Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fitri Ariyanti

usaha pasti ada hasil

Belajar anak usia SD

REP | 19 November 2010 | 08:04 Dibaca: 908   Komentar: 0   0

1. Pengertian dan Prinsip Belajar
Setiap orang pasti mengetahui yang dinamakan belajar karena mereka sering melakukan hal tersebut sepanjang kehidupan. Tidak terkecuali anak usia Sekolah Dasar. Mereka juga mengalami yang dinamakan proses belajar. Hanya saja banyak orang mengartikan bahwa belajar itu sekedar membaca, mendengar, dan menulis pelajaran – pelajaran formal di sekolahan. Bahkan ada yang mengartikan belajar itu menggaris bawahi setiap kata yang sulit dan penting dengan spidol. Sehingga, seolah – olah semua orang beranggapan seperti yang disebutkan tadi. Apakah pemikiran proses belajar itu memang terbatas pada aspek - aspek itu ???
Belajar seperti yang diungkapkan seperti di atas semuanya merupakan pengertian sederhana dari kebanyakan orang. Tetapi para ahli beranggapan bahwa belajar itu…
Menurut Anita E. Woolfolk bahwa belajar terjadi ketika pengalaman menyebabkan suatu perubahan pengetahuan dan perilaku yang relative permanen pada individu. Abin Syamsudin mengartikan bahwa belajar adalah perbuatan yang menghasilkan perubahan perilaku dan pribadi. Santrock and Yusen berarti learning is definded as a relatively permanent change in behavior that accurs though experiences. Menurut Morgan belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Moh. Surya yaitu Proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Dari pendapat - pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perbuatan atau usaha yang akan menghasilkan pengalaman yang dapat berpengaruh pada perubahan bagi kepribadian dan perilaku yang akan bersifat permanen baik yang dapat diamati sebagai interaksi setiap orang dengan lingkungan. Perubahan dalam belajar ada 2 macam yaitu dapat berupa penambahan dan berupa pengurangan pengetahuan dari setiap pribadinya.
Prinsip belajar merupakan pokok pemikiran seseorang tentang proses belajar dari anak sekolah dasar pada umumnya. Karakteristik dari proses belajar yaitu pertama, perubahan yang didasari kesengajaan dan bukan sesuatu yang kebetulan. Kedua, perubahan yang akan menimbulkan sesuatu yang lebih baik sesuai dengan keinginan yang telah disepakaati antara guru dan murid. Ketiga, perubahan disini berasal dari hasil interaksi individu dengan orang lain di lingkungan sekitar sehingga menghasilkan seuatu pengalaman. Tidak dapat dikatakan belajar apabila perubahan tersebut karena proses kematang biologi. Contohnya, seseorang yang bertambah berat karena faktor kematangan fisiknya.
Dari berbagai pendapat juga belajar dapat diindentifikasi dengan ciri – ciri sebagai berikut :
1. Dalam belajar ada perubahan tingkah laku, baik tingkah laku yang dapat diamati maupun tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung
2. Dalam belajar, perubahan tingkah laku meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor dan campuran.
3. Dalam belajar, perubahan tingkah laku menjadi sesuatu yang relatif menetap.
4. Belajar merupakan sesuatu usaha, artinya belajar itu dalam kurun waktu yang lama.
5. Belajar terjadi karena ada interaksi dengan lingkungan.
6. Belajar harus bertujuan dan ada tujuannya yang di terima baik individu maupun masyarakat.
Kemudian ada ahli yang bernama Mahmud mengatakan bahwa belajar mempunyai pengertian yang sangat praktis. Belajar itu menemukan, mengingat, dan menjadi efektif.
Dapat di contokan saat seseorang telah belum bisa menggoreng telur. Dia akan berfikir untuk menemukan cara melakukannya secara sendiri. Setelah melakukan pasti akan mengingat langkah – langkahnya. Yang terakhir dia bisa berorientasi mengembangkan langkah yang dia bisa dan akan berfikir efektif.

2. Belajar sebagai proses yang terpadu
Proses yang terpadu di dalam belajar berarti aspek fisik, moral, emosional, dan intelektual ikut aktif dalam keberlangsungan proses belajar itu sendiri. Sehingga proses belajar itu tidak hanya mempengaruhi satu atau dua aspek tetapi semua aspek. Dengan dipengaruhinya semua aspek dalam belajar akan mudah memberikan sumbangan dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu akan menjadi manusia yang tidak hanya mampu dalam segi ibadah, olahraga, atau keterampilan. Tetapi menjadi seorang yang mengabdikan diri kepada Tuhan YME untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Ada beberapa hal yang harus di perhatikan untuk menjelaskan bahwa belajar adalah proses terpadu. Yang pertama, belajar akan membantu perkembangan dan pertumbuhan manusia secara utuh. Yang kedua, belajar sebagai aktivitas memperoleh pengalaman individu dari lingkungan sebagai pusat segalanya dalam belajar. Yang ketiga, belajar menuntut terhadap terciptanya suatu aktivitas yang melibatkan siswa secara aktif dan intensif. Keempat, belajar menempatkan individu pada posisi yang terhormat dalam suasana kebersamaan di dalam penyelesaian persoalan yang dihadapi. Kelima, belajar sebagai proses terpadu yang mendorong setiap siswa untuk terus menerus belajar. Keenam, belajar sebagai proses terpadu memberikan kemungkinan yang seluas – luasnya kepada siswa untuk memilih tugasnya sendiri, mengembangkan belajar sendiri dan bekerja berdasarkan standar yang ditentukan sendiri. Ketujuh, belajar sebagai proses terpadu dapat berfungsi dan berperan serta efektif bila dapat diciptakan lingkungan belajar secara total yang tidak hanya memberikan dukungan fasilitas terhadap peningkatan pertumbuhan dan pengambangan satu aspek saja tetapi semua aspek. Kedelapan, belajar sebagai proses terpadu memungkinkan pembelajaran bidang studi tidak harus dilakukan secara terpisah melainkan dilaksanakan secara terpadu. Kesembilan, belajar sebagai proses terpadu memungkinkan adanya hubungan antara sekolah dan keluarga.
Jadi, dapat diartikan bahwa proses terpadu itu akan berpengaruh pada semua aspek dari dalam diri anak tidak terkecuali sehingga akan menjadikan anak yang benar – benar berkualitas dalam berbagai aspek kehidupan.
3. Proses psikologi belajar anak
Proses psikologi belajar anak merupakah hal yang sangat tidak dimengerti olah setiap orang. Karena sering di katakana bahwa psikologi belajar itu respon yang terjadi dari setiap orang dengan lingkungan sekitar. Adapun teori yang berkaitan dengan proses psikologi belajar anak, yaitu :
a. Teori behavioral
1. Classical conditioning
Tokoh classical conditioning adalah Ivan Petrovich Pavlov ( 1849 – 1939 ), seorang ahli psikologi Rusia. Dapat disebut Classic karena merupakan penemuan bersejarah dalam bidang psikologi. Dan conditioning sendiri berarti belajar yang memungkinkan organisme memberikan respon terhadap suatu respon yang sebelumnya tidak menimbulkan respon. Sehingga dapat diartikan bahwa classical conditioning adalah kemampuan menghasilkan respon baru karena pengalaman yang berulang – ulang dilakukan. Dalam percobaan seekor anjing dapat mengeluarkan air liurnya jika melihat makanan yang dilakukan oleh Pavlov. Dapat mengartikan bahwa perbuatan maupun respon bisa dipindahkan ke perilaku yang lain, belajar berkaitan dengan penguatan kembali pengulangan dalam belajar, proses belajar terjadi jika ada interaksi dengan lingkungan, dan setiap perangsang Unconditioned Respond dan Conditioned Respon akan menghasilkan aktivitas otak.

2. Operant conditioning
Istilah conditioning dicipkan oleh Skinner. Operan adalah operasi yang pengaruhnya mengakibatkan organisme melakukan suatu perbuatan pada lingkungannya. Operate adalah orang yang bertindak aktif di lingkungan untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga operant conditioning berarti proses belajar yang terlibat di dalam mengubah perilaku operant yang dapat diperkuat dan diperlemah. Dalam teori ini bahwa perilaku seseorang memang dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau rangsangan. Jika ada suatu perilaku baik terwujud dan diberikan suatu ganjaran positif atau hadiah, suatu perilaku baik tersebut akan lebih tumbuh dan berkembang. Sedangkan suatu perilaku yang kurang baik terwujud dan akan diberikan ganjaran negative atau hukuman, suatu perilaku akan terhambat. Contohnya, Wati berhasil mendapat nilai 10 dalam ulangan semester I, sehingga orang tuanya memberikan hadiah berupa boneka kepadanya. Dengan pemberian ini muncul semangat pada Wati agar lebih giat belajar. Dan sebaliknya jika dia mendapat nilai 5, ia akan mendapatkan kemarahan dari orang tuanya. Dengan adanya hal itu, ia merasa dendam dan tidak ada semangat lagi untuk belajar kembali.
3. Pembentukan Kebiasaan ( Habituation )
Pembentuk kebiasaan adalah pembentukan kebiasaan yang baru atau perbaikan kebiasaan yang telah ada. Santrock and Yussen menegaskan bahwa pembentukan kebiasaan adalah presentasi suatu stimulus yang terjadi berulang – ulang yang dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap stimulus. Tujuannya agar anak mendapatkan kebiasaan baru yang lebih positif. Sehingga dalam kenyataannya orang tua yang bijak akan sering mengulangi suatu stimulus sampai bayi merespon dan menyadari bahwa pengulangan stimulus itu perlu baginya untuk merespon informasi. Orang tua akan berhenti atau mengubah perilaku ketika bayi sudah mengarahkan perhatiannya.
4. Peniruan ( Imitation )
Dalam peniruaan seorang anak akan mengikuti semua tindakan ataupun perilaku suatu model yang mereka liat. Kemampuan belajar pola – pola perilaku dengan mengobservasi dapat menghilangkan perilaku belajar yang trial error. Ada beberapa proses spesifikasi yang mempengaruhi perilaku pengamat yang mengikuti model, yaitu perhatian (lebih menarik, hangat, kuat, dan unik ), ingatan ( menangkap dan menyimpan informasi baik – baik dalam ingatan), reproduksi motorik dan kondisi pengukuhan atau hadiah.
b. Teori kognitif
Teori yang telah mengalahkan teori behavior. Karena banyak penemuan bahwa orang itu bertindak lebih dari sekedar merespon pengukuhan.
1. Perbedaan pandangan dengan behavior yaitu pendangan kognitif berarti pengetahuan itu dipelajari dan perubahan dalam pengetahuan menyebabkan perubahan, serta pengukuhan sebagai sumber umpan balik. Sedangkan behavior bahwa perilaku baru itu sendiri yang dipelajari, dan pengukuhan memperkuat respon.
2. Pengetahuan dan pandangan kognitif
Pengetahuan pada dasarnya lebih banyak dari apa yang diperoleh dari belajar yang baru berlangsung, pengetahuan juga membimbing belajar yang baru. Sebenarnya pengetahuan merupakan hal yang sangat penting untuk memahami dan mengingat informasi baru.
c. Teori perkembangan kognitif
Proses kognitif dipandang sebagai mediator penting dalam kaitannya perilaku anak dengan lingkungan. Sehingga diartikan bahwa pikiran merupakan focus sentral perkembangan lebih dari penentu utama perilaku seorang anak. Dalam perkembangan ini ada beberapa konsep penting yang harus dipahami, yaitu adaptasi (asimilasi dan akomodasi), organisasi, dan keseimbangan yang terdiri dari tahapan perkembangan pikiran Piaged meliputi tahap sensomotorik ( 0 -2 thun), tahap preoperational ( 2,1 – 7), tahap operational kongrit ( 7,1 – 11 ) dan operational formal ( 11,1 – 15 ) dan teori perkembangan kognitif Vygotsky bahwa perkembangan anak tidak terjadi pada tempat yang bebas dari kehidupan sosial.
d. Pemrosesan Informasi
Proses merupakan suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku dan kejiwaan. Pemrosesan informasi itu berkaitan dengan hakekat pemrosesan informasi ( cara untuk memahami cara dan berfikir anak dalam belajar ), proses informasi ( pemusatan kegiatan mental dan ingatan ), proses pemecahan tingkat tinggi ( proses pemecahan masalah yang dihadapi, proses pengambilan bahan untuk kegiatan yang dilakukan berikutnya, dan mencari makna yang lebih mendalam tentang persoalan ), dan peranan pengetahuan (pengetahuan sangat berguna untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi )
4. Implikasi proses belajar anak terhadap pengembangan KBM
Dalam proses belajar itu akan berpengaruh pada semua aspek yang ada pada diri individu. Tidak hanya satu aspek tetapi pada semua aspek fisik, emosi, sosial, dan kognitif juga berpengaruh. Dan dalam implementasikan proses belajar harus sesuai dengan hasil observasi dan pengamatan karena dalam kenyataannya terdapat keanekaragaman latar belakang dan tingkat ekonomi siswa. Sehingga anak menjadi nyaman dan proses belajar akan berlangsung secara efektif. Namun dalam proses belajar seorang guru harus berusaha juga membantu anak belajar berinteraksi dengan lingkungan sosial secara luas.
Program yang dikembangkan harus sesuai dengan minat dan usia setiap anak. Setiap guru perlu mengadakan pemantauan tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar kelas yang berguna untuk mengembangkan program pembelajaran. Seorang guru juga diharapkan tidak hanya seorang yang selalu memberi tugas dan memarahi anak tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator anak dalam proses belajar. Model pembelajaran yang baik digunakan dalam proses belajar adalah model yang benar – benar dapat membuat seorang manusia yang utuh. Dan setiap aktivitas pembelajaran diharapkan menggunakan aktivitas yang menantang untuk membantu anak lebih bersemangat dalam belajar. Yang paling penting adalah memberi kesempatan bagi anak untuk memilih kegiatan dan materi serta fasilitas yang tersedia agar proses belajar menjadi efektif.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 13 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: