Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Endro Prasetiyo

belajarlah untuk menulis

Gejala Campuran (Perhatian, Kelelahan, Sugesti)

OPINI | 07 December 2010 | 14:47 Dibaca: 2710   Komentar: 0   0

A. PERHATIAN

1. Perhatian dan Kesadaran

Perhatian adalah reaksi umum yang menyebabkan bertambahnya aktifitas daya konsentrasi dan fokus terhadap satu objek, baik didalam maupun di luar dirinya.

Perhatian adalah konsentrasi atau aktifitas jiwa kita, terhadap pengamatan, pengertiaan, dan sebagainya dengan mengenyampingkan yang lain dari pada itu.

Perhatian Berhubungan erat dengan kesadaran jiwa terhadap sesuatu objek yang direaksi suatu waktu. Terang tidaknya kesadaran kita terhadap sesuatu objek tertentu tidak tetap, ada kalanya kesadaran kita meningkat ( menjadi terang), ada kalanya menurun ( menjadi samar- samar ).

Taraf kesadaran kita meningkat kalau jiwa kita dalam mereaksi sesuatu meningkat. Apabila taraf kekuatan kesadaran kita naik atau menjadi giat karena suatu sebab, maka kita berada pada permulaan perhatiaan. Perhatian timbul dengan adanya pemusatan kesadaran kita terhadap sesuatu.

Objek yang menjadi sasaran mungkin hal- hal yang ada dalam dirinya sendiri, misalnya : tanggapan, pengertian, perasaan. Dan hal –hal yang berada diluar dirinya, misalnya: keadaan alam, keadaan masyarakat, sosial ekonomi dan sebagainya.

2. Syarat- Syarat Agar Perhatian Mendapat Manfaat Sebanyak- Banyaknya.

1) Inhibisi ( Pembatasan Lapangan Kesadaran )

Yaitu pelarangan atau penyingkiran isi kesadaran yang tidak diperlukan, atau menghalang- halangi masuk ke dalam lingkungan kesadaran. Misalnya: kita sedang bergiat bersiap diri untuk menempuh ujian. Supaya perhatian kita tetap terarah pada tugas ujian, maka hendaknnya ada inhibisi, artinya segala apa yang mungkin mengganggu harus dicegah jangan sampai masuk kedalam pikiran kita. Ajakan yang tidak berguna perlu dikesampingkan.

2) Apersepsi

Yaitu pengerahan dengan sengaja semua isi kesadaran, termasuk tanggapan, pengertian dan yang telah dimiliki dan bersesuaian/ berhubungan objek pengertian. Tujuaanya supaya jiwa kita lebih memahami objek yang menjadi sasaran. Misalnya: kita mempelajari sejarah perkembangan Agama Hindu di Indonesia. Maka kita perlu appersepsi, misalnya pengertian tentang barang peninggalan ( candi- candi, arca-arca, ).

3) Adaptasi ( Penyusaian diri )

Peristiwa penyesuaian diri desebut adaptasi. Misalnya: dalam gejala perhatiaan, organ-organ kita baik jasmani maupun rohani yang diperlukan untuk menerima objek harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Dalam memperhatikan sesuatu, organ-organ kita menjadi giat menyesuaikan diri antara subjek dan objek.

Kalau ketiga syarat tersebut ( inhibisi, appersepsi, dan adaptasi ) dapat dipenuhi, maka cukuplah perhatian seseorang terhadap sesuatu, akibatnya pekerjaan yang dilakukan dapat berjalan tanpa gangguaan.

3. Macam -Macam Perhatian :

1) Perhatian spontan dan disengaja

Perhatian spontan, disebut juga pula perhatian asli atau perhatian langsung, ialah perhatian yang timbul dengan sendirinya oleh karena tertarik pada sesuatu dan tidak didorong oleh kemauan. Perhatian disengaja yakni perhatian yang timbulnya didorong oleh kemauan karena adanya tujuan tertentu.

2) Perhatian statis dan dinamis

Perhatian statis ialah perhatian yang tetap terhadap sesuatu. Ada orang yang dapat mencurahkan perhatiannya kepada sesuatu seolah-olah tidak berkurang kekuatannya. Dengan perhatian yang tetap itu maka dalam waktu yang agak lama orang dapat melakukan sesuatu dengan perhatian yang kuat.

Perhatian dinamis ialah perhatian yang mudah berubah-rubah, mudah bergerak, mudah berpindah dari objek yang satu ke objek yang lain. Supaya perhatian kita terhadap sesuatu tetap kuat, maka tiap-tiap kali perlu diberi perangsang baru.

3) Perhatian konsentratif dan distributif

Perhatian konsentratif (perhatian memusat), yakni perhatian yang hanya ditujukan kepada suatu objek ( masalah) tertentu.

Perhatian distributif (perhatian terbagi-bagi). Dengan sifat distributif ini orang dapat membagi-bagi perhatiannya kepada beberapa arah dengan sekali jalan/ dalam waktu yang bersamaan.

4) Perhatian sempit dan luas

Perhatian sempit: Orang yang mempunyai perhatian sempit dengan mudah dapat memusatkan perhatiannya kepada suatu objek yang terbatas, sekalipun ia berada dalam lingkungan ramai. Dan lagi orang semacam itu juga tidak mudah memindahkan perhatiannya keobjek lain, jiwanya tidak mudah tergoda oleh keadaan sekelilingnya.

Perhatian luas: Orang yang mempunyai perhatian luas mudah sekali tertarik oleh kejadian-kejadian sekelilingnya, perhatiannya tidak dapat mengarah hal-hal tertentu, mudah terangsang dan mudah mencurahkan jiwanya kepada hal yang baru.

5) Perhatian fiktif dan fluktuatif

Perhatian fiktif (perhatian melekat), yakni perhatian yang mudah dipusatkan suatu hal dan boleh dikatakan bahwa perhatiannya dapat melekat lama pada objeknya. Biasanya teliti sekali dalam mengamati sesuatu.

Perhatian fluktuatif (bergelombang). Pada umumnya dapat memperhatikan bermacam- macam hal sekaligus, tetapi tidak seksama. Yang melekat hanya hal yang dirasa penting.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perhatian

1) Pembawaan

Adanya pembawaan tertentu yang berhubungan dengan objek yang direaksi, maka sedikit atau banyak akan timbul perhatian terhadap objek tertentu.

2) Latihan dan kebiasaan

Meskipun dirasa tidak ada bakat pembawaan tentang sesuatu bidang, tetapi karena hasil dari pada latihan/ kebiasaan, dapat menyebabkan mudah timbulnya perhatian terhadap bidang tersebut.

3) Kebutuhan

Adanya kebutuhan tentang sesuatu memungkinkan timbulnya perhatian terhadap objek tersebut. Kebutuhan merupakan dorongan, sedangjkan dorongan itu mempunyai tujuaan yang harus dicurahkan kepadanya. Demi tercapainya sesuatu tujuaan, disamping perhatiaan juga perasaan dan kemauan memberi dorongan yang tidak sedikit pengaruhnya.

4) Kewajiban

Di dalam kewajiban terkandung tanggung jawab yang harus dipenuhi, entah kewajiban itu cocok atau tidak, menyenangkan atau tidak. Maka demi terlaksananya suatu tugas, apa yang menjadi kewajibannya akan dijalankan dengan penuh perhatiaan.

5) Keadaan jasmani

Sehat tidaknya jasmani, segar tidaknya badan sangat mempengaruhi perhatian kita terhadap sesuatu objek.

6) Suasana jiwa

Keadaan batin, perasaan, fantasi, pikiran dan sebagainya sangat mempengaruhi perhatiaan kita, mungkin dapat membantu juga dapat menghambat

7) Suasana di sekitar

Adanya bermacam perangsang disekitar kita, seperti kegaduhan, keributan, kekacuan, temperatur, sosial ekonomi, keindahan dan sebagainya dapat mempengaruhi perhatian kita.

8) Kuat tidaknya perangsang dari objek itu sendiri

Berapa kuatnya perangsang yang bersangkutan dengan objek perhatian sangat mempengaruhi perhatiaan kita.

5. Minat dan Perhatian

Minat dan perhatiaan pada umumnya dianggap sama/ tidak ada perbedaan. Minat (interesse) adalah sikap jiwa seorang termasuk ketiga fungsi jiwanya (kognisi, konasi, emosi), yang tertuju pada sesuatu, dan dalam hubungan itu unsur perasaan yang terkuat.

Perhatiaan adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu objek tertentu. Di dalam gejala perhatian, ketiga fungsi jiwa tersebut diatas pun juga ada, tetapi unsur pikiranlah yang terkuaat pengaruhnya.

Minat ialah sesuatu pemusatan perhatiaan yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungannya.

6. Bekerja Peristiwa dalam Gejala Perhatian

1) Perseverasi ( menahan)

Peristiwa ini terjadi kalau seseorang sangat terikat perhatiaanya ada sesuatu objek tertentu, sehingga sukar melepaskan perhatiaannya dari objek tersebut.

2) Adaptasi

Peristiwa yang selalu berpindah-pindah, mudah menyesuaikan diri dengan keadaan keadan baru.

3) Osilasi

Keadaan perhatiaan yang tidak tetap, timbul tenggelam, kuat kendur, sering terputus-putus. Hilangnya bagian yang tidak tertangkap itu berbarengan dengan terputusnya peristiwa.

4) Perhatian bergerak

Peristiwa ini perhatiaannya berserakan, seakan-akan tidak mempunyai perhatian sama sekali terhadap apa saja, peristiwa ini sebagai akibat dari adanya perseverasi.

B. KELELAHAN / KELETIHAN

1. Gejala Kelelahan pada Manusia

Sejak lahir sampai menjelang meninggal dunia manusia mempunyai dorongan untuk bergerak dan melakukan bermacam-macam kesibukan.

Semua gerak dan kesibukan itu mempunyai arti bagi manusia. Tetapi pada suatu saat kekuatan untuk berbuat itu makin lama makin berkurang. Berkurangnya kekuatan bergerak (baik jasmani maupun rohani), akan memberi pengaruh mengurangkan prestasi-prestasi yang akan dicapai. Gejala berkurangnya manusia untuk melakukan sesuatu disebut kelelahan/ keletihan/ kelesuan/ kepenataan. Bahwa tenaga manusia ada batasnya, batas itulah yang menunjukkan datangnya kelelahan.

Sebenarnya kelelahan itu adalah sesuatu keadaan atau kondisi, baik jasmani atau psikis, bukan suatu dorongan tertentu. Namun demikiaan kelelahan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Karena alasan itulah kelelahan dimasukkan di dalam gejala campuran.

2. Sebab-Sebab Kelelahan

Kelelahan disebabkan karena berlangsungnya suatu aktifitas atau pekerjaan, baik aktifitas jasmani maupun rohani.

3. Macam-Macam Kelelahan

v Kelelahan jasmani : kekuatan jasmani berkurang, sehingga tidak dapat melakukan sesuatu dengan semestinya, maka itu mengalami kelelahan jasmani.

v Kelelahan rohani : kekuatan jiwa berkurang, sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan psikis dengan semestinya, maka itu dikatakan mengalami kelelahan rohani atau kelelahan jiwa.

4. Hubungan Kelelehan Jasmani dan Rohani

Manusia adalah suatu psiko-somatis, selamanya tidak dapat diadakan pemisahan antara jiwa dan raganya. Oleh karena itu kelelahan jasmani tadak dapat dipisahkan pula dengan kelelahan rohani, dan sebaliknya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa antara jasmani dan rohani, antara kelesuan jasmani dan kelesuan rohani mempunyai hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi.

5. Pendapat-Pendapat Tentang Kelesuhan

1) Teori inteksiasi ( into = intra = dalam; toxicum = racun )

Intksinasi berarti di dalam badan kita terdapat atau terjadi racun yang dapat menimbulkan kelesuhan. Ini terjadi pertukaran zat, peredaran darah dan pembakaran. Karena pertukaran zat, peredaran darah dan pembakaran itu, timbullah berbagai benda sisa atau “ ampas “. Kemudian masuk kedalam peredaran darah dan akhirnya masuk ke dalam susunan urat syaraf. Di sinilah benda-benda itu menyebabkan terbentuknya semacam benda berbisa atau racun. Inilah yang menimbulkan rasa lesu, baik jasmani maupun rohani, baik setempat maupun seluruh tubuh.

2) Teori Biologis

Tokoh: Thorndike. Teori ini termasuk teori baru yang mencari sebab-sebab kelesuhan dari hukum-hukum hidup manusia.

Thorndike menunjukkan 2 peristiwa yang terjadi pada manusia. Apabila ia bekerja agak lama, akan terjadi :

v Pengurangan tenaga pada kita, menyababkan timbulnya gejala kelesuhan.

v Perasaan kebosanan. Pekerjaan dalam waktu lama, makin lama menimbulkan perasaan bosan. Kebosanan, berkuranglah perasaan puas pada pekerjaan. Hal ini dirasakan juga sebagai kelesuhan/ kelelahan.

6. Usaha-Usaha Menghilangkan Kelesuhan

Cara menghilangkan rasa lesu pada umumnya istirahat, atau menghentikan apa yang dijalankan.

C. SUGESTI / SARAN

1. Pengertiaan Tentang Sugesti

Sugesti adalah pengaruh atas jiwa atau perbuatan seseorang, sehingga pikiran, perasaan dan kemauannya terpengaruh, dan dengan begitu orang mengakui atau menyakini apa yang di kehendaki dari padanya.

Inti dari pada sugesti ialah didesakkan suatu keyakinan kepada seseorang, yang olehnya diterima mentah-mentah, tanpa pertimbangan yang dalam.

v Pihak yang mempengaruhi , yang mendesakkan suatu keyakinan, pendapat atau anggapan kepada orang lain.

v Pihak yang dipengaruhi, yang didesak untuk menurut dan menerima pendapat atau tanggapan yang dikenakan kepadanya.

Keterangan diatas bahwa sugesti adalah pengaruh yang dikenakan kepada pihak lain, yakni yang sugesti.

Menyugesti orang berarti mempengaruhi proses kejiwaan (pikiran, perasaan, dan kemauan) orang lain, sehingga orang yang disugesti mengikuti dan berbuat apa seperti yang disugestikan kepadanya.

2. Sugestif dan Sugestibel

1) Sugestif

Sesuatu yang mempunyai pengaruh sugesti yang besar. Hal yang mempengaruhi sugesti ini tidak dapat ditentukan, kadang-kadang karena kecakapan, kedudukan, kekayaan, kejujuran dan sebagainya.

2) Sugestibel

Ialah sifat-sifat yang mudah kena saran atau sugesti. Orang yang mudah terkena pengaruh sugesti disebut sugestibel.

3. Cara-Cara yang Menyugesti

v Dengan membujuk

v Dengan memuji

v Dengan menakut-nakuti

v Dengan menunjukan kekurangan atau kelebihan.

4. Alat-Alat Sugesti

Sehubungan dengan cara-cara menyugesti, kita mengenal alat-alat untuk menanamkan pengaruh sugesti kepada pihak lain :

v Mata ( pandangan tajam, lemah lembut, dan sebagainya)

v Roman muka (manis, kasih sayang, dan sebagainya)

v Teladan (tingkah laku yang baik, sopan santun, kejujuran dan sebagainya)

v Gambar (gambar majalah-majalah, mingguan, buku-buku, dan sebagainya)

v Suara ( merdu, sinis, perintah, dan sebagainya).

v Warna ( dalam reklame, sandiwara)

v Slogan atau semboyan (dalam pertempuran, pembangunan, rapat-rapat, dan demonstrasi).

5. Peran Sugesti

Sugesti mempunyai peran penting, baik dalam kehidupan pada umumnya, maupun di sekolah. Dengan adanya sifat-sifat sugesti dalam kepemimpinan, maka akan terjadi:

v Pimpinan banyak disenangi anak buahnya.

v Adanya kepercayaannya besar kepada pimpinannya.

v Pimpinan akan dihormati, diturut dan diperhatikan segala perintahnya.

Berpengaruhnya sugesti di dalam lingkungan sekolah akan memberi kemungkinan:

v Anak-anak hormat kepada pimpinan/ gurunya.

v Anak-anak memperhatikan pelajaran yang diberikan.

v Anak-anak sungguh-sungguh melaksanakan perintah-perintah, suruhan-suruhan yang diberikan oleh guru.

v Nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk guru akan diturut anak-anak.

Karena besarnya peranan sugesti di dalam pergaulan, maka pelaksanaan sugesti ini dijalankan di berbagai lapangan, misalnya: di rumah sakit, dalam organisasi, dunia perdagangan dan sebagainya.

Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat kita rumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.

Syarat-syarat yang memudahkan sugesti terjadi, yaitu:

v Sugesti karena hambatan berfikir

v Sugesti karena keadaan pikiran terpecah-pecah (disosiasi)

v Sugesti karena otoritas

v Sugesti karena mayoritas

v Sugesti karena “ will to believe” ( keinginan untuk meyakini dirinya)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 11 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 19 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 21 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


Subscribe and Follow Kompasiana: