Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Princess E Diary

~ A Dreamer Princess that love writing in her Diary ~ www.princessediary.com

Menggambar Pemandangan

FIKSI | 06 December 2010 | 17:30 Dibaca: 4084   Komentar: 73   2

“Selamat pagi bu guru putri!”, serempak anak satu kelas mengucapkan salam di pagi ini.

Aku membalasnya dengan anggukan kecil sambil tersenyum.

“Baiklah anak-anak, siapkan buku gambar kalian beserta dengan pensilnya, ibu ingin melihat kalian menggambar pemandangan.”

“Waduh bu guru, ini kan bukan pelajaran seni rupa, kenapa kita disuruh menggambar? Menggambar pemandangan lagi, kayak anak kecil bu.”, protes si Herry anak paling badung di kelas.

“Bu guru, jangan dengarkan Herry, kita suka kok disuruh menggambar. Herry diam dong.”, kata Kidung sambil menaruh telunjuk di depan mulutnya.

“Herry, pelajaran budi pekerti adalah pelajaran yang bisa dimasukkan ke semua bidang ilmu. Sambil belajar matematika pun bisa sekaligus belajar budi pekerti kok, kapan-kapan ibu mengajar matematika ya? Ibu paling nggak bisa kalau mengajar berdasarkan LKS, terus terang ibu bosan, apa kalian tidak?”

“Iya bu, kalau hanya dari LKS saja kami bisa baca sendiri di rumah. Jangan ikutan guru-guru yang lain ya bu.”

“Baguslah kalau begitu. Ayo semuanya mulai menggambar pemandangan, oh ya jangan curi-curi lihat punya teman di sebelahnya lho. Gunakan imajinasi kalian untuk menggambar pemandangan. Selamat menggambar.”

Suasana kelas mulai agak riuh, anak-anak meski dilarang untuk melirik pekerjaan temannya tapi mereka tetap melakukannya sambil senyum-senyum saling mengomentari gambar temannya.

“Waktunya sudah habis, letakkan semua pensil. Ibu mau lihat gambar kalian dari sini. Angkat gambar kalian diatas kepala ya.”

Raut muka penuh kebanggaan terpancar rata-rata dari semua anak memamerkan gambar pemandangan mereka.

1291655962635509945

gambar ilustrasi diambil dari google

Aku tersenyum simpul mengamati semua hasil gambar, persis seperti dugaanku sebelumnya hasil gambar mereka.

“Baiklah sekarang bandingkan gambar kalian dengan gambar teman-teman.”

Semua anak sekarang saling mengamati gambar temannya. Raut wajah terkejut mulai tampak di wajah anak-anak.

“Apa yang kalian ketemukan anak-anak setelah mengamati gambar teman?”

“Kok gambarnya bisa sama ya bu guru? Rata-rata teman menggambar dua gunung di tengah gunung tersebut ada matahari. Di bagian bawah dari gunung adalah sawah dan ada jalan di tengahnya, di sisi kanan ada rumah kecil.”, Alfian yang terkenal teliti dalam mengamati detail menanyakan keheranannya tentang hasil gambar kepada bu guru.

12916560181775752463

gambar ilustrasi diambil dari google

“Nah itulah yang ibu herankan, ibu tadi kan hanya menyuruh kalian menggambar pemandangan, mengapa yang keluar bisa sama semua seperti ini gambarnya? Apakah pemandangan itu hanya berupa dua buah gunung dengan sawah dan rumah dan jalan? Tentu tidak bukan?”

Aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasku untuk kuperlihatkan ke anak-anak.

“Lihatlah anak-anak, ini ibu ambil gambar dari salah seorang anak teman ibu, namanya Agustinus. Inilah pemandangan menurut dia.”

“Nah, pemandangan menurut Agustinus adalah gambar yang seperti ini, ada kapal, ada binatang laut, burung dan lain sebagainya.”

12916562121936002382

gambar ilustrasi diambil dari google

“Melalui pelajaran menggambar hari ini, ibu sebenarnya ingin menunjukkan kepada kalian jangan mau sama dengan yang lain, jadilah seseorang yang unik. Kalau semua orang sama betapa membosankannya dunia ini bukan? Mulailah melihat pemandangan yang lain, lihat dari sudut pandang berbeda, rasakan betapa banyak warna dalam dunia. Belajarlah untuk lepas bebas menuangkan imajinasimu.”

“Ibu yakin kalian pasti bisa, nah untuk PR kalian di rumah gambar ulang pemandangan menurut kalian ya.”

“Selamat menemukan pemandangan baru anak-anak!”


Bila ingin mengikuti perjalanan Bu Guru Putri dari awal di desa Rangkat bisa dibaca disiniā€¦.

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/10/27/sepucuk-surat-menghantarku-kembali-ke-desa-rangkat/

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/11/08/kisah-putri-di-desa-rangkat/

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/11/12/panggil-aku-bu-guru-putri/

http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/14/pelajaran-pertama-di-kelas-putri/

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan di Bandara Sydney Ekstra Ketat …

Tjiptadinata Effend... | | 20 November 2014 | 18:49

Ayo! Berswasembada Pangan Mandiri dari …

Luce Rahma | | 20 November 2014 | 20:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Monas Kurang Diminati Turis Asing, Kenapa? …

Seneng Utami | | 20 November 2014 | 18:55

Belum Dapat Konfirmasi e-Ticket …

Kompasiana | | 16 November 2014 | 00:48


TRENDING ARTICLES

Islah DPR, Pramono Anung, Ahok, Adian …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Putra Kandias, Kini Ramai Dibully Karena …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ahok, Gubernur Istimewa Jakarta …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Keberanian Seseorang Bernama Jokowi …

Y Banu | 7 jam lalu

Kesalahan Jokowi Menaikan BBM …

Gunawan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Timnas Selalu Kalah? (Part 2) …

Bayu Teguh | 7 jam lalu

Guru Hebat Pasti Bisa Menulis …

Muthiah Alhasany | 7 jam lalu

Manfaat Tersembunyi Dari Menulis yang Jarang …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Kepak Sayap Guru Berkendara Aksara …

Ang Tek Khun | 8 jam lalu

Pintu Hatiku Telah Terkunci …

Doni Bastian | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: