Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Unik Mahanani Safitri

saya unik anak indonesia

TEORI PIAGET DAN VYGOTSKY

OPINI | 01 January 2011 | 20:24 Dibaca: 6253   Komentar: 0   0

TEORI PIAGET TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF

Teori Piaget adalah kisah terpadu yang menjelaskan bagaiman faktor biologis dan pengalaman membentuk perkembangan kognitif. Piaget berpikir sebagaimana tubuh fisik kita memiliki struktur yang memampukan kita beradaptasi dengan dunia. Piaget menekankan bahwa anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka sendiri , informasi dari lingkungan tidak begitu saja dituangkan ke dalam pikiran pikiran mereka.

Proses-proses Perkembangan

Piaget yakin bahwa proses-proses penting tersebut meliputi:

1. Skema

Dalam teori Piaget, aksi atau representasi mental yang mengorganisasikan pengetahuan. Skema bayi disusun oleh tindakan sederhana yang diterapkan pada objek-objek tertentu, contohnya tindakan menyusu, melihat, menggenggam. Anak-anak yang lebih tua memiliki skema yang meliputi berbagai strategi dan perencanaan untuk mengatasi masalah. Saat mencapai masa dewasa, menyusun beragam skema dalam jumlah amat besar.

2. Asimilasi

Asimilasi terjadi ketika anak-anak memasukkan informasi baru ke dalam skema-skema yang ada.

3. Akomodasi

Akomodasi terjadi ketika anak-anak menyesuaikan skema-skema mereka dengan informasi dan pengalaman-pengalaman baru.

4. Organisasi

Adalah pengelompokan perilaku-perilaku dan pemikiran-pemikiran yang terisolasi ke dalam sistem yang lebih teratur dan lebih tinggi.

5. Penyeimbangan

Adalah suatu mekanisme yang diajukan Piaget untuk bagaimana anak-anak berpindah dari suatu tahapan pemikiran ke tahapan pemikiran berikutnya. Perpindahan ini terjadi karena anak mengalami konflik kognitif kognitif dalam usahanya memahami dunia sampai akhirnya dapat menyelesaikan konflik tersebut dan mencapai suatu keseimbangan pemikiran.

Hasil proses-proses ini, menurut Piaget adalah individu-individu mengalami empat tahapan perkembangan. Tahapan itu meliputi:

1. Tahapan Sensorimotor

Tahap perkembangan pertama menurut Piaget, berawal dari kelahiran sampai usia 2 tahun; bayi menyusun pemahaman duniawi dengan mengkoordinasi pengalaman sensoris (contohnya melihat dan mendengar) dengan aksi motorik.

Piaget membagi tahapan ini menjadi 6 subtahapan yaitu:

a. Refleks-refleks Sederhana

Sensasi dan tindakan dikoordinasikan melalui perilaku refleks.

b. Kebiasaan-kebiasaan (habits) yang pertama dan reaksi-reaksi sirkuler primer

Bayi mengkoordinasi sensasi dengan dua tipe skema yaitu : kebiasaan dan reaksi sirkuler primer.

Kebiasaan adalah skema yang didasarkan pada suatu refleks yang seluruhnya terpisah dari stimulus yang mendatangkannya.

Reaksi sirkuler primer adalah sebuah skema yang didasarkan pada usaha menghasilkan kembali suatu kejadian yang awalnya terjadi secara kebetulan.

c. Reaksi-reaksi Sirkuler Sekunder

Bayi menjadi lebih berorientasi pada objek, berpindah dari keasyikan dirinya sendiri. Skema yang dibentuk oleh bayi tidaklah dibentuk dengan sengaja.

d. Koordinasi terhadap reaksi sirkuler sekunder

Mengkoordinasikan pandangan dan sentuhan, gerakan menjadi lebih terarah.

e. Reaksi-reaksi sirkuler tersier, kesenangan baru, dan keingintahuan

Reaksi sirkuler tersier adalah skema dimana bayi secara sadar mengeksplorasi berbagai kemungkinana baru atas objek-objek di sekitarnya. Menandai dimulainya keingintahuan manusia dan minat terhadap kesenangan baru.

f. Skema-skema internalisasi

Bayi mengembangkan kemampuan menggunakan simbol-simbol promitif yang memampukan bayi berpikir tentang kejadian-kejadian konkret tanpa harus memperagakannya atau merasakannya.

2. Tahapan Praoperasional

Tahap kedua perkembangan Piaget, di usia 2-7 tahun; anak mulai menggambarkan dunia melalui gambar, kata dan coretan. Pemikiran praoperasional dapat dibagi menjadi sub-sub tahapan, yaitu:

a. Fungsi Simbolik

Pada tahap ini, anak meraih kemampuan untuk mewakili objek yang tak terlihat secara mental

b. Pemikiran Intuitif

Anak mulai mempraktekkan penalaran primitif dan ingin mengetahui jawaban dari berbagai pertanyaan.

3. Tahapan Operasional Konkret

Tahap ketiga Piaget, pada sekitar usia 7-11 tahun; anak mampu melakukan tidakan operatif, dan nalar logis menggantikan nalar intuitif sepanjang nalar tersebut bisa diterapkan pada cotoh spesifik dan konkret.

4. Tahapan Operasional Formal

Tahap keempat dan terakhir menurut Piaget, muncul sekitar usia 11-15; individu bergerak melewati pengalaman konkret dan berpikir secara lebih abstrak dan logis.

Tahapan

Rentang Usia

Deskripsi

Sensorimotor

0 hingga 2 tahun

Bayi memperoleh pengetahuan tentang dunia dari tindakan-tindakan fisik yang mereka lakukan. Bayi mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensorik dengan tindakan-tindakan fisik, seseorang bayi berkembang dari tindakan refleksif, instingtif pada saat kelahiran hingga berkembangannya pemikiran simbolik awal pada akhir tahapan ini.

Praoperasional

2 hingga 7 tahun

Anak mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya. Pemikiran-pemikiran simbolik, yang direfleksikan dalam penggunaan kata-kata dan gambar-gambar mulai digunakan dalam penggambaran mental, yang melampaui hubungan informasi sensorik dengan tidakan fisik. Akan tetapi, ada beberapa hambatan dalam pemikiran anak pada tahapan ini, seperti egosentrisme dan sentralisme

Operasional Konkret

7 hingga 11 tahun

Anak mampu berpikir logis mengenai kejadian-kejadian konkret, memahami konsep percakapan, mengorganisasikan objek menjadi kelas-kelas hierarki (klasifikasi) dan menempatkan objek-objek dalam urutan yang teratur (serialisasi)

Operasional Formal

11 tahun hingga masa dewasa

Remaja berpikir secara lebih abstrak, idealis, dan logis (hipotetis-deduktif)

TEORI VYGOTSKY TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF

Seperti Piaget, Vygotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka. Akan tetapi menurut Vygotsky, fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi sosial. Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sistematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong yang ahli.

1. Konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)

Zona Perkembangan Proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan bantuan dan bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih.

Batas bawah dari ZPD adalah tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri.

Batas atas adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur,

2. Konsep Scaffolding

Scaffolding ialah perubahan tingkat dukungan. Scaffolding adalah istilah terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk mendeskripsikan perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang lebih terampil mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak.

Dialog adalah alat yang penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi tidak sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog, konsep-konsep tersebut dapat dipertemukan dengan bimbingan yang sistematis, logis dan rasional.

3. Bahasa dan Pemikiran

Menurut Vygotsky, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini menggunakan bahasa unuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka.

Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan ke dalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa untuk jangka waktu yang lama sebelum mereka membuat transisi dari kemampuan bicara ekternal menjadi internal.

PERBANDINGAN TEORI VYGOTSKY DAN TEORI PIAGET

Vygotsky

Piaget

Konteks Sosiobudaya

Penekanannya kuat

Penekanannya sedikit

Kontruktivisme

Kontruktivis Sosial

Kontruktivis kognitif

Tahapan

Tidak ada tahapan umum yang diusulkan

Penekanannya kuat pada beberapa tahapan (sensorimotor, prsoperasional, operasional konkret, operasional formal).

Proses kunci

Zona Perkembangan Proksimal, bahasa, dialog, alat-alat budaya

Skema, asimilasi, akomodasi, operasi, konservasi, klasifikasi, pemikiran hipotetis- deduktif

Peran bahasa

Sangat penting, bahasa memiliki peran kuat dalam menajamkan pemikiran

Bahasa memiliki peran minimal; kognisi secara penuh mengarahkan bahasa

Pandangan terhadap pendidikan

Pendidikan memegang peranan penting dalam membantu anak mempelajari alat-alat budaya

Pendidikan hanya menyempurnakan keahlian kognitif anak yang telah muncul sebelumnya

Implikasi pengajaran

Guru adalah fasilitator dan pembimbing, bukan direktur sehingga seyogyanya membuat banyak kesempatan bagi anak untuk belajar dengan guru dan teman sebaya yang lebih terampil

Juga berpandangan bahwa guru adalah fasilitator dan pembimbing bukan direktur, memberikan dukungan kepada anak untuk mengeksplorasi dunia dan menemukan pengetahuan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Bos Arus Liar Bicara Bisnis Arung Jeram …

Tuan Yuda | 7 jam lalu

Fenomena Penipuan Berkedok Bisnis Online …

Alan Budiman | 7 jam lalu

5 Artis Ibukota Tes HIV Diam-diam di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Uji Kompetensi Keperawatan Nasional Luar …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Hidup Sederhana, Gak Punya Apa-apa tapi …

Natalia Karyawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: