Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Kecerdasan dan Kreativitas

OPINI | 19 November 2010 | 09:24 Dibaca: 124   Komentar: 0   1

Pinter, pandai, cerdas ??? siapan sih yang gag mau ???

Kecerdasan sering disebut juga sebagai intelegensi, walaupun kelihatanya jelas, namun tidak mudah dirumuskan, karena banyaknya perbedaan pendapat dari para ahli. Dari sinilah mulai muncul berbagai permasalahan terkait dengan pengertian istilah intelegensi atau kecerdasan.

Apabila kita telusuri asal-usulnya ”kata intelegensi” erat sekali dengan kata ”intelek”. Keduanya berasal dari kata Latin yang sama, yaitu intellegere, yang berarti memahami. Sehubungan dengan pengertian intelegensi, S.C Utami Munandar merumuskan intelegensi sebagai :

a. Kemampuan untuk berpikir abstrak;

b. Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar;

c. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.

Sedangkan, Alfred Binet mengemukakan pendapatnya mengenai intelegensi sebagai berikut. Intelegensi mempunyai tiga aspek kemampuan, yaitu :

a. Direction, kemampuan untuk memusatkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan.

b. Adaptation, kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya atau fleksibel dalam menghadapi masalah.

c. Critism, kemampuan untuk mangadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi maupun terhadap dirinya sendiri.

Ngalim Purwanto, mengatakan bahwa suatu perbuatan dapat dianggap intelegens, bila memenuhi syarat antara lain :

a. Masalah yang dihadapi, sedikit banyak merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan.

b. Perbuatan intelegen, sifatnya serasi tujuan dan ekonomis.

c. Masalah yang dihadapi, harus mengandung tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.

d. Keterangan pemecahanya harus dapat diterima oleh masyrakat.

e. Perbuatan intelegensi seringkali menggunakan daya mengabsraksi.

f. Perbuatan intelegensi bercirikan kecepatan.

g. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalanya pemecahan masalah yang dihadapi.

Sering timbul pertanyaan mengenai intelegensi. Apakah IQ bisa berubah ???

Robert S. Woorworth, berpendapat ” anak pandai, dewasa pandai: anak bodoh dewasapun bodoh. Namun menurut berbagai studi, lingkungan yang menguntungkan ( favourable ) dan tidak menguntungkan ( unfavourable ) dapat menyebabkan naik turunya IQ dalam rentangan tertentu. Yang dimaksud dengan lingkungan yang menguntungkan ialah rumah tangga yang memiliki cinta kasih dan kebudayaanya, sebaliknya yang tidak menguntungkan ialah rumah tangga yang tidak ada cinta kasih dan kebudayaanya.

Mengapa IQ bisa mengalami perubahan ? dan mengapa kadang-kadang IQ berubah demikian besar ??? Para peneliti mengatakan bahwa tes IQ untuk bayi dan anak kecil, terutama hanya mengukur ketrampilan motorik dan ketrampilan ini belum tentu berhubungan langsung dengan kecerdasan pada masa-masa berikutnya.

Berbagai faktor emosional juga dianggap bisa menyebabkan naik turunya angka IQ. Namun para peneliti berpendapat bahwa perubahan IQ, mungkin disebabkan taraf kecerdasan yang sebenarnya memang sudah berubah. Dan, menurut mereka peningkatan atau penurunan ini disebabkan banyak atau kurangnya rangsangan dari lingkungan.

Terkait dengan kreativitas, kecerdasan juga mempunyai hubungan dengan kreativitas.

Menurut Dedi Supriadi, kreativitas dan intelegensi mempunyai perbedaan. Menurut Supriadi lebih menyangkut pada cara berpikir konvergen ( memusat ), sedangkan kreativitas berkenaan dengan cara berpikir konvergen ( memusat ).

Berbagai studi lain melaporkan hasil yang berbeda-beda mengenai hubungan antara kreativitas dan intelegensi. Pada intinya, penelitian itu membuktikan bahwa sampai tingkat tertentu terdapat hubungan antara intelegensi dan kreativitas. Namun menurut Getzels & Jackson, pada tingkat intelegensi di atas 120, hampir tidak ada hubungan antara keduanya. Artinya orang yang IQ-nya tinggi, mugkin kreativitasnya rendah, atau sebaliknya.

Selanjutnya, kedua peneliti itu membuat empat kelompok orang, yaitu :

1. Kreativitas rendah, intelegensi rendah;

2. Kreativitas tinggi, intelegensi tinggi;

3. Kreativitas rendah, intelegensi tinggi;

4. Kreativitas tinggi, intelegensi rendah.

Apa itu kreativitas ???

Sebenarnya tidak ada pengertian yang pasti mengenai kreativitas. Biasanya timbul berbagai perbedaan mengenai definisi kreativitas, kriteria perilaku kreatif, proses kreatif, hubungan kreativitas dan intelegensi, karakteristik orang kreatif, dan upaya mengembangkan kreativitas.

Ada beberapa makna popular kreativita, diantaranya : pertama, kreativitas menekankan pada upaya membuat sesuatu yang baru dan berbeda. Kedua, kreativitas menganggap bahwa sesuatu yang baru asli itu terjadi karena kebetulan. Ketiga, kreativitas dapat dipahami sebagai apa saja yang telah tercipta sebagai sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang telah ada sebelumnya. Keempat, kreativitas itu merupakan suatu proses yang unik-suatu proses yang diperlukan tidak untuk tujuan yang lain, kecuali untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda dan asli. Kelima, kreativitas sering dianggap sama dengan intelegensi atau kecerdasan yang tinggi. Keenam, kreativitas itu merupakan kemampuan bawaan yang tidak ada hubunganya dengan belajar atau pengaruh lingkungan.

Ketujuh, kreativitas dianggap sebagai sinonim dengan imajinasi dan fantasi seperti suatu bentuk permainan mental. Kedelapan, konsep kreativitas yang populer lainya menunjukan bahwa semua orang dapat dikelompokan secara garis besar menjadi dua kelompok, yaitu conformer dan creator. Conformer diharapkan kedatanganya di tengah-tengah orang lain tidak akan megganggunya atau menyebabkan masalah, namun Creator diharapkan dapat memberikan kintribusi berupa ide-ide yang original, pendapat yang berbeda, atau cara-cara baru dalam menghadapi dan memecahkan masalah.

Mengenai perkembangan kreativitas anak, Hurlock ( 1978 ) menegaskan bahwa hasil sejumlah studi kreativitas menunjukan bahwa perkembangan kreativitas mengikuti suatu pola yang dapat diramalakan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi variasi perkembangan anak, diantaranya : jenis kelamin, status sosio-ekonomik, posisi urutan kelahiran, ukuran besar anggota keluarga, lingkungan kota versus desa, dan intelegensi.

a. Anak-anak lelaki menunjukan kreativitas yang lebih tinggi daripada anak perempuan, terutama di masa-masa perkembangan.

b. Anak-anak yang berlatar belakang sosio-ekonomis lebih tinggi cenderung lebih kreativ daripada anak-anak yang berlatar belakang rendah.

c. Bahwa anak posisi kelahiran berbeda menunjukan tingkat kreativitas yang berbeda.

d. Anak-anak dari keluarga kecil lebih kreatif daripada anak-anak dari keluarga besar.

e. Anak-anak dari lingkungan kota cenderung lebih kreatif daripada dari lingkungan desa karena yang pertama lebih banyak mendapatkan lingkungan yang lebih memberikan stimulasi dalam pengembangan kreativitas.

f. Untuk anak yang seusia, anak-anak yang cerdas menunjukan kemampuan kreatif yang lebih daripada anak-anak yang kurang cerdas.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 8 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 10 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 12 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: