Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aris Rohmadi

Satu-satunya cara untuk menumbuhkan seorang anak yang baik adalah menjadikannya anak yang bahagia.

Pendidikan Anak Usia Dini

OPINI | 16 November 2010 | 02:29 Dibaca: 1756   Komentar: 3   0

Dewasa ini kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan berdirinya lembaga-lembaga PAUD yang marak disekitar kita. Kalau kita lihat berdirinya lembaga PAUD saat ini seperti tumbuhnya jamur di musim hujan.

Namun dengan semakin maraknya pendidikan anak usia dini kita ternyata masih banyak terjadi kesalahpahaman tentang keberadaan PAUD itu sendiri. Masyarakat sering menyebut lembaga pendidikan anak usia dini di luar Taman Kanak-Kanak dengan sebutan PAUD. Mereka sering menyebut kelompok Bermain/Play Group dengan sebutan PAUD. Padahal Taman Kanak-Kanak sendiripun termasuk dalam lembaga PAUD. Bedanya kalau TK berada pada jalur formal, sedangkan KB/Play Group berada dalam jalur nonformal.

Di samping itu berkembang pula asumsi bahwa dengan berdirinya lembaga usia dini seperti Kelompok Bermain/Play Group berdampak terhadap kurangnya masukan siswa TK. Alhasil seringkali terjadi ketegangan antara lembaga TK dengan Play Group. Terutama yang berada pada lokasi yang saling berdekatan.

Hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi seandainya masing-masing pihak mengetahui kapasitas masing-masing. Play Group/Kelompok Bermain diperuntukkan bagi anak usia 2-4 tahun, sedangkan TK memiliki sasaran usia 4-6 tahun. Untuk ruang lingkup bidang pengembangan juga berbeda-beda. Karena tahapan perkembangan usia 3-4 tahun berbeda dengan anak usia 4-6 tahun. Namun yang banyak terjadi, lembaga Kelompok Bermain/Play Group seringkali mengadopsi pembelajaran di Taman Kanak-Kanak. Akibatnya anak menjadi matang sebelum waktunya. Dan begitu anak duduk di lembaga TK anak menjadi bosan karena pembelajaran yang diterima toh sama saja.

Mungkin pada waktu itu belum tersusun kurikulum untuk lembaga KB/PG. Namun sekarang pemerintah sudah mengeluarkan Kurikulum PAUD untuk masing-masing lembaga, sehingga tidak lagi terjadi saling tumpang tindih dalam pelaksanaan pembelajaran. Tinggal sekarang bagaimana pandai-pandainya pendidik mengaplikasikan kurikulum PAUD itu di lembaga masing-masing.

Para Tutor PAUD khususnya di wilayanh Kabupaten Musi Banyuasin Propinsi Sumatera selatan sekarang sudah apat bernafas lega, karena perhatian pemerintah sudah mulai nampak dengan diterbitkannya SK yang ditandatangani oleh kepala Dinas Pendidikan Nasional, disamping itu adanya intensif sebesar Rp 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) setiap bulan. Nilai nominal memang masih jauh dari harapan, namun setidaknya perhatian pemerintah sudah ada. Kepada para Tutor hendaknya mau bersabar diri, sebab dengan adanya SK Kepala Dinas seandainya masih ada pengangkatan CPNS dari jalur honor, SK tersebut dapat dipergunakan. Setahu saya baru saya seorang Tutor yang diangkat sebagai PNS dari jalur honor. Maka saya bagikan pengalam ini untuk teman-teman Tutor yang sempat membaca informasi ini.

Tags: Agama Tasawuf

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 7 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 8 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 12 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 13 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: