Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rika Saptari

seorang istri dan ibu dari 2 orang anak perempuan

Hati-hati Memilih Sekolah Dasar Negeri!

REP | 28 January 2011 | 02:50 Dibaca: 1856   Komentar: 21   1

Pada tahun 2005 di bulan April saya dan anak anak pindah ke kota Bandung karena mengikuti suami yang pindah tugas ke kota kembang ini. Pada bulan juni si sulung sudah harus masuk sekolah dasar, saya dan suami tidak punya banyak waktu untuk mensurvei berbagai sekolah dikarenakan kita masih ribet dengan berbagai urusan kepindahan juga karena kita belum terlalu hapal jalan jalan di kota Bandung jadi hanya berbekal informasi dari tetangga yang mengatakan bahwa Sekolah Dasar Negeri “A” merupakan  SD negeri  percontohan yang bagus malah sudah masuk  di internet segala dan anak anak di komplek perumahan ini juga banyak yang bersekolah di situ jaraknya juga  hanya  4 km dari rumah yang kami tinggali maka jadilah si sulung kami daftarkan ke SDN percontohan tersebut dengan pertimbangan pasti bagus nih…wong percontohan tidak mungkin toh di contoh kalo tidak bagus…

12961351421646133340

Suasana kelas tanpa guru (dok.pribadi)

Ternyata hanya di kelas 1 sampe kelas 2 saja kami rasakan baik mutu gurunya  dalam pengajaran mungkin pada saat itu gurunya hanya 1 (tidak berganti di setiap mata pelajaran) dan jam masuknya juga singkat dari jam 07.oo sampai jam 09.30, tapi setelah si sulung kelas 3 hingga sekarang sudah duduk di kelas 6  banyaaaak sekali kekecewaan yang kami rasakan,begitu juga dengan si sulung yang sering mengeluh karena dalam 1 hari ada saja guru yang tidak masuk (dari kelas 3 sampe kelas 6 guru berganti ganti sesuai mata pelajaran walau pun ada guru yang merangkap 2 pelajaran)  dengan berbagai alasan sehingga kelas jadi ribut oleh para siswa pria yang pada bermain riuh rendah di dalam kelas,paling paling guru pengganti datang menyuruh mereka mengerjakan lembaran kerja siswa atau mengerjakan soal terus murid di tinggal begitu saja,namanya juga anak anak mana bisa di tinggal di suruh tertib berlama lama ya sudah ributlah di dalam kelas. Si sulung sudah pernah saya tawarin pindah ke sekolah swasta tapi dia menolak karena sudah terlanjur mempunyai teman teman akrab.

Belum lagi prilaku gurunya yang ngeselin misalnya memberi PR matematika 10 soal anak saya yang mengikuti bimbingan belajar di siang hari hingga sore terpaksa habis magrib mengerjakannya dengan sisa sisa tenaga yang ada kadang  jam 10 malam si sulung baru beres mengerjakannya begitu besoknya diserahkan si guru enak saja ngomong “ya sudah nanti aja kita periksa kerjakan lagi saja soal no sekian…” yang belum tentu juga di periksa benar atau salah yang dikerjakan si anak, hal ini membuat saya dan suami bahu membahu membantu si sulung dengan memberi pelatihan pelajaran yang masuk katagori UAN, atau ada juga gurunya yang mengajar sambil merokok sehingga si sulung yang bermata minus duduknya selalu di depan terkenalah asap rokok si guru untungnya si sulung berani protes dengan mengatakan “pak saya jadi ikutan terhirup racun pak padahal yang merokok bapak” kata si sulung sambil mengibas ngibaskan tangannya di udara,si pak gurunya pura pura tidak mendengar mungkin malu di tegur muridnya tetapi sejak itu beliau tidak pernah lagi merokok di dalam kelas.

Begitulah pengalaman anak saya yang bersekolah di SDN yang katanya sebagai percontohan…gimana lagi SDN yang bukan percontohan,saya tidak bisa ngebayangin jika anak saya tidak mengikuti les bimbingan belajar bagaimana dia bisa mengejar ketertinggalan pelajaran yang tidak di berikan secara maksimal oleh gurunya sedangkan pemerintah menetapkan standart kelulusan yang tinggi sedangkan guru gurunya yang PNS ngajar sesuka hatinya mungkin karena mereka tetap menerima gaji walaupun jarang masuk, malah minggu lalu hari senin hanya sedikit guru yang masuk karena mereka kecapekan habis dari pantai pangandaran hari minggunya karena mengadakan rapat di sana alhasil….hari senin itu anak anak pada tidak belajar.  Pak guru…Bu guru bukankah kalian pahlawan tanpa tanda jasa? bukankah kalian yang mengajarkan tentang moral dan tanggung jawab kepada murid didiknya?  tetapi mengapa tidak kalian terapkan terhadap diri kalian…. saya tidak bilang semua Guru PNS seperti itu,ini yang terjadi di sekolah anak saya yang katanya SDN percontohan, sehingga tanpa ragu 2 tahun lalu saya mendaftarkan si bungsu ke SD swasta yang gurunya lebih perhatian dan lebih bertanggung jawab terhadap murid didiknya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kamar Operasi (OK) : Mengamati Sepenuh Hati …

Rinta Wulandari | | 17 April 2014 | 21:30

Baru Capres, JKW Sudah Banyak yang Demo …

Abah Pitung | | 17 April 2014 | 22:13

Curhat Dinda dan Jihad Perempuan …

Faatima Seven | | 17 April 2014 | 23:11

Sandal Kelom, Sandal Buatan Indonesia …

Acik Mdy | | 18 April 2014 | 00:40

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 9 jam lalu

Demo Jokowi di ITB Salah Sasaran dan …

Rahmat Sahid | 15 jam lalu

Jokowi di Demo di ITB, Wajarkah? …

Gunawan | 18 jam lalu

Pernyataan Pedas Jokowi Selama Nyapres …

Mustafa Kamal | 19 jam lalu

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: