Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Astuti Prasetyaningsih

Seorang mahasiwa program S1 Pgsd Uns kampus VI kebumen angkatan 09 yang berusaha agar lebih selengkapnya

Multiple Intelligences

OPINI | 15 December 2010 | 01:23 Dibaca: 186   Komentar: 0   0

Teori Kecerdasan Majemuk memberikan gambaran nyata bahwa perbedaan individu adalah penting. Teori ini lebih menekankan bahwa perbedaan itu adalah hal yang normal, wajar, bahkan menarik dan sangat berharga. Sudah, selayaknya pendidikan mengalami peningkatan mutu dengan lebih menjadikan anak didiknya aktif tidak hanya dalam penggunaan otak kiri saja tapi juga otak kanan. Salah satu teori pembelajaran yang dapat digunakan yaitu kecerdasan majemuk.

Howard Gardner dalam teori KM ini, membagi tujuh kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistic, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial. kecerdasan musikal, kecerdasan badani kinestetik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan personal (Dalam Julia Jasmine,2007;14).

Kecerdasan linguistic (berkaitan dengan bahasa). Kecerdasan ini lebih dikenal dengan kecerdasan verbal. Orang yang mampu menyusun kata-kata dan bertutur kata merupakan ciri orang berkecerdasan linguistic. Cenderung menunjukkan bahwa dengan kecerdasan linguistic ini dapat tumbuh dan berkembang dalam atmosfer akademik yang lazim yang berhubungan dengan mendengarkan kuliah, mencatat, dan melakukan ujian tradisional.

Orang-orang pada kecerdasan ini juga mempunyai level kecerdasan lain-lain yang tinggi karena pada umumnya perangkat penilaian mengingkatkan respon secara verbal. Kecerdasan logis-matematis. Nah, kecerdasan inilah yang menitihberatkan pada otak kiri, merupakan jenis keceradasan yang dicirikan dengan pemikiran kritis dan metode ilmiah. Orang yang memiliki kecerdasan ini akan menyukai belajar dengan kegiatan memecahkan masalah dengan memainkan berbagai strategi. Selanjutnya, Kecerdasan Spasial yang kadang disebut kecerdasan visual yaitu kemampuan menggunakan model mental. Kecerdasan ini merupakan pekerjaan otak kanan. Orang akan cenderung membuat gambaran berdasarkan hasil imajinasi mereka. Akan memahami materi pelajaran apabila dipelajari melalui video, film, maupun gambar. Orang yang memiliki kecerdasan ini dapat menciptakan suatu kreatifitas yang bernilai tinggi.

Kecerdasan musical juga menekankan pada kemampuan otak kanan manusia. Tidak hanya mendengarkan music dan bersenandung yang merupakan kecerdasan ini. Terkadang anak didik yang bersiul dipandang kurang sopan dan mengganggu kelas. Justru ini, salah satu hal sepele yang dapat dikatakan kecerdasan musical. Beberapa anak yang memiliki bakat tentang musik, cenderung memiliki kecerdasan ini. Kecerdasan yang lebih menekankan pada aktif dalam bertindak disebut Kecerdasan badani-kinestetik. Mereka akan lebih nyaman mengkomunikasikan informasi dan menanggkap informasi melalui demonstrasi. Kecerdasan selanjutnya yaitu kecerdasan interpersonal menekankan pada suatu organisasi atau kerjasama (berhubungan dengn social). Untuk mengembangkan kecerdasan ini, guru dapat melakukan pembelajaran kooperatif sehingga anak didik dapat belajar bersama. Kecerdasan intrapersonal yang tercermin dalam kesadaran mengenali perasaannya sendiri. Orang yang kecerdasan intrapersonalnya tinggi umumnya merupakan orang mandiri (tidak tergantung pada orang lain) dan memiliki rasa percaya diri yang cukup.

Perlu disadari bahwa manusia diciptakan oleh yang Maha Kuasa jauh lebih baik dari ciptaan lainnya. Manusia memiliki pikiran dan budi pekerti untuk melakukan tindakan. Hal ini cukup membuktikan bahwa tidak ada manusia yang hanya memiliki satu dari tujuh kecerdasan di atas adapun hampir manusia memiliki ketujuh kecerdasan itu. Apa buktinya?. Lihat seorang pencipta lagu, tidak akan mampu jika hanya memiliki kecerdasan linguistic saja tentu memiliki kecerdasan musikal. Dan ditambah kecerdasan interpersonal akan mampu menjadi penyanyi.

Yang perlu dipersoalkan adalah melakukan pembelajaran dengan mengembangkan sekurangnya tujuh kecerdasan di atas. Anak yang memiliki kecerdasan linguistic dan logis-matematis diyakini akan mampu sukses dalam pembelajaran tradisional. Tapi, apakah keberhasilan di sekolah dapat menjamin kesuksesan di kehidupan lingkungan yang nyata?. Coba, kita kembali mengingat beberapa tokoh besar yang justru gagal dalam bangku pendidikan, antara lain Thomas Edison dan Einstein.

Perlu melakukan pembelajaran dengan mengembangkan kecerdasan anak, baik yang berhubungan dengan otak kiri maupun otak kanan. Implementasi dari teori kecerdasan majemuk ini, ialah melalui beberapa kegiatan dalam pembelajaran yang mendukung untuk meningkatkan kecerdasan-kecerdasan di atas. Exemples, ketika seorang guru menerangkan tentang “Lingkungan”, kegiatan apa saja yang berkaitan dengan materi “Lingkungan” yang dapat mengasak kecerdasan anak?. Anak diminta mengelompok berdiskusi tentang hal-hal tentang pencemaran lingkungan, ini berarti meningkatkan kecerdasan interpersonal. Anak menggambar peristiwa yang terjadi dalam lingkungan, merupakan kegiatan melatih kecerdasan visual. Mencari lagu bertema lingkungan dan menyanyikannya (kecerdasan musical). Membuat sesuatu benda atau karya yang dapat bermanfaat bagi lingkungan (Kecerdasan badani kinestik). Merenungkan secara mendalam nilai-nilai yang terkandung dalam sikap manusia terhadap lingkungan (kecerdasan intrapersonal). Menulis karangan tentang lingkungan (kecerdasan linguistic). Mengumpulkan data tentang peristiwa di lingkungan (kecerdasan logis-matematis).

Implementasinya menjadi tanggung jawab pendidik. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan pendidik dapat bervariasi sekaligus sebagai cara agar anak didik menemukan cara belajar mereka. Dapat pula dengan memanfaatkan sarana yang ada, seperti memperkaya lingkungan pembelajaran sehingga memotivasi dan menyiapkan anak untuk belajar. Bukan kah pendidik adalah orang yang kreatif dalam melakukan inovasi pembelajaran?,

Selamat mencoba,
Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 5 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 13 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 13 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 14 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: