Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ryan Dagur

Senang menulis. Lahir di Wesang, mengenyam pendidikan menengah di Seminari Kisol, kuliah di STF Driyarkara. selengkapnya

Resensi Buku: “Aku Bebas dari Narkoba”

REP | 01 March 2011 | 02:33 Dibaca: 1242   Komentar: 0   0

Sampai sekarang — ibarat menjaring angin — upaya pemberantasan narkoba tidak pernah berhasil. Narkoba tetap dicari-cari dan bahkan menjadi salah satu lahan bisnis yang strategis, karena tidak pernah sepi peminat. Sadar atau tidak, kita sebenarnya berdiri di hadapan kenyataan paradoksal; semakin kita memerangi narkoba semakin banyak pula orang yang kerasan menggunakan narkoba. Para pengedar maupun pengguna  narkoba tidak pernah kekurangan cara kreatif untuk mengelabui petugas keamanan, terutama polisi yang kerap mengadakan razia. Celakanya lagi, kalau polisi pun terlibat dalam urusan kongkalikong dengan mafia pengedar narkoba. Akibatnya, tentu saja, kuantitas pengguna narkoba terus bertambah dan juga pebisnis narkoba tetap eksis meski terus dikejar-kejar.

Sasaran empuk pebisnis narkoba mayoritas pada kalangan remaja. Tidak sedikit remaja yang awalnya hanya berniat mencoba tapi akhirnya kecanduan. Ada banyak hal yang bisa kita deretkan sebagai faktor penyebab terjadinya hal tersebut. Kita boleh mencari, apa saja penyebab-penyebab itu? Dan, untuk apa orang memakai narkoba; sekedar senang-senang, just for fun atau untuk sesuatu yang lain?

Tentu sulit menemukan jawaban yang definitif. Hal yang bisa dilakukan adalah belajar dari pribadi-pribadi yang pernah mencicipi pahit manisnya hidup bersama narkoba.

Relon Star, mantan pecandu narkoba yang kemudian bertobat menyajikan kisah hidup sekaligus pergulatannya dalam buku Aku Bebas dari Jerat Narkoba. Buku tersebut menuturkan kisah nyata tentang kehidupan Relon Star. Petualangannya dalam dunia suram bersama narkoba berawal dari keadaan keluarga yang berantakan, ditambah dengan keadaan lingkungan dan teman-temannya yang sudah akrab dengan narkoba. Teman-teman perlahan-lahan membujuknya untuk merasakan nikmatnya narkoba. Dan akhirnya ia tidak bisa lepas dari pengaruh narkoba.

Relon kecil sebagaimana juga remaja lain tentu saja membutuhkan pengakuan, ingin diberi kepercayaan, ingin didengar dan ingin disapa oleh orangtuanya. Namun, karena tuntutan tugas, ayahnya yang merupakan seorang pendeta, tidak bisa meluangkan waktu bersama Relon. Ibunya pun demikian. Relon menyebut Ibunya mirip satpam karena terlampau overprotective. (hal 25). Situasi rumah yang tidak membuatnya merasa at home membawa Relon pada keputusan untuk sesedikit mungkin berada di rumah. Selalu ada alasan yang dibuat-buat untuk menghindar dari pertemuan dengan keluarga. Titik kritis dalam hidup Relon terjadi ketika ia memilih untuk menjadi anak nakal. Motivasinya, “supaya papa malu” (hal.23).

Hidup Relon penuh dengan pengalaman pahit, meski ia sendiri tidak mau peduli dengan hidup yang ia jalani. Mengabaikan perintah orang tua, baginya, merupakan balas dendam atas sikap mereka yang tidak memahaminya. Segala jenis narkoba sudah ia coba, mulai dari ganja sampai putau. Ia merasa, “Narkoba adalah surga di dunia” karena bisa memberinya kebebasan, kenikmatan, meski hanya untuk sesaat.

Kisah hidup Relon yang penuh kekecewaan, keterpurukan, kekacauan akhinya sampai pada pengalaman yang mengantarnya untuk berbalik. Peristiwa itu terjadi justru ketika ia mengalami bahwa tidak ada harapan lagi untuk hidup, selain dengan melepaskan diri dari jerat narkoba. Bagaimana ia memahami peristiwa yang amat menentukan masa depannya itu? Bagi Relon, ada invisible hand yang mendorongnya Di balik itu, secara implisit sebenarnya ia sadar, sungguh sulit untuk bisa bebas dari cengkeraman pengaruh narkoba. Artinya hanya butuh keajaiban untuk bisa lepas dari narkoba.

Buku ini mirip sebuah novel, disajikan dengan gaya bahasa yang menarik, memikat dan penuh tegangan. Kisahnya berangkat dari pengalaman nyata, sehingga jauh dari kesan mengada-ada. Pesan moral buku tersebut — hemat saya — dialamatkan pada keluarga agar ‘menaruh perhatian pada anak’. Orang tua tidak bisa “sekedar berada di dekat anak-anak. Itu bukan solusi. Yang terpenting adalah, apa yang dilakukan terhadap anak”. Juga pada lingkungan, terutama sekolah agar “menciptakan kondisi yang kondusif bagi perkembangan mental anak’. Buku ini menjadi salah satu kesaksian paling konkret yang mengingatkan siapa saja perihal bahaya narkoba. “Benda itu ibarat magnet. Ia mampu menyihir siapa saja agar tidak terlepas dari jeratnya”. Sekali menggunakan narkoba, saya yakin hanya butuh invisible hand yang bisa membebaskan kita.***

Judul                   :Aku Bebas Dari Jerat Narkoba

Pengarang           : Relon Star

No. ISBN             : 9789792254549

Jumlah Halaman : IX + 144

Penerbit              : Gramedia

Tahun Terbit       : 2010

Pernah dimuat di Majalah GSS, edisi Juli-Agustus 2010

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 14 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 15 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 16 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 19 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: