Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ramdhani Nur

lebih sering termenung daripada menulis...

Memahami Informasi Cerita dalam Membangun Alur Flash Fiction (untuk Pemula)

OPINI | 23 December 2010 | 04:06 Dibaca: 488   Komentar: 41   8

Dari berbagai definisi tentang Flash Fiction (FF), saya senang menyederhanakan pengertiannya sebagai sebuah cerita yang berbatas pada jumlah kata yang minimal. Menurut berbagai sumber, 1000 merupakan batasan jumlah kata tertinggi sebuah FF. Namun pada faktanya banyak FF terutama yang terpublikasi di dunia maya terangkai tak sampai 500 kata. Kilat Ubud Writers Festival yang terselenggara beberapa waktu lalu malah mewajibkan karya FF disusun kurang dari 350 kata. Ada juga beberapa situs yang mengumpulkan tulisan FF hanya dalam 100 kata saja.

Jika sedemian rupa sempitnya FF harus dibangun, maka diperlukan kreativitas dan kecerdasan penulis untuk meramu karyanya menjadi sebuah FF yang baik dan berkesan. Tentu dengan tetap memperhatikan kaidah umum prosa. FF harus memiliki cerita yang utuh, memiliki tokoh dan aksi yang dilakukan si tokoh. Plus tambahan satu persyaratan bagi saya pribadi, bahwa FF harus meninggalkan kesan yang dalam bagi pembacanya. Maaf, jika saya menyebutkan bahwa FF layaknya sebuah media beronani, dan dia harus bisa membuat orang mencapai titik orgasme setelah membacanya.

Para penulis FF umumnya menyimpan kesan di akhir cerita. Tapi bisa juga kesan itu dibangun merata pada keseluruhan cerita. Kesan dapat berupa kejutan yang tak terduga pembacanya. Menjadi kunci sebuah FF. Kejutan ini tak serta merta ada. Dia harus dibentuk dari berbagai informasi cerita yang disajikan dalam FF. Setidaknya tak bertentang dengan informasi cerita sebelumnya. Apa itu informasi cerita?
Dalam prosa kita mengenal adanya unsur-unsur intrinsik yang membangun sebuah cerita. Tokoh, latar, dan alur adalah sebagian unsur intrinsik yang membutuhkan informasi-informasi penjelas. Informasi inilah yang disebut informasi cerita.

Informasi cerita dapat disajikan secara langsung maupun tidak langsung. Penyebutan nama, tempat atau karakter tokoh secara jelas adalah bentuk pemberian informasi secara langsung. Contoh:

Orang menyebutnya Jack. Lelaki sangar yang hampir sepuluh tahun menjadi preman nomor satu di Pasar Kramat.

Namun karakter tokoh maupun predikatnya dapat disampaikan secara tak langsung dengan cara lain.

Di Pasar Kramat ini tak orang yang paling ditakuti warga kecuali Jack. Berurusan dengannya adalah masalah besar.

Informasi tentang karakter tokoh yang sangar atau predikatnya sebagai preman tidak disebutkan secara langsung, namun pembaca dapat merasakan kesan itu.

Ada pula informasi cerita yang sifatnya multitafsir atau menggantung. Kemanunggalan tafsirannya baru terlihat jika dilengkapkan dengan informasi cerita lanjutannya. Biasanya tersaji di bagian akhir cerita.

Khusus dalam penulisan FF, pemberian informasi cerita ini menjadi sangat penting. Ini berkaitan dengan minimnya ruang untuk bereksplorasi. Bagi sebagian penulis minimnya pemberian informasi cerita justru dijadikan alat untuk bermain-main dengan imajinasi pembaca. Informasi cerita baik itu tokoh, alur, maupun tempat bisa diminimalkan atau bahkan dihilangkan di awal cerita. Membiarkan imajinasi pembaca bebas meliar, untuk kemudian diberikan informasi cerita yang logis (tidak bertentang) pada akhir cerita. Fungsinya sebagai penguat alur kejutan. Sebaiknya informasi akhir itu tak semena-mena. Bukan muncul tiba-tiba. Harus ada kaitan logis dengan informasi sebelumnya. Berikut adalah contoh FF dengan informasi cerita di akhir yang tak berkait.

Setelah menunggu lebih dari dua puluh menit di dalam bandara dan dua tahun dalam kehidupan cintanya, Grace mendapati tubuh Karl keluar dari pintu kedatangan. Ya, itulah tubuh kekasih yang begitu dirindu Grace. Tak ada yang berubah dari Karl, cintanya pun tidak. Karena Karl seperti memiliki rindu yang sama hebat saat matanya menemukan Grace yang setengah berlari mendekat. Mereka hampir berpeluk, bibir mereka nyaris berpagut ketika tiba-tiba sebuah bom meledak dahsyat di dekat loby bandara. Mengguncang dan meluluhlantakan semua yang ada.

Pada awal cerita hanya ditampilkan informasi tentang tokoh, hubungan keduanya, tempat kejadian dan rasa yang dimiliki tokohnya. Tak ditunjukkan informasi tentang ancaman keamanan, atau informasi lain yang melogiskan jika sebuah bom mungkin meledak di tempat itu. Secara faktual, kisah semacam ini mungkin saja terjadi. Namun dalam tataran prosa, jika unsur kejutan seperti ini bebas berlaku, maka FF akan menjadi ajang otoritas absolut penulis. Kisah dan alur yang dibangun dari beberapa informasi cerita hanya akan sia-sia.

Kita sering juga menemukan FF yang di ujung kisah, sebagai sebuah klimaks, ternyata aksi yang dialami tokoh hanya sebuah lamunan atau impian saja. Betapa tidak menariknya alur cerita, jika setiap FF berakhir sebagai sebuah lamunan si tokoh. Cara seperti ini pun bisa dianggap salah satu bentuk kesemena-menaan penulis.

Bandingkan dengan sebuah FF di bawah ini:

“Hai, ganteng…!” Satu colekan menjarah pipiku. Aku terdiam pasrah. Kepalaku tak mampu menghindar dari sergapan jemari wanita muda ini. Berkali-kali pipiku terasa berayun. Jujur aku memang menyukai perlakuan ini. Ada sensasi tertentu saat telunjuknya yang lentik menyentuh kulitku. Entahlah, seperti paham dia selalu mengulanginya saat kuberikan senyum manis padanya. Ah, aku senang membuat dia senang. Bukan kepada dia saja sesungguhnya. Sudah sejak sebulan ini aku merasa banyak wanita menyukaiku. Mereka datang dan pergi. Aku harap tidak untuk wanita ini. Terlalu lama diriku kosong oleh cinta dan kasih sayang. Padahal aku sangat membutuhkan itu. Aku tak menyangkal bahwa selama ini banyak yang mengasihi dan menyayangi. Tapi aku butuh yang spesial. Sebuah cinta dan kasih sayang yang khusus hanya untukku.

Aku memang pernah memilikinya dulu. Cinta dari seorang wanita yang ayu. Aku ingat betapa lembut ciuman-ciumannya yang jatuh di bibirku. Betapa damai dan hangat pelukannya saat tubuhku terengkuh sempurna. Betapa aku menikmati dahaga cinta saat wajahku terhempas di dadanya. Tak ada kebahagian yang bisa melebihi itu. Sampai suatu malam dia mencampakkan aku. Aku tak pernah tahu apa salahku. Aku bertanya-tanya, tapi tak satu katapun yang bisa menggugahnya. Bahkan ketika tangis dan air mataku berurai dia tetap saja pergi. Begitulah aku kehilangan cinta. Dan itu sangat menyakitkan!

“Aku menyukaimu…kamu menggemaskan!” disentuhnya hidungku dengan lembut. Aku tidak mengerti dengan yang aku rasa. Tapi ini seperti cinta lama yang kembali. Getaran yang kurindukan sejak beberapa bulan lalu. Ah, semoga saja benar, karena sepertinya aku juga menyukainya.

***

Seperti mendapat panggilan tiba-tiba saja seorang lelaki baya menghampirinya. Dia lelaki yang juga tampan dan lembut. Aku agak cemburu ketika tangan wanita itu menggamit sang lelaki agar mendekatiku. Kemudian tanpa bisa kutolak kedua tangannya meraih diriku, mengangkat dan meletakanku dengan lembut di bahunya.

“Aku suka yang ini, Mas. Lihatlah! Dia lucu dan menggemaskan. Kita segera buat proses adopsinya, ya! Aku nggak mau keduluan sama orang lain.”

Aku tidak begitu mengerti yang dikatakannya. Tapi aku paham betul yang kurasa. Aku menyukai wanita ini, mungkin juga lelaki di sampingnya yang terus menyapa dan mengajakku tertawa.

Dalam cerita ini informasi tentang tokoh dan tempat hampir tak ada. Minimnya informasi ini membuat imajinasi pembaca terbawa gambaran umum yang disajikan penulis. Sifatnya asosiatif dan multitafsir. Ketika tokoh aku berhadapan dengan wanita, plus pembahasan soal cinta yang diungkap si tokoh aku, pembaca digiring pada penafsiran bahwa ini adalah hubungan dua manusia dewasa, dengan cinta sebagai alasannya. Lalu tiba-tiba pada akhir-akhir cerita penulis memperjelas tafsiran dengan memberikan informasi cerita tak langsung pada tokoh-tokohnya. Tentang keinginan tokoh wanita mengadopsi tokoh aku. Ternyata tokoh aku adalah calon bayi adopsi. Apakah ini tindakan semena-mena penulis? Mari kita telusuri informasi cerita dari awal FF ini yang mendukung informasi di akhir kisah. Kita tidak merasa ada informasi yang bertentang dengan kejutan di akhir cerita. Yang terjadi adalah kita terjebak pada imajinasi yang kita tafsirkan sendiri. Jika dari awal cerita kita sudah menafsirkan tokoh aku sebagai calon bayi adopsi yang mengalami pengalaman pahit dengan ibu biologisnya dan cinta yang dimaksud adalah cinta antara ibu dan anak, tentu informasi-informasi cerita sebelumnya menjadi logis. Gaya penulisan yang nakal seperti ini kadang menjadi sebuah pilihan penulis membangun alur kejutannya dalam FF.

Bagaimana dengan FF Anda?

****

Cacatan sok tahu yang berantakan tentang FF, menanggapi tantangan Arif Hidayat soal berbagi pengalaman menulis. Pengalaman dari penulis yang lain tetap ditunggu. :D

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sumber Air Bersih di Desa Kami Semakin …

Tarjum | | 19 December 2014 | 21:08

JKN “Mimpi” bagi Masyarakat …

Yosua Panjaitan | | 20 December 2014 | 07:22

Sepinggan, The Best Airport 2014 …

Heru Legowo | | 19 December 2014 | 18:10

Salah Penggunaan, Bubuk Protein Potensi …

Novia Cristi | | 20 December 2014 | 07:13

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 4 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 12 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 13 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: