Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sylvana Toemon

suka membaca dan suka membuat sesuatu untuk dibaca

Teladan Pahlawan

OPINI | 25 February 2011 | 23:29 Dibaca: 277   Komentar: 0   0

Akhir-akhir ini tersiar kabar dari seputar Jawa Tengah. Tentang bencana lagi? Atau kerusuhan? Tidak. Bukan itu. Kabar yang ini adalah dijumpainya 10 seri buku tentang seorang tokoh yang dianggap panutan. Kesepuluh seri buku ini memuat berbagai macam hal tentang 1 orang saja, tentang sosok presiden kita sekarang ini, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang sering lebih dikenal dengan singkatan SBY.

Buku-buku yang dikirimkan ke sekolah level SMP ini mengundang keingintahuan banyak pihak karena pembeliannya menggunakan dana alokasi khusus. Kecurigaan terjadi bersama dengan ditemukannya seri-seri buku ini di daerah lain. Pihak sekolah yang dikirimi menyatakan tidak tahu menahu asal buku-buku itu. Seorang saksi yang ditanyai mengaku kalau buku-buku itu sudah ada di dalam paket buku yang dikirimkan dari pusat.

Penelusuran asal buku ini akhirnya sampai juga ke pak menteri pendidikan kita, Bpk Muh. Nuh. Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan di TV, pak menteri berkata kalau tidak ada penyimpangan dalam pengadaan buku-buku itu. Buku-buku itu bersifat pengayaan dan sudah melalui berbagai proses sehingga layak untuk dibaca oleh anak SMP.

Pendistribusian ke sekolah-sekolah ini dianggap sebagai indoktrinasi oleh beberapa pihak. Kampanye terselubung. Dengan mengagung-agungkan figur seseorang pada kesepuluh seri buku itu, maka secara tidak sadar akan tertanam dalam pikiran anak-anak SMP yang akan mempunyai hak pilih beberapa tahun lagi.

Teladan yang bisa didapat dari orang yang menjadi presiden memang baik. Tidaklah mungkin seseorang dapat menjadi presiden hanya karena keturunan seorang presiden juga misalnya. Pasti memerlukan usaha dan semangat yang lebih dalam menjalani hidup. Mungkin inilah yang menjadi dasar keputusan untuk membuat buku ini, untuk menularkan semangat juang kepada anak-anak SMP. Tetapi apakah tidak ada tokoh lain?

Kita mengganggap orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita sebagai pahlawan. Orang yang pantas dikagumi dan ditiru semangatnya dalam menjalani hidup. Bahkan, negara kita juga menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada beberapa orang yang berjasa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Dalam sebuah situs internet, disebutkan bahwa saat ini pahlawan nasional di Indonesia ada 138 orang yang tercatat sampai dengan 10 November 2006. Dari ratusan orang itu, ada berapa yang kita kenal? Boro-boro kenal, hapal namanya pun tidak. Dalam pelajaran menghapal jaman sekolah dulu (yang aku hampir selalu dapat nilai kurang baik), yang dihapalkan antara lain nama dan dari daerah mana. Jasa dan perjuangannya? Cari aja sendiri di buku lain karena pelajaran di sekolah sangat padat dengan acara hapal menghapal. Nah, buku lainnya ini yang hampir tidak ada.

Tidak semua orang yang dinobatkan menjadi pahlawan nasional tercatat kisahnya. Yang tercatat kisahnya dan ada patungnya sebagai pengingat pun, banyak yang tidak tahu ceritanya. Misalnya Jenderal Sudirman. Sekedar bertanya pada diri sendiri apa yang aku tahu tentang sang jenderal selain dari sebuah nama jalan di pusat kota Jakarta. Ternyata tidak banyak tuh…Yang jelas dia pernah jadi jenderal di negara kita ini pada usia sangat muda dan tidak berperut buncit (seperti para jenderal masa kini), meninggal karena TBC dan dimakamkan di Jogja. Cerita ini bukan didapatkan dari buku pelajaran menghapal jaman sekolah, tapi dari seorang tukang becak bertopi caping waktu aku menumpang becak melewati museum Jenderal Soedirman.

Selebihnya lagi lebih ke info jalan raya….padat merayap, macet total, lancar kalo tengah malam dll….

Ini baru salah satu contoh pahlawan yang semangat juangnya hampir tidak terwariskan kepada anak-anak masa kini. Masih ada ratusan lagi yang hanya mengisi beberapa alinea dalam buku pelajaran - yang artinya sangat jauh lebih sedikit dari 10 seri buku - dan tentu saja hampir tidak dikenal. Para guru yang sering disebut dengan pahlawan tanpa tanda jasa mungkin malah lebih dikenal dari pada pahlawan nasional. Pahlawan yang wajahnya menghias uang kertas kita masih lebih beruntung, namanya dikenal walaupun kalah pamor dengan angka nominal yang tertera di situ.

Kembali mempertanyakan buku-buku seri Pak SBY? Apakah tidak lebih baik membukukan perjuangan para pahlawan kita yang lain? Yang telah mempertaruhkan jiwa raga untuk memperjuangkan kemerdekaan? Kisah tentang pahlawan bangsa pastinya tidak akan melanggar prosedur dan memenuhi syarat tulisan yang katanya pengayaan itu. Bukan begitu?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 9 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 10 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 10 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: