Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Didit Wisnu Purwanto

MAHASISWA S1 PGSD UNS KAMPUS VI KEBUMEN ANGKATAN 2010.

Kepribadian Ditinjau dari Psikologi

OPINI | 28 December 2010 | 13:09 Dibaca: 890   Komentar: 2   0

KEPRIBADIAN

Kepribadian bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk oleh proses sosialisasi Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan. Pada Dasarnya manusia memiliki komplit atau beraneka ragam kepribadian namun penonjolan karakternya masing - masing memiliki perbedaan yang tersusun atas dasar fatalitas jasmani dan rohania, di samping ada faktor temperamen, karakter,dan bakat fitalitas jasmani seseorang bergantunng pada konstruksi tubuhnya yang terpengaruh oleh factor-faktor hereditas sehingga keaadaanya dapat di katakan tetap atau konstan. Dalam kepribadian memiliki bersifat berubah ubah dan mengikuti keadaan mental seseorang yang sifatnya khas.

Ada beberapa teori - teori kepribadian :

1. Teori Psikoanalisis

model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Kepribadian menurut teori ini, dipengaruhi oleh tiga sistem yaitu id, ego, dan super ego. Teori ini dikemukakan oleh Freud.

2. Teori sifat

menurut teori ini kepribadian dapat mencerminkan sifat seseorang. Sifat disini dapat meliputi sifat kardinal, sifat sentral, sifat skunder, viscerotonia, somatotonia, dan cerebretonia.

3. Teori behaviorisme

kepribadian merupakan pengamatan yang sistematis, dan mempunyai latar belakang genetis yang unik. Dan kepribadian ini diperoleh melalui belajar. Belajar disini berarti bahwa penyebab tingkah laku bukan dari dirinya sendiri melainkan dari kedudukan seseorang di lingkungannya.

4. Teori psikologi kognitif

kepribadian manusia merupakan suatu kesatuan yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Ini berarti bahwa dalam kepribadian, antara aspek fisik dan aspek psikis tidak dapat dipisahkan.

Tipe kepribadian antara lain melancholis yang berarti rang-orang yang mempunyai tipe kepribadian ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga. Sanguinis orang yang mempunyai tipe kepribadian ini selalu menunjukkan wajah yang berseri. Flagmatis kepribadian ini mempunyai pembawaan yang tenang. Namun, wajahnya selalu menampakkan pesimistis. Sifatnya malas dan mempunyai pendirian yang tidak mudah berubah. Terakhir adalah Koleris atau orang dengan tipe kepribadian ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif.

Faktor yang memepengaruhi kepribadian pertama yaitu keturunan. Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong gen dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi. Faktor yang kedua yaitu lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan. Norma dalam keluarga, teman, kelompok sosial dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami.

Karakteristik sifat sifat kepribadian yang umumnya melekat dalam diri seorang individu adalah malu, agresif, patuh, malas, ambisius, setia, dan takut. Karakteristik-karakteristik tersebut jika ditunjukkan dalam berbagai situasi, disebut sifat-sifat kepribadian. Sifat kepribadian menjadi suatu hal yang mendapat perhatian cukup besar karena para peneliti telah lama meyakini bahwa sifat-sifat kepribadian dapat membantu proses seleksi karyawan, menyesuaikan bidang pekerjaan dengan individu, dan memandu keputusan pengembangan karier.

SIKAP

Pengertian Sikap sikap menurut Notoatmodjo merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau obyek. Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.Dapat diartikan juga sikap adalah kecenderungan bertindak, berpikir, berpersepsi, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai.Sikap bukanlah perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertentu terhadap objek sikap. Sikap relatif lebih menetap atau jarang mengalami perubahan. Ada tiga komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh. Pertama kognitif yaitu kepercayaan seseorang mengenai yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu. Kedua afektif yang menyangkut masalah emosional  subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu. Terakhir konatif yang menyangkut komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi. Faktor yang mempengaruhi sikap antara lain adanya akumulasi pengalaman dari tanggapan-tanggapan tipe yang sama, pengamatan terhadap sikap lain yang berbeda, hasil peniruan terhadap sikap pihak lain secara sadar ataupun tidak sadar, pengalaman yang baik atau buruk. Karakteristik Sistem Sikap meliputi sikap ekstrem atau sulit berubah, onsistensi berupa sikap yang stabil, interconnectedness mengenai keterikatan suatu sikap dengan sikap lain dalam suatu kluster. Konsonan yang maksudnya sikap yang saling berderajat selaras akan lebih cenderung membentuk suatu kluster.

PRASANGKA

Prasangka berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. John E. Farley mengklasifikasikan prasankgka e dalam tiga kategori, pertama prasangka kognitif, merujuk pada apa yang dianggap benar, prasangka afektif berkaitan apa yang disukai dan tidak disukai. prasangka konatif atau bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan prasangka diantaranya yaitu prasangka dalam rangka mencari kambing hitam, berprasangka karena ia sudah dipersiapkan di dalam lingkungannya, karena adanya perbedaan yang menimbulkan perasaan superior, ataupun karena kesan yang menyakitkan.

PERSEPSI

Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Bimo Walgito). Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Davidoff). Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi bisa terletak dalam diri pembentuk persepsi, dalam diri objek atau target yang diartikan, atau dalam konteks situasi di mana persepsi tersebut dibuat. Jenis – jenisnya antara lain persepsi visual didapatkan dari indra penglihatan, ersepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran, persepsi pengerabaan didapatkan dari indera peraba yaitukulit, persepsi penciuman, persepsi pengecapan atau rasa pada lidah.


KONSEP DIRI

Diri merupakan suatu organisasi dari aspek-aspek yang saling berkaitan, yang membentuk suatu struktur kepunyaan dengan segala sejalanya. Aspek yang terdapat dalam diri saling berkaitan dan saling melengkapi untuk dapat mengkondisikan diri itu sendiri. Aspak-aspek tersebut yaitu aspek fisik dan aspek psikis, dengan segala komponennya yaitu emosi, psikososial, mental, pola pikir, dan komponen yang lain. Diri merupakan sesuatu yang dapat dilihat melalui panca indra yaitu mata. Diri yang dapat dilihat inilah merupakan aspek fisik yang ada dalam diri. Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Menurut Hurlock (1978:237), pemahaman atau gambaran seseorang mengenai dirinya dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek fisik dan aspek psikologis. Gambaran fisik diri menurut Hurlock, terjadi dari konsep yang dimiliki individu tentang penampilannya, kesesuaian dengan seksnya, arti penting tubuhnya dalam hubungan dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan tubuhnya di mata orang lain. Sedangkan gambaran psikis diri atau psikologis terdiri dari konsep individu tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan hubungannya dengan orang lain.

Konsep diri tidak dibawa sejak lahir tetapi secara bertahap sedikit demi sedikit  timbul sejalan dengan berkembangnya kemampuan persepsi individu. Konsep diri manusia terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seseorang dari kecil hingga dewasa. Bayi yang baru lahir tidak memiliki konsep diri karena mereka tidak dapat membedakan antara dirinya dengan lingkungannya. Menurut Allport (dalam Skripsi Darmayekti, 2006:21) bayi yang baru lahir tidak mengetahuui tentang dirinya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan konsep diri, antara lain usia
Konsep diri terbentuk seiring dengan bertambahnya usia, dimana perbedaan ini lebih banyak berhubungan dengan tugas-tugas perkembangan, Berikutnya inteligensi yaitu semakin tinggi taraf intreligensinya semakain baik penyesuaian dirinya dan lebih mampu bereaksi terhadap rangsangan lingkungan atau orang lain dengan cara yang dapat diterima. Hal ini jelas akan meningkatkan konsep dirinya, Selanjutnya tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan prestisenya, status sosial seseorang mempengaruhi bagaimana penerimaan orang lain terhadap dirinya. Penerimaan lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri seseorang, seseorang yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama, selanjutnya mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu. Bagaimana anda mengenal diri lewat oranglain, akan membentuk konsep diri sendiri serta kelompok - kelompok yang secara emosional mengikat individu, dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep dirinya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 13 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 20 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 22 jam lalu


HIGHLIGHT

Menulis? Lakukan Saja! …

Imam Rahmanto | 8 jam lalu

Ketika Ceu Popong Kehilangan Palu… …

Irawan | 8 jam lalu

Adu Seksi dan Montok di Senayan, Siapakah …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Anis Matta Dibidik KPK …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Ouw, Anggota DPR Sekarang Persis Anak PAUD …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: