Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Abdul Rojak

ABDUL ROJAK, tinggal di Depok, Jawa Barat, Indonesia. Guru Sejarah, Alumni UNJ, Jurusan Pendidikan Sejarah selengkapnya

Dongeng

OPINI | 19 February 2011 | 01:04 Dibaca: 668   Komentar: 2   1

13084522281383289264

Inggris secara ekonomi lebih maju daripada Spanyol. Ini terkait dongeng yang berkembang di kedua negara tersebut yang meresap di benak anak-anak bangsanya. 

Prof. Dr. David C. McClelland, psikolog  dari Universitas Harvard pada tahun 1961 merilis sebuah teori yang disebut motivasi berprestasi.  Teori ini bermakna suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan  suatu aktivitas dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji. McClelland mempersoalkan kenapa pelbagai bangsa memiliki karakter yang berbeda-beda, bahkan ada di antaranya yang bertolak belakang satu sama lain, ada bangsa tertentu yang rakyatnya maju, ada bangsa lain yang terbelakang, ada bangsa yang suka bekerja keras, ada juga bangsa yang lebih suka bermalas-malas.

McClelland mengambil sampel Inggris dan Spanyol, dua negara raksasa di awal abad ke 16. Dalam perkembangan selanjutnya, Inggris menjadi negara maju, sementara Spanyol, sebaliknya, Apa sebab yang mendasarinya?

Dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada awal abad 16 mengandung semacam “virus” yang menyebabkan pendengarnya dijangkiti penyakit “butuh berprestasi”, the need for achievement, yang kemudian disimbolkan sebagai n-Ach yang sangat terkenal itu. Virus n-Ach itu, menurut McClelland, meliputi tiga unsur, yakni:  (1) Optimisme yang tinggi (2) Keberanian untuk mengubah nasib (3) Sikap tidak gampang menyerah. Tiga unsur ini tidak ada dalam dongeng-dongeng Spanyol di abad 16, muatan-muatannya lebih banyak meninabobokkan, “virus” n-Ach itu tidak ada sedikit pun. Contohnya, kalau di Inggris adalah dongeng semacam Cinderella, Snow White, wanita tangguh dan sabar akhirnya berhasil, sedangkan di Spanyol dongeng yang sering beredar adalah cerita dongeng fable semacam si kancil yang mengajarkan kelicikan dan  hantu, dan mungkin itu sebabnya Indonesia pun masih setia dengan label Negera berkembang, karena dongeng yang berkembang di Indonesia gak jauh beda dengan yang ada di Portugis.

McClelland mengumpulkan lebih dari 1300 cerita/dongeng dari pelbagai negara, dari era 1925-1950an. Setelah dikaji dan diselidiki, hasilnya menunjukkan bahwa cerita-cerita anak yang mengandung nilai n-Ach yang tinggi pada suatu negeri, selalu diikuti dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula di negeri itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian.

Walhasil, dari kacamata McClelland kita barangkali bisa mencermati jawaban kenapa mental KKN, misalnya, sangat identik dengan budaya masyarakat kita, dari tingkat bawah sampai ke atas, dari orang biasa sampai pejabat negara. Mental seperti ini tentu saja akar psikologisnya adalah sifat-sifat seperti cerdik, licik, dan suka menipu yang merujuk pada figur populer kancil dalam dongeng kita, yang telah berkembang selama lebih dari berpuluh-puluh tahun silam.

Sangat naif dan ironis, sebagaimana yang menggejala secara umum sekian lama ini bahwa, yang lebih ditonjolkan adalah unsur-unsur mistik (horor), “sim-salabim” (instan), fantasi, kengerian, dan semacamnya, yang tentu saja kontras dengan tiga unsur yang diandaikan dalam n-Ach McClelland: optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan sikap tidak gampang menyerah.

Oleh karena itu, dalam konteks ini menjadi penting bagi orangtua, para guru, untuk memilih buku-buku cerita yang berkualitas. Mereka harus bisa membedakan, mana yang mengandung muatan nilai atau pesan n-Ach yang tinggi, dan mana yang rendah atau malah tidak ada sama sekali nilai n-Ach-nya. Sebab, betapa pun, orangtua dan guru punya peran utama dalam menentukan bacaan bagi anak-anaknya,  tidak mungkin anak menentukan sendiri tanpa bimbingan orangtuanya. Orangtua dan guru memiliki peran penting nan strategis untuk membentuk ketahanan anak, baik di lingkup sekolah, maupun di dalam keluarga (rumah). Tentu saja tidak hanya soal bacaan, namun juga media-media cerita lain seperti tayangan televisi, film-film, dan sejenisnya, karena di era teknologi seperti sekarang media cerita tidak hanya melalui buku.

Muatan nilai moral dalam dongeng anak, dalam buku-buku cerita anak, atau persisnya tinggi rendah nilai n-Ach-nya, tidak akan kita lihat dampaknya dalam hitungan satu atau dua tahun mendatang, tetapi dalam 25 tahun mendatang. Dengan kata lain, jika 25 tahun mendatang generasi kita lebih banyak yang bermental maling, kriminal, malas-malasan, hura-hura, fatalistik, dll, dan lebih sedikit yang kreatif, yang pantang menyerah, yang optimis, yang pemberani, dan seterusnya, maka para pendongeng, lembaga penerbitan, penulis cerita anak, para guru dan apalagi orangtua, memiliki “andil” yang besar, atau dengan kata lain, merekalah yang bertanggung jawab terhadap dosa sejarah tersebut. Oleh karena itu, semenjak detik ini pula, mereka semua dihadapkan pada tugas besar lagi suci mulia, yakni merasukkan nilai n-Ach dalam dunia cerita (dongeng), dunia tutur-tinular, baik dalam maknanya yang teoretis maupun yang praktis.

Namum demikian, dalam konteks ini, menyangkut tiga hal yang menjadi ukuran tinggi-rendahnya nilai n-Ach tidaklah bersifat mutlak, artinya tidak harus demikian persis, melainkan bisa disesuaikan dengan nilai-nilai moral-etik yang berkembang di dalam budaya kita, sesuai dengan kearifan lokal (local genius) kita sendiri. Misalnya, sebagai bangsa Indonesia, kita bisa merasukkan sikap-sikap semacam, kesabaran dan berbudi pekerti luhur yang diceritakan dalam cerita rakyat Bawang Putih dan Bawang Merah atau Cerita Timun Mas. Nilai-nilai patriotis dan berani membela yang benar dapat kita tanamkan dengan cerita para nabi atau sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW.

Dengan model kerja kultural seperti itulah, yang didukung oleh pelbagai pihak, dan terutama para orangtua di lingkungan keluarga, insya Allah kita bisa menciptakan generasi-generasi mendatang yang tidak hanya memiliki integritas moral yang bagus, tetapi juga memiliki integritas dan wawasan kebangsaan yang dapat diandalkan. Amin

* Dari Berbagai Sumber. Penulis adalah Guru Sejarah SMA Avicenna Cinere

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Terpana Danau Duma …

Lukman Salendra | | 28 November 2014 | 12:25

Senangnya Terpilih Menjadi Host Moderator …

Edrida Pulungan | | 28 November 2014 | 13:43

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 3 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 7 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 7 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Tamu Negara Suguhin Singkong Rebus …

Ifani | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Pas dan Cerdas! Gelar Kompasianival di TMMI …

Teguh Hariawan | 7 jam lalu

Gara-gara Tidak Punya ‘Kartu Emas’, Mak …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Filipina Terlalu Waras untuk Menang versus …

Joko Siswonov | 8 jam lalu

Sakit …

Katedrarajawen | 8 jam lalu

1 Desember, Hari Keramat untuk Papua? …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: