Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mahasiswa Dalam Mencari Jati Diri

OPINI | 01 January 2011 | 02:11 Dibaca: 393   Komentar: 0   0

Prestasi adalah nikmat, tidak semua orang mendapatkan ni’mat yang begitu diharapkan mahasiswa. Begitupun juga menjadi anggota DPR adalah sebuah ni’mat yang diamanahkan oleh rakyat. Dalam bekerja ada sisi-sisi yang seharusnya dihindarkan, pekerjaan ibarat sebuah bisnis-menguntungkan kita atau merugikan kita.Tetapi menguntungkan harus dua level yaitu, dunia-akhirat. Aktivis mahasiswa adalah pekerjaan dengan karakter bisnis deal or no deal dengan pemerintah. Namun, jika melihat kondisi aktivis mahasiswa sekarang, jauh berbeda dengan dahulu. Militansi dan kepatriotisme cenderung berkurang dalam jati diri aktivis mahasiswa. Hal ini berkaitan dengan adanya sisi negatif para aktivis mahasiswa. Memang sifat manusia yang jelek itu adalah sombong, bisa di samakan dengan terlalu tinggi menilai dirinya. Ego selalu didahulukan sehingga selalu kebrobokan dalam menganalisa masalah. Mahasiswa seharusnya dapat menempatkan diri pada tempatnya.

Aktivis mahasiswa yang penting adalah Pertama, Idealisme-merupakan hal yang penting yang harus terpatri dalam jati diri mahasiswa. Memiliki keberpihakan yang benar yaitu berpihak kepada rakyat. Kedua, menghargai orang lain-secara tidak langsung mahasiswa sebagai aktivis berinteraksi langsung dengan masyarakat dan sikap inilah yang perlu dimiliki oleh aktivis mahasiswa. Ketiga, berintegritas tinggi-Aktivis mahasiswa adalah kaum intelektual yang berwawasan,selalu mengedepankan pikiran-pikiran intelektual, tidak hanya kritis tetapi solutif.

Kebanyakan_para aktivis mahasiswa terlalu terobsesi ingin bertemu dengan tokoh-tokoh politik negara. Tetapi kita harus ingat sejarahnya untuk menjadi tokoh-tokoh tersebut. Kita harus sabar bahwa tidak mudah untuk menjadi tokoh-tokoh tersebut, butuh perjuangan, semangat, bahkan finansial sekalipun.

Untuk kegiatan yang dilakukan pasca kampus adalah berdasar kompetensi. Aktivis mahasiswa mampu menilai dirinya untuk berkontribusi di bidang apa. Harus ada usaha yang tidak mudah untuk menjadi yang diinginkan. Misalkan menjadi entrepruneurship dibidang tertentu, sebab negara ideal 4 % penduduknya harus menjadi pengusaha. Sedangkan Indonesia baru hanya 0.08% untuk kepemilikan pengusaha/kelas menengah yang memilih aset diatas 2 Miliar. Lalu, apa yang harus diperbuat ? Lakukan sekarang jangan terlalu lama menilai kompetensi kita yang jelas-jelas sudah ada. Jangan sampai kita salah menempatkan diri. Kompetensi harus jelas karena itu merupakan posisi tawar. Maka harus bisa mendefenisikan kompetensi secara jelas dan jangan berjuang sendiri karena kita jama’ah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 6 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 9 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 13 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: