
Ustadz Funky, Mahasiswa Pascasarjana UNJ Prodi Teknologi Pendidikan, Senang mengamati masalah sosial
Dibaca: 188
Komentar: 4
Nihil
Beberapa waktu yang lalu, penulis diajak Ibunda tercinta untuk menyaksikan khataman Quran yang dilakukan oleh para siswa yang masih kelas 3 SD. Awalnya terbayang acara khataman yang banyak dilakukan di kampung-kampung, anak yang telah khatam membaca Al-Quran dari Juz pertama sampai Juz terakhir. Oleh orang tua anak tersebut, sebagai bentuk rasa syukur dan untuk memberikan bekasan yang baik kepada anak-anak, maka para orang tua si anak melakukan “selametan” dengan mengundang banyak orang dan para tokoh kampung.

Ternyata saya salah, selametan yang dilakukan kali ini di Indramayu adalah selametan yang lebih tinggi, yakni selametan anak kelas 3 SD melakukan terjemah Al-Quran. Ya, seorang anak dengan usia relatif dibawah 10 tahun mampu merinci kaidah-kaidah bahasa yang tercantum di dalam Al-Quran dan memberikan arti yang dimaksud. Saya bengong, dan hampir tidak percaya, dan bahkan tidak akan percaya dengan omongan orang jika tidak menyaksikan sendiri, ada seorang anak dengan kepolosan yang ada, mampu menerjemahkan Al-Quran kata demi kata.





Ada lebih dari 10 orang anak yang melakukan khataman, yang berarti menunjukkan methode yang terapkan sangat mungkin untuk disebar-luaskan. Jika hanya 1 orang, mungkin kita dapat mendebat methode tersebut belum layak untuk diajarkan kepada pihak lain, namun jumlah ini telah membantahnya, tidak perlu kemampuan khusus atau pun IQ tinggi untuk memahami Al-Quran. Mengartikan Al-Quran dengan mudah dengan menggunakan methode Tamyiz.
20 – 50 tahun yang lalu, sebelum methode Iqro ditemukan dan diajarkan, rasanya masih sangat jarang kita temui seorang anak kecil kelas 1 SD lancar baca Al-Quran, waktu itu masih menggunakan methode “Baghdadi”, yakni methode yang mengharuskan kita hafal huruf terlebih dahulu dan kemudian memberikanya harakat (baris), a – i – u, an – in – un, ban – bin – bun, tan – tin – tun. Namun era itu telah lewat, anak usia 3 tahun bisa kita ajari methode Iqro yang memberikan kemudahan dalam belajar membaca Al-Quran dan akan lancar membaca Al-Quran sebelum masuk SD. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah suatu mukjizat.
Satu lagi mukjizat Al-Quran telah ditemukan setelah methode Iqro, yakni methode menerjemahkan Al-Quran dengan mudah dan cepat. Ajaib, dengan menekuninya selama 100 jam, Insya Allah anda dapat menerjemahkan Al-Quran dengan mudah, dengan catatan anda telah mampu membaca Al-Quran secara baik tentunya.
Dalam 100 jam, anda akan belajar tentang asal kata, perubahan kata, dan kosa kata dalam bahasa arab, ternyata lebih dari 50% kosa kata di dalam Al-Quran merupakan pengulangan, sehingga kita tidak terlalu berat untuk memahaminya. Dengan sistem pembelajaran yang menarik dan penuh dengan trik-trik baru untuk menghapalnya, maka pembelajaran Tamyiz ini sangat baik untuk kita coba.
Bagaimana dengan orang yang sudah sedikit menguasai bahasa arab, seperti alumni pondok pesantren? Untuk mereka yang telah menguasai dan pernah belajar bahasa arab, kemungkinan hanya perlu pengulangan dan penguatan-penguatan kaidah bahasa ditambah lagi dengan kosa katanya. Sebagian klasifikasi tipe ini hanya membutuhkan sekitar 24 – 50 jam saja untuk bisa menerjemahkan Al-Quran.
Siapa tokoh dibalik penemuan methode Tamyiz ini, tidak lain adalah Zain Fattin. Beliau tidak pernah berhenti untuk mengembangkan methode belajar Al-Quran ini, dengan satu pertanyaan yang selalu menggelitik di dalam hatinya, “Al-Quran adalah wahyu Allah, maka Allah akan memudahkan hambaNya untuk mempelajarinya. Al-Quran adalah mukjizat terbesar untuk Nabi Muhammad dan merupakan mukjizat terbesar untuk alam ini, maka pasti ada kemudahan untuk membumikannya di dalam hati kita”. Seluruh waktunya diwakafkan untuk pengembangan Al-Quran, baik diajarkan secara berkelompok, maupun individu. Beliau mencanangkan 1 juta pembelajar Tamyiz untuk tahun 2011, dan akan disebarkan di Asia maupun dunia. Dalam rangka pengajaran ini, Beliau telah mempersiapkan trainer-trainer yang berkualitas yang dilatih secara khusus, ditambah lagi dengan kemampuan mengajarkan dalam bahasa Inggris.
Tamyiz merupakan sumbangan yang tak ternilai untuk pengembangan agama Islam, terutama di bumi kita Indonesia tercinta. Sebagai anak bangsa, saya turut merasa bangga, ternyata methode ini ditemukan dan dikembangkan oleh anak Indonesia, tanpa harus menggunakan teori-teori pembelajaran yang rumit, ataupun menggunakan teknologi komputer yang mahal, cukup dengan ketekunan dan kesungguhan hati.
Mari kita “bumikan Al-Quran” di dalam hati, raga dan keluarga kita, dengan tahu akan arti dari setiap bacaan Al-Quran. Wallahu ‘Alamu Bishawwab