Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nurina Wati

Mahasiswa PGSD SI SEMESTER VII FKIP UNS KEBUMEN NIM X7209070

Manajemen Pendidikan

OPINI | 04 January 2011 | 09:59 Dibaca: 10182   Komentar: 0   0

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakamg Masalah

Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan SDM yang akan menopang gerak pembangunan. Dalam era reformasi yang diikuti oleh pemberlakuan otonomi daearah berdasarkan Undang-Undang nomor 2 tahun 1999 serta Undang-undang nomor 25 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah memiliki dampak logis pada kewenangan daerah yang semakin otonom, termasuk di dalamnya menyangkut bidang pendidikan. Pendidikan yang sebelumnya dikelola oleh pusat (sentralisasi) dikembalikan kepada daerah. Dengan kebijakan ekonomi makronya, memberikan imbas terhadap otonomi sekolah sebagai sub sistem pendidikan nasional mengharuskan pemerintah melakukan rekontruksi kebijakan dalam upaya mengontrol peningkatan mutu, efisiensi dan relefansi pendidikan serta pemerataan pelayanan pendidikan, upaya-upaya tersebut tercermin dalam tindakan berikut: 1. Upaya peningkatan mutu dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standar pendidikan, yaitu melalui konsensus nasional. Standar kompetensi yang memungkinkan adanya perbedaan antar daerah akan menghasilkan standar kompetensi nasional dalam tingkatan standar minimal, normal dan unggulan. 2. Peningkatan efisiensi pengelolan pendidikan mengarah pada pengelolaan pendidikan berbasis sekolah dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada. 3. Peningkatan relevansi pendidikan mengarah pada pendidikan bebasis masyarakat serta orang tua dalam level kebijakan dan level operasional melalui komete (dewan) sekolah. 4. Pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan berkenaan dengan pengelolaan biaya pendidikan yang adil dan transparan.

Pendidikan sebagai investasi yang akan menghasilkan manusia-manusia yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pembangunan suatu bangsa. Manfaat (benefit) individu, social atau institusional akan diperoleh secara bervariasi. Akan tetapi, manfaat individual tidak akan diperoleh secara cepat (quick yielding), tetapi perlu waktu yang cukup lama, bahkan bisa satu generasi.

Organisasi pendidikan sebagai lembaga yang bukan saja besar secara fisik, tetapi juga mengemban misi yang besar dan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tentu saja memerlukan manajemen yang profesional. Manajemen pendidikan adalah suatu penataan bidang garapan pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, pembinaan, pengkoordinasian, pengkomunikasian, pemotivasian, penganggaran, pengendalian, pengawasan, penilaian dan pelaporan secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan secara berkualitas.

Persoalan-persoalan organisasi cenderung semakin ruwet, karena manusia baik sebagai individu maupun anggota kelompok selaku pendukung utama suatu organisasi maupun bentuknya, memiliki perilaku dan pembawaan yang berbeda-beda dan cenderung berkembang mempengaruhi perilaku organisasi. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh setiap manajer atau pimpinan organisasi.

Manajemen Pendidikan merupakan suatu proses kerjasama yang sistematik, sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan. Selain itu Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Manajemen baik tujuan jangka pendek , menengah dan jangka panjang. Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Karena tanpa Manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat terwujud secara optimal, efektif & efisien. Dalam kerangka inilah akan tumbuh kesadaran akan arti pentingnya Manajemen pendidikan yang memberikan kewenangan sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan & pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi, memepertanggungjawabkan, mengatur, serta memimpin SDM untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Mengapa manusia cenderung selalu berorganisasi?

2. Bagaimana organisasi dan manajemen pendidikan?

3. Bagaimana konsep, dasar – dasar dan prinsip manajemen pendidikan?

4. Bagaimana karakteristik manajemen pendidikan?

5. Apa kedudukan manajer dan leadership dalam manajemen pendidikan?

6. Bagaimana aktivitas dan dinamika manajemen pendidikan?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kecenderungan Manusia Berorganisasi

1. Hakikat Manusia

Terdapat beberapa pendapat pandangan tentang manusia antara lain pandangan psikoanalitik tradisional (dalam Hansen, Stevic dan Warner, 1977) menganggap bahwa manusia pada dasarnya digerakkan oleh dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif. Tingkah laku individu ditentukan dan dikontrol oleh kekuatan psikologis yang sejak semula sudah ada pada diri individu itu.

Freud mengemukakan bahwa struktur kepribadian individu terdiri dari tiga komponen yaitu yang disebut id, ego. Id mendasari berbagai insting manusia yang mendasari perkembangannya. Dua insting yang paling penting ialah insting seksual dan insting agresi. Insting-insting ini m3enggerakkan pemuasan diri. Kaum neo-analisis mengakui adanya komponen, id, ego dan super ego, namun lebih menekankan pentingnya ego sebagai pusat kepribadian. Ego tidak dipandang sebagai fungsi sebagai fungsi pengarah perwujudan id saja, melainkan sebagai fungsi pokok yang bersifat rasional dan bertanggungjawab atas tingkah laku intelektual dan social individu.

Selanjutnya pandangan Humanis (Rogers, 1961) mengemukakan bahwa pribadiindividu merupakan proses yang terus berjalan, suatu kekuatan yang tidak statis. Artinya individu merupakan satu kesatuan potensi yang terus berubah. Manusia pada hakekatnya dalam proses menjadi –on becoming- tidak pernah selesai, tidak pernah sempurna. Sedangkan Adler (1954) masih bergolong humanis, berpendapat bahwa manusia tidak semata-mata digerakkan oleh dorongan untuk memuaskan dirinya sendiri, namun sebaliknya manusia digerakkan dalam hidupnya sebagian oleh tanggung jawab sosial dan sebagian oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Selanjutnya Adler juga menyatakan bahwa individu melibatkan dirinya dalam mewujudkan diri sendiri dalam membantu orang lain, dan dalam membuat dunia ini menjadi lebih baik untuk ditempati.

Kaum behavioristik (dalam Hansen 1977) pada dasarnya menganggap bahwa manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang peilakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Lingkungan menjadi faktor penentu tunggal terhadap tingkah laku manusia.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Manusia dalam Kegiatan Berorganisasi.

Menurut DR Buchari Zainun (1987), lima faktor yang mendasari kegiatan manusia dalam berorganisasi yaitu:

a. faktor spesialisasi dan pembagian kerja.

Keharusan untuk adanya spesialisasi dan pembagian kerja, senagai akibat dari pertumbuhan organisasi serta pekembangan dan kemajuan teknologi. Keharusan ini harus disertai oleh kewaspadaan akan bahaya spesialisasi itu baik terhadap diri, organisasi yang bersangkutan maupun terhadap masyarakat pada umumnya. Bahaya spesialisasi terhadap seseorang dalam organisasi sering terjadi bilamana orang itu sudah demikian terpaku dalam pekerjaannya sehingga benar-benr tenggelam dalam keramaian tanpa melihat dimana dia berada.

b. faktor koordinasi.

Spesialisasi itu harus ada manfaat dan artinya bagi administrasi bilamana disertai dengan adanya koordinasi. Spesialisasi dan koordinasi tidak ubahnya seperti satu mata uang dengan dua sisi. Organisasi modern menuntut adanya golongan atau kelompok petugas yang merupakan spesialis, namun sama penting dan perananya dengan golongan itu dibutuhkan pula orang yang dapat bertindak sebagai generalis.

c. faktor tujuan

Koordinasi mewujudkan suatu organisasi yang lain daripada hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dengan koordinasi itu seluruh kegiatan serta usaha-usaha perseorangan dapat diarahkan kepada suatu tujuan tertentu. Karena itu kedua faktor terdahulu harus pula disertai dengan adanya suatu tujuan yang merupakan tujuan suatu kebijaksanaan pusat. Tujuan yang tercermin pada gambar kedua di atas juga merupakan suatu kebijaksanaan yang diperlukan oleh seorang generalis untuk mengarahkan seluruh kegiatan dalam rangka koordinasi. Maksud adanya satu kebijaksanaan itu adalah sebagai kerangka dasar seluruh kegiatan organisasi.

d. faktor prosedur kerja

Untuk merealisasikan tujuan atas kebijaksanaan yang telah ditetapkan prosedur kerja yang terperinci, teratur, dan terpercaya. Adanya faktor ini antara lain dapat mengurangi pemborosan waktu, tenaga dan biaya dengan mencegah kekeliruan dan kesalahan yang tidak perlu. Malah dapat meningkatkan penggunaan dan kegunaan semua faktor –faktor produksi yang tersedia dengan sebaik-baiknya.

e. faktor dinamika lingkungan.

Kenyataan bahwa organisasi dan administrasi itu berada dalam suatu lingkungan yang dinamis khususnya karena yang menjadi objek dan subjeknya adalah manusia yang hidup. Kecuali disentuh oleh dinamikanya peronalitas manusia, organisasi dan administrasi itu dipengaruhi oleh dinamika politik, pendapat umum, situasi masyarakat, perubahan-perubahan teknik modern, dan berbagai faktor ekologi administrasi lainnya.

Dinamika polotik dan pendapat umum jelas tampak umpamanya pada saat berlangsungnya pemilihan umum. Pada saat pemilihan umum ini biasanya terbentuk polarisasi pendapat umum terhadap pemerintah yang sedang berkuasa dan hasil-hasil kerjanya.

  1. Manusia dan Organisasi

Manusia adalah makhluk Tuhan YME yang kompleks dan unik dan diciptakan dalam integrasi dua substansi yang tidak dapat berdiri sendiri. Substansi pertama disebut tubuh (fisik/jasmani) sebagai unsur materi, sedang substansi kedua disebut jiwa (rohani/psikis) yang bersifat sebagai unsur non-materi. Dalam keterpaduan kedua substansi itu manusia menjalani hidup dan kehidupan yang kompleks dan unik. Salah satu keunikannya yang mendasar adalah kehidupannya yang dibekali dengan hakekat kemanusiaan (manusiawi) yang terdiri dari :

a. Hakekat Individualitas.

Setiap individu manusia menyadari identitasnya yang tidak sama dengan individu yang lain. Setiap individu menyadari identitasnya yang tidak sama secara fisik dan psikis dari individu yang lain. Dalam ketidaksamaan itu, setiap manusia tampil sebagai individualitas, dan memerlukan perlakuan sesuai individualitasnya masing-masing.

b. Hakekat Sosialitas.

Setiap masnusia sebagai individu memerlukan ndividu yang lain. Tidak seorangpun manusia di muka bumi ini yang dapat hidup sendiri dan menyendiri tanpa komunikasi dengan sesama manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki hakekat sosialitas (kebersamaan) berupa kecenderungan untuk berada bersama pada satu tempat dan waktu yang sama, dengan saling berinteraksi.

c. Hakekat Moralitas.

Setiap manusia sebagai individu untuk dapat hidup secara harmonis bersama individu yang lain dalam bentuk masyarakat harus mampu membatasi diri masing-masing.

Dari uraian-uraian diatas jelas kiranya bahwa terbentuknya organisasi khususnya dalam bentuk usaha atau perusahaan, oleh hakekat kemanusiannya. Usaha itu yang dilakukan manusia melalui organisasi termasuk dalam bentuk perusahaan, pada dasarnya tertuju pada pemenuhan kebutuhan (need) sebagai manusia. Kemampuan memenuhi kebutuhannya itu merupakan prasyarat penting dalam menempatkannya pada kedudukan sesuai manusia.

  1. Kebutuhan Manusia

Kebutuhan manusia antara lain :

a. Kebutuhan Fisik/Jasmaniah yang terdiri dari :

1. Kebutuhan Pangan (makan dan minum).

2. Kebutuhan Sandang (pakaian) dan Papan ( Perumahan).

3. Kebutuhan Seks (meneruskan keturunan).

4. Kebutuhan Kesegaran Jasmani berupa Udara Segar, Istirahat, dan Rekreasi termasuk Olah Raga.

b. Kebutuhan Psikologis yang terdiri dari:

1. Kebutuhan Rasa Aman (Fisik dan Pikir).

2. Kebutuhan akan Kepastian Masa Depan, termasuk memperoleh pendidikan yang memadai.

3. Kebutuha Sosial antara lain kebutuhan diakui/diterima dan dihormati, kebutuhan realisasi dan aktualisasi diri, kebutuhan kekuasaan dan lain-lain di dalam masyarakatnya.

c. Kebutuhan Spiritual.

Kebutuhan ini terutama sekali berbentuk kebebasan memeluk dan beribadah menurut agama masing-masing.

Dalam kenyataan Manajemen Sumber Daya Manusia dalam berorganisasi adalah untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhannya, sedang sebaliknya kebutuhan itu pulalah yang menjadi obyek manusia berorganisasi yang disebut perusahaan.

4. Kecenderungan Manusia untuk berorganisasi

Organisasi adalah sarana dalam pencapaian tujuan, yang merupakan wadah kegiatan dari orang-orang yang bekerjasama dalam usahanya mencapai tujuan. Organisasi juga merupakan sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

Sekelompok orang yang mendirikan sebuah organisasi tentu punya alasan yang kuat mengapa dan untuk apa mereka mendirikan organisasi tersebut. Ada dua alasan mengapa orang memilih berorganisasi:

a. Alasan sosial (social reason), sebagai “zoon politicon” artinya makhluk yang hidup secara berkelompok, maka manusia akan merasa penting berorganisasi demi pergaulan maupun memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat kita temui pada organisasi-organisasi yang memiliki sasaran intelektual atau ekonomi.

b. Alasan materi (material reason), melalui bantuan organisasi manusia dapat melakukan tiga macam hal yang tidak mungkin dilakukannya sendiri yaitu: (a) dapat memperbesar kemampuannya; (b) dapat menghemat waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu sasaran, melalui bantuan sebuah organisasi; (c) dapat menarik manfaat dari pengetahuan generasi-generasi sebelumnya yang telah dihimpun.

Dari penjelasan di atas dapat terlihat jelas bahwa organisasi mempunyai arti yang sangat penting bagi sebagian orang, karena organisasi merupakan alat dari manajemen untuk mencapai tujuan. Sekolah merupakan sallah satu contoh organisasi sosial yang formal. Dengan sekolah, kita diajarkan pergaulan yang baik, dimana hal tersebut bisa kita kaitkkan juga dengan mengapa orang memilih organisasi, dengan sekolah dapat memperbesar kemampuan dari masing-masing siswa, dari yang tidak tahu menjadi tahu, menghemat waktu yang diperlukan bagi siswa, tenaga pengajar, maupun dinas setempat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Organisasi diciptakan oleh manusia untuk mencapai tujuan, dan pada saat yang sama manusia juga membutuhkan organisasi untuk mengembangkan dirinya. Oleh sebab itu antara organisasi dan manusia memiliki hubungan yang saling membutuhkan dan menguntungkan.

B. Organisasi dan Manajemen Pendidikan

  1. Hakikat Organisasi

a. Makna Organisasi

Organisasi itu merupakan:

1) Kumpulan – kumpulan individu

organisasi merupakan kumpulan orang yang berserikat dan bekerjasama. Hanya sekumpulan manusia saja yang dapat dikategorikan sebagai suatu organisasi.

2) memiliki Tujuan

walaupun terdapat sekumpulan orang namun mereka tidak memiliki tujuan yang sama maka tidak dapatdikatakan berorganisasi.

3) Koordinasi

setelah terdapat dua criteria di atas, agar memudahkan dalam pencapaian tujuan, maka perlu ada pengkoordinasian. Pengkoordinasian ini penting agar organisasi dapat terarah.

Organisasi di sekolah dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses untuk memilih dan memilah orang – orang (guru dan personel sekolah lainnya) serta mengalokasikan sarana dan prasarana untuk menunjang tugas – tugas orang itu dalam rangka mencapai tuuan sekolah.

b. Ciri-ciri Organisasi

Ciri umum dari organisasi yaitu:

1) sebuah organisasi senantiasa mencakup sejumlah orang;

2) orang-orang tersebut terlibat satu sama lain dengan satu atau lain cara, artinya mereka semua berinteraksi;

3) interaksi tersebut selalu dapat diatur atau diterangkan dengan jenis struktur tertentu;

4) masing-masing orang di dalam organisasi memiliki sasaran-sasaran pribadi, beberapa diantaranya merupakan alasan bagi tindakan-tindakan yang dilakukannya.

c. Elemen-elemen Organisasi

Organisasi mempunyai beberapa elemen-elemen yaitu:

1) Manusia;

2) tujuan tertentu;

3) pembagian tugas-tugas;

4) sebuah sistem untuk mengkoordinasi tugas-tugas;

5) sebuah batas yang dipatok, yang menunjukkan pihak yang berada di luarnya.

Sedangkan menurut Chester I. Barnard organisasi mengandung tiga elemen, yaitu:

1) kemampuan untuk bekerja sama;

2) tujuan yang ingin dicapai;

3) komunikasi.

d. Proses Pengorganisasian

Organisasi memiliki empat unsur yaitu:

1) organisasi merupakan suatu sistem, terdiri dari sub sistem atau bagian-bagian yang dalam melaksanakan aktivitasnya saling berkaitan satu sama lain;

2) pola aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang di dalam organisasi pada umumnya mengikuti pola tertentu dengan urutan pola kegiatan relatif teratur dan berulang-ulang;

3) sekelompok orang/individu, organisasi pada dasarnya merupakan kumpulan orang-orang, setiap manusia mempunyai keterbatasan baik kemampuan fisik, daya pikir maupun waktu. Oleh karena itu mereka berorganisasi, agar dapat saling bekerja sama dan melengkapi untuk mencapai tujuan yang telat ditetapkan;

4) tujuan organisasi, organisasi didirikan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan organisasi terbagi dua, yaitu tujuan jangka panjang bersifat abstrak (misi) dan tujuan jangka pendek =tujuan operasional (obyektif).

e. Struktur Organisasi

Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membbebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi.

Proses pengorganisasian meliputi beberapa tahap: Pertama, pemerincian pekerjaan yaitu menentukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Kedua, pembagian kerja yaitu membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseorangan atau perkelompok. Ketiga, penyatuan pekerjaan yaitu dengan cara yang rasional, efisien. Penyatuan kerja ini biasanya disebut departementalisasi. Keempat, kooordinasi pekerjaan yaitu mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yyang harmonis. Kelima, melakukan monitoring dan reorganisasi.

Menurut E. Kast dan James Rosenzweig (1974) struktur diartikan sebagai pola hubungan komponen atau bagian suatu organisasi. Struktur merupakan sistem formal hubungan kerja yang membagi dan mengkoordinasikan tugas orang dan kelompok agar tercapai tujuan. Menurut simon (1958) struktur itu sifatnya relatif stabil, statis, dan berubah lambat atau memerlukan waktu untuk penyesuaian-penyesuaian. Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja, pembagian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan, hubungan atasan dan bawahan, kelompok, komponen atau bagian, tingkat manajemen dan saluran komunikasi.

Menurut Stoner, (1986) struktur organisasi dibangun oleh lima unsur, yaitu: 1) spesialisasi aktivitas; 2) standardisasi aktivitas; 3) koordinasi aktivitas; 4) sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan; dan 5) ukuran unit kerja.

Spesialisasi aktivitas mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan kelompok di seluruh organisasi atau pembagian kerja dan penyatuan tugas tersebut ke dalam unit kerja (departementalisasi)

Standar aktivitas merupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayakgunaan aktivitas. Menstandardisasi berarti menjadikan seragam dan konsisitem pekerjaan yang harus dilakukan bawahan, biasanya dengan menggunakan peraturan, uraian jabatan, dan program seleksi, orientasi kerja, keterampilan kerja.

Koordinasi aktivitas adalah prosedur yang memadukan fungsi-fungsi dalam organisasi, seperti fungsi primer dalam suatu badan usaha, pemasaran, produksi dan penjualan merupakan fungsi garis yang secara langsung menyumbangkan pada pencapaian tujuan organisasi memerlukan koordinasi.

Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan mengacu pada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan. Sentralisasi adalah proses kosentrasi wewenang dan pengambilan keputusan pada tingkat atas suatu organisasi. Keuntungan sistem sentralisasi antara lain pengaturan yang sama bagi semua unit dalam organisasi. Kelemahanya, bawahan tidak berkembang dan putusan oleh atasan menyita waktu lama, terlebih jika data ada pada bawahan. Untuk mengatasi hal itu, dilakukan pendelegasian wewenang pada semua tingkat organisasi yang disebut desentralisasi.

Ukuran unit kerja mengacu pada jumlah pegawai dalam suatu kelompok kerja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian menyangkut penentuan pekerjaan, pembagian kerja, penetapan mekanisme untuk mengkoordinasikan kegiatan, salah satu hasil dari proses ini adalah struktur organisasi yang merupakan prosedur formal manajemen organisasi.

  1. Manajemen

a. Makna Manajemen

Manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang selanjutnya menjadi cikal bakal manajemen sebagai suatu profesi. Manajemen sebagai suatu ilmu menekankan perhatian pada keterampilan dan kemampuan manajerial yang diklasifikasikan menjadi kemampuan/keterampilan teknikal, manusiawi dan konseptual.

Manajemen sebagai proses yaitu dengan menetukan langkah yang sistematis dan terpadu sebagai aktivitas manajemen.

Manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya (style) seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan.

Dengan demikian manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara produktif, efektif dan efisien.

b. Makna Manajemen Pendidikan

1) Manajemen pendidikan mempunyai pengertian kerjasama untuk mencapa tujuan pendidikan. Seperti kita ketahui, tujuan pendidikan itu merentang daru tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks, tergantung lingkup dan tingkat pengertian pendidikan mana yang dimaksud.

2) Manajemen pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian.

a) Perencanaan

Meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, berapa lama, berapa orang yang diperlukan dan berapa banyak biayanya. Perencanaan itu dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan.

b) Pengorganisasian

Diartikan sebagai kegiatan membagi tugas – tugas kepada orang yang terlibat kerjasama pendidikan tadi. Karena tugas yang demikian banyak dan tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, maka tugas – tugas dibagi untuk dikerjakan masing – masing anggota organisasi.

c) Pengkoordinasian

Mengandung makna menjaga agra tugas – tugas yang telah dibagi itu dapat dikerjakan menurut kehendak yang mengerjakannya saja, tetapi menurut aturan sehingga menyumbang terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan disepakati.

d) Pengarahan

Pengarahan diperlukan agar kegiatan yang dilakukan bersama itu tetap melalui jalur yang telah ditetapkan, tidak terjadi penyimpangan yang dapat menimbulkan terjadinya pemborosan.

e) Pemantauan

Yaitu suatu kegiatan untuk mengumpulkan data dalam usaha mengetahui sudah sampai seberapa jauh kegiatan pendidikan yang telah mencapai tujuannya, dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksanaan itu. Dengan perkataan lain, kegiatan pemantauan atau monitoring adalah kegiatan untuk mengumpulkan data tentang penyelenggaraan suatu proses pencapaian tujuan.

3) Manajemen pendidikan dapat dilihat dengan kerangka berpikir sistem. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian – bagian dan bagian – bagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran.

4) Manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari segi efektivitas pemanfaatan sumber. Jika manajemen dilihat dari sudut ini, perhatian tertuju kepada usaha untuk melihat apakah pemanfaatan sumber – sumber yang dalam mencapai tujuan pendidikan itu sudah mencapai sasaran yang ditetapkan dan apakah dalam pencapaian tujuan itu terjadi pemborosan.

5) Manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari segi kepemimpinan. Hal ini merupakan usaha untuk menjawab pertanyaan bagaimana dengan kemampuan yang dimiliki administrator pendidikan itu.

6) Manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari proses pengambilan keputusan. Kita tahu bahwa melaksanakan kerjasama dan memimpin kegiatan sekelompok orang bukanlah pekerjaan yang mudah.

7) Manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari segi komunikasi. Komunikasi dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha untuk membuat orang lain mengerti apa yang kita maksudkan dan kita mengerti apa yang dimaksudkan orang lain tersebut.

8) Manajemen seringkali diartikan dalam pengertian yang sempit yaitu kegiatan tata usaha yang intinya adalah kegiatan rutin catat mencatat, mendokumentasikan kegiatan, menyelenggarakan surat – menyurat dengan segala aspeknya serta mempersiapkan laporan.

Hal yang berbeda antara organisasi dan manajemen adalah organisasi sebagai alat atau wadah sekelompok orang dalam mencapai tujuan tertentu, sedangkan manajemen lebih mengarah kepada pengaturan atau pengelolaan untuk mencapai tujuan tersebut, adapun persamaan dari organisasi dan manajemen adalah sama-sama memiliki sasaran dan tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Secara sederhana manajemen pendidikan merupakan proses manajemen dalam pelaksanaan tugas pendidikan dengan mendayagunakan segala sumber secara efisien untuk mencapai tujuan secara efektif. Menurut Brucbeker educatation should be trough of as process of man reciprocal adjusman to nature. Dinyatakan bahwa pendidikan merupakan proses timbal balik antara kepribadian individu dalam penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan. Yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan adalah suatu upaya yang diciptakan untuk membantu kepribadian individu tumbuh dan berkembang serta bermanfaat bagi kehidupan.

Pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, sikap sosial, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Manajemen pendidikan adalah suatu penataan bidang garapan pendidikan yang dilakukan melalui aktiviitas perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, pembinaan, pengkoordinasian, pengkomunikasian, pemotivasian, penganggaran, pengendalian, pengawasan, penilaian dan pelaporan secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan secara berkualitas.

Tujuan manajemen pendidikan meliputi: (1) produktivitas, yaitu perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber yang dipergunakan (input); (2) kualitas, yaitu menunjuk kepada suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan atau dikenakan kepada barang (products) dan atau jasa (service) tertentu berdasarkan pertimbangan objektif atas bobot atau kinerjanya; (3) efektivitas, yaitu ukuran keberhasilan tujuan organisasi; (4) efisiensi, yaitu berkaitan dengan cara yaitu membuat sesuatu dengan betul. Suatu kegiatan dikatakan efisien bila tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan atau pemakaian sumber daya yang minimal.

C. Konsep, dasar-dasar, dan Prinsip Manajemen Pendidikan

  1. Konsep Dasar Manajemen Pendidikan

a. Kerangka Konsep

Shrode Dan Voich (1986) menyatakan bahwa Kerangka dasar manajemen mrliputi “Philosophy, Asumiious, Principles, and Theory, Whivh are basic to the study of any disclipline of management”. Secara sederhana dikatakan bahwa falsafah merupakan pandangan atau persepsi tentang kebenaran yang dikembangkan dari berpikir praktis. Bagi seorang manajer falsafah merupakan cara berpikir yang telah terkondisikan dengan lingkungan. Perangkat organisasi, nilai-nilai dan keyakinan yang mendasari tanggung jawab seorang manajer. Falsafah seorang manajer dijadikan dasar untuk membuat asumsi-asumsi tentang lingkungan, peran organisasinya, dan atau garis besar untuk bertindak. Seperangkat prinsip yang berkaitan satu sama lain dikembangkan dan diuji dengan pengalaman sebelum menjadi suatu teori. Untuk seorang manajer, suatu teori tentang manajemen sangat berfungsi dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul. Oleh karena itu, falsafah, asumsi, prinsip-prinsip, dan teori tentang merupakan landasan manajerial yang harus dipahami dan dihayati oleh dan prinsip serta teori-teori dijadikan dasar kegiatan manajerial, secara sederhana dapat digambarkan melalui suatu diagram / skema sebagai berikut:

b. Deskripsi Konsep

Setiap jenis pengetahuan termasuk pengetahuan manajemen mempunyai ciri – ciri yang spesifik mengenai apa, bagaimana, dan untuk apa pengetahuan manajemen tersebut disusun. Di dalam pengatahuan manajemen, falsafah pada hakekatnya menyediakan seperangkat pengetahuan untuk berpikir efektif dalam memecahkan masalah – masalah manajemen. Ini merupakan hakikat manajemen sebagai suatu disiplin ilmu dalam mengatasi masalah organisasi berdasarkan pendekatan yang intelegen. Bagi seorang manajer perlu pengetahuan tentang kebenaran manajeman, asumsi yang telah diakui, dan nilai – nilai yang telah ditentukan. Pada akhirnya semua itu akan memberikan kepuasan dalam melakukan pendekatan yang sistematik dalam praktek manajerial.

Teori manajemen mempunyai peran atau membantu menjelaskan perilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktivitas dan kepuasan. Di dalam proses manajemen digambarkan fungsi – fungsi manajemen secara umum yang ditampilkan ke dalam perangkat organisasi dan mulai dikenal sebagai teori manajemen klasik. Menurut teori klasik pilar – pilar manajemen klasik terdiri dari 4 pilar, yaitu: pembagian kerja, proses saklar fungsi – fungsi, struktur, rentang pengawasan. Para ahli banyak yang akan mengatakan bahwa manajemen belum mempunyai teori yang standar, tetapi sebagai pendekatan.

c. Konsep Manajemen

Dari segi bahasa manajemen berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) , Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan ‘to Managesebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization” sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Manajemen diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih jelas.

Tabel 1Pendapat Pakar tentang Manajemen

No

Pengertian manajemen

Pendapat

1.

The most comporehensive definition views manajemen as an integrating process by which authorized individual create, maintain, and operate an organization in the selection an accomplishment of it’s aims

(Lester Robert Bittel (Ed), 1978 : 640)

2.

Manajemen itu adalah pengendalian dan pemanfaatan daripada semua faktor dan sumberdaya, yang menurut suatu perencanaan (planning), diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta atau tujuan kerja yang tertentu

(Prajudi Atmosudirdjo,1982 : 124)

3.

Manajemen is the use of people and other resources to accomplish objective

( Boone& Kurtz. 1984 : 4)

4.

.. manajemen-the function of getting things done through people

(Harold Koontz, Cyril O’Donnel:3)

5.

Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindsakan-tindakan : Perencanaan, pengorganisasian, menggerakan, dan poengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia serta sumber-sumber lain

(George R. Terry, 1986:4)

6.

Manajemen dapat didefinisikan sebagai ‘kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain’. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa manajemen merupakan alat pelaksana utama administrasi

(Sondang P. Siagian. 1997 : 5)

7.

Manajemen is the process of efficiently achieving the objectives of the organization with and through people

De Cenzo&Robbin

1999:5

Dengan memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa perbedaan formulasi hanya dikarenakan titik tekan yang berbeda namun prinsip dasarnya sama, yakni bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam rangka mencapai suatu tujuan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada, sementara itu definisi nomor empat yang dikemukakan oleh G.R Terry menambahkan dengan proses kegiatannya, sedangkan definisi nomor lima dari Sondang P Siagian menambah penegasan tentang posisi manajemen hubungannya dengan administrasi. Terlepas dari perbedaan tersebut, terdapat beberapa prinsip yang nampaknya menjadi benang merah tentang pengertian manajemen yakni :

1. Manajemen merupakan suatu kegiatan

2. Manajemen menggunakan atau memanfaatkan pihak-pihak lain

3. Kegiatan manajemen diarahkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Setelah melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa setiap organisasi termasuk organisasi pendidikan seperti Sekolah akan sangat memerlukan manajemen untuk mengatur/mengelola kerjasama yang terjadi agar dapat berjalan dengan baik dalam pencapaian tujuan, untuk itu pengelolaannya mesti berjalan secara sistematis melalui tahapan-tahapan dengan diawali oleh suatu rencana sampai tahapan berikutnya dengan menunjukan suatu keterpaduan dalam prosesnya, dengan mengingat hal itu, maka makna pentingnya manajemen semakin jelas bagi kehidupan manusia termasuk bidang pendidikan.

d. Konsep Manajemen Pendidikan

Setelah memperoleh gambaran tentang manajemen secara umum maka pemahaman tentang manajemen pendidikan akan lebih mudah, karena dari segi prinsip serta fungsi-fungsinya nampaknya tidak banyak berbeda, perbedaan akan terlihat dalam substansi yang dijadikan objek kajiannya yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah pendidikan.

Oteng Sutisna (1989:382) menyatakan bahwa Administrasi pendidikan hadir dalam tiga bidang perhatian dan kepentingan yaitu : (1) setting Administrasi pendidikan (geografi, demograpi, ekonomi, ideologi, kebudayaan, dan pembangunan); (2) pendidikan (bidang garapan Administrasi); dan (3) substansi administrasi pendidikan (tugas-tugasnya, prosesnya, asas-asasnya, dan prilaku administrasi), hal ini makin memperkuat bahwa manajemen pendidikan mempunyai bidang dengan cakupan luas yang saling berkaitan, sehingga pemahaman tentangnya memerlukan wawasan yang luas serta antisipatif terhadap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat disamping pendalaman dari segi perkembangan teori dalam hal manajemen.

Dalam kaitannya dengan makna manajemen Pendidikan berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen pendidikan yang dikemukakan para ahli. Dalam hubungan ini penulis mengambil pendapat yang mempersamakan antara Manajemen dan Administrasi terlepas dari kontroversi tentangnya, sehingga dalam tulisan ini kedua istilah itu dapat dipertukarkan dengan makna yang sama.

Tabel 2.1 Pendapat Pakar tentang manajemen Pendidikan

No

Pengertian manajemen Pendidikan

Pendapat

1.

Administrasi pendidikan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien…

Djam’an Satori, (1980: 4)

2.

Dalam pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya

Made Pidarta, (1988:4)

3.

Manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan

Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4)

4.

educational administration is a social process that take place within the context of social system

Castetter. (1996:198)

5.

Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan…

Soebagio Atmodiwirio. (2000:23)

6.

Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama

Engkoswara (2001:2)

Dengan memperhatikan pengertian di atas nampak bahwa manajemen pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan manajemen atau administrasi dalam mengelola, mengatur dan mengalokasikan sumber daya yang terdapat dalam dunia pendidikan, fungsi administrasi pendidikan merupakan alat untuk mengintegrasikan peranan seluruh sumberdaya guna tercapainya tujuan pendidikan dalam suatu konteks sosial tertentu, ini berarti bahwa bidang-bidang yang dikelola mempunyai kekhususan yang berbeda dari manajemen dalam bidang lain.

Menurut Engkoswara (2001:2) wilayah kerja manajemen pendidikan dapat digambarkan secara skematik sebagai berikut :

Perorangan

Garapan

Fungsi

SDM

SB

SFD

Perencanaan

TPP

Pelaksanaan

Pengawasan

Kelembagaan

Tabel 2.2 Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan

Gambar di atas menunjukan suatu kombinasi antara fungsi manajemen dengan bidang garapan yakni sumber Daya manusia (SDM), Sumber Belajar (SB), dan Sumber Fasilitas dan Dana (SFD), sehingga tergambar apa yang sedang dikerjakan dalam konteks manajemen pendidikan dalam upaya untuk mencapai Tujuan Pendidikan secara Produktif (TPP) baik untuk perorangan maupun kelembagaan Lembaga pendidikan seperti organisasi sekolah merupakan kerangka kelembagaan dimana administrasi pendidikan dapat berperan dalam mengelola organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari tingkatan-tingkatan suatu organisasi dalam hal ini sekolah, administrasi pendidikan dapat dilihat dalam tiga tingkatan yaitu tingkatan institusi (Institutional level), tingkatan manajerial (managerial level), dan tingkatan teknis (technical level) (Murphy dan Louis, 1999). Tingkatan institusi berkaitan dengan hubungan antara lembaga pendidikan (sekolah) dengan lingkungan eksternal, tingkatan manajerial berkaitan dengan kepemimpinan, dan organisasi lembaga (sekolah), dan tingkatan teknis berkaitan dengan proses pembelajaran. Dengan demikian manajemen pendidikan dalam konteks kelembagaan pendidikan mempunyai cakupan yang luas, disamping itu bidang-bidang yang harus ditanganinya juga cukup banyak dan kompleks dari mulai sumberdaya fisik, keuangan, dan manusia yang terlibat dalam kegiatan proses pendidikan di sekolah

Menurut Consortium on Renewing Education (Murphy dan Louis, ed. 1999:515) Sekolah (lembaga pendidikan) mempunyai lima bentuk modal yang perlu dikelola untuk keberhasilan pendidikan yaitu:

1. Integrative capital (modal integrative)

2. Human capital (modal manusia)

4. Financial capital (modal keuangan)

5. Social capital (modal social)

6. Political capital (modal politik)

Modal integratif adalah modal yang berkaitan dengan pengintegrasian empat modal lainnya untuk dapat dimanfaatkan bagi pencapaian program/tujuan pendidikan. Modal manusia adalah sumberdaya manusia yang kemampuan untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan proses pendidikan/pembelajaran. Modal keuangan adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan dan memperbaiki proses pendidikan. Modal sosial adalah ikatan kepercayaan dan kebiasaan yang menggambarkan sekolah sebagai komunitas. Modal politik adalah dasar otoritas legal yang dimiliki untuk melakukan proses pendidikan/pembelajaran.

Dengan pemahaman sebagaimana dikemukakan di atas, nampak bahwa salah satu fungsi penting dari manajemen pendidikan adalah berkaitan dengan proses pembelajaran, hal ini mencakup dari mulai aspek persiapan sampai dengan evaluasi untuk melihat kualitas dari suatu proses tersebut, dalam hubungan ini Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang melakukan kegiatan/proses pembelajaran jelas perlu mengelola kegiatan tersebut dengan baik karena proses belajar mengajar ini merupakan kegiatan utama dari suatu sekolah (Hoy dan Miskel 2001). Dengan demikian nampak bahwa Guru sebagai tenaga pendidik merupakan faktor penting dalam manajemen pendidikan, sebab inti dari proses pendidikan di sekolah pada dasarnya adalah guru, karena keterlibatannya yang langsung pada kegiatan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu Manajemen Sumber Daya Manusia Pendidik dalam suatu lembaga pendidikan akan menentukan bagaimana kontribusinya bagi pencapaian tujuan, dan kinerja guru merupakan sesuatu yang harus mendapat perhatian dari fihak manajemen pendidikan di sekolah agar dapat terus berkembang dan meningkat kompetensinya dan dengan peningkatan tersebut kinerja merekapun akan meningkat, sehingga akan memberikan berpengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan sejalan dengan tuntutan perkembangan global dewasa ini.

  1. Prinsip Manajemen Pendidikan

Prinsip – prinsip Manajemen pendidikan :

a. Prinsip Manajemen Pendidikan yang berorientasi pada tujuan, dengan menetapkan tujuan – tujuan yang harus dicapai peserta didik dalam mempelajari pelajaran.

b. prinsip Manajemen pada efisiensi dan efektifitas dalam pengunaan dana, daya, dan waktu dalam mencapai tujuan pendidikan.

c. Prinsip Manajemen pendidikan pada fleksibilitas program, dalam pelaksanaan, suatu program hendaknya mempertimbangkan faktor – faktor ekosistem dan kemampuan penyediaan fasilitas yang menunjang.

d. Prinsip kontinuitas, dengan menyiapkan peserta didikagar mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

e. Prinsip pendidikan seumur hidup, yang memandang bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi harus dilanjutkan dalam keluarga dan masyarakat. Jadi peserta didik perlu memiliki kemampuan belajar sebagai persiapan belajar di masyarakat.

f. Prinsip relevansi, suatu pendidikn akan bermakna apabila kurikulum yang dipergunakan relevan ( terkait ) dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

Berikut mengenai prinsip MBS. MBO, dan MIS

a. Prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS)

Istilah MBS (Manajemen Berdasarkan Sasaran) pertama kali dipopulerkan sebagai suatu pendekatan terhadap perencanaan oleh Peter Drucker (1954). MBO merupakan teknik manajemen yang membantu memperjelas dan menjabarkan tahapan tujuan organisasi. Dengan MBO dilakukan proses penentuan tujuan bersama antara atasan dan bawahan.

Tujuan organisasi adalah segala sesuatu yang harus dicapai organisasi dalam melaksanakan misinya. Misi organisasi membantu organisasi dalam identifikasi, integrasi, kolaborasi, adaptasi dan pembaruan diri. Pada setiap tingkat organisasi diperlukan komitmen para manajer pada pencapaian sasaran perseorangan dan sasaran organisasi secara efektif. Menurut Reddin (1971) sistem MBO dapat efektif jika mengandung unsur – unsur sebagai berikut:

1) Komitmen pada program

2) Penentuan sasaran pada tingkat puncak

3) Sasaran individu

4) Peran serta aktif semua tingkatan manajer sangat menentukan tercapai tidaknya sasaran.

5) Otonomi dalam pelaksanaan rencana

6) Penilai prestasi

Keunggulan MBO yaitu:

a. Pengelolaan cenderung lebih baik karena keharusan membuat program.

b. Peranan dan fungsi struktur organisasi harus jelas.

c. Individu mengikat diri pada tugas – tugasnya.

d. Pengawasan lebih efektif berkembang.

Kelemahan MBO

1) Tidak mudah menanamkan pemahaman tentang konsep – konsep dan pemberian motivasi kepada bawahan untuk mempelajari penggunaan teknik MBO secara tepat.

2) Tidak mudah menentukan tujuan dengan memberikan kesempatan kepada para anggota untuk berpartisipasi.

3) Tidak mudah menilai prestasi kerja.

4) Perubahan yang diinginkan MBO dalam perilaku manajer kemungkinan akan menimbulkan masalah dalam proses MBO.

b. Prinsip Manajemen Berdasarkan Orang

Manajemen berdasarkan orang merupakan suatu konsep manajemen modern yang mengkaji keterkaitan dimensi perilaku, komponen sistem, dalam kaitannya dengan perubahan dan pengembangan organisasi. Tuntutan perubahan dan pengembangan yang muncul sebagai akibat tuntutan lingkungan internal dan eksternal, membawa implikasi terhadap perubahan perilaku dan kelompok dan wadahnya.

Manajer pada umumnya bekarja pada lingkungan yang selalu berubah. Perubahan lingkungan yang bermacam – macam, menuntut organisasi selalu menyesuaikan diri. Salah satu upaya yang paling penting adalah dengan mengembangkan SDM. Namun, pengembangan SDM harus diimbangi dengan pengembangan organisasi. Tuntutan perubahan organisasi juga sering ditemukan dalam berbagai konflik, baik konflik individu, kelompok maupun antar kelompok.

c. Prinsip Manajemen Berdasarkan Informasi

Perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan dan pengawasan merupakan kegiatan manajerial yang pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan. Semua kegiatan tersebut membutuhkan informasi.

Informasi yang dibutuhkan oleh manajer disediakan oleh suatu sistem informasi manajemen (Management Information System/MIS) yaitu suatu sistem yang menyediakan informasi untuk manajer secara teratur. Informasi ini dimanfaatkan sebagai dasar untuk melakukan pemantauan dan penilaian kegiatan serta hasil yang dicapai.

Hal – hal yang perlu mendapat perhatian dalam SIM ini adalah :

1) Perlu diidentifikasi jenis informasi yang dibutuhkan.

2) Perlu ditentukan sumber data dan informasi yang dibutuhkan.

3) Perlu ditentukan siapa yang membutuhkan informasi dan kapan.

4) Perlu dikomunikasikan informasi itu secara tepat, terpercaya kepada para pengambil keputusan.

Dalam merancang bangun SIM, yang harus dihindari adalah:

1) Informasi yang lebih banyak itu selalu lebih baik.

2) Manajer memerlukan informasi yang mereka inginkan.

3) Apabila manajer diberi informasi yang mereka perlukan keputusan yang diambilnya akan lebih baik.

4) Sarana komunikasi yang lebih banyak, selalu menghasilkan prestasi yang lebih baik.

5) Manajer tidak perlu mengetahui kerja SIM.

6) Komputer dapat melalkuan segala – galanya.

B. Karakteristik Manajemen Pendidikan

Karakteristik manajemen pendidikan sekolah meliputi:

1. Perencanaan dan pengembangan sekolah;

2. Iklim budaya sekolah;

3. Harapan yang tinggi untuk berprestasi;

4. Pemantauan terhadap kemajuan sekolah;

5. Kepemimpinan kepala sekolah;

6. Pengembangan guru dan staf;

7. Penguatan kapasitas sekolah;

8. Keterlibatan orang tua dan masyarakat;

9. Keterlibatan dan tanggungjawab siswa;

10. Pengahargaan dan intensif; (11) Tata tertib dan kedisiplinan.

C. Manager dan Leadership dalam Manajemen Pendidikan

1. Hakikat Pemimpin

Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunya kemampuan untuk mempengaruhi orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Menurut Stoner (1988) semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, akan makin besar potensi kepemimpinan yang efektif. Jenis pemimpin ini bermacam-macam, ada pemimpin formal, yaitu yang terjadi karena pemimpin bersandar pada wewenang formal berhasil mempengaruhi perilaku orang lain. Sebagaimana telah diungkapkan pada bagian terdahulu, kekuasaan itu bersumber pada imbalan., paksaan, keahlian, acuan, hokum, charisma/ kekuatan pribadi. Berdasarkan itu bawahan atau orang menerima atau tidak menerima atas segala sesuatu yang harus dilakukan.

Berbagai pendekatan dalam memecahkan masalah kepemimpinan telah dilakukan. Pendekatan pertama, yaitu pendekatan sifat yang memfokuskan pada karakteristik pribadi pemimpin. Pendekatan kedua, yaitu pendekatan perilaku dalam hubungannya dengan bawahannya. Pendekatan ketiga, yaitu pendekatan situasional yaitu memfokuskan pada kesesuaian antara perilaku pemimpin dengan karakteristik situsional. Pandangan situasi mengasumsikan bahwa kondisi yang menentukan efektifitas pemimpin bervariasi menurut situasi, keterampilan dan harapan bawahan, lingkungan organisasi, pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan.

Menurut Sugeng Prabowo manager adalah seseorang yang bekerja dengan atau melalui orang lain melalui kegiatan mengkoordinasi berbagai aktifitas pekerjaan dalam upaya untuk mencapai tujuan organisasi. Tugas utama manager adalah mengkoordinasi. Walau tampak sederhana, namun dalam implementasinya kegiiatan mengkoordinasi memerlukan kemampuan yang cukup kompleks. Seorang manager tidak akan dapat mengkoordinasikan suatu proses pekerjaan dengan baik, jika manager tersebut tidak dianut oleh bagian-bagian atau unit-unit yang akan dikoordinasikan, maka pasti proses koordinasi tidak akan terjadi.

Secara teoritis manager harus menjalankan fungsi-fungsi manajemen. Jika fungsi-fungsi manajemen tersebut tidak dijalankan maka orang tersebut tidak lagi disebut sebagai seorang manajer. Robbins (2003) merinci fungsi manajemen menjadi 4 bagian yang meliputi: planning, organizing, leading, dan controlling. Perencanaan (planning) merupakan pekerjaan yang meliputi, perumusan tujuan, penetapan strategi, pengembangan rencana-rencana menjadi program yang dapat dikoordinasikan dalam penerapannya. Pengorganisasian (organizing) merupakan kegiatan yang menetapkan apa yang diperlukan untuk dikerjakan, bagaiamana mengerjakannya, dan siapa yang akan mengerjakan. Memimpin (leading) merupakan kegiatan mengarahkan dan memtoivasi seluruh komponen yang ada dalam orgnisasi, dan menyelesaikan berbagai konflik. Sedangkan pengendalian (controlling) merupakan kegiatan untuk memonitor berbagai aktivitas dan menjamin bahwa apa yang dikerjakan sudah sesuai dengan perencanaan yang dibuat.

Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan/leadership. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian, semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama.

Sarros dan Butchatsky (1996), “leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good”. Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Sedangkan menurut Anderson (1988), “leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance”.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Antara lain:

Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau 1bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, kepemimpinan tidak akan ada juga.

Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.

Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management), kedua konsep tersebut berbeda.

Secara umum definisi kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai berikut, “kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, mengarahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan.

Kepemimpinan merupakan sumbangan dari seseorang di dalam situasi-situasi kerjasma. Kepemimpinan dan kelompok adalah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Tak ada kelompok tanpa adanya kepemimpinan, dan sebaliknya kepemimpinan hanya ada dalam situasi interaksi kelompok. Seseorang tidak dapat dikatakan pemimpin jika ia berada di luar kelompok, ia harus berada di dalam suatu kelompok dimana ia memainkan peranan-peranan dan kegiatan-kegiatan kepemimpinannya.

Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Nurkolis (2003) menyebutkan beberapa perbedaan antara manajer dan pemimpin, yaitu (1) pemimpin memikirkan organisasinya dalam jangka panjang; (2) pemimpin memikirkan organisasi secara lebih luas baik menyangkut kondisi internal, eksternal, maupun kondisi global; (3) pemimpin mempengaaruhi pengikutnya sampai diluar batas kekuasaannya; (4) pemimpin menekankan pada visi dan nilai-nilai yang tidak tampak, mempengaruhi pengikutnya secara tidak rasional dan elemen-elemen tak sadar lainnya dalam hubungannya antara pemimpin dan pengikut; (5) pemimpin memiliki keterampilan politik untuk mengatasi konflik yang terjadi diantara pengikutnya, dan (6) pemimpin berpikir dalam upaya memperbaiki organisasinya.

2. Teori Kepemimpinan

a. Pendekatan sifat-sifat kepemimpinan.

Usaha pertama kali dilakukan oleh psikolog dan peneliti untuk memahami kepemimpinan yaitu mengenali karakteristik atau cirri-ciri para pemimpin yang berhasil. Penelitian masa itu ditunjukkan untuk mengetahui sifat-sifat pemimpin yang mencakup: intelektualitas, hubungan social, kemampuan emosional, keadaan fisik, imajinasi, kekuatan jasmani, kesabaran, kemauan berkorban, dan kemauan bekerja keras.

Untuk menyukseskan pelaksanaan tugas para pemimpin belakangan ini telah banyak dilakukan penelitian oleh para ahli dengan harapan dapat ditemukan model kepemimpinan yang baik atau efektif. Namun, kesimpulan dari hasil studi itu, ternyata tidak ada satu model tunggal yang memenuhi harapan. Dalam kaitannya dengan cirri-ciri pemimpin. Gerungan menyatakan bahwa setiap pemimpin, sekurang-kurangnya memiliki tiga cirri, yaitu (1) Penglihatan social, (2) kecakapan berpikir abstrak, dan (3) keseimbangan emosi. Sedangkan menurut J. Slikboer, pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat: (1) dalam bidang intelektual, (2) berkaitan dengan watak, dan (3) berhubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin. Cirri-ciri lain yang berbeda dikemukakan oleh Ruslan Abdulgani (1958) bahwa pemimpin harus mempunyai kelebihan dalam hal: (1) menggunakan pikiran, (2) rohani, (3) jasmani.

b. Pendekatan Perilaku

Pendekatan perilaku memandang bahwa kepemimpinan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat (traits) pemimpin. Alas an sifat seseorang relative sukar untuk diidenfikasikan. Beberapa pandangan ahli, antara lain James Owen (1973) berkeyakinan bahwa perilaku dapat dipelajari, hal ini berarti bahwa orang yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan dapat memimpin secara efektif. Namun demikian hasil penelitian telah membuktikan bahwa perilaku kepemimpinan yang cocok dalam satu situasi belum tentu sesuai dengan situasi yang lain. Akan tetapi, memang perilaku kepemimpinan ini keefektifannya bergantung pada banyaknya variable, kesimpulan penelitian membuktikan bahwa perilaku pemimpin tertentu adalah lebih efektif dibandingkan dengan dua aspek perilaku, yaitu fungsi dan gaya kepemimpinan. Robert F. Bales (Stoner, 1986) mengemukakan hasil penelitian bahwa kebanyakan kelompok yang efektif mempunyai bentuk kepemimpinan terbagi (shared leadership), umpamany satu orang menjalankan fungsi tugas, dan anggota lain melaksanakan fungsi social. Pembagian fungsi ini karena seseorang perhatian akan terfokus pada satu peran dan mengorbankan peran lainnya.

c. Pendekatan Situasional

Pendekatan situasional berpandangan bahwa keefektifan kepemimpinan bergantung pada kecocokan antara pribadi, tugas, kekuasaan, sikap dan persepsi. Cukup banyak pendukung pendekatan ini, diantaranya model kontingensi Fiedler, model normative Vroom Teeton, dan teori jalur tujuan (The Pat goal theory).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Pemimpin yaitu:

a. Kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin

b. Pengharapan dan perilaku atasan

c. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan

d. Kebutuhan tugas.

e. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.

f. Harapan dan perilaku rekan.

4. Perspektif kepemimpinan kependidikan

Pemimpin pendidikan perlu memiliki integrasi ketrampilan teknis, pedagogis, professional dan manajerial, sebagaimana Hughes (1988) uraikan sebagai ’professional-as-administrator’ yang mencakup dualitas peran sebagai pimpinan eksekutif (chief executive) dan memimpin secara profesional (leading professional), dalam aspek internal maupun eksternal (gambar 1). Untuk menjadi pemimpin pendidikan yang efektif harus mampu mengkombinasikan dan menciptakan sinergi kedua aspek tersebut. Selain itu, pemimpin pendidikan harus mampu menggunakan berbagai sumberdaya material dan manusia secara kreatif, melibatkan anggota organisasi sesuai peran masing-masing dalam pengambilan kebijakan (pendekatan partisipatif). Dari beberapa hasil riset, diidentifikasi bahwa kombinasi kepemimpinan kepala sekolah yang profesional, harapan tinggi (partisipasi) warga sekolah, dan budaya sekolah yang positif merupakan faktor penentu efektivitas sekolah.

|Kepemimpinan Pendidikan |

Chief executive officer Leading professional |

|Peran Internal |Peran Internal |

| | |

|Ahli strategi (Strategist): |Penasihat (Mentor): memberi |

|mengartikulasikan arah dan focus |bimbingan profesional kepada |

|strategis organisasi; bertindak |bawahan |

|sebagai katalisator pengembangan |Pendidik (Educator): |

| |mempertunjukkan kmp teknis |

|Manajer (Manager): |dan ketrampilan pengajaran |

|mengalokasikan dan mengkoordinir |Penasehat (Advisor): mendukung |

|bidang fungsi organisasi |dan memberi arahan kepada para |

|Wasitr (Arbitrator): bertindak |murid, orangtua, guru, dll |

|sebagai perantara organisatoris | |

|dan wasit | |

|Peran Eksternal |Peran Eksternal |

| |

|Petugas eksekutif (Executive |Duta besar (Ambassador): duta |

|officer): bertanggung-jawab |organisasi dalam cakupan luas |

|kepada pemerintah |aktivitas profesional eksternal |

|Diplomat (Diplomat): |Pengacara (Advocate): jurubicara |

|mengartikulasikan misi dan |kelembagaan bbg permasalahan|

|melakukan hubungan dengan |pendidikan dan bidang profesional|

|masyarakat (stakeholders) dan |lainnya |

|badan eksternal | |

Gambar 1.

Kepemimpinan Pendidikan: Dualitas Peran (Law & Glover: 2000)

Pemimpin Pendidikan: “Culture Creator”

Menurut Duignan & Macpherson efektivitas sekolah menekankan pentingnya apa yang terjadi di dalam kelas dan kepemimpinan pendidikan yang menyediakan suatu kultur di dalam proses belajar mengajar, oleh karenanya, pemimpin pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kultur organisasi yang mempertinggi pengembangan dan pertumbuhan organisasi (Bush & Coleman, 2000). Kualitas yang diidentifikasi oleh Duignan dan Macpherson pada pemimpin pendidikan (educative leader), serupa dengan pemimpin transformational, yang menekankan pada pemimpin yang mendorong dan memberdayakan tanggung jawab bawahan, dengan:

a. Menciptakan peluang untuk peserta (partisipan) dalam proses perubahan untuk merefleksikan praktek mereka dan mengembangkan pemahaman pribadi menyangkut implikasi dan perubahan diri mereka;

b. Mendorong mereka yang terlibat dalam implementasi suatu peningkatan untuk membentuk kelompok sosial dan menyediakan dukungan timbal balik sepanjang proses perubahan;

c. Menyediakan peluang umpan balik positif untuk semua yang terlibat dalam perubahan; dan

d. Sensitip pada hasil pengembangan proses dan menyediakan kondisi-kondisi penting bagiumpan balik dan tindak lanjut sehingga yang terlibat memiliki kesempatan mendiskusikan dan memikirkan kembali gagasan dan praktek mereka.

Fiedler (1997) mencatat implikasi di atas untuk kepemimpinan pengajaran mencakup: 1) Mengelola pengajaran dan kurikulum; 2) Pengawasan pengajaran; 3) Monitoring kemajuan siswa; dan 4) Menyediakan iklim mengajar yang mengajar. Northfield menambahkan bahwa kunci corak pemimpin mendidik (educative leader) adalah pemimpin menyediakan peluang untuk peserta mengembangkan pemahaman pribadi dan mendorong pada kondisi-kondisi untuk merefleksikan dalam praktek (Bush & Coleman, 2000).

5. Peran Utama Pemimpin Pendidikan

Menurut Lunenberg & Orstein (2000) secara garis besar pemimpin pendidikan memiliki tiga peran utama: bidang kepemimpinan, managerial, dan kurikulum-pengajaran. Berikut akan dijelaskan masing -masing peran tersebut.

a. Peran kepemimpinan kepala sekolah

1) Kepala sekolah merupakan kunci dalam membentuk kultur sekolah. Kepala sekolah harus dapat membentuk budaya positif, di mana staf berbagi pengertian, dan memiliki dedikasi untuk peningkatan sekolah dan pengajaran. Sukses siswa disoroti dan kolegialitas menyebar keseluruh bagian sekolah. Moril tinggi, kepedulian, dan memiliki komitmen.

2) Kepala sekolah harus dapat menjalin hubungan dengan kelompok, internal dan eksternal sekolah, seperti (1) pengawas dan pengelola pendidikan pusat, (2) dewan sekolah, (3) teman sejawat, (4) orang tua, (5) masyarakat sekitar, (6) guru, (7) siswa, dan (8) kelompok eksternal seperti profesor, konsultan, badan akreditasi, dan sebagainya. Kepala sekolah yang efektif perlu untuk percaya pada kemampuan diri dan mampu mensinergikan persepsi, harapan, maupun kemampuan berbagai kelompok tersebut dapat memberi dukungan terhadap kemajuan sekolah.

b. Peran manajerial kepala sekolah

1) Peran manajerial merupakan aspek utama kepemimpinan sekolah. Katz dan Kanz membagi ketrampilan manajemen ke dalam tiga area utama: (1) teknis (technical), mencakup teknik proses manajemen (perencanaan, pengaturan, koordinasi, pengawasan, dan pengendalian), (2) manusia (human), ketrampilan hubungan antar manusia, memotivasi dan membangun moral, (3) konseptual (conceptual), menekankan pengetahuan dan teknis terkait jasa (atau produk) tentang organisasi. Sergiovanni menambahkan dua area lain manajemen untuk pengurus sekolah, yaitu kepemimpinan simbolis (symbolic leadership), tindakan kepala sekolah memberi teladan (model) kepada warga sekolah, dan kepemimpinan budaya (cultural leadership), bahwa kepercayaan dan nilai-nilai kepala sekolah merupakan unsur penting. Fullan dan Sarason menambahkan suatu dimensi manajemen sekolah yaitu kepala sekolah sebagai agen perubahan (change agent) dan fasilitator.

2) Secara umum, kepala sekolah harus “memimpin dari pusat” (lead from the centre): demokratis, mendelegasikan tanggung-jawab, memberi kuasa dalam pengambilan keputusan, dan mengembangkan usaha kolaboratif yang mengikat siswa, guru, dan orang tua. Hal tersebut mengandung arti bahwa pemimpin dalam segala hal hendaknya ada di tengah komponen organisasi (partisipatif).

3) Lipham mengembangkan sebuah “teori empat faktor “ (four-factor theory) tentang kepemimpinan untuk kepala sekolah, yaitu (1) kepemimpinan struktural, (2) kepemimpinan fasilitatif, (3) kepemimpinan yang mendukung, dan (4) kepemimpinan partisipatif. Semua faktor kepemimpinan tersebut menekankan ketrampilan managerial dan administratif. Kebehasilan kepala sekolah adalah dapat memodifikasi atau menyesuaikan empat faktor kepemimpinan sesuai kebutuhan sekolah.

c. Peran kurikulum-pengajaran kepala sekolah

Bidang kurikulum-pengajaran hendaknya menjadi prioritas kerja utama kepala sekolah sehingga dapat meningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Murphy mengembangkan enam peran kepala sekolah dibidang kurikulum dan pengajaran, yaitu: (1) menjamin kualitas pengajaran, (2) mengawasi dan mengevaluasi pengajaran, (3) mengalokasi dan melindungi waktu pengajaran, (4) mengkoordinir kurikulum, (5) memastikan isi matapelajaran tersampaikan, dan (6) monitoring kemajuan siswa. Menurut Murphy, enam peran tersebut menggambarkan suatu contoh kepala sekolah efektif.

D. Aktivitas dan Dinamika Manajemen Pendidikan.

1. Aktivitas Manajemen Pendidikan

Manajemen pendidikan sebagai suatu sistem seyogyanya mengandung dua dimensi yang konsisten dan saling terkait, yakni dimensi yang berdasarkan konsep-konsep manajemen dan dimensi yang berdasarkan pada konsep-konsep pendidikan. Dengan kata lain, pengembangan suatu sistem manajemen pendidikan hendaknya berupaya memadukan kedua dimensi itu.

Perencanaan Pendidikan

Perencanaan pendidikan disusun secara bertahap, yang meliputi:

a. Pencanaan pendidikan yang menyeluruh yang berskala nasional untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai dengan rumusan tujuan pendidikan nasional yang telah digariskan dalam sistem pendidikan nasional. Perencanaan pada tahap ini menjadi dasar dalam rangka penyusunan perencanaan pendidikan jangka panjang.

b. Perencanaan pendidikan jangka panjang, misalnya untuk jangka selama satu pelita. Perencanaan ini tergolong sebagai perencanaan pendidikan bertingkat strategis.

c. Perencanaan pendidikan tingkat medium yang berjangka sedang dalam jangka waktu yang relatif pendek misalnya untuk jangka satu tahun atau dua tahun pertama dari pelita.

d. Perencanaan pendidikan bertingkat operasional, yang berjangka pendek, misalnya dalam jangka satu tahun/2 tahun semester. Perencanaan pendidikan ini umumnya dilaksanakan pada tingkat wilayah dan kelembagaan pendidikan.

Organisasi Pendidikan

Implikasi konsep sistem organisasi sebagaimana telah dikemukakan dalam uraian di atas, mengandung implikasi tertentu dalam rangka pengembangan pendidikan. Suatu sistem organisasi pendidikan yang lengkap dan menyeluruh memiliki tiga sub sistem, yakni strategi, operasi dan koordinasi. Komponen-komponen ini terdapat pada tiap jenjang pendidikan, baik pada tingkat program maupun pada tingkat kelembagaan pendidikan.

Pengorganisasian program pendidikan nasional terdiri dari tiga jenjang, yakni tingkat pusat, tingkat propinsi, dan tingkat Kotamadya/Kabupaten. Masing-masing jenjang organisasi program pendidikan tersebut ketiga komponen (strategi, operasi dan koordinasi).

Ketiga jenjang organisasi program harus mengandung komponen strategi yakni berdasarkan dan berinteraksi dengan lingkungan di mana program itu berada, yang meliputi kebudayaan, sistem nilai, kependudukan, ekonomi, dan sebagainya. Perbedaan derajat lingkungan menentukan kadar interaksinya dengan tiap jenjang organisasi program bersangkutan.

Ketiga jenjang organisasi program juga memiliki komponen operasi, yakni kegiatan-kegiatan substantif pada kategori input (misalnya: target populasi, ketegasan, siswa, sumber biaya, peralatan, dan sebagainya), proses (misalnya: kurikulum, sistem instruksional, media, evaluasi), output (yakni para lulusan baik kualitas maupun kuantitas). Kegiatan-kegiatan tersebut sudah tentu berbeda pada tiap jenjang organisasi.

Komponen koordinasi juga terdapat pada tiap jenjang organisasi program, yang memadukan antara komponen strategi dan komponen operasi, dalam jangka panjang dan jangka pendek. Dengan koordinasi ini akan tercipta keseimbangan dan kesamaan tindakan dan arah kegiatan organisasi program dalam upaya mencapai tujuan program pendidikan pada masing-masing jenjang keorganisasiannya. Dengan demikian, kegiatan organisasi jangka pendek senantiasa berada dalam kerangka organisasi program jangka panjang.

Kontrol (Pengawasan) Pendidikan

Fungsi kontrol (pengawasan pendidikan) sangat pending, karena erat kaitannya dengan pelaksanaan dan hasil yang diharapkan oleh sistem pendidikan. Peranan dan kategori kontrol yang telah dikemukakan secara singkat dalam uraian di muka, kiranya mengandung implikasi tertentu terhadap sistem kontrol/pengawasan pendidikan.

a. Fungsi kontrol pendidikan tetap mengacu dalam tiga hal, yakni berfungsi sebagai sensor, komparator, dan activator. Pada fungsi sensor, kontrol pendidikan itu mendayaguakan rencana pendidikan sebagai ukuran yang dimaksudkan untuk mengukur pelaksanaan dan keberhasilan suatu rencana pendidikan.

b. Sistem kontrol pendidikan juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1) Apakah kontrol itu dilakukan secara terbuka atau secara tertutup? Kontrol yang dilakukan secara terbuka berarti dapat melibatkan semua orang di lingkungan organisasi dan konsekuensinya semua informasi perlu ditampung dan diperhatikan. Kontrol secara tertutup keterlibatan hanya dibatasi pada pihak-pihak terkait saja dan umumnya tidak menyelusuri semua dimensi organisasi pendidikan. Kedua cara ini sesungguhnya dapat dilakukan secara berbarengan.

2) Apakah kontrol pendidikan dilakukan oleh manusia atau oleh mesin (alat elektronik misalnya). Sistem manajemen pendidikan yang telah berkembang dewasa ini memungkinkan penggunaan kedua sistem tersebut, yakni dilakukan oleh manusia dan menggunakan alat yang canggih.

3) Apakah kontrol dilaksanakan terhadap efektivitas dan efisiensi organisasi atau terhadap hasil operasionalisasi sistem pendidikan. Kedua bentuk kontrol tersebut seyogyanya dilaksanakan dalam sistem manajemen pendidikan, karena pada dasarnya antara kegiatan organisasi pendidikan dan keberhasilan yang dicapai dalam pelaksanaan harian bersifat saling terkait dan oleh karenanya perlu dilaksanakan secara berkesinambungan.

Sistem Informasi Pendidikan

Sistem manajemen pendidikan membutuhkan sistem informasi yang harus dikelola secara baik. Kebutuhan informasi ini terasa setiap saat di mana terjadi proses pendidikan, sebab dalam proses pengelolaan itu senantiasa diperlukan data yang akurat, yang dikumpulkan dan disimpan secara akurat pula. Itu sebabnya perlu diatur sistem manajemen informasi yang khusus relevan dengan tuntutan dan permintaan sistem pendidikan.

Kebutuhan informasi tersebut telah mulai terasa sejak adanya studi kelayakan, selanjutnya pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan tahap pengujian keberhasilan pendidikan. Jadi pada hakikatnya setiap fungsi manajemen pendidikan dibutuhkan informasi untuk pembuatan keputusan. Dalam hubungan inilah konsep-konsep sistem informasi yang telah dikemukakan secara ringkas dalam uraian di muka memiliki implikasi tertentu terhadap manajemen sistem informasi pendidikan.

Aktivitas Manajemen pendidikan sebagai berikut:

a). Perencanaan

Meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, berapa lama, berapa orang yang diperlukan dan berapa banyak biayanya. Perencanaan itu dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan.

b). Pengorganisasian

Diartikan sebagai kegiatan membagi tugas – tugas kepada orang yang terlibat kerjasama pendidikan tadi. Karena tugas yang demikian banyak dan tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, maka tugas – tugas dibagi untuk dikerjakan masing – masing anggota organisasi.

c). Pengkoordinasian

Mengandung makna menjaga agra tugas – tugas yang telah dibagi itu dapat dikerjakan menurut kehendak yang mengerjakannya saja, tetapi menurut aturan sehingga menyumbang terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan disepakati.

d). Pengarahan

Pengarahan diperlukan agar kegiatan yang dilakukan bersama itu tetap melalui jalur yang telah ditetapkan, tidak terjadi penyimpangan yang dapat menimbulkan terjadinya pemborosan.

e). Pembiayaan

Adalah kegiatan mendapatkan biaya serta mengelola anggaran pendapatan dan belanja pendidikan menengah. Kegiatan ini dimulai dari perencanaan biaya, usaha untuk mendapatkan dana yang mendukung rencana itu, penggunaan, serta pengawasan penggunaan anggaran tersebut.

e). Pemantauan/Penilaian.

Yaitu suatu kegiatan untuk mengumpulkan data dalam usaha mengetahui sudah sampai seberapa jauh kegiatan pendidikan yang telah mencapai tujuannya, dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksanaan itu. Dengan perkataan lain, kegiatan pemantauan atau monitoring adalah kegiatan untuk mengumpulkan data tentang penyelenggaraan suatu proses pencapaian tujuan.

2. Dinamika Manajemen Pendidikan

Berikut adalah tabel yang menunjukkan dimensi – dimensi perubahan pola manajemen, dari yang lama menuju yang baru.

Pola Lama

Menuju

Pola Baru

Subordinasi

Pengambilan keputusan terpusat

Ruang gerak kaku

Pendekatan birokratis

Sentralistik

Diatur

Overregulasi

Mengontrol

Mengarahkan

Menghindari resiko

Gunakan uang semuanya

Individual cerdas

Informasi terpribadi

Pendelegasian

Organisasi Hierarkis

Otonomi

Pengambilan keputusan partisipatif

Ruang gerak luwes

Pendekatan profesional

Desentralistik

Motivasi diri

Deregulasi

Mempengaruhi

Memfasilitasi

Mengelola resiko

Gunakan uang seefisien mungkin

Teamwork yang cerdas

Informasi terbagi

Pemberdayaan

Organisasi dasar

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas penulis tiba pada simpulan bahwa :

1. Manusia adalah makhluk Tuhan YME yang kompleks dan unik dan diciptakan dalam integrasi dua substansi yang tidak dapat berdiri sendiri.

  1. Lima faktor yang mendasari manusia berorganisasi yaitu:

a. Faktor spesialisasi dan pembagian kerja.

b. Faktor koordinasi.

c. Faktor tujuan.

d. Faktor prosedur kerja.

e. Faktor dinamika lingkungan.

7. Organisasi adalah sarana dalam pencapaian tujuan, yang merupakan wadah kegiatan dari orang-orang yang bekerjasama dalam usahanya mencapai tujuan.

  1. Organisasi di sekolah dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses untuk memilih dan memilah orang – orang (guru dan personel sekolah lainnya) serta mengalokasikan sarana dan prasarana untuk menunjang tugas – tugas orang itu dalam rangka mencapai tuuan sekolah.

9. Manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara produktif, efektif dan efisien.

  1. Manajemen pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan merentang dari tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks.
  2. Manajemen pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses manajemen meliputi:

a. Perencanaan

b. Pengorganisasian

c. Pengarahan

d. Pemantauan

e. Penilaian

12. Kerangka dasar manajemen meliputi “Philosophy, Asumiious, Principles, and Theory, Whivh are basic to the study of any disclipline of management”.

  1. Prinsip – prinsip Manajemen pendidikan :

a. Prinsip Manajemen Pendidikan yang berorientasi pada tujuan, dengan menetapkan tujuan – tujuan yang harus dicapai peserta didik dalam mempelajari pelajaran.

b. Prinsip Manajemen pada efisiensi dan efektifitas dalam pengunaan dana, daya, dan waktu dalam mencapai tujuan pendidikan.

c. Prinsip Manajemen pendidikan pada fleksibilitas program, dalam pelaksanaan, suatu program hendaknya mempertimbangkan faktor – faktor ekosistem dan kemampuan penyediaan fasilitas yang menunjang.

d. Prinsip kontinuitas, dengan menyiapkan peserta didikagar mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

e. Prinsip pendidikan seumur hidup, yang memandang bahwa pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi harus dilanjutkan dalam keluarga dan masyarakat. Jadi peserta didik perlu memiliki kemampuan belajar sebagai persiapan belajar di masyarakat.

f. Prinsip relevansi, suatu pendidikn akan bermakna apabila kurikulum yang dipergunakan relevan ( terkait ) dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

14. Karakteristik manajemen pendidikan sekolah meliputi:

1. Perencanaan dan pengembangan sekolah;

2. Iklim budaya sekolah;

3. Harapan yang tinggi untuk berprestasi;

4. Pemantauan terhadap kemajuan sekolah;

5. Kepemimpinan kepala sekolah;

6. Pengembangan guru dan staf;

7. Penguatan kapasitas sekolah;

8. Keterlibatan orang tua dan masyarakat;

9. Keterlibatan dan tanggungjawab siswa;

10. Pengahargaan dan intensif;

11. Tata tertib dan kedisiplinan.

  1. Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

16. Pemimpin pendidikan memiliki tiga peran utama: bidang kepemimpinan, managerial, dan kurikulum-pengajaran.

17. Aktivitas manajemen pendidikan meliputi:

1. perencanaan

2. Pengorganisasian (organizing),

3. Pengkoordinasian

4. Pengarahan

5. Pembiayaan

6. Pemantauan/Penilaian.

B. Saran

Berdasarkan pembahasan, saran yang dapat penulis berikan yaitu:

1. Dalam kehidupannya manusia diperlukan pemahaman tentang organisasi karena di dalam kehidupan manusia tidak lepas dari organisasi.

2. Pemahaman dan penguasaan terhadap konsep manajemen pendidikan perlu ditingkatkan karena sebagai seorang pendidik sangatlah penting untuk menguasai konsep manajemen pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

B. Suryosubroto. 2004. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Djadja Sardjana. 2010. Pengembangan Ilmu Manajemen Pendidikan. Diakses dari http://edukasi.kompasiana.com

Gudnadarma. 2010. Arti Penting Organisasi Sosial. Diakses dari http://wartawarga.gunadarma.ac.id

HAR. Tilaar. 1992. Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

___________. 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta

Nanang Fatah. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis sekolah. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

Mulyasa. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Rosdakarya.

Sugeng Prabowo. 2010. Manajer dan Fungsi Manajemen. Diakses di http://blog.uin-malang.ac.id/

______________. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusai. Diakses dari Http://Www Makalahmanajemen.Com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: