Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Alfarisma Melandika

jelajahi rimba kata tuk temukan makna

Metamorfosis Kupu-kupu

OPINI | 13 December 2010 | 00:26 Dibaca: 566   Komentar: 5   1

12922002101716174537

Saat aku masih berumur 5 tahun, aktivitasku sepulang sekolah adalah menangkap kupu-kupu yang hinggap pada bunga sepatu yang ada di depan rumahku. Tak ada lelahnya tubuh ini menunggu dan berlari-lari menangkap sosok kecil yang elok rupawan itu. Setelah berhasil kutangkap, kumasukkan kupu-kupu cantik itu pada sebuah toples bening yang telah aku isi dengan sekuntum bunga yang tak kalah cantiknya dengan kupu-kupu itu. Tanpa rasa bosan, aku pandangi binatang mungil yang elok itu, warna sayapnya yang menarik dan serasi, rupanya yang cantik, bentuknya yang indah, dan gerakannya yang lincah. Sungguh besar dan indah ciptaan-Mu. Mata ini selalu mengikuti ke mana saja makhluk itu terbang. Setelah mata ini puas memandanginya, aku lepaskan lagi kupu-kupu itu agar bisa terbang tinggi ke mana saja yang dia inginkan.

Setelah duduk di bangku SD dan belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), aku baru tahu ternyata kupu-kupu yang aku kagumi itu berasal dari sesosok binatang yang menjijikkan. Berasal dari telur yang akhirnya berubah menjadi ulat. Ulat itu kemudian berubah lagi menjadi kepompong sampai akhirnya berubah menjadi binatang yang sangat cantik dan indah, kupu-kupu. Kupu-kupu yang molek, yang bisa hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain, yang bisa terbang tinggi ke tempat mana saja yang dia inginkan, yang bisa membantu proses penyerbukan pada sebuah tanaman. Binatang itu melakukan metamorfosis, metamorfosis adalah suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik dan/atau struktur setelah kelahiran atau penetasan.

Untuk mendapatkan keindahan itu, kupu-kupu tidak mendapatkannya begitu saja, dia juga harus melewati beberapa fase yang tentunya tidak mudah dan singkat. Ada kalanya dia dihina dan diremehkan oleh makhluk lain karena wujudnya yang menjijikkan. Tapi karena kesabarannya menghadapi semua itu, kesempurnaan wujud bisa dia peroleh. Begitu juga dengan kita, untuk mendapatkan kesuksesan diperlukan perjuangan yang tidak mudah dan kita harus menghadapinya dengan sabar.

Sejak saat itu, aku ingin seperti kupu-kupu, yang bermetamorfosis menjadi lebih baik dari tahap ke tahap sampai akhirnya bisa menjadi sosok makhluk yang bisa terbang tinggi untuk menggapai apa yang diinginkannya dan bermanfaat bagi makhluk lain. Lalu seorang teman berkata padaku, “Tapi dengan jadi kupu-kupu artinya dia harus siap untuk menghadapi segala hal yang membahayakan dirinya, misalnya tangan-tangan jahil dan sebagainya. Serta juga bersiap untuk hanya hidup sementara.”

Aku pun menjawab, “Tidak hanya kupu-kupu, manusia dan makhluk lainnya pun pasti akan menghadapi segala hal yang dapat membahayakan dirinya. Oleh karena itu, kita dituntut untuk bisa melindungi diri kita sendiri kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun. Hidup memang hanya sementara. Dalam hidup yang sementara ini, alangkah meruginya kalau kita tidak menjadi lebih baik dari waktu ke waktu dan memberikan manfaat bagi orang lain.” Metamorfosis kupu-kupu ini merupakan sebuah analogi untuk menggambarkan hakikat hidup yang sesungguhnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dengan melakukan perubahan yang lebih baik dari waktu ke waktu dan bermanfaat bagi orang lain. Hidup ini akan bermakna dan berguna kalau apa yang kita lakukan dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 6 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 6 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 6 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Harus Aku? …

Siti Avidatu Chusna... | 8 jam lalu

Riedl: Kekalahan Dari Filipina Buah Dari …

Hery | 8 jam lalu

Hati-hati memilih Baby Sitter …

Wahab Naira Sairun | 8 jam lalu

London yang Ramah dan Hiruk Pikuk …

Pretty Backpacker | 8 jam lalu

Teman Penjara …

Vina Tjandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: