Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yohanes Ratu Eda

Saat ini saya bekerja sebagai seorang rohaniawan, hobi saya ialah membaca, menulis dan rekreasi.

Janji Tuhan

OPINI | 01 March 2011 | 04:04 Dibaca: 1103   Komentar: 1   0

Alkitab, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru memaparkan tentang Tuhan yang senantiasi berjanji. Janji Tuhan ini diikat pake sumpah. Tuhan bersumpah kepada diri-Nya sendiri. Di pihak lain, Tuhan yang sama mengikatkan diri-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. Sehingga dari pihak Tuhan, tidak mungkin Ia mengingkari janji-Nya. Ia setia pada janji-Nya. Ia konsisten untuk menggenapi janji-Nya.

Manusia yang terikat dengan janji Tuhan dituntut untuk taat. Tapi sering manusia tidak taat. Makanya janji yang diucapkan manusia sering diragukan. Mengapa? Karena manusia banyak janji, tapi tidak menepatinya.

Alkitab tetap konsisten memberitahukan bahwa Tuhan setia pada janji-Nya. Tuhan sudah sedang dan akan menggenapi seluruh janji-Nya kepada manusia. Sebelum Tuhan menggenapi seluruh janji-Nya, maka dunia ini belum berakhir.

Melalui nabi Yesaya, Tuhan berfirman: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” - Yesaya 46:4.

Dari bagian firman Tuhan di atas, ada beberapa kebenaran utama tentang Tuhan dan janji-Nya kepada umat-Nya. Kebenaran tersebut, yaitu:

1. Tuhan Tidak Berubah
Manusia boleh berubah. Ia terbentuk dalam kandungan. Setelah sembilan bulan, ia dilahirkan. Lalu jadi bayi. Tumbuh menjadi anak. Masuk fase pra remaja. Lanjut tahap remaja. Kemudian menjadi tunas muda. Menjadi pemuda. Masuk fase Dewasa. Menjadi tua. Lalu kembali ke dalam pangkuan Sang Pencipta. Inilah proses hidup manusia. Tahap lepas tahap dilaluinya. Dalam sepanjang proses itu, tentu ada pengalaman pahit maupun manis. Menyenangkan dan menyakitkan. Kuat dan lemah. Sehat dan sakit. Berkecukupan dan berkekurangan. Dan sejumlah pengalaman lainnya.

Dalam semua proses hidup kita, Tuhan menegaskan bahwa Dia tetap Tuhan. Dahulu, sekarang dan selamanya. Dia tidak berubah. Tetap sebagai Pencipta. Pemelihara. Penebus. Pengasih dan penyayang. Ini kabar baik.

Israel sebagai umat pilihan Allah, kala itu ada dipembuangan. Kalah dalam peperangan melawan bangsa Babel. Lalu diangkut menjadi tawanan. Orang asing di Babel. Budak bagi orang Babel. Tentu mereka sangat menderita. Bukan saja fisik/jasmani dan ekonomi. Tapi juga kebebasan khususnya secara rohani. Mereka merasa ditinggalkan oleh Allah. Mereka pikir Allah tidak lagi peduli dengan derita mereka. Allah sudah melupakan mereka.

Sama seperti kita. Ketika mengalami pergumulan. Penderitaan yang bertubi-tubi menimpa kita. Persoalan-persoalan yang tiada henti datang menghampiri hidup kita. Situasi dan kondisi semacam itu, membuat kita gamang. Putus asa. Kecewa. Marah. Dan berbagai reaksi lainnya. Tidak jarang kita bertanya: Mengapa Tuhan? Dimanakah Tuhan? Apakah Tuhan sudah melupakan kita?

Allah melalui nabi Yesaya menegaskan komitmennya terhadap umat pilihan-Nya. Allah punya tanggung jawab penuh terhadap Israel. Ia tidak melupakan mereka. Ia tidak meninggalkan mereka. Kalaupun Israel merasa Allah telah meninggalkan mereka, itu merupakan bagian dari proses Allah bagi mereka.

Demikian juga dengan hidup kita sekarang. Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus tidak pernah berubah. Ia setia. Ia peduli. Ia perhatikan kita. Kalaupun kita mengalami berbagai pergumulan dalam hidup ini, itu merupakan bagian dari proses Allah bagi kita. Itu sebabnya Dia katakan sampai masa tua kita, Tuhan tetap sama.

2. Tuhan Sanggup
Manusia terbatas. Dibatasi oleh ruang, waktu dan tempat. Kekuatan kita tidak memadai. Semangat kita akan menurun. Tanda-tanda itu jelas. Salah satunya ialah rambut berubah warna. Dari hitam menjadi putih. Telah melewati dimensi waktu. Sampai pada titik dimana usia yang tidak dapat kita pungkiri. Kita tidak dapat tetap bangga dengan diri kita. Kita tidak dapat tetap mengandalkan kekuatan diri sendiri. Secara natural/alami proses itu pasti terjadi.

Israel sebagai suatu bangsa tidak punya kekuatan. Daya tahan mereka juga menurun. Mereka dijajah. Ditawan. Dipekerjakan secara paksa. Tekanan yang mereka alami begitu tinggi. Mereka menderita baik fisik maupun psikis. Hak-hak mereka terpenjara. Khususnya secara rohani. Dewa Babel telah mengalahkan Allah mereka. Setidaknya itulah yang kira-kira ada dalam pikiran bangsa Israel. Karena bangsa Babel mengagung-agungkan dewa mereka.

Demikian halnya dengan kita. Kekuatan kita tidak seberapa. Waktu membawa kita kepada suatu fakta bahwa kita tidak selamanya bisa mengandalkan diri kita sendiri. Ketika penderitaan, masalah, kesulitan dan tantangan bertubi-tubi menimpa, terkadang kita tidak sanggup.

Namun, Allah sanggup. Ia sanggup memberi kekuatan. Ia sanggup membebaskan. Ia sanggup memerdekakan. Ia sanggup memberi jalan keluar. Ia sanggup menjawab pergumulan umat-Nya. Dia tegas katakan: “Sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu”. Artinya, tidak ada yang dapat menghalangi Tuhan untuk menolong kita. Dia telah buktikan. Pada masa lampaui Ia membebaskan Israel dari perbudakan bangsa Babel. Ia memerdekakan kita dari perbudakan dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Ia tetap konsisten untuk menyelamatkan kita. Jadi, berpegang teguhlah pada Tuhan dan janji-Nya. Nantikanlah Dia dan lihatlah pertolongan-Nya akan datang tepat waktu bagi kita.

Tags: janji tuhan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Island Getaway ala Robinson Crusoe ke Nusa …

Ivani Christiani Is... | | 25 July 2014 | 14:32

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Rilis UNDP: Peringkat Pembangunan Manusia …

Kadir Ruslan | | 25 July 2014 | 15:10

Yuk Bikin Cincau Sendiri! …

Ahmad Imam Satriya | | 25 July 2014 | 15:03

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 5 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 9 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 10 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: