Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Liza Dwi Jayanti

Mahasiswa Transfer S-1 PGSD Kampus VI Kebumen, Universitas Sebelas Maret

Seni, Kreativitas, dan Estetika

OPINI | 31 October 2010 | 09:25 Dibaca: 182   Komentar: 0   0

A. SENI
Seni merupakan fundamen kemanusiaan yang dinyatakan oleh Lowenfeld (1982), seni dapat di bedakan menjadi dua yaitu Seni murni dan seni terapan. Seni Murni adalah Seni yang di kembangkan untuk di nikmati keindahannya. Seni Murni mengutamakan sifat Estetikanya di bandingkan kegunaanya dalam kehidupan sehari-hari. sebagai contoh lukisan, Kaligrafi, dan Patung. Sedangkan Seni Terapan yaitu untuk di manfaatkan sebagai alat bantu lain.
Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta).
B. KREATIVITAS
Kreativitas adalah Proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan/ konsep baru atau hubungan baru anatara gagasan dan konsep yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan hasil dari pemikiran kreatif kadang di sebut pemikiran divergen biasanya dianggap memiliki ke aslian dan kepantasan sebagai alternative konsepsi sehari-hari. Sehingga dapat kita ambil pengertian bahwa kreativitas yaitu tindakan membuat sesuatu yang baru.

Kreativitas dalam berbagai sekmen seyogyanya harus diberdayakan, agar setiap orang mampu memecahakan berbagai persoalan dirinya dalam kehidupannya. Sebab peran kreativitas berguna untuk mengkondisikan seseorang dapat melakukan dialogis terhadap berbagai macam tantangan. Pada sisi yang lain, kreativitas diharapkan agar seseorang dapat tetap servave (bertahan hidup). Usaha ini dibutuhkan perencanaan yang bersifat konseptual dan strategis. Pembinaan masyarakat ke arah kreativitas pada umumnya hanya diarahkan pada para kreator (seniman) karena dianggap problem penciptaan sangat membutuhkan sikap kreatif. Kreativitas bukan suatu kata benda yang hanya nampak pada kehadiran wujud karya seni, tetapi kreativitas itu merupakan suatu sifat yang melekat pada suatu bentuk kegiatan manusia, maka di dalamnya sangat terkait dengan proses kepribadian dan mentalitas. Maka sifat kreatif selalu muncul jika ada tantangan, ada kesulitan, dan ada persoalan dasaiah yang menuntut seseorang dapat eksis. Indikator yang dapat ditangkap umumnya munculnya tingkah laku tertentu yang menampakan kemapuan prima seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kreativitas dibutuhkan pada setiap munculnya sebuah kegeliasahan dan atau kondisi yang menyudutkan seseorang untuk bersikap dan bertindak. Berbagai hal tersebut dapat juga muncul dari lingkungannya maupun sebuah kesengajaan muncul dari seseorang yang merasa dirinya gelisah dan tertantang. Kreativitas akan muncul jika ada stimulus, dorongan, dan desakan yang sangat kuat untuk mengatasi sebuah problematika kehidupan, pada dasarnya semua itu merupakan sebuah dinamika yang ada dalam kehidupan itu sendiri, tidak terkecuali kehidupan berkesenian. Pendapat Drevdahl (1956) tentang kreativitas dalam seni pertunjukan seperti dikutip Sal Murgiyanto (1983: 11) sebagai berikut; Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi (susunan), produk, atau ide-ide baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh penyusunnya sendiri.
Kreativitas dalam pengertian estetik, dilahirkan dari bagaimana problematika yang berkaitan dengan kekaryaan. Setiap seniman dalam usahanya melahirkan, menciptakan dan atau berkarya dibutuhkan sebuah kondisi mental yang mampu membawa dirinya kondisi problematik dan orsinal. Tidak satupun karya yang hadir karena semata-mata ingin memotret objeknya hanya untuk objek itu sendiri. Tetapi objek yang di-rerealitas-kan adalah sebuah image.

C. ESTETIKA
Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana Estetika adalah Ilmu yang membahas keindahan, bagaimana keindahan itu bisa terbentuk dan bagaimana seseorang dapat merasakannya.
Estetika dalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensori yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentiment dan rasa
Secara Etimologi Estetika berasal dari bahasa Yunani yang di baca AISTHETIC, pertama kali di gunakan oleh filsufus Alexander Gottlieb Baumgarten pada tahun 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa di rasakan lewat perasaan
Pada saat ini estetika bisa berarti tiga hal yaitu:
1. Studi mengenai fenomena estetika
2. Studi mengenai fenomena persepsi
3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengamatan estetis

Jadi Estika tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya

Penilaian terhadap keindahan dapat cepat berubah,meskipun awalnya sesuatu yang indah dari aspek teknik dalam membentuk suatu karya namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di perancis keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa Realisme yaitu kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de stijl di belanda yaitu kemampuan mengkmposisikan warna dan ruang serta kemampuan mengabstraksikan benda.

Dari uraian di atas mengenai Seni, Kreativitas dan Estetika sebenarnya ada berbagai hal yang positif untuk di kembangkan terutama jika diterapkan di bidang pendidikan, namun sebelumnya perlu kita ingat tentang pengertian seni, kreativitas, dan estetika tersebut yaitu:
1. Seni adalah suatu hal yang di kembangkan untuk di nikmati keindahannya,
sehingga dapat memberikan kesegaran, dan kegembiraan.
2. Kreativitas yaitu tindakan membuat sesuatu yang baru.
3. Estetika yaitu membahas keindahan, bagaimana keindahan itu bisa terbentuk dan bagaimana seseorang dapat merasakannya sebagai penilaian terhadap sentiment dan rasa

SENI DI DALAM PENDIDIKAN
Dari uraian di atas menurut saya pelajaran seni harus dapat menciptakan suasana gembira atau memberikan kepuasan bartin, untuk mengusir kejenuhan atau kebosanan dan rasa tertekan yang mungkin timbul karena pelajaran lainnya, dalam suasana yang menyenagkan itu siswa diharapkan dapat memunculkan ide-ide yang kreatif, dengan di tuangkan kedalam sebuah karya yang bisa menimbulkan keindahan (estetika)

Liza dwi Jayanti/5 B
X7210078

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bila Gagal Lulus UN …

Sayidah Rohmah | | 16 April 2014 | 10:34

Menebar Rimpang Jahe Menuai Rupiah Sebuah …

Singgih Swasono | | 16 April 2014 | 09:28

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 6 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 7 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 8 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: