
Lahir Surabaya, 1968,Apoteker, anak 4, 1 istri
Dibaca: 133
Komentar: 8
1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat
M.Komarudyn saat wisuda TK tahun 2009


Telah sebulan lebih anakku tidak tinggal bersama serumah denganku, Ibunya, ketiga adiknya dan juga Omanya. Rasa haru dan sangat tersentuh
M.Komarudyn digandeng sebelah kiri mamanya, bersama ketiga adiknya, satu masih dalah kandungan
ketika meninggalkan Pesantren di Tulangan Sidoarjo tempat M.Komarudyn anakku mondok. Sejak kecil dia sudah diminta oleh Kyai untuk mondok. Maklum, Kyai seorang yang bisa mengetahui keadaan yang akan terjadi pada seseorang atas Ilham/petunjuk dari Allah SWT.
Ya, Aku telah “kehilangan” anakku, dengan segala rasa rindu yang selalu bergayut di dalam keluarga ini.Beruntung, sejak kepindahan tugas kantor ke Surabaya, maka Komarudyn bisa mondok do pesantren Kyai. Proses pulang kampung ke Sidoarjo/Surabaya sudah kami perjuangkan beberapa tahun yang lalu, karena memang kami semua ingin pulang kampung ke Surabaya/Sidoarjo.
Rasa ego cinta orang tua, saudara-saudaranya, Oma nya harus dikalahkan oleh pemahaman bahwa kelak M.Komarudyn bisa menjadi pribadi yang unggul dan tangguh, karena telah mendapatkan tempaan mental dan pendidikan Agama Islam yang kuat sejak usia dini 7tahun 4 bulan. Usia yang sangat belia untuk belajar hidup mandiri, menahan rasa rindu, tidak manja, sosial, dan terlebih lagi mengerti arti hidup. Sebagai orang tua yang sudah mengenal dekat figure sang Kyai, maka Kami bertekad untuk mempercayakan semua anak kami untuk masuk pesantren Kyai nantinya, apapun resiko dan tantangannya.
Bahkan Nama M.Komarudyn adalah nama yang diberikan oleh Kyai, dengan maksud dia menjadi figure Cahaya Bulan atas pesantren yang mengajarkan Agama Islam. Nama ini diberikan atas permintaan kami, dengan harapan membawa berkah bagi kehidupan anak kami yang kami cintai.
Sulit dibayangkan, berpisah untuk tidak tinggal serumah dengan anak sekecil M.Komarudyn, bahkan tidak bisa tidur dan bermain dengan saudara-saudaranya yang merindukannya, selalu.
Anakku, bukan kami membuang bahkan membencimu, karena telah “menyerahkan” hidupmu di Pesantren, tetapi semata mengharap Ridho dari Allah SWT, agar kamu kelah menjadi manusia yang berbahagia, dunia dan Akherat, Amin.
Salam
Hario Adji Pamungkas.