Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Iswanti

Seorang teman yang masih muda dan senang olahraga meninggal dalam sebuah perjalanan, bukan karena kecelakaan, selengkapnya

Sekolah dan Kedisiplinan Membuang Sampah

OPINI | 03 December 2010 | 15:33 Dibaca: 1158   Komentar: 22   0

Suatu siang di dalam mobil angkutan kota (angkot) yang padat penumpang, saya terusik melihat dua orang anak laki-laki yang membuang sampah kulit buah sembarangan ke jalan. Pekerjaan itu mereka lakukan berulang kali hingga akhirnya saya memberanikan diri menegur mereka untuk tidak membuang sampah di jalan dan meminta mereka untuk menyimpan sampah mereka di bawah jok mobil. Alhamdulillah mereka mendengar teguran saya, bahkan mereka kelihatannya tidak berminat lagi menghabiskan makanan mereka setelah itu.

Bila dilihat dari penampilan mereka, sepertinya mereka dari kalangan menengah ke atas. Saya perkirakan mereka adalah murid sekolah dasar kelas enam.

Yang saya pikirkan saat itu, murid sekolah dasar dari kalangan menengah ke atas saja tidak mempunyai disiplin dan rasa tanggung jawab menjaga lingkungan, apalagi anak-anak dari lingkungan yang tidak terpelajar atau anak-anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan di sekolah, bisa jadi mereka akan lebih tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Apakah ini suatu tuduhan? Tentu saja saya tidak bermaksud menuduh, karena sebagai pengguna sarana angkutan umum yang setia, baik angkutan massal maupun angkutan kecil seperti halnya angkot, saya sering menemukan pemandangan yang tidak indah di dalamnya, seperti (maaf) banyaknya ludah. Beberapa kali saya melihat beberapa orang dengan seenaknya membuang ludah di dalam kendaraan. Yang lebih mengenaskan, di trotoar samping jalan sering kali tercium bau amonia air seni (bau pesing).

Banyak sekali masalah lingkungan kita terjadi karena banyaknya sampah bertaburan di sekitar kita, seperti masalah banjir yang sudah menjadi langganan masyarakat Jakarta, terutama di sekitar bantaran kali Ciliwung. Masalah lingkungan lain adalah terjadinya polusi air dan udara karena limbah atau sampah industri, mewabahnya penyakit berbahaya seperti penyakit demam berdarah, dan sebagainya. Itu semua terjadi karena lingkungan kita tidak pernah bersih dari sampah.

Kita semua sepakat ketidakdisiplinan adalah masalah yang sudah melekat menjadi budaya kita. Itulah masalah yang harus kita pecahkan. Karena bila tidak rasanya sulit sekali kita berbenah untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di masa datang.

Dalam menjaga kebersihan, ternyata negara maju menerapkan kedisiplinan kepada warga negaranya, baik secara halus maupun tegas. Seperti Korea Selatan yang menempatkan dua tempat sampah: organik dan non-organik di mana-mana. Singapura menerapkan denda sebesar 5000 dolar Singapura bagi warga yang membuang sampah sembarangan. Bahkan untuk memutus mata rantai perkembangan nyamuk, pemerintah Singapura memberi sangsi tegas bila menemukan rumah yang berjentik nyamuk. Jepang setali tiga uang dengan negara-negara di atas. Bahkan para perokok di sana pun selalu membawa asbak tertutup kemana pun mereka pergi untuk membuang abu dan puntung rokok mereka.

Di Indonesia ketidakdisiplinan dan ketidakpedulian menjaga lingkungan tidak hanya menghinggapi masyarakat umum tapi juga para petugas pengolah sampahnya sendiri.

Berbagai macam teknologi seperti teknologi Insinerator (pembakaran sampah) hingga sistem Sanitary Landfill (penimbunan) telah dicoba tapi selalu tidak membuahkan hasil, malah menimbulkan masalah lingkungan yang lain seperti polusi udara dan air. Inilah yang dikeluhkan masyarakat sekitar tempat pembuangan akhir Bantar Gebang dan Bojong. Pencemaran itu terjadi karena teknologi dan sistem di atas tidak pernah diterapkan sesuai dengan spesifikasi dan persyaratannya.

Kembali kepada yang saya pikirkan mengenai masalah kedisiplinan anak sekolah dan non-sekolah di atas. Adakah korelasi antara sekolah dan masalah kedisiplinan membuang sampah? Tentu saja ada. Karena sekolah adalah tempat dilatihnya values (nilai-nilai), seperti kedisiplinan, kejujuran, ketekunan, etika dan sebagainya. Mengingat tidak semua orang tua mampu menanamkan sikap disiplin kepada anak-anaknya, banyak orang tua mengeluh anak-anaknya tidak patuh kepada nasehat mereka, mereka lebih mendengar nasehat dari guru mereka, maka sekolahlah tempat yang efektif untuk menjalankan fungsi penanaman nilai.


Sudah saatnya sekolah, terutama dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, menjadi tempat pelatihan rasa disiplin dan tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan, misalnya dengan menempatkan banyak tempat sampah di setiap tempat dengan menyertakan peringatan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan aturan denda jika terjadi pelanggaran dan yang lebih penting lagi bimbingan dan contoh setiap guru kepada murid-muridnya mengenai pentingnya hidup bersih dan dampak kotornya lingkungan, dan juga terus memotivasi mereka untuk berperilaku disiplin hingga akhirnya diharapkan para murid terbiasa untuk selalu hidup bersih di luar lingkungan sekolah mereka. Diharapkan nilai disiplin yang ditanam di sekolah ini akan membekas dalam hidup mereka, dan bisa menularkannya kepada keluarga atau bahkan kepada lingkungan mereka tinggal.

Alangkah indahnya bila sekolah-sekolah di Indonesia tidak hanya berhasil meluluskan lulusan dengan nilai akademik yang gemilang, tapi juga lulusan yang berdisiplin dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungannya.

Semoga hal yang terlihat sepele ini bisa direnungkan dan menjadi bagian dari kehidupan murid sekolah, mengingat pentingnya masalah menjaga kebersihan lingkungan, sehingga perkataan “Kebersihan sebagian dari iman” bisa diterapkan dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Gonzales, ‘Kartu Truf’ Timnas …

Achmad Suwefi | | 24 November 2014 | 09:32

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | | 24 November 2014 | 05:47

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 4 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 8 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 10 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Catatan Kompasianival: Lebih dari Sekadar …

Ratih Purnamasari | 7 jam lalu

Komitmen Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca …

Ervina Dwi Indrawat... | 8 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Di Papua 1 Desember Akan Diperingati Hari …

Albert Giay | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa: Jangan Ada Lagi Tikus …

Wicahyanti Pratiti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: