Artikel

Edukasi

Hario Pamungkas

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Lahir Surabaya, 1968,Apoteker, anak 4, 1 istri

Cinta Anakku M Komarudyn


OPINI | 07 March 2011 | 10:08 Dibaca: 133   Komentar: 8   1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat

12994697301490292440

M.Komarudyn saat wisuda TK tahun 2009

1299468498677961415

129946796813691859631299467453877862034Telah sebulan lebih anakku tidak tinggal bersama serumah denganku, Ibunya, ketiga adiknya dan juga Omanya. Rasa haru dan sangat tersentuh

12994694791522080164

M.Komarudyn digandeng sebelah kiri mamanya, bersama ketiga adiknya, satu masih dalah kandungan

ketika meninggalkan Pesantren di Tulangan Sidoarjo tempat M.Komarudyn anakku mondok. Sejak kecil dia sudah diminta oleh Kyai untuk mondok. Maklum, Kyai seorang yang bisa mengetahui keadaan yang akan terjadi pada seseorang atas Ilham/petunjuk dari Allah SWT.

Ya, Aku telah “kehilangan” anakku, dengan segala rasa rindu yang selalu bergayut di dalam keluarga ini.Beruntung, sejak kepindahan tugas kantor ke Surabaya, maka Komarudyn bisa mondok do pesantren Kyai. Proses pulang kampung ke Sidoarjo/Surabaya sudah kami perjuangkan beberapa tahun yang lalu, karena memang kami semua ingin pulang kampung ke Surabaya/Sidoarjo.

Rasa ego cinta orang tua, saudara-saudaranya, Oma nya harus dikalahkan oleh pemahaman bahwa kelak M.Komarudyn bisa menjadi pribadi yang unggul dan tangguh, karena telah mendapatkan tempaan mental dan pendidikan Agama Islam yang kuat sejak usia dini 7tahun 4 bulan. Usia yang sangat belia untuk belajar hidup mandiri, menahan rasa rindu, tidak manja, sosial,  dan terlebih lagi mengerti arti hidup. Sebagai orang tua yang sudah mengenal dekat figure sang Kyai, maka Kami bertekad untuk mempercayakan semua anak kami untuk masuk pesantren Kyai nantinya, apapun resiko dan tantangannya.

Bahkan Nama M.Komarudyn adalah nama yang diberikan oleh Kyai, dengan maksud dia menjadi figure Cahaya Bulan atas pesantren yang mengajarkan Agama Islam. Nama ini diberikan atas permintaan kami, dengan harapan membawa berkah bagi kehidupan anak kami yang kami cintai.

Sulit dibayangkan, berpisah untuk tidak tinggal serumah dengan anak sekecil M.Komarudyn, bahkan tidak bisa tidur dan bermain dengan saudara-saudaranya yang merindukannya, selalu.

Anakku, bukan kami membuang bahkan membencimu, karena telah “menyerahkan” hidupmu di Pesantren, tetapi semata mengharap Ridho dari Allah SWT, agar kamu kelah menjadi manusia yang berbahagia, dunia dan Akherat, Amin.

Salam

Hario Adji Pamungkas.12994671861906344959

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: