
Dibaca: 62
Komentar: 3
1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual
Dalam sebuah obrolan dengan seorang anak kelas 1 dari sebuah SMK Negeri di Tanjung Pinang yang mencari guru untuk pelajaran akuntansi.

Aku: “Kenapa mau kursus Akuntansi lagi, kan sekolahnya sudah jurusan Akuntansi?”
Siswa: “Iya kak, karena guru kami kalau menjelaskan kurang kami mengerti. Dan lagi kalau ulangan, soalnya berbeda dengan apa yang sudah dijelaskan.”
Aku: “Loh.. kok gitu. Memangnya gak dikasih tau Standar Kompetensi atau Kompetensi Dasarnya?”
Siswa: “Kalau waktu SMP kami dikasih tau. Tapi SMK sekarang, ada guru yang kasih tau ada yang tidak. Jadi kami kalau ulangan harian, paling hanya 1 atau 2 orang yang bisa. Malah remid sekelas, sudah biasa.”
Aku: “Memangnya kalian gak protes?”
Siswa: “Gak bisa kak, kalau protes, nilai kami pasti hancur dan pasti dicuekin terus sama guru tersebut.”
Aku: “Loh … kok gitu?! …”
Siswa: “Ya, begitulah kak, rata-rata di Pinang ini begitu keadaannya.”
Kemarin aku membantu temanku ngajar menggantikan pengajar yang sakit di sebuah Bimbel di Tanjung Pinang, untuk anak-anak TK dan SD. Bimbel ini, mengajarkan cara berhitung cepat, jarimatika, dan semua pelajaran TK dan SD. Aku belum kenal dengan cara berhitung jarimatika “pede” saja membantu temanku tadi. Ada yang bertanya PR-nya, bahasa Inggris, dan lain-lain.
Siswa: “Bu, ini PR saya, sudah selesai.” Beberapa siswa berkata dan menyodorkan PR-nya.
Aku: “Ya, sini.”
Sambil aku ambil dan periksa satu persatu. Aku lihat beberapa anak ada yang bingung. Aku dekati dan bertanya.
Aku: “Kenapa nak? Bisa ngerjakannya?”
Siswa: “Bu, saya bisa hitungan ini, tapi pakai cara biasa. Gimana cara cepatnya?”
Dalam hati aku kaget juga, pas lihat soalnya. Karena kenal saja baru, gimana bisa. Jadi aku bilang, “sebentar ya!…” Aku mendekati temanku dan Tanya bagaimana caranya. Jurus kilat itupun cukup berhasil. Dan langsung aku jelaskan ke anak-anak tersebut. Berhubung latihan dan PR mereka sudah menumpuk, jadi kebetulan juga aku yang koreksi saja. Dan temanku yang menghadapi anak-anak tersebut. Karena Cuma koreksi aku pakai jurus kilat nan sakti, kalkulator. Dalam hati, aku malu juga lihat anak-anak SD bisa hitung cepat, jarimatika. Sempat aku tanya, pelajaran berhitung di sekolahnya. Ternyata tidak menggunakan cara itu.
Dari dua pengalaman diatas, aku sempat mempertanyakan peran guru. “Masihkah jadi tulang punggung pendidikan?” Mungkin pertanyaan itu terlalu jauh bila mengingat kondisi dan persoalan yang ada dalam dunia pendidikan kita saat ini. Profesionalisme guru sebagai konsekuensi logis sebuah profesi akan indah terasa jika kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran secara efektif, bermakna dan menyenangkan bisa terpenuhi. Dan tentunya sebagai manusia biasa, pekerjaan berat sebagai guru akan semakin berat ketika amanat sebagai guru bersinggungan dengan sisi sebagai manusia guru.
Selalu ada seremonial untuk suatu perayaan. Dan semoga perayaan hari guru setiap tahun tidak sekedar seremonial belaka.
Selamat Hari Guru, Pejuang Tanpa Tanda Jasa.
~_#