaran terpadu antara lain (1) sesuai dengan cara pandang siswa dalam memperhatikan atau mempelajari aspek kehidupan, (2) pembejaran terpadu memungkinkan untuk melihat keterkaitan dan hubungan dari setiap mata pelajaran yang bisa jadi memang berdekatan, (3) dapat memfasilitas irama proses belajar siswa, sehingga gaya dan tingkatan proses belajar siswa tidak selalu dihambat dengan adanya mata pelajaran yang secara konstan selalu berganti dan (4) siswa mendapat kesempatan untuk mengikuti lingkaran proses belajar mereka sendiri.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: