Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hilman Dr.puradiredja

Studium,Specialisasi Bedah Visceral dan Traumatolog,DR. Med Christian Albrecht Univ.Kiel Germany. Mengikuti Perkembangan di Indonesia, Mencintai Indonesia selengkapnya

Perbedaan Pendidikan anak di Jerman dan Indonesia

REP | 27 February 2011 | 22:13 Dibaca: 1230   Komentar: 9   1

1.Tujuan didikan :

Indonesia : Menjadi anak yang berbudi baik, sopan santun,bisa menyelesaikan sekolah tinggi , bisa mendapat pekerjaan tinggi, bisa memulyakan orang tua.

Pendidikan Agama punya peranan besar.

Dari mulai kecil dididik menjadi anak harus taat , menurut orang tua ( Otoriter ) .Anak selalu dituntun , dibimbing tak henti hentinya .

Jerman : Dididik dari mulai kecil untuk diberi pengertian bahwa semuanya harus logis,cepat berdiri sendiri, bertanggung jawab ,berpendidikan , bisa mendapat pekerjaan yang sesuai.

Pendidikan Agama tidak berperan besar, tetapi ada yang dinamakan Normen und Werte. ( Cara hidup, bergaul menurut etiket yang baik ).

Anak anak  dalam mengembangkan  pribadinya,kreativasnya ,Kepercayaan dirinya , diberi kebebasan untuk  berkembang.Tidak ada otoriter orang tua.

2.Perkembangan anak

Indonesia : Terlihat kedewasaannya terlambat,lama tergantung orang tua, sampai kawinpun yang ngurus orang tua dan setelah kawin normal kalau tinggal di orang tua.

Hubungan keluarga ketat.Anak berpikir untuk menunjang orang tua ( Bhakti ).

Jerman: Cepat dewasa ,kepercayaan diri tinggi,mempunyai daya besar dalam memberi keputusan,Orang tua tidak punya pengaruh besar terhadap anak.Hubungan keluarga tidak seketat di Indonesia.Kata Bhakti tidak ada .Tidak ada pikiran menunjang orang tua ( karena Orang tua dari segi Uang tidak perlu ditunjang ).

3.Mendidik anak agar beragama :

Indonesia : Dengan dasar harus taat dan  menurut kepada orang tua dan adanya otoriter orang tua , maka mendidik anak untuk beragama lebih mudah.Kalau Agama sudah meresap ke dalam hati anak,  maka untuk selamanya akan bermukim di jiwa anak.

Jerman :Dari mulai kecil anak sudah biasa menanyakan hal yang tidak mengerti, kata kata kenapa begini dan kenapa begitu adalah yang selalu didengar dalam pergaulan anak anak dengan Orang tua.Dalam keagamaan banyak yang susah untuk menerangkannya.Jadi kata kata yang selalu dalam agama di lontarkan : Percaya dulu baru bertanya , untuk anak anak Jerman susah untuk menerimanya.

Usaha Campur didikan :

Saya dengan anak tiga telah berusaha mencampur didikan Indonesia dan didikan Jerman biarpun sangat susah kalau hidup di Jerman untuk mendidik anak menurut didikan Indonesia.Kelihatannya dengan seringnya ke Indonesia ( sejak anak masih kecil ) dan melihat pergaulan antar keluarga di Indonesia , anak anak terlihat lebih ke Indonesiaanya dari Jermannya .

Hasilnya : Kekeluargaan ketat dan bisa berlaku hormat dengan orang tua.

Biarpun mereka sudah merasa dewasa dan bisa menentukan hidupnya sendiri , tidak melupakan orang tua , kadang kadang menanya  pendapat( bagi orang Jerman hal yang tidak biasa ).

Mengenai kepercayaan kepada Tuhan saya kira juga berhasil , kelihatannya mereka percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil , Maha Penyayang dan menginginkan umatnya berbuat baik , human.

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Island Getaway ala Robinson Crusoe ke Nusa …

Ivani Christiani Is... | | 25 July 2014 | 14:32

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Rilis UNDP: Peringkat Pembangunan Manusia …

Kadir Ruslan | | 25 July 2014 | 15:10

Yuk Bikin Cincau Sendiri! …

Ahmad Imam Satriya | | 25 July 2014 | 15:03

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 5 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 9 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 10 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: