Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Daniel Ronda

Mendedikasikan tulisan untuk perubahan kota Makassar tercinta

Pandangan Soal Arti Seks

OPINI | 09 March 2011 | 07:23 Dibaca: 1786   Komentar: 4   0

Apa arti seks bagi Anda? Apakah seks memiliki makna? Ada beberapa makna seks dalam panggung yang dibangun dalam budaya, sosial kemasyarakatan dan keagamaan kita serta dunia kepemimpinan saat ini. Misalnya, apa yang dipertontonkan para politisi, selebriti, olahragawan soal kehidupan seks mereka telah memberikan makna baru dalam panggung kehidupan era baru jagad kita. Ia tidak sibuk berfilosofi soal makna seks, tetapi munculnya di publik soal kehidupan seks mereka telah menjadi panutan baru sebagai gaya hidup manusia. Soal kawin cerai kaum selebriti, kebiasaan pesta seks olahragawan dan politisi. Lalu kegamangan muncul, apa makna seks itu sendiri? Tambahan soal Charlie Sheen, seorang bintang film Hollywood, sebagai contoh mutakhir. Promosi poligaminya dengan baby sitternya dan bintang porno telah membuat teman Amerika saya marah, kaget, dan yakin itu hanya sandiwara sehingga akhirnya dia bisa tertawa sinis. Karena panggung sosial masyarakat Amerika tidak pernah mengizinkan poligami, apalagi ini terang-terangan.

Saya mencoba menarasikan makna seks ini dalam berbagai setting panggung dengan mencoba berefleksi apa sebenarnya makna seks dalam diri terdalam Anda tanpa harus merasa bersembunyi dalam berbagai panggung yang disediakan di hadapan kita? Saya ingin kita semua jujur memaknai seks, jika memungkinkan termasuk diri saya:

Makna secara Agama: Seks dimaknai sebagai relasi yang terjadi hanya dalam hubungan suami istri yang disahkan lewat prosesi agamawi sehingga disahkan Tuhan dan masyarakat. Hubungan seks adalah suatu puncak keintiman berupa penyatuan dua tubuh manusia yang berbeda jenis kelamin. Keintiman emosional dan penyatuan komitmen untuk hidup bersama menjadi sempurna dalam hubungan seksualitas yaitu keintiman fisik. Tujuan seks lalu disempurnakan sebagai pro-kreasi atau untuk menciptakan generasi baru yang adalah ciptaan Tuhan. Lebih dari itu seks juga dimaknai bukan semata-mata pemberi keturunan, tetapi sebagai alat kesenangan bersama, di mana seks adalah sesuatu pemberian yang harus dinikmati. Maka, banyak seminar dan retreat pasutri dibuat agar menghangatkan percintaan di dalam rumah tangga dan mencoba menyingkirkan godaan dan cobaan yang mungkin akan menerpa bahtera rumah tangga.

Makna secara humanistis: Namun panggung agama bukan satu-satunya yang saya lihat memaknai seks. Kaum humanis mencoba memberikan desainnya soal seks. Banyak yang berpikir seks tidak memiliki makna mulia, kecuali sebuah pengalaman keintiman fisik belaka. Ikatan norma seks dalam perkawinan adalah bisa saja sah demi sebuah keutuhan dan stabilitas tatanan sosial. Lain daripada itu seks tidak lain adalah pengalaman pribadi dan hak manusia yang paling personal. Itu sebabnya bagi kaum humanis, panggung moral dan agama tidak bisa menjadi penghakim bagi sebuah pengalaman seksualitas seseorang. Pengalaman percintaan yang dipuncaki dengan seksualitas seharusnya tidak perlu ada penghalang apapun karena seks tidak ada makna inherennya. Maka seks seharusnya bebas diekspresikan sepanjang bertanggung jawab kepada dua pribadi yang bercinta itu. Ini yang mungkin menjadi tren dalam memahami seks. Inilah dua panggung yang berbeda dalam memaknai seksualitas. Dan makna seks kaum humanis telah menjadi suatu yang kasat mata saat ini di mana-mana. Kaum humanis telah masuk ke dalam seluruh kehidupan sosial yang ada di jagad raya ini, tidak terkecuali negara yang mengaku tertutup sekalipun.

Seks memiliki sisi gelap: Entah itu panggung agama atau panggung humanistis, seks selalu memiliki sisi gelap (dark side). Seks yang merupakan hal baik dan mulia selalu mendapat tafsiran yang salah, bahkan terjadi penyalahgunaan serta penyimpangan seksualitas. Saya mencoba melihat sisi gelapnya:

Sisi gelap seks dalam konteks agama: Seks bagi sebagian agamawan pernah ditafsirkan sebagai hal kotor dan najis. Kehidupan selibat dianggap jauh lebih mulia daripada melakukan hubungan seks. Kata “nafsu seks” menjadi sebuah konotasi negatif daripada sebuah hal yang wajar dan baik, maka nafsu seks harus dijauhi. Untung pemahaman itu tidak berlanjut, tetapi masih ada pandangan sporadis pemimpin agama yang mengajarkan bahwa seks adalah kotor dan najis.

Hal lain adalah adanya kehidupan hipokrit (munafik) dari pemimpin agama. Ia menyuarakan kebaikan dan keindahan rumah tangga, tetapi dia sendiri berselingkuh, punya anak di luar nikah, memiliki gundik, pacar gelap baik lawan jenis dan sesama jenis, pergi ke tempat pelacuran, melakukan kekerasan seksual dan berbagai penyimpangan seks lainnya. Tingkah hipokrit ini membuat agama memiliki reputasi yang buruk, sehingga kemuliaan seks yang dibicarakan hanya wacana karena tidak berbanding lurus dengan praktik kehidupan pemimpin agamanya. Sebagai contoh, biasanya olok-olok berbagai acara di TV muncul kalau ada pemimpin agama yang terkena skandal. Sinisme muncul di dalam masyarakat akibat reputasi buruk para pemimpin agama atau rohaniwan ini. Begitu banyak skandal yang muncul ke publik membuat orang bertanya, masih pantaskah nilai-nilai seks dimaknai secara agama? Bahkan tidak sedikit publik marah dan kehilangan kepercayaan karena ada institusi kepemimpinan agama menyimpan keburukan rohaniwannya dalam melakukan sodomi kepada anak laki-laki di dalam umatnya. Akibatnya, agama mulai menjadi olokan dan tertawaan bila membahas norma moral seksualitas.

Sisi gelap seks dalam konteks humanistis: Bila orang mulai menjauhi agama dan mencari makna seks yang lain, maka sisi gelap lain penganut humanisme adalah kebebasan seks. Kebebasan seks muncul akibat dari ketiadaan contoh yang dapat sungguh memaknai seks dengan sebenarnya. Seks menjadi kebebasan ekspresi suka sama suka tanpa ikatan sosial apapun, kehidupan seks lalu terekspresi dengan cara yang paling liar yang pernah dibayangkan manusia, walaupun ini sudah ada sejak purbakala dan kita hanya mampu melihat sepanjang sejarah manusia mampu mencatatnya. Sejak peradaban Roma kita sudah mendengar soal pelacuran bakti (pelacuran atas nama agama dan dewi kesuburan), pesta seks, bertukar pasangan, homoseksulitas, hubungan dengan binatang, dan segala inovasi dan ekspresi yang terus berlanjut sampai saat ini sampai ada gaya hidup nudis (telanjang) secara komunitas. Apalagi dengan penggunaan teknologi, maka kebebasan itu menjadi mengglobal sehingga ada hubungan seksualitas secara online. Belum lagi sumbangan media dan sastra yang berbau pornografi menyumbang gaya hidup baru soal kebebasan seksualitas. Inilah gaya hidup hedonis dan gaya hidup hedonisme, dan menarik dan memesona begitu banyak orang. Namun, banyak yang merasa sisi gelap ini okay saja. Padahal tidak sedikit kaum hedonis merasakan kekecewaan dan keputusasaan. Contoh, banyak bintang film porno di Amerika yang memutuskan bunuh diri atau menenggak narkoba, akibat dari perasaan tidak berharga. Kebebasan seks dalam sejarah Roma telah menjadi intrik politik dan menyebabkan mereka saling curiga dan cemburu sehingga terjadi banyak pengkhianatan dan bahkan perang internal yang menghancurkan kerajaan itu. Belum lagi begitu banyak kehancuran keluarga, sampai penyakit yang menjadi efek sampingannya. Semua sisi gelap ini telah membuat makna seks menjadi gamang di kalangan kaum humanis sendiri. Dapatkah pelampiasan seks sebebas-bebasnya menciptakan kepuasan manusia?

Memaknai seks: Seks sendiri tentu harus berdiri sebagai suatu konteks yang lebih luas. Dia bukan suatu milik diri yang perlu dieskpresikan tanpa melihat diri sebagai konteks ciptaan Tuhan dan adanya panggung sosial masyarakat yang menatanya. Hubungan seks harus diperjuangkan ke arah yang lebih baik walaupun terasa berat mengingat kelangkaan contoh panutan, agama sudah dipenuhi dengan kepentingan politik, dan satu sisi sesuatu yang kasat mata begitu banyak menggoda. Industri seks sudah menjadi bisnis besar dan menggurita. Kaum hedonis tentu tidak akan membiarkan perjuangan terhadap kemuliaan seks lepas dari panggung mereka. Kenikmatan itulah mereka maknai dalam seks bagi kaum hedonis. Ketika orang mencari kepuasan sejenak, maka sisi gelap seks adalah suatu hal yang “indah” namun memiliki sisi yang mengosongkan hati dan kegamangan hidup. Kejujuran dalam memaknai seks sebagai penghargaan diri, Tuhan dan sesama membuat kita belajar secara perlahan memaknai dan menghidupi seks ke panggung yang lebih mulia, walaupun itu tertatih-tatih akibat ada panggung lain yang mencoba menarik, menggoda dan memesona kita. Semoga perjuangan kita berhasil!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Gitar Bagus Itu Asalnya dari Sipoholon, Lho! …

Leonardo Joentanamo | | 25 April 2014 | 11:08

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Selamat Hari Malaria Sedunia 2014 …

Avis | | 25 April 2014 | 11:08

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: