Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad Fahmi

saya hanyalah orang biasa. dan saya adalah mahasiswa pgsd uns kampus VI Kebumen, dengan NIM selengkapnya

Pertumbuhan dan Perkembangan

OPINI | 15 November 2010 | 14:33 Dibaca: 3239   Komentar: 0   0

Semua mahluk hidup pasti mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembanga penting bagi makhluk hidup, misalnya pada manusia, dengan tumbuh dan berkembang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan melestarikan keturunannya.

Sewaktu masih bayi, balita, dan anak kecil, manusia memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah sehingga mudah terserang penyakit. Tetapi, setelah tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, daya tahan tubuhnya semakin kuat sehingga kelangsungan hidupnya lebih terjamin.

Pertubuhan itu sendiri adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Sedangkan perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa. Dan biasanya pertumbuhan hanya menyangkut pada jasmaniah saja sedangkan perkembangan menyangkut baik jasmaniah dan psikisnya yang akan terus menuju kedewasaan.

Akan tetapi tidak semua anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sama. Untuk perkembangan yang normal diperlukan pertumbuhan yang selalu bersamaan dengan kematangan fungsi. Untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimum diperlukan berbagai faktor misalnya makanan harus disesuaikan dengan keperluan anak yang sedang tumbuh. Penyakit infeksi akut maupun kronis menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga pencegahan penyakit menular merupakan hal yang penting, di samping diperlukan bimbingan, pembinaan, perasaan aman dan kasih sayang dari ayah dan ibu yang hidup rukun, bahagia dan sejahtera dalam lingkungan yang sehat.

Fase dan Tugas Perkembangan

Perkembangan memiliki fase dan tugas yang berbeda beda, walupun suluit untuk menentukan fase dan tugas perkembangan karena fase dan tugas perkembangan itu sendiri tidak teratur. Bisa saja antara anak satu dengan anak yang lain berbeda fase dan tugas perkembangannya.

Adapun tugas - tugas perkembangan pada setiap fase perkembangan adalah sebagai berikut :

1. Tugas - tugas perkembangan pada usia bayi dan kanak - kanak (0 - 6 tahun)

Menurut Robert J. Havighurst (Monks, et al., 1984, syah, 1995; Andrissen, 1974; Havighurst, 1976) sebagai berikut :

a. Belajar berjalan.

b. Belajar memakan makanan padat.

c. Belajar berbicara.

d. Belajar buang air kecil dan buang air besar.

e. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.

f. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.

g. Membentuk konsep - konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam.

h. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang - orang disekitarnya.

i. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk, yang berarti mengembangkan kata

j. hati.

Menurut Charlotte Buhler (1930) dalam bukunya yang berjudul The first tear of life :

a. Fase pertama (0 - 1 tahun)

Belajar menghayati berbagai objek diluar diri sendiri, melatih fungsi - fungsi

motorik.

b. Fase kedua (2 - 4 tahun)

Belajar mengenal dunia objektif diluar diri sendiri, disertai dengan penghayatan

yang bersifat subjektif. Misalnya anak bercakap - cakap dengan bonekanya atau

berbincang - bincang dan bergurau dengan binatang kesayangannya.

c. Fase ketiga ( > 5 tahun)

Belajar bersosialisasi. Anak mulai memasuki masyarakat luas (pergaulan dengan

teman sepermainan (TK) dan sekolah dasar. Menurut Soe’oed (dalam Ihromi, ed.,

1999 : 30) syarat penting untuk berlangsungnya proses sosialisasi adalah interaksi

sosial. A. Gosin (Soe’oed, dalam Ihromi, ed., 1999 : 30) : sosialisasi adalah

proses belajar yang dialami oleh seseorang untuk memperoleh pengetahuan,

keterampilan, nilai - nilai dan norma - norma agar dia bisa berpartisipasi sebagai

anggota dalam masyarakatnya.

Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978) dalam bukunya Developmental Psychology :

a. Prenatal, yaitu masa konsepsi anak sampai umur 9 bulan dikandungan ibu.

b. Masa natal :

1.) Infancy atau neonatus (dari lahir sampi usia 14 hari), penyesuaian terhadap

lingkungan

2.) Masa bayi (2 minggu sampai 2 tahun), bayi tidak berdaya dan sangat

tergantung pada lingkungan dan kemudian (karena perkembangan) anak mulai

berusaha menjadi lebih independen.

3.) Masa anak ( > 2 tahun)

Anak belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, sehingga dia merasa

bahwa dirinya merupakan bagian dari lingkungan yang ada.

Menurut Erik Erickson (1963) dalam bukunya Chilhood and Society :

a. Masa bayi (0 - 1,5 tahun), anak belajar bahwa dunia merupakan tempat yang baik

baginya, dan ia belajar menjadi optimis mengenai kemungkinan - kemungkinan

mencapai kepuasan.

b. Masa Toddler (1,5 - 3 tahun)

Anak belajar menggunakan kemampuan bergerak sendiri untuk melaksanakan dua

ugas penting, yakni pemisahan diri dari ibu dan mulai menguasai diri, lingkungan,

dan keterampilan dasar untuk hidup.

c. Awal masa kanak - kanak ( > 4 tahun)

Anak belajar mencontoh orang tuanya, pusat perhatian anak berubah dari benda

ke orang.

2. Tugas - tugas perkembangan pada masa sekolah (6 - 12 tahun)

Menurut Robert J. Havighurst (Monks, et al., 1984, syah, 1995; Andrissen, 1974;

Havighurst, 1976) tugas - tugas perkembangan masa ini adalah :

a. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan : bermain sepak bola, loncat tali, berenang.

b. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.

c. Belajar bergaul dengan teman - teman sebaya.

d. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.

e. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung

f. Belajar mengembangkan konsep sehari - hari.

g. Mengembangkan kata hati

h. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi

i. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan lembaga -

j. lembaga.

Menurut Charlotte Buhler (1930) dalam bukunya yang berjudul The first tear of life :

a. Fase ketiga (6 - 8 tahun)

Anak belajar bersosialisasi dengan lingkungannya.

c. Fase keempat (9 - 12 tahun)

Anak belajar mencoba, bereksperimen,bereksplorasi, yang distimulasi oleh

dorongan - dorongan menyelidik dan rasa ingin tahu yang besar.

Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978) dalam bukunya Developmental Psychology :

a. Masa anak (6 - 11 tahun). Anak belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan.

b. Masa praremaja (11 - 12 tahun). Anak belajar memberontak yang ditunjukkan

dengan tingkah laku negatif.

Menurut Erik Erickson (1963) dalam bukunya Chilhood and Society :

a. Awal masa kanak - kanak (6 - 7 tahun)

Anak belajar menyesuaikan diri dengan teman sepermainannya, ia mulai bisa

melakukan hal - hal kecil (berpakaian, makan) secara mandiri.

b. Akhir masa kanak - kanak (8 - 11 tahun)

Anak belajar untuk membuat kelompok dan berorganisasi.

c. Awal masa remaja (12 tahun)

Anak belajar membuang masa kanak - kanaknya dan belajar memusatkan

perhatian pada diri sendiri.

3. Tugas - tugas perkembangan remaja (adolescence) dan dewasa

Menurut William Kay

a. Menerima fisiknya sendiri beriku keragaman kualitasnya.

b. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur - figur yang menjadi

otoritas.

c. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul

dengan teman sebaya atau orang lain baik secara individual maupun kelompok.

d. Menemukan manusia model untuk dijadikan identitasnya.

e. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya

sendiri.

f. f. Memperkuat kemampuan mengendalikan diri atas dasar prinsip atau falsafah

hidup.

g. Mampu meninggalkan masa kanak - kanaknya.

Menurut Robert J. Havighurst (1961)

a. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.

b. Mencapai peranan sosial sebagai pria atau wanita.

c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif.

d. Mencapai kemadirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.

e. Mancapai jaminan kemandirian ekonomi.

f. f. Memilih dan mempersiapkan karir (pekerjaan).

g. Belajar merencanakan hidup berkeluarga.

h. Mengembangkan keterampilan intelektual.

i. Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.

j. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing

dalam bertingkah laku.

k. Mengamalkan nilai - nilai keimanan dan ketakwaan kepada tuhan dalam

kehidupan sehari - hari, baik pribadi maupun sosial.

Menurut Charlotte Buhler (1930)

Belajar melepaskan diri dari persoalan tentang diri sendiri dan lebih mengarahkan

minatnya pada lapangan hidup konkret, yang dahulu dikenalnya secara subjektif

belaka.

Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978)

Belajar menyesuaikan diri terhadap pola - pola hidup baru, belajar untuk memiliki

cita - cita yang tinggi, mencari identitas diri dan pada usia kematangannya mulai

belajar memantapkan identitas diri

Menurut Erik Erikson (1963)

Anak mulai memusatkan perhatian pada diri sendiri, mulai menentukan pemilihan

tujuan hidup, belajar berdikari, belajar bijaksana.

Namun tidak semua manusia mengalami fase dan tugas seperti yang disebutkan di atas. Ada beberapa manusia yang tidak normal yang tidak akan mengalami tugas tugas sebagaimana mestinya.

Menurut Robert J. Havighurst (1961) mengartikan tugas - tugas perkembangan itu merupakan

suatu hal yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu yang apabila

berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan ke tugas perkembangan

selanjutnya tapi jika gagal akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada individu yang

bersangkutan dan kesulitan - kesulitan dalam menuntaskan tugas berikutnya.

Prinsip Perkembangan

Secara spesifik, prinsip perkembangan dapat diartikan sebagai “kaidah atau patokan yang menyatakan kesamaan sifat dan hakikat dalam perkembangan”. Bisa pula dikatakan,prinsip perkembangan adalah “patokan generalisasi mengenai sebab dan akibat terjadinya peristiwa perkembangan dalam diri manusia”.

Secara garis besar, peristiwa perkembangan mempunyai atau mengikuti prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut:

1. perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar,namun mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren, dan berkesinambungan.

2. Perkembangan selalu menuju proses diferensiasi dan integreasi.

3. Perkembangan dimulai dari repon-respon yang sifatnya umum menuju yang khusus.

4. Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan yang berlangsung secara berantai.

5. Setiap anak mempunyai tempo kecepatan perkembangan sendiri-sendiri.

6. Di dalam pekembangan, dikenal dengan adanya irama atau naik turunnya proses perkembangan. Artinya, perkembangan manusia itu tidak tetap, terkadang naik, terkadang turun.

7. Setiap anak, seperti juga organisme lainnya, memiliki dorongan dan hasrat mempertahankan diri dari hal-hal yang negative.

8. Dalam perkembangan terdapat masa peka. Masa peka adalah suatu masa dalam perkembangan anak, saat suatu fungsi jasmani ataupun rohani, dapat berkembang dengan cepat jika mendapat latihan yang baik dan kontinu.

9. Perkembangan tiap-tiap anak pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh factor pembawaansejak lahir,tetapi juga oleh lingkungan.

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan

Setiap anak akan mengalami perkembangan yang berbeda beda, tergantung faktor faktor yang mendukung mereka. Faktor tersebut adalh faktor keturunan dan faktor lingkungan. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa faktor lingkungan itu memiliki peran yang penting.

Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi.

Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari faktor keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan. Temuan ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna rambut.

Para peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini juga memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu mempengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.

Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier.

Kedua faktor tersebut memiliki peranan yang seimbang, karena apabila tidak terpenuhi salah satu faktor tersebut maka anak tidak akan berkembang secara maksimal.

Aliran Psikologi

Aliran Nativisme atau aliran pembawaan

Nativisme (nativism) merupakan sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap pemikiran aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filosof jerman. Aliran filsafat nativisme konon dijuluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan “kacamata hitam”. Mengapa begitu? Karena para ahli penganut aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaannya; sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan , pandangan seperti ini disebut (pesimisme pedagogis”.

Aliran nativisme mengemukakan baha manusia yang baru dilahirkan telah memiliki bakat bawaan, baik karena berasal dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun memang ditakdirkan demikian. Menurut aliran ini, pendidikan tidak dapat diubah dan senantiasa berkembang dengan sendirinya.

Aliran Empirisme atau Aliran Lingkungan

Aliran ini merupakan kebalikan dari aliran nativisme dengan tokoh utama John Locke. Nama asli aliran ini “The Shcool of British Empirism” (aliran empirisme Inggris) Para ahli yang mengutamakan unsur pengalaman atau lingkungan. Pada intinya aliran empirisme menguraikan bahwa perkembangan anak sepenuhnya tergantung pada faktor lingkungan, sedangkan faktor bakat tidak ada pengaruhnya. Dasar pikiran yang digunakan adalah bahwa pada aktu dilahirkan, anak dalam keadaan putih bersih, seperti kertas putih yang belum ditulis, sehingga bisa ditulis menurut kehendak penulisnya.

Aliran Konvergensi atau Aliran Persesuaian

Tokoh aliran ini yaitu Louis William Stern (1871 - 1938). Aliran ini pada intinya merupakan perpaduan antara pandangan nativisme dan empirisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor yang mempengaruhi dalam perkembangan manusia. Dengan pengertian di atas dapat ditemukan hubungan antara faktor lingkungan dan faktor keturunan (konstitusi). Faktor lingkungan dan faktor keturunan menjadi sumber munculnya tingkah laku sehingga kedua faktor ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Behaviorisme

Aliran psikologi ini didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterima dari lingkungan sekitarnya. Aliran ini sangat menekankan pada lingkungan sebagai aspek yang sangat berpengaruh dalam perkembangan manusia.

Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut ; pertama perlakuan terhadap individu didasarkan kepada tugas yang harus dilakukan sesuai dengan tingkat tahapan dan dalam pelaksanaannya harus ada ganjaran dan kedisiplinan. Motivasi belajar berasal dari luar (external) dan harus terus menerus dilakukan agar motivasi tetap terjaga merupakan implikasi yang kedua. Implikasi yang ketiga, metode belajar dijabarkan secara rinci untuk mengembangkan disiplin ilmu tertentu. Implikasi yang keempat, tujuan kurikuler berpusat pada pengetahuan dan keterampilan akademis serta tingkah laku sosial. Pengelolaan kelas berpusat pada guru dengan interaksi sosial sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan merupakan tujuan utama yang hendak dicapai. Implikasi yang ketujuh adalah mengefektifkan belajar, dilakukan dengan cara menyusun program secara rinci dan bertingkat sesuai serta mengutamakan penguasaan bahan atau keterampilan. Yang terakhir kegiatan peserta didik diarahkan pada pemahiran keterampilan melalui pembiasaan setahap demi setahap demi setahap secara rinci.

Kognitif

Pada aliran ini perkembangan kognitif ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif yang anak dengan lingkungan. Implikasinya dalam proses pembelajaran adalah saat guru memperkenalkan informasi yang melibatkan siswa menggunakan konsep-konsep, Memberikan waktu yang cukup untuk menemukan ide-ide menggunakan pola-pola berfikir formal. Untuk mempermudah penerapanya kita dapat menggunakan cara-cara sebagai berikut. Pertama adalah Perlakuan individu didasarkan pada tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Yang kedua tujuan kurikuler difokuskan untuk mengembangkan keseluruhan kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik dengan interaksi sosial berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan kecerdasan. Yang ketiga, bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik dengan guru sebagai fasillitator. Yang terakhir, mengefektifkan mengajar dengan cara mengutamakan program pendidikan yang berupa pengetahuan-pengetahuan terpadu. Tujuan umum dalam pendidikan adalah untuk mengembangkan sisi kognitif secara optimal dan kemampuan menggunakan kecerdasan secara bijaksanan.

Humanisme

Aliran Humanistik memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada. Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut. Pertama, perlakuan terhadap individu didasarkan akan kebutuhan individual dan kepribadian peserta didik. Kedua, motivasi belajar berasal dari dalam diri (intrinsik) karena adanya keinginan untuk mengetahui.Ketiga, metode belajar menggunakan metode pendekatan terpadu dengan menekankan kepada ilmu-ilmu sosial. Keempat, tujuan kurikuler mengutamakan pada perkembangandari segi sosial, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan individu dan orang lain. Kelima, bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik yang mempunyai kebebasan memilih dan guru hanya berperan untuk membantu. Keenam, untuk mengefektifkan mengajar maka pengajaran disusun dalam bentuk topik-topik terpadu berdasarkan pada kebutuhan peserta didik. Yang terakhir, kegiatan belajar peserta didik mengutamakan belajar melalui pemahaman dan pengertian bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan

Gestalt

Aliran ini didirikan oleh Max Wertheimer pada tahun 1912 dan kemudian dikembangakan oleh Kurt Koffka dan Wolgang Kohler ini mengkritik teori-teori psikologi yang berlaku di Jerman sebelumnya, terutama teori srukturalisme dari Wilhem Wundt karena terlalu mengutamakan elemen. Menurut teori ini persepsi manusia terjadi secara menyeluruh, sekaligus dan terorganisasikan, tidak secara parsial atau sepotong-sepotong.

Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut. Pertama, pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. Kedua, pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Ketiga, perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. Keempat, prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. Yang terahir, transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

Kontruvisme

Aliran psikologi ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks. Siswa harus berusaha memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan menggunakan ide-ide.

Implikasinya dalam pembelajaran adalah guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa tetapi juga mendorong siswa agar dapat menerapkan ide-idenya sendiri. Semakin baik cara memotifasi guru terhadap siswanya maka akan semakin bersemangatlah siswa mengembangkan ide-idenya sendiri. Setelah itu diharapkan siswa dapat lebih kreatif dalam mencari informasi yang berguna bagi dirinya sendiri. Dan cara pemecahan masalah akan lebih variatif karena satu siswa dengan siswa lainnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Hati-hati, Cara Mengutip Seperti Ini Pun …

Nararya | | 20 August 2014 | 20:09

Anak Sering Kencing (Bukan Anyang-anyangan) …

Ariyani Na | | 20 August 2014 | 18:03

Obat Benjut Ajaib Bernama Beras Kencur …

Gaganawati | | 20 August 2014 | 14:45

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 9 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 13 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 13 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: