
Ustadz Funky, Mahasiswa Pascasarjana UNJ Prodi Teknologi Pendidikan, Senang mengamati masalah sosial
Dibaca: 70
Komentar: 0
Nihil
Tulisan ini bermula dari diskusi kecil dengan kalangan terbatas yang menanyakan, kira-kira bisnis apa yang peluangnya bagus dan resiko kegagalannya kecil, modal tidak terlalu besar dan bisa dijalankan sambilan, plus pendapatannya bisa dijadikan sandaran hidup setelah pensiun nanti. Karena diskusi lepas dan tanpa maksud yang jelas, maka diskusi itu diisi oleh omongan-omongan yang kadang serius kadang lucu, mungkin cermin dari kecemasan kita semua, mau bisnis belum jelas dan pasti, sementara menjadi tua dan pensiun sudah pasti.
Kadang ada celetukan, “coba orang tua kita kaya dan meninggalkan banyak harta warisan, sehingga kita ga perlu sibuk menata masa depan yang serba tidak pasti” dan sambil bergurau, teman yang lain mendekatkan wajahnya sambil sedikit berteriak dan bergaya seperti iklan rokok, “mimpiiii!” Seru seperti pasar malam, semua memasukkan ide tanpa mau ketinggalan, yang akhirnya sedikit dengan nada penyesalan berkata, “kenapa tidak dari dulu kita rintis usaha, kalau sudah tua begini, mending main aman saja, cari kerja dan mengharap pensiun”. pen.
Tanpa bermaksud menggurui dan tanpa bermaksud mengada-ada, jika anda mau jadi pengusaha sukses, dan berdasarkan sedikit pengalaman yang ada, maka saya bermaksud sharing pengalaman, belum tentu benar sih! Tapi, boleh juga dicoba.
Berdasarkan pengamatan secara langsung kepada para pengusaha sukses baik di dalam negeri maupun di luar negeri, ternyata mereka semua telah merintis usahanya sejak usia muda, kita ambil contoh di luar negeri, Sir Richard Bronson, pemilik bisnis Virgin, telah merintis bisnis sejak umur 16 tahun, Bill Gates pemilik Microsoft, sudah merintih bisnis sejak mahasiswa. Kita lihat di dalam negeri, Muhammad Gobel, merintis bisnis sejak umur belasan, berjualan radio transistor keliling Jakarta dan akhirnya mendirikan perusahaan elektronik Nasional Gobel dan berubah nama menjadi Panasonic, contoh lain Chairul Tanjung, pemilik Para Group, mulai berjualan dan merintis usaha sejak SMP dan dilanjutkan ketika menempuh kuliah kedokteran Gigi di Universitas Indonesia. Jika kita lihat benang merah dari contoh di atas, ternyata mereka merintis usaha sejak usia muda, bisa dikatakan sejak usia belasan. Ada banyak keuntungan merintis usaha di usia muda, diantaranya: kita kurang memikirkan resiko. Kenapa kurang memikirkan resiko malah dijadikan kelebihan dalam mendirikan usaha?, karena jika kita terlalu mengkhawatirkan resiko yang akan kita hadapi dalam merintis usaha, maka bisa dijamin, kita akan menunda keinginan tersebut, kita akan berfikir dua atau bahkan tiga kali jika akan mendirikan usaha.
Ketika usia kita masih muda, maka keputusan yang akan kita ambil lebih berani dibandingkan ketika kita sudah mulai tua, rasa was-was, takut gagal dan rugi lebih banyak menghantui kita. Padahal, salah satu kunci keberhasilan usaha adalah mencoba, bagaimana kita akan berhasil kalau mencobanya saja kita tidak berani.
Sebelum melangkah lebih jauh tentang apa saja yang membuat para pengusaha muda lebih sukses dibandikan pengusaha tua, mungkin ada baiknya kita membahas alasan kita membuka usaha di usia muda. Pertama, jika kita bukan dari keturunan raja atau ningrat yang akan menjamin masa depan kita, sehingga masa depan kita telah terang benderang tanpa melakukan apa-apa dan semua orang akan menundukkan kepalanya jika kita datang, maka itu sudah cukup menjadikan alasan untuk kita terjun di dunia bisnis di usia muda, kenapa? Karena tidak ada yang menjamin kita di hari tua. Kedua, jika kita tidak memiliki warisan yang cukup untuk di depositokan yang pada akhirnya kita cukup hidup layak dengan mengambil bunganya saja. Dengan hitungan sederhana, bunga deposito sekarang adalah 7% pertahun, jika kita memiliki warisan 5 milyard, maka bunga yang akan kita terima pertahun adalah Rp. 350 juta, dibagi 12 bulan, maka uang yang dapat kita gunakan adalah 29 jutaan perbulan, dengan catatan kita tidak boleh punya hobi yang dapat memakan uang deposito. Ditambah lagi dengan kondisi perbankan yang kurang stabil, maka uang 5 milyard bisa jadi berpindah tangan dengan cepat. Ketiga, IQ di atas 135, yang dibuktikan dengan IPK di atas rata-rata, sehingga menjamin kita untuk mendapat kerja yang layak dan masuk dalam kategori orang super jenius.
Teringat pesan seorang Rektor di salah satu perguruan tinggi di Amerika ketika mewisuda lulusannya, dalam kata sambutannya dia berkata: “Selamat, kepada anda yang lulus dengan nilai rata-rata A, kalianlah penerus kami, kalian akan menjadi pengganti kami, menjadi ahli di bidangnya dan akan meneruskan perjuangkan kami sebagai tenaga pengajar di kampus ini. Dan, saya ucapkan juga selamat kepada anda yang lulus dengan nilai rata-rata B, kalian akan menjadi pemilik kampus ini, kalian akan menjadi donatur dan penentu kebijakan di kampus ini. Tidak lupa saya ucapkan selamat, kepada anda yang lulus dengan nilai rata-rata C, kalianlah penentu kebijakan negara ini, kalian akan menjadi pemimpin negara dan akan menentukan arah secara lebih luas”. Ya, jika saudara hanya memiliki IP biasa saja, jangan “mimpi” jadi Profesor, mari kita cari jalan lain, cari jalan untuk nyuruh Profesor tanpa harus jadi Profesor.
Loh, kok malah ngawur!,
Ok, kita fokus pada pembelajaran tentang jadi pengusaha di usia muda. Biar kelihatan ilmiah, kita harus mempunyai kerangka berfikir yang ilmiah, bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Berdasarkan cerita dari para pengusaha, bahwa semakin cepat kita membuka usaha, maka peluang untuk sukses akan lebih besar, karena kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk mencoba. Ketika gagal, kita akan mencoba lagi dan lagi. Sukses tidak datang secara tiba-tiba, sukses bisa didapat karena proses panjang dari kegagalan, sukses dapat diraih setelah sederetan proses jatuh bangun. Kata kuncinya adalah, mencoba sebanyak mungkin.
Diantara keuntungan dari merintis usaha di usia muda adalah, stamina yang lebih baik. Ketika kita masih muda dan dituntut untuk jungkir balik mengurusnya, maka stamina kita masih ok, tidak tidur 24 jam dan kurang makan, kena angin malam bahkan kehujanan, tidak punya dampak yang berarti. Sangat berbeda jika kita sudah berumur, kurang atau telat makan, masuk angin, kurang tidur dan kurang istirahat kepala pusing. Maka merintis usaha di usia muda sangat menunjang dan memiliki tingkat kemungkinan lebih besar dibandingkan di usia tua.
Menjadi pengusaha di usia muda merupakan pilihan awal, sementara menjadi pengusaha di usia tua merupakan pilihan terakhir, atau ke pepet. Bedanya adalah berusaha menyenangi pekerjaan tersebut. Jika kita memilih dari awal, maka tingkat kemungkinan untuk menyenangi pekerjaan tersebut sangatlah besar dibandingkan ketika tidak ada lagi pilihan, maka proses menyenangi pekerjaan tersebut menjadi sebuah keterpaksaan.
Jika kita memulai bisnis hingga kita selesai jenjang pendidikan, maka sering kali kita dihadapkan banyak pertanyaan, buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jualan, bagusan kamu kerja kantoran lebih bergengsi. Kita terbelenggu oleh pendidikan itu sendiri, kita membatasi cara pandang karena kita telah sarjana. Kita merasa gengsi melakukan sesuatu karena status pendidikan kita sudah tinggi, sementara untuk orang hanya berbekal ijasah SMU akan melakukan apa saja untuk survive, padahal keinginan orang untuk survive adalah cikal bakal kesuksesan itu sendiri.
Asumsi bahwa bisnis itu kotor juga telah meracuni cara berfikir kita, sering kita dengar bahwa tidak mungkin kita berbisnis tanpa kolusi, tanpa berbohong, tanpa suap dan lain-lain, sementara banyak para pebisnis sukses telah merintis usaha dengan berbekal kejujuran, bagaimana mungkin mereka akan dipercaya oleh para koleganya jika mereka sendiri tidak dapat dipercaya.
Dan untuk menjadi pengusaha yang baik kita harus mengembangkan banyak keterampilan yang tidak diajarkan di sekolah, seperti teknik negosiasi, kapan kita meminta dan kapan kita memberi, kapan kita menggunakan strategi tertentu untuk mengharapkan sesuatu berjalan dengan baik, kita harus mempunyai kemampuan mempengaruhi orang lain, mampu melakukan presentasi yang baik, mampu berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan pelanggan. Banyak hal yang harus kita latih untuk menjadi pelaku bisnis dan pengusaha, berbeda jika kita bekerja dengan orang lain.
Dimana cara gilanya? Caranya adalah, coba diri anda dalam keterpaksaan, buatlah diri anda dalam posisi tidak punya pilihan lagi, yakni
Pertama : meminta kepada orang tua anda untuk tidak mengirimi anda uang jajan atau uang sekolah, bilang pada mereka, semua ini akan anda tanggulangi sendiri. Dengan demikian, anda dipaksa untuk berfikir lebih keras dibandingkan yang lain untuk berusaha. Stop seluruh fasilitas yang telah diberikan oleh orang tua anda. Terkadang seluruh potensi akan maksimal dikerahkan ketika dalam kondisi terpaksa, seperti dalam menempuh ujian, kita baru akan serius membaca dan akan meninggalkan seluruh aktifitas kita guna belajar secara maksimal. Kita akan marah jika ada hal yang mengalihkan perhatian kita dalam menempuh ujian. Nah, kondisi ini coba kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni keperluan untuk bertahan hidup. Jika kita masih dapat mengharapkan adanya kucuran dana, maka usaha kita untuk mendapatkan secara maksimal akan sedikit berkurang, buat apa bersusah payah, toh, akan turun dana segar.
Ternyata keterpaksaan memang membuat orang menjadi maksimal, berapa banyak kasus orang dapat melakukan diluar kemampuannya yang biasa untuk menyelamatkan hidup, mulai dari berlari kencang ketika dikejar anjing atau orang gila, atau mengangkat sesuatu dengan sekuat tenaga untuk bisa selamat.
Kedua : teguhkan hati, jangan minta dikasihani. Jangan mudah menangis ketika kondisi yang kita harapkan ternyata tidak berjalan sesuai rencana, kuatkan hati kita untuk terus tegar. Jangan mudah mengeluh kepada orang lain untuk mendapatkan belas kasihan orang lain. Mereka yang duduk disinggasana keberhasilan telah membuktikan, bahwa tanpa keteguhan hati dan kebulatan tekad, mereka masih seperti manusia kebanyakan, hidup di bawah garis kemiskinan.
Kebanyakan kita melihat orang sukses di akhir perjalanan mereka, bukan di awal perjalanan yang penuh onak dan duri, penuh keringat dan air mata, penuh hinaan dan tatapan mata yang merendahkan, seandainya mereka tidak bertahan dalam keteguhan hati, nama mereka mungkin hanya membekas di batu nisan tanpa dikenal orang banyak.
Ketiga : Melakukan manuver. Ya, melakukan gerakan atau sesuatu yang mungkin terbilang tidak mungkin buat kita semua, karena tanpa manuver yang berarti dan mungkin juga turut membahayakan kehidupan, kita tidak mendapat kesempatan. Contoh yang paling konkrit adalah upaya seseorang menawarkan asuransi kepada orang yang tidak dikenal dan mempunyai kedudukan yang baik di sebuah perusahaan, letak manuver pertama adalah menawarkan sesuatu kepada orang yang tidak dia kenal, yang kedua adalah jabatan orang tersebut sangat strategis, sehingga kemungkinan untuk menawarkan bahkan duduk berlama-lama adalah resiko yang cukup besar. Manuver yang pertama dapat ditanggulangi dengan berlatih melakukan presentasi yang baik dan benar, namun manuver yang kedua cukup berbahaya, yakni berbohong dengan mengatakan ada usaha kerja sama.
Melakukan manuver dengan sedikit keberanian sudah merupakan tuntutan dan kewajiban dari seorang calon pengusaha, kalau Cuma mau melakukan sesuatu yang orang lain juga lakukan, maka peluangnya akan sama dengan yang lain, yakni 90% kegagalan. Melakukan sesuatu secara biasa dan hasil biasa adalah biasa, namun melakukan sesuatu dengan biasa tapi mengharapkan hasil secara luar biasa adalah basi, jika mengharapkan hal yang luar biasa, lakukan dengan cara luar biasa, pasti bisa!.
Keempat : Bukalah jaringan dan mata anda, lakukan penawaran dan usaha untuk mendapat sesuatu. Jika anda butuh makan, makan dari keringat anda sendiri. Kita harus jeli melihat peluang dan mata boleh tidur, namun pikiran harus selalu “on” untuk menerima informasi. Menurut Sir Richard Bronson, “masalah adalah peluang”, jika ada masalah yang orang lain hadapi untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, maka disana ada peluang bisnis, ketika peluang bisnis dapat dikelola dengan benar, maka dapat menghasilkan uang. Sehingga ada pendapat yang menyatakan, bisnis adalah seni mengelola peluang. Ketika kita jeli melihat peluang, maka kita bisa sukses, (gampang banget jadi pengusaha? Ya, iya lageeee!, yang namanya bisnis kalau susah banget bukan bisnis namanya, tapi penyakit yang dicari!)
Kelima : kembangkan kemampuan diri dan jaringan setiap hari, karena dengan tetap fokus pada pengembangan diri dan jaringan, maka peluang akan terus terbuka. Kita mengasah kemampuan dalam berkomunikasi, negosiasi, dan membaca peluang. Jangan pernah merasa puas dengan hasil yang telah kita dapat sekarang, dengan kondisi yang kita alami sekarang, karena ketika kita puas, maka kita akan lengah dan menjadi terlena, sementara bisnis di seputar kita selalu dipenuhi oleh pendatang baru yang penuh dengan inovasi.
Seorang pengusaha sejati akan selalu mencari ketrampilan baru, baik bahasa atau keahlian lainnya, sehingga hidupnya selalu dinamis, tidak pernah hanya menunggu atau statis. Punya keyakinan akan kemampuan diri untuk bertahan dan sukses.
Keenam : Bertaqwa atau berserah diri kepada Allah SWT, karena sebagai hambaNya, setelah kita berusaha, hasil dan akibat yang kita dapat adalah kuasaNya. Kita hanya diwajibkan berusaha tanpa mewajibkan hasil, disinilah rahasia Allah, bahwa rezeki sudah diatur, sehingga kita tidak sedih ketika tidak dapat atau malah terlalu berbangga hati sehingga sombong ketika berhasil.
So, kalau mau menjadi pengusaha muda, harus dicoba! Bukan belajar teori melulu di kelas atau di buku. Practice makes perfect. Belajar renang tanpa masuk ke air dan basah? Mimpiiiiiiiiiiiiiiiii!
Mau coba?
(bersambung)