Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Johan Asaf

hanya orang biasa saja yang lahir sampai kuliah tetep di kota budaya SOLO UNS kemudiaan selengkapnya

Lirik lagu Hymne Guru harus diganti!

OPINI | 06 March 2011 | 07:12 Dibaca: 1948   Komentar: 6   2

Terpujilah wahai Engkau Ibu bapak guru. namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku sebagaii prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu…

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa…………cerdaskan hidup bangsa

lagu diatas adalah lagu dari Hymne guru yang merupakan lagu wajib bagi setiap kegiatan wisuda di FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. Apakah ada yang aneh dengan lagu di di atas? silahkan di baca dengan cermat, maka akan ada sedikit perbedaan.

Yup, di bait terakhir lah liriknya mengalami perubahan. Lirik terakhir seharusnya berbunyi Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa, ternyata mengalami perubahan menjadi cerdaskan hidup bangsa. Dulu saya waktu awal menyanyikan lagu ini agak bingung, kok liriknya berbeda, begitu juga dengan setiap hadirin yang umumnya orangtua para wisudawan pada termangu mangu mendengarkan liriknya karena bisa dipastikan hampir semua yang menyanyikan lagu hymne guru pasti akan salah, pasti akan menggunakan lirik lama pahlawan tanpa tanda jasa, bukan cerdaskan hidup bangsa.Waku sertifikasi juga sama, setelah selesai menyanyikan lagu ini, pada umumhya langsung bersuara bisik bisik dari para hadirin, mungkin kaget dengan lagunya ini.

saya pernah menanyakan kenapa liriknya berubah, ternyata dari pihak paduan suara juga tidak bisa menjawabnya (dan tidak tahu siapa yang mengaransemennya) namun kemudian itu saya biarkan saja, toh bukan hal yang penting, Cuma saya sering sekali dalam berbagai acara, entah wisudawan atau acara sertifikasi yang menggunakan jasa paduan suara mahasiswa maka saya selalu melihat mimic dari setiap hadirin yang bingung dengan lagunya (dan itulah yang selalu saya lihat terkecuali bagi para wisudawan sendiri).

Saya tidak tahu bagaimana aturannya, tapi kemudian saya berpikir positif saja, dan akhirnya saya menyetujui liriknya diganti saja seperti sekarang, bukan lirik lagu lama, yaitu pahlawan tanpa tanda jasa. Jaman sudah berubah, maka setiap lagu belum tentu cocok dengan keadaan yang sekarang. Misalnya lagu percintaan jaman dulu, hanya membatasi masalah surat suratan, sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan, kemudian mulai masuk ke cubit cubitan oee cubit cubitan, hingga masuk ke fase senggol-senggolan. Tidak berhenti sampai di situ, mulai masuk ke masa di mana gaya pacaran sudah melangkah lebih jauh lagi hingga ke arah jablai dan sebagainya bahkan sudah ke taraf teman tapi mesra atau mari kita bercinta hingga cinta satu malam.

umar bakri

umar bakri

lagu yang menjadi lagu wajib para calon guru ini juga sama, lagu ini dibuat pada tahu 1975 oleh Sartono dimana guru merupakan profesi yang mulia namun memiliki gaji yang sangat pas pasan, dimana pada masa itu, guru tidak dipandang karena status sosialnya karena gaji yang tinggi, namun guru memiliki status social yang tinggi di mata masyarakat karena memiliki jiwa yang mengabdi .karena itu lagu Omar bakri milik Iwan Fals juga sangat cocok dengan kondisi guru pada masa itu sangat relevaan

namun apakah itu bertahan sekarang? Apakah lagu Umar bakri masih cocok dengan masa sekarang? Bisa iya bisa tidak.tergantung kepada siapa kita bertanya. Bagi guru2 yang bekerja sebagai PNS atau guru swasta favorit yang mahal, maka ini sangat tidak cocok. banyak guru yang sudah memiliki mobil, pakai laptop dsb. Namun sebaliknya, banyak ditemukan guru swasta yang tidak favorit, dengan status hanya GTT, harus memiliki pekerjaan sambilan kesana kemari agar bisa survive. Dengan adanya sertifikasi dan kenaikan gaji guru PNS yang gila gilaan, membuat ketimpangan nyata terjadi antara guru negeri dengan guru swasta. pada masa Gus Dur mungkin, orang yang tetap ingin menjadi guru maka lebih baik akan menjadi guru swasta karena mendapatkan gaji yang lebih tinggi, namun setelah pemerintahan Gus Dur maka pegawai negeri mulai diperhatikan kesejahteraannya, termasuk guru tentunya, mengakibatkan pelan tapi pasti gaji PNS merangkak naik meninggalkan guru swasta. tidak berhenti sampai disitu, peningkatan gaji secara tajam oleh PNS, saya soroti saja adalah guru PNS, mengakibatan kecemburuan di masyarakat, karena masyarakt yang bekerja di sector swasta belum tentu gaji setiap tahun akan naik, sementara bahan pokok terus mengalami kenaikan, disisi lain gaji guru terus menerus naik.

Nah, dengan gaji guru PNS sekarang yang untuk 3 A mungkin diatas 1,5 juta, apakah masih pantas untuk menyanyikan lagu hymne guru dengan lirik pahlawan tanpa tanda jasa? apakah dengan adanya sertifikasi yang menjadikan gaji guru, terutama guru negeri menjadi semakin sangat tinggi kita masih pantas untuk menyanyikan lagu dengan lirik pahlawan tanpa tanda jasa?

bagi guru swasta atau guru GTT yang hidup dari kontrak kontrak setiap tahun, maka lagu dengan lirik itu masih relevan, tapi bagi sebagian besar guru di Indonesia yang umumnya adalah PNS(mungkin lebih saya fokuskan di jawa saja) maka lirik lagu ini sudah tidak relevan, karena kesejahteraan yang sudah terjamin. begitu juga di sekolah swasta yang cukup mapan secara financial, maka mereka bisa menggaji guru dengan gaji yang layak, tapi bagaimana dengan sekolah swasta yang kondisi finansialnya kembang kempis? sekolah swasta yang sebagian gurunya justru adalah guru PNS karena mereka tidak mampu menggaji gurunya sendiri sehingga meminta guru negeri untuk mengajar?

dan sungguh sangat ironis jika kita sudah sejahtera dengan kehidupan financial kita, namun kita terus menerus masih menyanyikan lagu Hymne guru dengan lirik pahlawan tanpa tanda jasa, karena kalimat itu seolah olah menegaskan bahwa nasib guru tidak diperhitungkan, nasib guru masih sama seperti guru, padalah sekarang guru sudah diperhitungkan jasanya dengan gaji yang layak dan sertifikasi.lagu itu hanya cocok untuk guru guru yang tidak akan pernah berpikir positif.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya sayapun menyetujui dengan lirik guru sebagai pahlawan bangsa dengan tugas mencerdaskan kehidupan bangsa. dengan lirik seperti ini sepertinya akan lebih enak didengar karena memberi penguatan, motivasi bagi para guru agar mereka terus berkarya dan berjuang untuk bisa mencerdaskan kehidupan bangsa. lebih baik kita sebagai guru terus berpikir bagaimana bisa memajukan bangsa ini dengan ilmu yang kita miliki daripada terus menerus meratap mengenai kondisi keuangan kita.

Setiap kali saya menyanyikan lagu Hyme guru dengan lirik Cerdaskan hidup bangsa, maka jiwa saya selalu terbakar dan selalu berpikir positif untuk melakukan segala kreatifitas dan cara yang Tuhan berikan pada saya agar anak didik saya menjadi pribadi pribadi yang lebih baik, namun saat saya menyanyikan lagu Hymne guru dengan lirik pahlawan tanpa tanda jasa, maka yang ada adalah rasa mengasihani diri, “ iya ya, guru kan pahlawan tanpa tanda jasa, mengajar dan mendidik tapi secara financial kekurangan,” suatu pemikiran yang akhirnya melemahkan mental saya dan mencari pembenaran mengenai kehidupan saya yang kekurangan. keinginan manusia itu tidak terbatas dan tidak akan pernah puas, selalu menginginkan lebih. Lebih baik kita bersyukur dengan apa yang kita miliki, apa yang kita dapatkan. Percayalah, gaji sebanyak apapun kalau manusia tidak pernah puas, maka gaji berjuta juta juga akan selalu mengatakan kurang, namun gaji standar kalau kita biasa biasa saja maka hidup kita juga tidak akan kekurangan. Tuhan tidak akan memenuhi semua keinginan kita, namun dia pasti akan memenuhi kebutuhan kita.

Nah, tergantung dari sudut pandang kalian, bagi saya, lagu itu sama lebih mudah masuk ke otak daripada ke hanya sebuah perintah. Dengan lagu, maka pesan pesan bisa masuk ke dalam otak tanpa melalui filter karena nada nada akan diterima oleh otak kanan sehingga pesan bisa masuk ke dalam, namun kalau kita hanya memerintah dan menasihati, maka otak kiri akan langsung bekerja sehingga akan menentang perintah kalau tidak cocok. itu mengapa saya ngeri membayangkan anak anak sudah hapal lagu Cinta satu malam, mari bercinta, jablay , hingga lain jenisnya, karena lagu lagu ini tidak hanya dihafalkan, namun akan memengaruhi otak bawah sadar manusia sehingga hal hal yang seharusnya dilarang akhirnya bisa diterima.Akhirnya perilaku seks bebas dengan sendirinya akan menjadi hal yang bisa diterima generasi sekarang.

Begitu juga halnya dengan lagu Hymne guru ini, lagu yang memiliki lirik memelas dan tidak membawa efek positif hasilnya juga memengaruhi pemikiran dan otak bawah para guru bahwa mereka memang orang orang yang patut untuk dikasihani, walaupun gaji sudah sangat tinggi dan sudah mendapatkan sertifikasi, tetap saja otak bawah sadar mereka mengatakan mereka adalah orang yang patut dikasihani sehingga wajar jika mereka tidak bisa bekerja maksimal, karena mereka adalah orang yang patut untuk dikasihani, toh mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, jasa mereka tidak ada (walau sekarang mereka mendapat jasa dengan gaji yang besar), mereka akan mencari pembenaran jika dituntut untuk mencerdaskan anak didiknya dan meningkatkan kualitas anak didiknya karena mereka akan selalu mengatakan “ gajinya hanya sedikit tidak cukup, kita kan guru, gajinya tidak seberapa, kita kan pahlawan tanpa tanda jasa, mumet memikirkan hidup, jadi ya hasilnya hanya segitu). Seberapapun besar gaji kita, karena kita terlalu sering mendengar lagu Hymne guru yang lebih menonjolkan sisi pahlawan tanpa tanda jasa (yang umumnya digunakan dalam berbagai tulisan mengenai kondisi guru yang tidak sejahtera di manapun) daripada menonjolkan tugasnya untuk mencerdaskan hidup bangsa ini, tanpa guru, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang bodoh.

ingat, lagu memengaruhi pikiran kita, lebih baik. Selama 4 tahun sejak tahun 2005 hingga 2008, saya (dan teman teman lain yang ikut PSM tentunya)terus menyanyikan lagu Hyme Guru dengan lirik cerdaskan hidup bangsa, agar para wisudawan dan penerima sertifikasi menjadi sadar, terdorong serta termotivasi bahwa tugas guru adalah untuk mengajar, mendidik generasi penerus agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Jaman sudah berubah, tidak bisa kita terus menerus menonjolkan pahlawan tanpa tanda jasa sementara fakta dilapangan gaji guru PNS itu sudah sangat tinggi. Banyak sekolah swasta yang bagus dan berkualitas juga menggaji guru yang dengan gaji yang bagus. Pahlawan tanpa tanda jasa hanya bisa diterapkan untuk guru guru yang bekerja di sekolah swasta yang tidak mapan. hanya saja , fakta dilapangan, sekolah negeri dan swasta itu lebih banyak negeri. Di sekolah sekolah swasta sendiri dari 6 sekolah swasta katakanlah dalam suatu wilayah, maka akan ada sekolah sekolah swasta favorit yang berbiaya mahal, misalnya 2 sekolah, sisanya adalah sekolah swasta yang tidak mampu dengan biaya murah dan selalu kesulitan dalam mendapatkan murid. sekolah swasta favorit dan mahal tidak mungkin menggaji gurunya, (baik guru tentang tidak tetap dengan gaji yang dibawah UMR atau lebih rendah. Jadi perbandingannya adalah lebih banyak guru yang sejahtera dibandingkan guru tidak sejahtera. Maksud disini hanya dilihat dari gajinya, kalau gaji seorang guru walau PNS misal, namun sang istri tidak bekerja dan anaknya 3 sekolah semua ya sama saja bohong, disini saya hanya melihat secara nominalnya , bukan karena beban kebutuhan hidupnya.

enaknya jadi pns

enaknya jadi pns

Karena itu kenapasekarang penerimaan PNS guru juga sangat tinggi peminatnya yang tidak jarang banyak yang lewat jalan pintas, karena gajinya yang menggiurkan dibanding sekolah swasta.

jadi, MARI KITA PARA GURU MENCERDASKAN BANGSA INI DENGAN APA YANG KITA MILIKI!

gambar:

http://izaskia.files.wordpress.com/2010/03/karikatur-pns.jpg

Foto dua: http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR4EK52X9dJy2fpdEogx4UEBht_WyFET7XQsM3cAEQN8bqtJ5CvvveT9hY

Tags: guru

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | | 24 November 2014 | 10:33

Disambut Pelangi Halmahera Utara …

Joko Ade Nursiyono | | 24 November 2014 | 09:41

Gonzales, ‘Kartu Truf’ Timnas …

Achmad Suwefi | | 24 November 2014 | 09:32

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | | 24 November 2014 | 05:47

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 5 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 10 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 12 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: