Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Julianco Hasibuan

Saya adalah saya..seseorang yg di KTP nya tertulis sebagai Mahasiswa. Anak seorang PNS yg suka selengkapnya

Berkarya

OPINI | 20 November 2010 | 09:45 Dibaca: 505   Komentar: 1   0

12902409311252386157Beberapa hari kebelakang banyak melihat iklan Sekolah Tinggi yang ada dijalanan. Dari banyak reklame-reklame itu sebenarnya tidak ada satupun yang menarik perhatian saya, sampai saya temukan komentar seorang kawan dalam statusnya : “HARUSNYA SEKOLAH/ KAMPUS2 TIDAK MENJANJIKAN LULUSANNYA MUDAH BEKERJA, TAPI MUDAH BERKARYA”.

Ini mungkin sindiran bagi kita yang lama terpenjara dalam persepsi umum. Maaf…bukan berarti banyak orang salah dengan ‘persepsi umum’ itu tapi karena memang banyak persepsi diantara kita. Seperti saat Ki Hajar Dewantara menemukan pendidikan, Ia menemukan sebagai sesuatu yang lebih mendalam, bukan sekolah tapi “Taman Siswa”. Tapi apapun itu semoga saat ini kita tidak sedang terjebak dalam dimensi ruang dan sekat dinding kelas saja. Karena saat sekolah, banyak hal filosofis dan karya-karya hebat justru tidak ditemukan di papan tulis berkapur itu. Tapi justru pada gambar guru di halaman belakang buku tulis atau meja dengan gambar-gambar fignet, juga tulisan band tenar, gambar tengkorak di tas export, atau coretan pilox pada converse lusuhmu.

Lalu apakah berkarya itu? sayapun bingung kalau dipaksa mencari definisi yang relevan tentang itu, tapi mungkin begini ya, kita hanya cukup memahami apa itu BERKARYA, jangan sampai tertukar dengan definisi BERKAYA. Mungkin ini sedikit kacau, meski memang kenyataanya begitu. Tapi bukankah kita lihat orang banyak yang membuat karya karena kebutuhan spiritual diri, karena hanya UANG atau penggabungan keduanya.

Mengutip kata-kata Karl Marx :”Jangan berkarya karena hanya ingin mengejar materi atau rating semata. Karena jika hanya itu, apa bedanya kau dengan robot dalam mekanisme pasar…kau bukan lagi artis/seniman, kau akan menjelma menjadi buruh seni…dan bersiap diatur oleh yang ada diluar dirimu”.

Maka saat suatu karya diukur dari banyaknya rating atau tidak, sejak itu kita telah menjadi objek, tidak bedanya dengan robot dalam suatu mekanisme pasar, kita sama sekali bukan artis melainkan buruh. Kita tidak hanya akan malu dan sedih tetapi juga mengabaikan bagian yang harusnya dapat kau lakukan dangan sukses, jangan mencoba memainkan peran di luar dirimu. Lihatlah Newton, Da Vinci atau siapapun itu, hanya dengan tetap berkaryalah mereka menghapuskan hinaan, prasangkaan dan perilaku-perilaku merendahkan atas diri mereka menjadi segala pujaan dan inspirasi. Biar lawanmu seluruh dunia, marilah terus berkarya.

gambar : disini

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 4 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: