Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Susan Nurhasanah

Teacher, Writer, and fans of Korean Indonesian drama.

Menentukan kelayakan seorang guru

OPINI | 02 March 2011 | 13:10 Dibaca: 1261   Komentar: 16   1

Ada sebuah saran yang bijak untuk para guru Jikalau anda ingin menjadi seorang guru yang baik , lebih baik mencoba berkali-kali atau tidak sama sekali”.

Saran di atas memberikan makna bahwa menjalani profesi guru tidaklah mudah. Semua orang bisa menjadi guru tetapi tidak semua orang pantas atau layak menjadi seorang guru. Layak dalam arti memiliki kompetensi yang baik dalam mengajar, mendidik , membimbing, dan melatih para siswanya.

Jika seorang guru ingin mengetahui apakah dirinya sudah layak atau belum menjadi seorang guru , Sebaiknya dia tidak perlu jauh-jauh berkonsultasi pada pakar pendidikan. Para siswa adalah juri yang terbaik bagi seorang guru. Mereka adalah komponen otentik, yang pertama kali bisa menentukan kelayakan gurunya. Di beberapa sekolah di Indonesia, Penerimaan guru baru tidak hanya diputuskan oleh pimpinan sekolah tapi melibatkan para siswa. Mereka ikut menentukan apakah guru tersebut layak mengajar atau tidak di sekolah mereka.

Pada saat ini, penggunaan berbagai metode dan strategi pembelajaran sangat membantu guru dalam pencapaian mutu pembelajaran. Tetapi perlu diingat bahwa hal itu belum cukup karena di mata siswa kelayakan seorang guru tidak serta merta dinilai dari kepiawaiannya mengajar, tapi adakalanya dipengaruhi oleh kedekatan emosional.

Oleh sebab itu, hubungan guru dan siswa seharusnya bagaikan orang tua dan anak yang memiliki kedekatan secara emosional. Siswa biasanya akan lebih mudah menerima pelajaran kalau mereka dikondisikan dalam situasi nyaman dan merasa dihargai layaknya di rumah sendiri. Guru harus pandai mendekati siswanya dan menciptakan situasi yang menyenangkan sebelum pembelajaran dimulai. Dilain pihak, guru juga harus bisa membuat siswa tetap bersikap santun.

Kenyataannya, kondisi kelas-kelas di negeri kita pada umumnya Ibarat sebuah kereta api yang melaju kencang sehingga tidak memperdulikan lambaian tangan orang-orang yang ingin menumpanginya. Ketika hal itu ditanyakan pada sang masinis, dia beralasan tak bisa berhenti karena semua gerbong telah dikendalikan sejak awal. Kondisi itu sama persis saat para guru sedang berada di depan kelas. Sang guru sering tidak tahu atau bahkan tidak peka dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh murid-muridnya selama dia mengajar. Demi mengejar target yang sudah direncanakan sebelumnya, akhirnya guru kurang memperhatikan tingkat emosional siswa, kondisi fisik, daya tangkap siswa dan hal-hal lainnya yang bisa menjadi kendala dalam proses pembelajaran.

Barangkali kita pernah melihat situasi kelas yang kacau balau di film atau sinetron indonesia.

Sungguh menyedihkan menyaksikan seorang guru yang diperolok-olok atau dipermainkan para siswa di kelas. Terkadang pemirsa heran apakah memang kondisi gurunya yang tidak layak atau anak didiknya yang terlampau nakal. Jika kejadian tersebut pernah dialami oleh kita sebagai guru, alangkah baiknya meng-update kembali setiap kekurangan dan selalu bersabar saat menjalankan tugas.

Berdasarkan pengamatan dan hasil survey yang pernah dilakukan oleh penulis pada tahun 2010 yang lalu, kriteria kelayakan seorang guru di mata siswa ternyata cukup sederhana dibandingkan kriteria berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Ada tiga jenis penilaian siswa yang merupakan indikator keberhasilan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Pertama, Guru mampu menguasai kelas. Saat guru memasuki ruang kelas, guru harus bisa mengalihkan perhatian semua siswa agar terfokus dengan kehadirannya. Ada sosok guru yang selalu ditunggu kehadirannya, sebaliknya ada yang sejak awal kemunculan guru sudah membuat tegang siswa dan adapula guru yang diacuhkan siswa meskipun sudah berada di depan kelas. Selama proses pembelajaran , guru harus cerdik untuk menyiasati berbagai ulah siswa yang kadang tidak terkontrol. Ibarat seorang pemusik, guru harus menguasai ritme kelas, ada waktu dimana harus bersikap akrab dan menyenangkan tapi ada saat guru mesti bersikap tegas untuk menjaga kewibawaan. Bagi guru pemula atau mereka yang jam terbangnya masih rendah pasti akan menemui banyak kesulitan dalam segi penguasaan kelas. Tapi jika para guru mau bersabar, hal ini justru bermanfaat untuk memperbaiki pencitraan dirinya di mata siswa. Sekitar 28,57 % siswa menilai atau berpendapat bahwa kemampuan guru dalam penguasaan kelas menentukan kriteria kelayakan seorang guru.

Kedua, Guru mampu menyampaikan materi pembelajaran. Guru harus menguasai materi pembelajaran terlebih dahulu secara luas dan mendalam. Setelah itu guru dituntut untuk dapat menyampaikan materi dengan cara yang bisa dipahami oleh siswanya. Perlu diketahui bahwa tiap kelas memiliki karakter yang berbeda. Kelas yang mayoritas berisi siswa aktif, daya tangkap kuat, dan bagus interaksi sosialnya akan memudahkan guru membimbing siswa memperoleh kompetensi yang ditetapkan. Sedangkan kelas yang kemampuan siswanya bervariasi atau kelas dengan karakter siswa kurang aktif, tidak disiplin, dan prestasi rendah membutuhkan kesabaran tinggi dan kerja keras dari gurunya. Siswa yang menilai kelayakan seorang guru ditinjau dari kemampuan guru menyampaikan materi berjumlah 60 %.

Indikator ketiga yang menentukan kelayakan guru di mata siswa adalah guru memiliki kualifikasi akademik yang memadai. Hanya 11,43 % siswa yang berpendapat bahwa guru harus bergelar sarjana (S1) sesuai dengan bidang tugasnya. Hal ini mungkin disebabkan mayoritas siswa tidak tahu atau tidak terlalu mempersoalkan latar belakang pendidikan gurunya. Yang terpenting bagi siswa adalah seorang guru diharapkan mampu mengantarkan mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan membuat mereka menjadi manusia yang cerdas dan berakhlak mulia.

Kriteria kelayakan guru di mata siswa sesungguhnya cukup sederhana. Sehingga apalah artinya jika seorang guru yang sudah bergelar sarjana, mendapat sertifikat pendidik sekaligus tunjangan profesi tapi masih dianggap tidak layak mengajar di hadapan para siswanya. Bapak dan ibu guru harus mulai membuka diri untuk menerima masukan dari semua pihak termasuk para siswanya, serta terus belajar untuk mengembangkan diri.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Yogyakarta Antri 4 Jam Demi Segelas …

Hendra Wardhana | | 28 August 2014 | 16:35

Ahok: Pro Transportasi Publik atau …

Ilyani Sudardjat | | 28 August 2014 | 12:43

Kompasianer Ini Berbagi Ilmu Pajak …

Gapey Sandy | | 28 August 2014 | 14:56

Ice Bucket Challenge Versi Gaza …

Asri Alfa | | 28 August 2014 | 16:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 10 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 8 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 8 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: