Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mahasiswa Dalam Mencari Jati Diri

OPINI | 01 January 2011 | 02:11 Dibaca: 399   Komentar: 0   0

Prestasi adalah nikmat, tidak semua orang mendapatkan ni’mat yang begitu diharapkan mahasiswa. Begitupun juga menjadi anggota DPR adalah sebuah ni’mat yang diamanahkan oleh rakyat. Dalam bekerja ada sisi-sisi yang seharusnya dihindarkan, pekerjaan ibarat sebuah bisnis-menguntungkan kita atau merugikan kita.Tetapi menguntungkan harus dua level yaitu, dunia-akhirat. Aktivis mahasiswa adalah pekerjaan dengan karakter bisnis deal or no deal dengan pemerintah. Namun, jika melihat kondisi aktivis mahasiswa sekarang, jauh berbeda dengan dahulu. Militansi dan kepatriotisme cenderung berkurang dalam jati diri aktivis mahasiswa. Hal ini berkaitan dengan adanya sisi negatif para aktivis mahasiswa. Memang sifat manusia yang jelek itu adalah sombong, bisa di samakan dengan terlalu tinggi menilai dirinya. Ego selalu didahulukan sehingga selalu kebrobokan dalam menganalisa masalah. Mahasiswa seharusnya dapat menempatkan diri pada tempatnya.

Aktivis mahasiswa yang penting adalah Pertama, Idealisme-merupakan hal yang penting yang harus terpatri dalam jati diri mahasiswa. Memiliki keberpihakan yang benar yaitu berpihak kepada rakyat. Kedua, menghargai orang lain-secara tidak langsung mahasiswa sebagai aktivis berinteraksi langsung dengan masyarakat dan sikap inilah yang perlu dimiliki oleh aktivis mahasiswa. Ketiga, berintegritas tinggi-Aktivis mahasiswa adalah kaum intelektual yang berwawasan,selalu mengedepankan pikiran-pikiran intelektual, tidak hanya kritis tetapi solutif.

Kebanyakan_para aktivis mahasiswa terlalu terobsesi ingin bertemu dengan tokoh-tokoh politik negara. Tetapi kita harus ingat sejarahnya untuk menjadi tokoh-tokoh tersebut. Kita harus sabar bahwa tidak mudah untuk menjadi tokoh-tokoh tersebut, butuh perjuangan, semangat, bahkan finansial sekalipun.

Untuk kegiatan yang dilakukan pasca kampus adalah berdasar kompetensi. Aktivis mahasiswa mampu menilai dirinya untuk berkontribusi di bidang apa. Harus ada usaha yang tidak mudah untuk menjadi yang diinginkan. Misalkan menjadi entrepruneurship dibidang tertentu, sebab negara ideal 4 % penduduknya harus menjadi pengusaha. Sedangkan Indonesia baru hanya 0.08% untuk kepemilikan pengusaha/kelas menengah yang memilih aset diatas 2 Miliar. Lalu, apa yang harus diperbuat ? Lakukan sekarang jangan terlalu lama menilai kompetensi kita yang jelas-jelas sudah ada. Jangan sampai kita salah menempatkan diri. Kompetensi harus jelas karena itu merupakan posisi tawar. Maka harus bisa mendefenisikan kompetensi secara jelas dan jangan berjuang sendiri karena kita jama’ah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 5 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 7 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 9 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 10 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: